The Fed

Sruput Pagi Rabu 05 Oktober 2016 : Indeks Harga Saham Gabungan Lebih Dipengaruhi Pernyataan The Fed Dan Spekulasi Pengurangan Stimulus Bank Sentral Eropa

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan lanjutan pasca koreksi pada perdagangan kemarin, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.47% pada level 18,168.45, S&P 500 tercatat melemah -0.50% pada level 2,150.49 dan Nasdaq tercatat mengalami pelemahan -0.21% pada level 5,289.66.

Pelemahan Bursa Wall Street dipengaruhi oleh spekulasi kebijakan dua Bank Sentral, diantaranya The Federal Reserve dan European Central Bank, dimana Gubernur The Fed Richmond Jeffrey Lacker mendesak agar segera menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan Desember 2016. Hal tersebut didukung oleh pernyataan Presiden The Fed Loretta Mester yang menyatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat telah siap untuk kenaikan suku bunga acuan.

Disisi lain, European Central Bank diperkirakan akan melakukan pengurangan pembelian obligasi sebesar 10 Milyar Euro atau 11.2 Milyar USD pada akhir periode Maret 2017. Hingga bulan Maret 2017, pembelian Obligasi sebagai langkah stimulus masih sebesar 80 Milyar Euro atau 90 Milyar USD. Sentiment negatif ini lagi – lagi mempengaruhi gejolak bursa global, karena berbagai pihak beranggapan bahwa Uni Eropa belum siap apabila nilai stimulus dipangkas.

Harga minyak mentah dunia mengalami koreksi setelah terus mengalami penguatan tajam, minyak WTI tercatat melemah sebesar -0.35% pada level 48.64 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -0.14% pada level 50.82 USD/barel. Pelemahan dipengaruhi oleh perkiraan cadangan minyak Amerika Serikat yang mengalami peningkatan menjadi 2.062 juta barel, cadangan minyak Amerika akan dirilis pada hari ini. Walaupun begitu, koreksi harga minyak mentah dunia bersifat sehat dan rendah.

Dari dalam negeri, penerimaaan Tax Amnesty pada periode II tercatat sebesar 89.9 Triliun atau 54.42% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Harta yang terdeklarasi telah mencapai 3,654 Triliun atau sebesar 91.35% dari target pemerintah yang sebesar 4,000 Triliun. Sedangkan dana repatriasi masih sebesar 137 Triliun atau sebesar 13.70% dari target pemerintah yang sebesar 1,000 Triliun.

Source : IDX, Chart Nexus

Pada perdagangan kemarin Selasa, 04 Oktober 2016 Indeks Harga Saham Gabungan tercatat mengalami penguatan sangat tipis +8.402 poin atau +0.154% pada level 5,472.317. Apabila dilihat dari pergerakan harian, IHSG cenderung tertahan pada resistance 5,482 dan selanjutnya berkonsolidasi sehingga tercatat menguat tipis pada akhir sesi perdagangan. Memang belum terlihat katalis positif yang mampu menopang penguatan IHSG lebih lanjut, lebih dari itu Bursa Wall Street juga mengalami pelemahan seiring menguatnya spekulasi akan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan Desember 2016.

Berdasarkan data – data diatas baik fundamental maupun teknikal maka pada perdagangan hari ini kami memperkirakan bahwa IHSG akan mengalami pelemahan seiring dengan pelemahan bursa Wall Street dan pelemahan harga minyak mentah dunia, Pernyataan dari Gubernur The Fed dan Bank Sentral Eropa yang berupaya mengurangi stimulus ekonomi akan menjadi fokus investor di Indonesia saat ini. Selain itu dari dalam negeri belum rilis data ekonomi yang cukup positif.

IHSG diperkirakan akan bergerak pada range harga 5,400 – 5,475

Terima kasihh,, sekian sruputt cantik di pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Cerdaslah dalam berinvestasi,,..,, ^  ^

By : Dapur Investasi

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Senin 26 September 2016 : Profit Taking Investor Asing dan Kondisi Fundamental Perekonomian Indonesia Akan Menjadi Fokus Pasca Drama Bank Sentral

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Berbagai sentiment dan drama telah mengiringi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada perdagangan minggu kemarin, diantaranya The Fed dengan Fed Ratenya, Bank Of Japan dengan Suku Bunganya dan Bank Indonesia dengan 7 Days Reverse Repo.

