The Federal Reserve

Sruput Pagi Senin 26 September 2016 : Profit Taking Investor Asing dan Kondisi Fundamental Perekonomian Indonesia Akan Menjadi Fokus Pasca Drama Bank Sentral

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Berbagai sentiment dan drama telah mengiringi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada perdagangan minggu kemarin, diantaranya The Fed dengan Fed Ratenya, Bank Of Japan dengan Suku Bunganya dan Bank Indonesia dengan 7 Days Reverse Repo.

Patut disyukuri bahwa IHSG menanggapi sentiment diatas dengan positif, dimana hingga akhir pekan IHSG ditutup mengalami penguatan mingguan sebesar +121.139 poin atau +2.30% pada level 5,388.908.

The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu.

Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, hal tersebut diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Bank Indonesia menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo setelah The Fed menunda kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, 7 Days Reverse Repo diturunkan menjadi 5% dari sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%, Deposit Facility Rate diturunkan menjadi 4.25% dan Lending Facility Rate diturunkan menjadi 5.75%. Dengan adanya penurunan rate dari Bank Indonesia diharapkan akan mampu menopang konsumsi masyarakat Indonesia, sehingga menstimulus pertumbuhan GDP Indonesia di sisa akhir tahun 2016 ini.

Ketiga sentiment diatas menurut dapurinvestasi.com merupakan sentiment positif yang mampu menopang perekonomian Indonesia tetap pada kata “Stabil”, sehingga pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang menurut konsesus sebesar 5.1% dapat tercapai.

Tetapi walaupun pergerakan IHSG pada minggu lalu tercatat positif menanggapi sentiment yang ada, namun Investor Asing melakukan net sell mingguan sebesar Rp 44.01 Milyar. Mengapa hal tersebut penting?? Karena Investor Asing masih memiliki porsi yang besar dalam perdagangan IHSG, yaitu sekitar 40%, maka gerak – gerik Investor Asing cepat atau lambat akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Source : Dapur Investasi

Grafik diatas merupakan grafik akumulasi pembelian saham oleh Investor Asing dan return IHSG sejak awal tahun 2016 (Merupakan data mingguan IHSG). Terlihat sejak Agustus 2016 bahwa Investor Asing telah mengurangi pembelian dan cenderung melakukan aksi profit taking, dan penguatan IHSG pada minggu lalu tidak ditopang oleh akumulasi pembelian Asing. Nahh Investor disarankan agar sedikit waspada, sekali lagi yang ditekankan oleh dapurinvestasi.com adalah “Waspada” bukan takut, resah dan gelisah, karena faktor fundamental ekonomi Indonesia masih baik baik saja, bahkan diperkirakan jauh lebih baik karena The Fed menunda kenaikan suku bunga pada bulan September, sehingga capital outflow tidak signifikan terjadi.

Berdasarkan data yang dapurinvestasi.com hitung, rata – rata akumulasi pembelian oleh Investor Asing berada pada harga 5,163 dengan nilai akumulasi net buy sejak Januari 2016 hingga September 2016 mencapai Rp 34.6 Triliun. Nahh Investor dapat mengawasi dan mencermati level 5,163 tersebut, selama IHSG tidak bergerak kearah level tersebut, maka IHSG masih dalam kondisi yang aman.

Sentiment selanjutnya yang menjadi kekhawatiran dari Investor kedepan adalah penerimaan pajak Pemerintah yang diperkirakan akan mengganggu dari anggaran belanja Pemerintah, khususnya Tax Amnesty masih sampai saat ini menjadi concern utama Investor.

Source : pajak.go.id

Berdasarkan data statistik Tax Amnesty, perkembangan uang tebusan mengalami peningkatan yang sangat signifikan di bulan September, dimana merupakan periode akhir untuk tarif tebusan sebesar 2%. Hingga 25 September 2016, tarif tebusan telah mencapai Rp 42.2 Triliun atau mencapai 25.58% dari total target penerimaan Pemerintah yang sebesar Rp 165 Triliun. Apabila dibandingkan dengan 23 September 2016 yang baru mencapai Rp 36.1 Triliun, maka peningkatan terjadi sebesar Rp 6.1 Triliun hanya dalam 2 hari atau meningkat sebesar 16.90%. Jumlah harta yang dilaporkan adalah sebesar Rp 1,769.8 Triliun dan dana repatriasi mencapai Rp 92.6 Triliun.