Patut disyukuri bahwa IHSG menanggapi sentiment diatas dengan positif, dimana hingga akhir pekan IHSG ditutup mengalami penguatan mingguan sebesar +121.139 poin atau +2.30% pada level 5,388.908.

The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu.

Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, hal tersebut diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Bank Indonesia menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo setelah The Fed menunda kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, 7 Days Reverse Repo diturunkan menjadi 5% dari sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%, Deposit Facility Rate diturunkan menjadi 4.25% dan Lending Facility Rate diturunkan menjadi 5.75%. Dengan adanya penurunan rate dari Bank Indonesia diharapkan akan mampu menopang konsumsi masyarakat Indonesia, sehingga menstimulus pertumbuhan GDP Indonesia di sisa akhir tahun 2016 ini.

Ketiga sentiment diatas menurut dapurinvestasi.com merupakan sentiment positif yang mampu menopang perekonomian Indonesia tetap pada kata “Stabil”, sehingga pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang menurut konsesus sebesar 5.1% dapat tercapai.

Tetapi walaupun pergerakan IHSG pada minggu lalu tercatat positif menanggapi sentiment yang ada, namun Investor Asing melakukan net sell mingguan sebesar Rp 44.01 Milyar. Mengapa hal tersebut penting?? Karena Investor Asing masih memiliki porsi yang besar dalam perdagangan IHSG, yaitu sekitar 40%, maka gerak – gerik Investor Asing cepat atau lambat akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Source : Dapur Investasi

Grafik diatas merupakan grafik akumulasi pembelian saham oleh Investor Asing dan return IHSG sejak awal tahun 2016 (Merupakan data mingguan IHSG). Terlihat sejak Agustus 2016 bahwa Investor Asing telah mengurangi pembelian dan cenderung melakukan aksi profit taking, dan penguatan IHSG pada minggu lalu tidak ditopang oleh akumulasi pembelian Asing. Nahh Investor disarankan agar sedikit waspada, sekali lagi yang ditekankan oleh dapurinvestasi.com adalah “Waspada” bukan takut, resah dan gelisah, karena faktor fundamental ekonomi Indonesia masih baik baik saja, bahkan diperkirakan jauh lebih baik karena The Fed menunda kenaikan suku bunga pada bulan September, sehingga capital outflow tidak signifikan terjadi.

Berdasarkan data yang dapurinvestasi.com hitung, rata – rata akumulasi pembelian oleh Investor Asing berada pada harga 5,163 dengan nilai akumulasi net buy sejak Januari 2016 hingga September 2016 mencapai Rp 34.6 Triliun. Nahh Investor dapat mengawasi dan mencermati level 5,163 tersebut, selama IHSG tidak bergerak kearah level tersebut, maka IHSG masih dalam kondisi yang aman.

Sentiment selanjutnya yang menjadi kekhawatiran dari Investor kedepan adalah penerimaan pajak Pemerintah yang diperkirakan akan mengganggu dari anggaran belanja Pemerintah, khususnya Tax Amnesty masih sampai saat ini menjadi concern utama Investor.

Source : pajak.go.id

Berdasarkan data statistik Tax Amnesty, perkembangan uang tebusan mengalami peningkatan yang sangat signifikan di bulan September, dimana merupakan periode akhir untuk tarif tebusan sebesar 2%. Hingga 25 September 2016, tarif tebusan telah mencapai Rp 42.2 Triliun atau mencapai 25.58% dari total target penerimaan Pemerintah yang sebesar Rp 165 Triliun. Apabila dibandingkan dengan 23 September 2016 yang baru mencapai Rp 36.1 Triliun, maka peningkatan terjadi sebesar Rp 6.1 Triliun hanya dalam 2 hari atau meningkat sebesar 16.90%. Jumlah harta yang dilaporkan adalah sebesar Rp 1,769.8 Triliun dan dana repatriasi mencapai Rp 92.6 Triliun.