Hasil Tax Amnesty diatas akan tercermin dalam pergerakan IHSG pada sisa bulan di tahun 2016, perspektif investor mengenai penerimaan pajak Pemerintah akan tercermin dalam keputusan Investasinya. Tetapi menurut dapurinvestasi.com, apabila penerimaan dan belanja Negara tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2016, maka sektor Konsumsi dan Investasi dapat menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan hal tersebut akan terealisasi mengingat berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Pertumbuhan Ekspor dan Impor Indonesia juga berangsur – angsur mengalami perbaikan walaupun belum tercatat positif.

Yapp,, kami tetap optimis akan pergerakan IHSG di sisa tahun 2016, tetapi koreksi kecil akan tetap terjadi mengingat indikasi profit taking dari Investor Asing dan tetap cermati level 5,163.

Sekedar informasi, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan pada akhir pekan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.71% pada level 18,261.45, S&P 500 tercatat melemah -0.57% pada level 2,164.69 dan Nasdaq tercatat melemah -0.63% pada level 5,305.75.

Pelemahan Bursa Wall Street sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Selain itu Apple Inc. dan Facebook Inc. juga menjadi pemberat Bursa Wall Street, dimana perusahaan riset asal Jerman yaitu GFK melaporkan penjualan iphone 7 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pejualan produk Apple tahun lalu, hal tersebut didasari data dari Eropa dan Asia. Facebook mengalami pelemahan setelah mengungkapkan bahwa terjadi mark up terhadap rata – rata durasi tayang iklan video sebesar 60% – 80% yang menurut perseroan disebabkan oleh kesalah matrik dan hal tersebut telah diperbaiki oleh perseroan, perlu diketahui bahwa 90% pendapatan perseroan berasal dari periklanan.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami pelemahan tajam pada akhir pekan, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -3.97% pada level 44.48 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -3.69% pada level 45.89 USD/barel. Pelemahan terjadi karena adanya spekulasi bahwa pertemuan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Algeria pada 26-28 September mendatang tidak akan mencapai kata sepakat untuk membekukan produksi.

Pada hari ini Senin, 26 September 2016 kami memperkirakan bahwa IHSG mengalami pelemahan jangka pendek pada range 5,340 – 5,400. Potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street dan pelemahan harga minyak mentah dunia.

Adapun pilihan saham dari kami adalah sebagai berikut : NRCA TP 620, WSBP TP 590, CTRP TP 750, TINS TP 850, LPPF TP 20100.

Note : TP = Target Price

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Putu Wahyu Suryawan, Hendri Prasetyo Utomo, Galuh Lindra Lazuardi Imani

Cerdaslah dalam berinvestasi,,…. ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Kamis 22 September 2016 : The Fed, Bank Of Japan, Tax Amnesty dan 7 Days Reverse Repo Akan Lengkapi Stimulus IHSG Hari Ini, Cermati Si Kapitalisasi Pasar Besar…

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan, dimana Dow Jones tercatat menguat +0.90% pada level 18,293.70, S&P 500 tercatat menguat +1.09% pada level 2,163.12 dan Nasdaq tercatat menguat +1.03% pada level 5,295.18.

Penguatan Bursa Wall Street tercatat signifikan setelah The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu. The Fed harus memastikan berbagai indicator ekonomi dan politik dalam kondisi kondusif, dimana saat ini memang terlihat risiko masih selalu muncul dan sangan fluktuatif.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami penguatan tajam, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +4.86% pada level 45.55 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +2.55% pada level 47.05 USD/barel. Penguatan signifikan ini merupakan imbas dari ditundanya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan November, dimana akibat dari Dollar Amerika yang mengalami pelemahan, mengingat pergerakan harga minyak dunia dan Dollar Amerika memiliki korelasi yang negatif. Selain itu The U.S Energy Information Administration (EIA) mencatat bahwa pada pekan ini cadangan minyak Amerika kembali mengalami penurunan menjadi -6.2 Juta barel dari pekan lalu yang turun hanya sebesar -0.559 juta barel.

Dari Jepang, Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, mungkin hal tersebut terlihat rendah, namun masih lebih baik dibandingkan Instrument Investasi saat ini yang tercatat negatif, dimana salah satunya Indeks Nikkei mengalami pelemahan -11.70% pada level 16,807.62. Dengan adanya acuan yield Obligasi Pemerintah Jepang yang sebesar 0%, juga diperkirakan akan memperbaiki marjin dari Perbankan, dimana Perbankan Jepang akan mendapatkan dan pihak ketiga dengan cost sesuai suku bunga -0.10% dan mendapatkan yield sebesar 0% apabila di investasikan pada Obligasi Pemerintah 10 Tahun. Hal ini diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Dari dalam negeri, Ketidakpastian ekonomi menjadi lebih terurai pasca ditundanya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan September ini, karena bagi Indonesia yang termasuk negara Emerging Market, akan berdampak terhadap capital outflow apabila kenaikan suku bunga acuan Amerika diberlakukan kembali, arus dana keluar akan mengganggu perekonomian Indonesia yang saat ini sedang mencoba untuk berbenah sejak tahun 2015 lalu.

Pada hari ini Investor akan menunggu hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mengenai 7 Days Reverse Repo, yang diperkirakan akan diturunkan kembali menjadi 5% dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%. Apabila hal tersebut benar dilakukan oleh Bank Indonesia, maka stimulus terhadap pasar keuangan Indonesia akan semakin lengkap dan positif.

Dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 3.9 Triliun atau meningkat sebesar 14.39% menjadi Rp 31 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 27.1 Triliun atau telah mencapai 18.79% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,290 Triliun.

Source : Chart Nexus

Pada perdagangan kemarin yang digambarkan oleh chart paling akhir berwarna putih, menunjukkan bahwa IHSG mampu menembus resistance pada level 5,336, dimana sekaligus menjadi resistance trend line. Pada perdagangan kemarin, Investor asing juga mencatatkan net buy sebesar 551.4 Milyar, dan angka tersebut cukup mengkonfirmasi break out sementara down trend jangka pendek dan sentiment ekonomi yang rilis saat ini akan mampu menopang penguatan lanjutan dari IHSG, dimana The Fed menunda kenaikan suku bunga acauan Amerika pada bulan September ini. Apabila Bank Indonesia merestui untuk kembali menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo, maka akan melengkapi stimulus ekonomi hari ini. Perkembangan dari penerimaan Tax Amnesty juga terbilang cukup positif untuk menjadi penggerak IHSG hari ini. IHSG pada hari ini kami perkirakan akan bergerak pada range 5,350 – 5,420.

Berdasarkan data fundamental ekonomi positif yang rilis dan indikasi teknikal yang cukup positif pula, maka hari ini Investor dapat melakukan pembelian. Seperti ulasan kami sebelumnya, saat ini sebagian besar indicator telah terkonfirmasi, maka Investor dapat mengakumulasi saham dengan kapitalisasi pasar besar, seperti BBCA, UNVR, HMSP, TLKM, BMRI, ASII, BBRI, GGRM, BBNI, ICBP.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,… ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Rabu 21 September 2016 : IHSG Masih Berada Pada Area Resistance Trend Line, Tunggu Konfirmasi Indikator Untuk Keputusan Investasi Selanjutnya

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan tipis, dimana Dow Jones tercatat menguat +0.05% pada level 18,129.96, S&P 500 tercatat menguat +0.03% pada level 2,139.76 dan Nasdaq tercatat menguat +0.12% pada level 5,241.35.

Pergerakan Bursa Wall Street terlihat cukup fluktuatif mendekati pengumuman keputusan The Fed mengenai kepastian kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat tahap II pada tanggal 22 September ini. Terlihat pada perdagangan sebelumnya, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan tipis, dan semalam ditutup menguat tipis. Tetapi sebenarnya probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan September terbilang relatif kecil, karena rilis data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Amerika belum cukup kuat apabila kenaikan terjadi di bulan September.

Data Pembangunan Perumahan jauh mengalami penurunan yaitu sebesar -5.8% MoM pada bulan Agustus dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1.4% MoM, angka tersebut juga jauh dari perkiraan yang hanya turun sebesar -1.7%. Jumlah Pembangunan Perumahan hanya sebesar 1,142,000, dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,212,000.

Selain itu Izin pendirian gedung di Amerika Serikat juga terus mengalami penurunan, dari bulan Juli yang turun sebesar -0.8% dan turun sebesar -0.4% MoM pada bulan Agustus atau tercatat sebesar 1,139,000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,144,000.