Hasil Tax Amnesty diatas akan tercermin dalam pergerakan IHSG pada sisa bulan di tahun 2016, perspektif investor mengenai penerimaan pajak Pemerintah akan tercermin dalam keputusan Investasinya. Tetapi menurut dapurinvestasi.com, apabila penerimaan dan belanja Negara tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2016, maka sektor Konsumsi dan Investasi dapat menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan hal tersebut akan terealisasi mengingat berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Pertumbuhan Ekspor dan Impor Indonesia juga berangsur – angsur mengalami perbaikan walaupun belum tercatat positif.

Yapp,, kami tetap optimis akan pergerakan IHSG di sisa tahun 2016, tetapi koreksi kecil akan tetap terjadi mengingat indikasi profit taking dari Investor Asing dan tetap cermati level 5,163.

Sekedar informasi, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan pada akhir pekan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.71% pada level 18,261.45, S&P 500 tercatat melemah -0.57% pada level 2,164.69 dan Nasdaq tercatat melemah -0.63% pada level 5,305.75.

Pelemahan Bursa Wall Street sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Selain itu Apple Inc. dan Facebook Inc. juga menjadi pemberat Bursa Wall Street, dimana perusahaan riset asal Jerman yaitu GFK melaporkan penjualan iphone 7 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pejualan produk Apple tahun lalu, hal tersebut didasari data dari Eropa dan Asia. Facebook mengalami pelemahan setelah mengungkapkan bahwa terjadi mark up terhadap rata – rata durasi tayang iklan video sebesar 60% – 80% yang menurut perseroan disebabkan oleh kesalah matrik dan hal tersebut telah diperbaiki oleh perseroan, perlu diketahui bahwa 90% pendapatan perseroan berasal dari periklanan.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami pelemahan tajam pada akhir pekan, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -3.97% pada level 44.48 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -3.69% pada level 45.89 USD/barel. Pelemahan terjadi karena adanya spekulasi bahwa pertemuan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Algeria pada 26-28 September mendatang tidak akan mencapai kata sepakat untuk membekukan produksi.

Pada hari ini Senin, 26 September 2016 kami memperkirakan bahwa IHSG mengalami pelemahan jangka pendek pada range 5,340 – 5,400. Potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street dan pelemahan harga minyak mentah dunia.

Adapun pilihan saham dari kami adalah sebagai berikut : NRCA TP 620, WSBP TP 590, CTRP TP 750, TINS TP 850, LPPF TP 20100.

Note : TP = Target Price

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Putu Wahyu Suryawan, Hendri Prasetyo Utomo, Galuh Lindra Lazuardi Imani

Cerdaslah dalam berinvestasi,,…. ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG Menguat, Menanti The FED

Pada awal perdagangan hari ini (21/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di buka melemah ke level 5.295,883. Namun akhirnya IHSG berhasil move on ke zona hijau dengan ditutup menguat sebesar 40,099 poin atau sebesar 0,756% ke level 5342,592. Para investor masih menunggu hasil rapat The FED yang akan melakukan kenaikan suku bunga acuan dengan peluang sebesar kurang lebih 20%. Selain itu Bank of Japan (BOJ) telah memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuan di level -0,1%..

Tercatat sebesar 165 saham yang bergerak naik, sedangkan 126 saham lainnya bergerak turun, dan 90 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 8,388 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.8,748 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.551,4 Milliar.

Tercatat dua sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar sebesar -0,16% disusul dengan sektor Agrikultur -0,03%. Sedangkan delapan sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri dengan kenaikan sebesar 2,59% disusul dengan sektor Konstruksi dengan kenaikan sebesar 1,84%.

Saham- saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Aneka Tambang (Persero) TBK (ANTM) naik 6,40% ke Rp.665,-, PT Bank Tabungan Negara (Persero) TBK (BBTN) naik 4,74% ke Rp.1.990,- dan PT Summarecon Agung TBK (SMRA) naik 3,93% ke Rp.1.720,-.

Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Semen Indonesia (Persero) TBK (SMGR) turun -1,75% ke Rp.9.825,-, PT Kalbe Farma TBK (KLBF) turun -1,45% ke Rp.1.700,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) turun -0,86% ke Rp.17.350,-.