Sentiment lainya juga datang dari Jepang, dimana Yen mengalami penguatan setelah Bank Of Japan terlihat kehabisan cara dalam memberikan stimulus moneter untuk memacu pertumbuhan ekonomi Jepang. Pada perdagangan hari ini Bank Of Japan akan mengumumkan suku bunga acuan Jepang.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak bervariasi, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.32% pada level 43.44 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -0.17% pada level 45.87 USD/barel. Pergerakan tersebut terjadi setelah Menteri Energi Aljazair mengatakan bahwa 14 anggota group akan melakukan pertemuan secara formal untuk mencari cara memotong pasokan minyak mentah 1 juta barel per hari demi kembali mencapai keseimbangan pasar dan menstabilkan harga.

Dari dalam negeri, belum ada data ekonomi terbaru yang rilis, tetapi pada pekan ini Investor sangat menunggu beberapa data mengenai suku bunga acuan, yaitu The Fed, BOJ dan 7 days reverse repo dari Bank Indonesia. Ketiga sentiment tersebut akan menjadikan acuan Investor dalam memberikan keputusan Investasi selanjutnya.

Dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 3.1 Triliun atau meningkat sebesar 12.92% menjadi Rp 27.1 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 24 Triliun atau telah mencapai 16.42% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,131 Triliun. Menurut Direktur Eskekutif Center for Indonesia Taxation Analisis Yustinus Prastowo, penerimaan sebesar itu sangat jauh dari target dan maka dari itu beliau membuat petisi melalui change.org. Isinya, agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperpanjang periode pertama tax amnesty. Karena memang kendala periode pertama pengampunan pajak berlaku mulai tanggal 1 Juli 2016 lalu hingga akhir September yaitu karena persiapan yang terbatas, pada tiga bulan pertama tersebut juga pemerintah masih dalam periode sosialisasi dan aturan teknis yang dirilis secara bertahap membuat masyarakat ragu dalam memastikan langkah untuk mengikuti tax amnesty pada awal periode.

Source : Chart Nexus

Pada perdagangan kemarin yang digambarkan oleh chart paling akhir berwarna hitam, menunjukkan bahwa IHSG tertahan oleh resistance 5,336, dimana sekaligus menjadi resistance trend line. Sejak bulan Agustus, pola down trend telah mulai terbentuk dan pergerakan IHSG pada hari ini akan mengkonfirmasi arah downtrend tersebut. Koreksi IHSG lebih cenderung besar terjadi seiring spekulasi terkait The Fed dan Bank Of Japan. Investor asing juga mengkonfirmasi resistance trend line tersebut dengan melakukan net sell sebesar 440.4 Milyar, marupakan angka yang cukup tinggi untuk mengkonfirmasi pola teknikal. MA 20 juga hampir mendekati MA 50 dan diperkirakan akan berpotongan dan membentuk dead cross, tetapi sekali lagi, pergerakan hari ini sebagai konfirmasi dari indicator tersebut. IHSG pada hari ini kami perkirakan akan bergerak pada range 5,250 – 5,340.

Lagi – lagi, seiring data fundamental yang belum positif dan indikator teknikal yang menunjukkan ketidakpastian, kami tetap menyarankan agar Investor menunggu terlebih dahulu dalam melakukan transaksi, saran kami adalah lebih baik menunggu dari pada melakukan cut loss.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part II)

Haii,, Hayy Kawula Investasi Indonesia,, kembali lagi nihh bersama dapurinvestasi.com,, kali ini kami akan membahas kembali ulasan yang berjudul “Ada Apa Dengan The Fed?? Part II”, kenapa Part II?? Karena Ada Apa Dengan Cinta aja sampe Part II, maka dapurinvestasi.com ngga mau kalah,, hehhe.. just kidding,,

Alasan yang benar adalah, karena penulis sudah pernah menulis “Ada Apa Dengan The Fed?? Part I” obviously..

Bisa di cek pada link berikut ini,,

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Nahh,, jadi di Part I itu, ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan Investor, Bagaimana perkembangan The Fed di tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? dan Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Okehh mari kita bahas dengan seksama,, perlu pembaca ketahui bahwa The Fed dijadwalkan mengadakan rapat dan memberikan keputusan terkait suku bunga acuan Amerika Serikat pada tanggal 20 – 21 September 2016. Berbagai pro dan kontra kembali terjadi terkait kenaikan suku bunga acuan Amerika tahap II, data terakhir menunjukkan bahwa pertaruhan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan September ini hanya memiliki probabilitas sebesar 20%, karena beberapa pihak masih belum yakin bahwa perekonomian Amerika Serikat mampu bertahan apabila suku bunga dinaikkan kembali.