#Cerdaslah dalam berinvestasi

By : dapurinvestasi.com

Sruput Pagi Rabu 21 September 2016 : IHSG Masih Berada Pada Area Resistance Trend Line, Tunggu Konfirmasi Indikator Untuk Keputusan Investasi Selanjutnya

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan tipis, dimana Dow Jones tercatat menguat +0.05% pada level 18,129.96, S&P 500 tercatat menguat +0.03% pada level 2,139.76 dan Nasdaq tercatat menguat +0.12% pada level 5,241.35.

Pergerakan Bursa Wall Street terlihat cukup fluktuatif mendekati pengumuman keputusan The Fed mengenai kepastian kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat tahap II pada tanggal 22 September ini. Terlihat pada perdagangan sebelumnya, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan tipis, dan semalam ditutup menguat tipis. Tetapi sebenarnya probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan September terbilang relatif kecil, karena rilis data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Amerika belum cukup kuat apabila kenaikan terjadi di bulan September.

Data Pembangunan Perumahan jauh mengalami penurunan yaitu sebesar -5.8% MoM pada bulan Agustus dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1.4% MoM, angka tersebut juga jauh dari perkiraan yang hanya turun sebesar -1.7%. Jumlah Pembangunan Perumahan hanya sebesar 1,142,000, dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,212,000.

Selain itu Izin pendirian gedung di Amerika Serikat juga terus mengalami penurunan, dari bulan Juli yang turun sebesar -0.8% dan turun sebesar -0.4% MoM pada bulan Agustus atau tercatat sebesar 1,139,000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,144,000.

Sentiment lainya juga datang dari Jepang, dimana Yen mengalami penguatan setelah Bank Of Japan terlihat kehabisan cara dalam memberikan stimulus moneter untuk memacu pertumbuhan ekonomi Jepang. Pada perdagangan hari ini Bank Of Japan akan mengumumkan suku bunga acuan Jepang.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak bervariasi, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.32% pada level 43.44 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -0.17% pada level 45.87 USD/barel. Pergerakan tersebut terjadi setelah Menteri Energi Aljazair mengatakan bahwa 14 anggota group akan melakukan pertemuan secara formal untuk mencari cara memotong pasokan minyak mentah 1 juta barel per hari demi kembali mencapai keseimbangan pasar dan menstabilkan harga.

Dari dalam negeri, belum ada data ekonomi terbaru yang rilis, tetapi pada pekan ini Investor sangat menunggu beberapa data mengenai suku bunga acuan, yaitu The Fed, BOJ dan 7 days reverse repo dari Bank Indonesia. Ketiga sentiment tersebut akan menjadikan acuan Investor dalam memberikan keputusan Investasi selanjutnya.

Dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 3.1 Triliun atau meningkat sebesar 12.92% menjadi Rp 27.1 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 24 Triliun atau telah mencapai 16.42% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,131 Triliun. Menurut Direktur Eskekutif Center for Indonesia Taxation Analisis Yustinus Prastowo, penerimaan sebesar itu sangat jauh dari target dan maka dari itu beliau membuat petisi melalui change.org. Isinya, agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperpanjang periode pertama tax amnesty. Karena memang kendala periode pertama pengampunan pajak berlaku mulai tanggal 1 Juli 2016 lalu hingga akhir September yaitu karena persiapan yang terbatas, pada tiga bulan pertama tersebut juga pemerintah masih dalam periode sosialisasi dan aturan teknis yang dirilis secara bertahap membuat masyarakat ragu dalam memastikan langkah untuk mengikuti tax amnesty pada awal periode.

Source : Chart Nexus

Pada perdagangan kemarin yang digambarkan oleh chart paling akhir berwarna hitam, menunjukkan bahwa IHSG tertahan oleh resistance 5,336, dimana sekaligus menjadi resistance trend line. Sejak bulan Agustus, pola down trend telah mulai terbentuk dan pergerakan IHSG pada hari ini akan mengkonfirmasi arah downtrend tersebut. Koreksi IHSG lebih cenderung besar terjadi seiring spekulasi terkait The Fed dan Bank Of Japan. Investor asing juga mengkonfirmasi resistance trend line tersebut dengan melakukan net sell sebesar 440.4 Milyar, marupakan angka yang cukup tinggi untuk mengkonfirmasi pola teknikal. MA 20 juga hampir mendekati MA 50 dan diperkirakan akan berpotongan dan membentuk dead cross, tetapi sekali lagi, pergerakan hari ini sebagai konfirmasi dari indicator tersebut. IHSG pada hari ini kami perkirakan akan bergerak pada range 5,250 – 5,340.