Tanggal 20 – 21 akan menjadi hari hangat untuk membahas The Fed ini.

Penulis akan menjabarkan beberapa indicator ekonomi Amerika, sehingga pada akhir tulisan ini, pembaca dan Investor dapat mengambil kesimpulan terhadap keputusan Investasinya,,

GDP AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Pada kuartal II 2016 GDP Amerika Serikat tercatat sebesar 1.1% QoQ, lebih rendah tinggi dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% QoQ, tetapi secara tahunan hanya tercatat sebesar 1.2% YoY, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 1.6% YoY, walaupun secara tahunan masih melambat, tetapi terlihat bahwa GDP Amerika Serikat berangsur – angsur mengalami perbaikan.

Penulis memberikan point Netral untuk GDP Amerika Serikat.

INFLASI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Inflasi Amerika Serikat untuk bulan Agustus tercatat tumbuh sebesar 0.2% MoM, angka tersebut lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat hanya sebesar 0.0% MoM. Secara tahunan inflasi tercatat tumbuh lumayan sebesar 1.1% YoY, angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% YoY.

Dan apabila dilihat secara jangka panjang, inflasi Amerika Serikat telah mengalami perbaikan sejak awal tahun 2015.

Point yang cukup bagus dan positif dari segi inflasi untuk Amerika Serikat.

ANGKA PENGANGGURAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Data Initial Jobless Claims pada pekan lalu dirilis sebesar 260,000, memang mengalami peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebesar 259,000, tetapi terlihat pada grafik sebelah kiri, bahwa terjadi trend penurunan angka pengangguran dari yang tercatat sebesar 270,000.

Dalam lima tahun terakhir pun Initial Jobless Claims mengalami trend penurunan yang cukup kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat berhasil menekan angka pengangguran.

Point Positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Continuing Jobless Claims Amerika Serikat tercatat sebesar 2,143,000 pada pekan lalu, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,144,000 dan terlihat pada grafik sebelah kiri terjadi trend penurunan.

Apabila kita perpanjang data hingga lima tahun terakhir, terlihat trend penurunan angka pengangguran Amerika Serikat cukup kuat.

Point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Unemployment Rate juga sudah tercatat sebesar 4.9%, sesuai dengan target The Fed yang berada dibawah 5%. Dan apabila dilihat secara jangka panjang, Amerika Serikat telah berhasil menekan angka pengangguran dari sekitar 9% menjadi 4.9% dalam lima tahun terakhir.

Point positif lagi dan lagi untuk Amerika Serikat.

ANGKA KONSUMSI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat tercatat stagnan sebesar 89.8 pada bulan September, walaupun sejak Oktober 2015 tercatat fluktuatif, tetapi dalam lima tahun terakhir Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat mengalami peningkatan.

Point positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Tetapi Penjualan Ritel Amerika Serikat tercatat tidak terlalu memuaskan, dimana data terakhir pada bulan Agustus menunjukkan penurunan sebesar -0.3% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.1% MoM, dan secara tahunan juga tercatat sebesar 1.9% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2.4% YoY.

Apabila kita lihat secara jangka panjang, maka terlihat saat ini pertumbuhan penjualan ritel Amerika Serikat mengalami konsolidasi dan cenderung mengalami pelemahan.

Dalam hal ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Data Personal Income Amerika Serikat pada bulan Juli tercatat tumbuh 0.4% MoM, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.3% MoM. Namun secara jangka panjang tercatat flat, hal ini mengindikasikan bahwa Personal Income Amerika Serikat belum bertumbuh.

Yahh,, kita anggap netral aja yaa untuk indicator ini.

Source : Trading Economics

Selanjutnya adalah data Personal Spending pada bulan Juli tercatat mengalami penurunan menjadi 0.3% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.5% dan secara jangka panjang tercatat flat.

Dari segi ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Dari segi Non – Farm Payrolls pada bulan Agustus tercatat sebesar 151,000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 275,000 dan secara jangka panjang tercatat flat dan cenderung mengalami pelemahan.

Nahh, untuk Non – Farm Payrolls memang kita berikan point negative terlebih dahulu.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data Penjualan Rumah baru pada bulan Juli 2016, tercatat sebesar 654,000 jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 582,000 dan secara jangka panjang dalam lima tahun terakhir menunjukkan trend menguatan yang cukup kuat.