Lagi – lagi, seiring data fundamental yang belum positif dan indikator teknikal yang menunjukkan ketidakpastian, kami tetap menyarankan agar Investor menunggu terlebih dahulu dalam melakukan transaksi, saran kami adalah lebih baik menunggu dari pada melakukan cut loss.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Selasa 20 September 2016 : Penerimaan Tax Amnesty Akan Membantu IHSG Mengarungi Ketidakpastian The Fed

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan tipis, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.02% pada level 18,120.17, S&P 500 tercatat melemah -0.00% pada level 2,139.12 dan Nasdaq tercatat melemah -0.18% pada level 5,235.03.

Pelemahan tipis Bursa Wall Street dipengaruhi oleh aksi wait and see dari Investor mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat yang diumumkan pekan ini, probabilitas telah mengalami penurunan yang saat ini tercatat sebesar 20% probabilitas, dibandingkan pada bulan Agustus yang tercatat sebesar 40% Probabiliatas. The Fed diperkirakan akan mempertimbangkan ekonomi global juga dalam keputusan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Data pembangunan perumahan yang akan diumumkan pada hari ini, diperkirakan sebagai data terakhir yang rilis sebagai pertimbangat The Fed pada rapat 20 – 21 September 2016.Pembangunan perumahan diperkirakan mengalami penurunan sebesar -1.7% MoM dengan jumlah sebesar 1,191,000 rumah. Dengan adanya penurunan kinerja dari pembangunan perumahan, maka The Fed diperkirakan akan menunda kenaikan suku bunga acuan tersebut.

Disisi lain sentiment muncul dari Bank Sentral Eropa dan Bank Of Japan, dimana kedua Bank Sentral tersebut tengah mempelajari efektifitas dari kebijakan stimulus yang telah mereka keluarkan, sebelum memutuskan untuk memberikan stimulus tambahan. Untuk Rabu pekan ini, Bank Of Japan juga akan mengumumkan berbagai kebijakan, diantaranya pemotongan suku bunga acuan Jepang lebih rendah lagi, untuk memacu perekonomian Jepang, seperti biasa, hal seperti ini yang ditunggu – tunggu oleh pasar.

Selain sentiment diatas, data Inflasi Amerika Serikat juga mengalami perbaikan pada bulan Agustus, dimana Inflasi tercatat tumbuh 0.2% MoM lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat hanya sebesar 0.00% MoM, dan secara tahunan tercatat sebesar 1.1% YoY, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar 0.8% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi Amerika semakin menguat dan mendekati target dari The Fed, serta bisa menjadi bahan pertimbangan The Fed pada rapat pekan ini.

Harga minyak mentah dunia mengalami teknikal rebound, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.51% pada level 43.25 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +0.22% pada level 45.87 USD/barel. Penguatan harga minyak mentah dunia hanya bersifat jangka pendek dan tertahan, karena pasca konflik yang terjadi di Libya, dimana terjadi bentrok antara Petroleum Facilities Guard Unit dengan tentara militan di bawah pasukan Khalifa Haftar, saat ini kapal tangki minyak telah kembali ke terminal ekspor Ras Lanuf Libya untuk memuat minyak dan akan mengirim minyak mentah ke luar negeri untuk pertama kalinya sejak tahun 2014. Direncanakan kapal Seadelta mengekspor 781.000 barel minyak mentah ke Italia.

Dari China, Indeks Angka Perumahan mengalami pertumbuhan sebesar 9.2% YoY pada bulan Agustus, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7.9% YoY. Disisi lain Bank for International Settlements (BIS) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit yang tinggi di China menandakan peningkatan risiko krisis perbankan pada tiga tahun ke depan, dimana jarak atau gap antara kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) China telah menyentuh level 30,1 pada kuartal pertama tahun ini dan berada di atas level 10 menandakan krisis yang berpotensi terjadi dalam tiga tahun mendatang.

Dari dalam negeri, menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suahasil Nazara mengatakan, kemungkinan batas defisit APBN-P akan melebar menjadi 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan adanya hal tersebut pemerintah harus menambah utang sekitar Rp 37 triliun untuk menambal pelebaran defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) tahun 2016. Utang untuk menutup defisit tersebut rencananya akan didapat dari penerbitan surat berharga negara (SBN).

Dilain sisi, Utang Indonesia kepada China selama setahun terakhir telah tumbuh 46,09%. Jika pada Juli tahun lalu jumlah utang ke China sebesar US$ 9,69 miliar maka Juli tahun ini naik US$ 4,47 miliar menjadi US$ 14,17 miliar. Berdasarkan rilis Statistik Utang Luar Negeri (Sulni) Bank Indonesia (BI), posisi China sebagai negara kreditor juga mengalami lonjakan. Jika tahun lalu China masih ada di posisi kelima dalam daftar lima kreditor terbesar Indonesia, maka Juli tahun ini sudah ada di tiga besar. Hal tersebut terjadi karena memang sebagian besar proyek Infrastruktur Indonesia merupakan hasil kerjasama antara Indonesia dan China, sekaligus pembiayaan yang dilakukan oleh China, secara tidak langsung Foreign Direct Investment dari China cukup mengalami peningkatan.

dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami pelonjakan tajam sebesar Rp 7.2 Triliun atau meningkat sebesar 42.86% menjadi Rp 24 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 16.8 Triliun atau telah mencapai 14.55% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,013 Triliun dari 88,983 wajib pajak.

Melihat data ekonomi diatas khususnya pelonjakan tajak pada penerimaan Tax Amnesty, diperkirakan IHSG pada hari ini akan melanjutkan penguatan. Issue The Fed masih tetap menjadi perhatian Investor, namun Investor akan lebih fokus pada penerimaan pajak dalam negeri dan pelebaran deficit APBN P 2016. Apabila pertumbuhan penerimaan Tax Amnesty melonjak secara konsisten setiap harinya, disisa periode tariff 2%, maka penerimaan dana tebusan Tax Amnesty akan menjadi lebih optimis. IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range 5,300 – 5,370.

Investor disarankan dapat melakukan pembelian, namun tetap mewaspadai risiko profit taking dari Investor Asing, karena pada perdagangan kemarin, walaupun IHSG mengalami kenaikan, namun Investor Asing masih mencatatkan net sell sebesar 97.4 Milyar.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Jumat 09 September 2016 : Wall Street, Minyak, The Fed dan Tax Amnesty Menjadi Katalis Beragam IHSG!! Cermati Saham Berbasis Komoditas…

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.25% pada level 18,479.91, S&P 500 tercatat melemah -0.22% pada level 2,181.30 dan Nasdaq tercatat melemah -0.46% pada level 5,259.48.

Pelemahan terjadi setelah data penganguran Amerika Serikat mengalami penurunan menjadi 259.000 pada 3 September, lebih rendah dari pekan lalu yang tercatat sebesar 263.000, angka tersebut juga lebih rendah dari perkiraan konsensus yang sebesar 265.000.

Penurunan angka pengangguran diatas seiring dengan meningkatnya data pembukaan lapangan kerja yang dirilis pada hari kemarin dan hal ini bisa menjadi kunci pertimbangan The Fed untuk meningkatkan suku bunga acuan Amerika lebih cepat. Investor terlihat tidak mau mengambil langkah spekulasi dan cenderung menunggu fakta dari kenaikan suku bunga acuan Amerika yang akan diumumkan pada 20 – 21 September nanti.

Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan yang cukup tajam, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +4.24% pada level 47.43 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +3.75% pada level 49.78 USD/barel. Penguatan harga minyak mentah dunia terjadi setelah EIA merilis data cadangan minyak Amerika yang jauh mengalami penurunan menjadi -14.513 juta barel, dari periode sebelumnya yang tercatat positif 2.276 juta barel.

Dari Eropa, Bank Sentral Eropa mengumumkan suku bunga acuan tetap pada level 0%, dengan suku bunga deposito tetap pada -0.4% dan suku bunga pinjaman juga tetap pada level 0.25%. Selain itu Bank Sentral Eropa juga menetapkan kebijakan untuk tetap melakukan pembelian Asset sejumlah 80 Milyar Euro tiap bulannya hingga bulan Maret 2017.