Kita kasih point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Manufacturing PMI Amerika Serikat bulan Agustus tercatat mengalami penurunan menjadi 52, dari bulan Juli yang tercatat sebesar 52.9, apabila dilihat dari grafik jangka panjang, telah terjadi rebound dari Manufacturing PMI Amerika Serikat, dan saat ini Manufacturing PMI Amerika Serikat masih berada diatas level aman 50.

Yaa,, untuk pencapaian ini kita berikan point positif,,

Source : Trading Economics

Sedangkan untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat tercatat -0.4% YoY pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.1% YoY, dan secara jangka panjang memang trend pertumbuhan produksi manufaktur mengalami penurunan.

Penulis memberikan point negatif untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Industrial Production Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat mengalami penurunan -0.4% MoM, jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 0.6% MoM dan secara tahunan masih berada pada zona negatih yaitu -1.1% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.6% YoY.

Secara jangka panjang pertumbuhan Intial Production terus mengalami pelemahan, tetapi berhasil membaik pada tahun 2016.

Tetapi berdasarkan rilis data terbaru, maka penulis memutuskan untuk memperikan poin negatif untuk Industrial Production Amerika Serikat.

NERACA PERDAGANGAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Apabila diperhatikan dengan seksama, sebenarnya neraca perdagangan Amerika Serikat mengalami perbaikan namun tidak terlalu signifikan, dan masih mengalami deficit neraca perdagangan. Ekspor mengalami penguatan sejak tahun 2012 dan melemah kembali pada 2015 karena USD mengalami penguatan akibat peningkatan suku bunga acuan Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak stimulus diberikan. Import juga cenderung mengalami pelemahan.

Sesungguhnya peningkatan suku bunga The Fed sangat berpengaruh terhadap ekspor Amerika Serikat, dimana barang dari Amerika Serikat akan terlihat lebih mahal karena USD yang mengalami penguatan terhadap beberapa mata uang negara di dunia.

Penulis memberikat point netral untuk neraca perdagangan Amerika Serikat.

Tetapi Fokus dari The Fed sendiri adalah bagaimana menekan angka pengangguran, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, selanjutnya dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan meningkatkan Inflasi, dan yang terakhir adalah menumbuhkan laju GDP Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data indikator diatas, dimana data positif sebesar 7 point lebih besar dibandingkan data negatif yang sebesar 5 point dan data netral yang sebesar 3 point.

Maka bagi perkiraan penulis, Kondisi perekonomian Amerika Serikat sudah lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 dan tahun – tahun sebelumnya. Amerika Serikat sudah lebih siap untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun 2016 dibandingkan aksi nekat The Fed pada tahun 2015 lalu, tetapi apapun keputusan The Fed pada tanggak 21 September 2016 nanti, sudah mutlak keputusan yang terbaik bagi The Fed dan Amerika Serikat. Penulis hanya memperkirakan bahwa The Fed akan tetap meningkatkan suku bunga pada tahun 2016 ini, namun akan sama polanya seperti tahun 2015, yaitu pada bulan Desember, karena menurut penulis masih ada 5 indikator yang harus dipenuhi untuk benar – benar menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Selain itu Pemilu Amerika Serikat yang akan diselenggarakan pada bulan November akan menjadi pertimbangan The Fed juga.

Wokehhh,, pembahasan The Fed sudah terpenuhi,, tetapi bagaimana dampaknya untuk Indonesia??

Jujur menurut penilaian penulis, hingga bulan Agustus 2016, perekonomian Indonesia cukup baik dibandingkan pada tahun 2015. Pembaca bisa melihat ulasannya pada link berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/pahami-indikator-ekonomi-sebelum-khawatir-akan-pelemahan-indeks-harga-saham-gabungan.html

Disisa tahun 2016 ini, Indonesia harus berkutat dengan penerimaan pajak yang terancam tidak mencapai target, apabila hal ini terus terjadi, maka dampak kenaikan suku bunga The Fed tahap II akan cukup besar bagi Indonesia,, walaupuun, walaupunnya di Bold, masih lebih kuat dibandingkan tahun 2015 lalu, karena menurut penulis perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini cukup stabil.

Sekedar Informasi, bahwa Realisasi penerimaan pajak hingga 13 September 2016 sudah mencapai Rp 656,11 triliun. Jumlah itu sekitar 48,41% dari target pajak di APBN-P 2016. Namun, jika dibandingkan dengan outlook penerimaan pajak realistis yang dipatok pemerintah, pencapaian itu sudah  57,6%. Dalam APBN-P target pajak yang ditetapkan sebesar Rp 1.355,2 triliun, sedangkan outlook realistisnya Rp 1.139,2 triliun.

Sekian ulasan kami mengenai Ada Apa Dengan The Fed?? Part II, semoga dapat menjadi panduan Investasi bagi Kawula Investasi,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Federal Reserve atau The Fed kembali membawa kekhawatiran bagi pasar keuangan di dunia. Janet Yellen selaku pimpinan The Fed pada pertemuan Jackson Hole Jumat (26/8) pukul 11.00 waktu New York menegaskan akan menaikkan suku bunga acuan pada beberapa bulan terakhir di 2016 seiring data ekonomi Amerika yang membaik.

Pasar memang sedikit bertingkah manja terhadap gejolak ekonomi, sejak Amerika memberikan quantitative easing (pelonggaran moneter dengan cara pengucuran dana oleh Bank Sentral melalui pembelian asset, dalam hal ini Obligasi) pada tahun 2008 karena krisis subprime motgage, pasar menjadi candu akan stimulus moneter, pergerakan pasar keuangan seolah sejalan dengan besar atau kecilnya stimulus moneter yang dikucurkan oleh Bank Sentral di berbagai Negara termasuk Amerika. Pasar terus berharap agar pelonggaran moneter terus diberikan sehingga tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Pada tahun 2013 pasar kembali bergejolak karena The Fed memastikan untuk mengurangi quantitative easing atau dikenal dengan istilah tapering off, dimana The Fed mulai mengurangi pembelian Obligasi dan pasar berpandangan bahwa pengurangan stimulus moneter tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi Amerika dan pertumbuhan ekonomi Dunia mengalami kontraksi.

Setelah tahun 2013 berlalu, ekonomi mulai pulih kembali dan seolah olah pasar berpandangan bahwa “gapapa The Fed ngga ngasih quantitative easing lagi, asalkan Amerika Serikat tetap menganut suku bunga rendah yaitu sebesar 0.25%”, sehingga dengan adanya suku bunga rendah maka daya beli masyarakat akan tumbuh, permintaan tenaga kerja akan stabil dan perekonomian akan meningkat kembali.

Tetapi pada tahun 2015 The Fed kembali mengguncang pasar keuangan, dengan memastikan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali sebesar 25 bps menjadi 0.50% dari sebelumnya yang sebesar 0.25%. Hal tersebut sontak membuat dollar Amerika Serikat menguat dibandingkan mata uang negara di dunia, mata uang negara emerging market mengalami depresiasi yang cukup dahsyat, terutama bagi negara yang tidak memiliki fundamental yang cukup baik.

Indikator utama yang menjadi acuan dalam menaikkan suku bunga Amerika Serikat adalah target pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan sebesar 2.1% – 2.2%, target Inflasi yang diperkirakan mencapai 2% dan target angka pengangguran yang diperkirakan berada pada level 5%.

Fakta yang terjadi ketika suku bunga acuan Amerika Serikat dinaikkan pada Desember 2015 adalah sebagai berikut :

Source : Trading Economic

Pertumbuhan GDP pada Kuartal IV 2015 hanya mencapai 1.9% lebih rendah dari target The Fed yang sebesar 2.1% – 2.2%.

Source : Trading Economic

Inflasi Amerika Serikat hanya tercatat sebesar 0.7% pada bulan Desember, jauh dibawah target The Fed yang sebesar 2%.

Source : Trading Economic

Data Unemployment rate Amerika Serikat tercatat sebesar 5% pada bulan Desember 2015, sesuai dengan target The Fed.

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada akhir tahun 2015 relatif terburu – buru dan cenderung nekat, mengingat dua dari tiga indikator ekonomi belum tercapai. Pada saat kenaikan tersebut terjadi, tentu perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat dalam beradaptasi terhadap keadaan tersebut. Apalagi perekonomian dunia yang kembali mengalami turbulence karena kebijakan kenaikan suku bunga The Fed.

Source : World Bank

Terlihat pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi dunia mengalami penurunan dan tercatat hanya tumbuh sebesar 2.47%.

Bagaimana dengan tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Pertanyaan diatas akan kami paparkan pada tulisan selanjutnya Part II..

Cerdaslah dalam berinvestasi ^__^

By : Putu Wahyu Suryawan