Dari dalam negeri, mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana pada hari kemarin dan hanya dalam satu hari terjadi penambahan dana tebusan sebesar Rp 0.9 Triliun menjadi Rp 7.36 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 6.46 Triliun atau telah mencapai 4.5% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 325.5 Triliun dari 42.497 wajib pajak dan dana repatriasi mengalami peningkatan menjadi Rp 15.7 Triliun. Sejak awal bulan September, perkembangan Tax Amnesty terbilang cukup pesat, dimana setiap harinya penambahan dari uang tembusan dan penambahan dana repatriasi selalu tercatat pada kisaran 1 Triliun.

Melihat dari data diatas, walaupun Tax Amnesty terbilang cukup positif berdasarkan data kemarin, tetapi kami masih melihat bahwa pergerakan IHSG akan cenderung terbebani oleh pelemahan Bursa Amerika dan kepastian akan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat akan masih membuat Investor berhati – hati dalam mengambil keputusan. Indeks kami perkirakan akan mengalami pelemahan namun bersifat terbatas, karena kami memperkirakan sektor komoditas terutama yang berbasis minyak akan mengalami penguatan terdorong penguatan harga minyak mentah dunia. Indeks kami perkirakan akan bergerak pada range 5,340 – 5,400.

Kami masih menyarankan dalam kondisi ini, Investor dapat memanfaatkan momentum dengan trading jangka pendek saja yaitu strategi buy on weakness. Dalam kondisi seperti ini memang pola IHSG akan cenderung bergerak pada saham – saham berkapitalisasi kecil, maka saham rekomendasi kami adalah saham berbasis komoditas dengan kapitalisasi kecil.

Tetapi perlu diingat dan dipahami, bahwa saham yang memiliki kapitalisasi kecil sangat berisiko untuk dijadikan sarana Investasi dan hanya bersifat jangka pendek.

Saham pilihan kami hari ini adalah NIKL, ELSA, PTBA, AKRA

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^ ^

By : Dapur Investasi

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Federal Reserve atau The Fed kembali membawa kekhawatiran bagi pasar keuangan di dunia. Janet Yellen selaku pimpinan The Fed pada pertemuan Jackson Hole Jumat (26/8) pukul 11.00 waktu New York menegaskan akan menaikkan suku bunga acuan pada beberapa bulan terakhir di 2016 seiring data ekonomi Amerika yang membaik.

Pasar memang sedikit bertingkah manja terhadap gejolak ekonomi, sejak Amerika memberikan quantitative easing (pelonggaran moneter dengan cara pengucuran dana oleh Bank Sentral melalui pembelian asset, dalam hal ini Obligasi) pada tahun 2008 karena krisis subprime motgage, pasar menjadi candu akan stimulus moneter, pergerakan pasar keuangan seolah sejalan dengan besar atau kecilnya stimulus moneter yang dikucurkan oleh Bank Sentral di berbagai Negara termasuk Amerika. Pasar terus berharap agar pelonggaran moneter terus diberikan sehingga tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Pada tahun 2013 pasar kembali bergejolak karena The Fed memastikan untuk mengurangi quantitative easing atau dikenal dengan istilah tapering off, dimana The Fed mulai mengurangi pembelian Obligasi dan pasar berpandangan bahwa pengurangan stimulus moneter tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi Amerika dan pertumbuhan ekonomi Dunia mengalami kontraksi.

Setelah tahun 2013 berlalu, ekonomi mulai pulih kembali dan seolah olah pasar berpandangan bahwa “gapapa The Fed ngga ngasih quantitative easing lagi, asalkan Amerika Serikat tetap menganut suku bunga rendah yaitu sebesar 0.25%”, sehingga dengan adanya suku bunga rendah maka daya beli masyarakat akan tumbuh, permintaan tenaga kerja akan stabil dan perekonomian akan meningkat kembali.

Tetapi pada tahun 2015 The Fed kembali mengguncang pasar keuangan, dengan memastikan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali sebesar 25 bps menjadi 0.50% dari sebelumnya yang sebesar 0.25%. Hal tersebut sontak membuat dollar Amerika Serikat menguat dibandingkan mata uang negara di dunia, mata uang negara emerging market mengalami depresiasi yang cukup dahsyat, terutama bagi negara yang tidak memiliki fundamental yang cukup baik.

Indikator utama yang menjadi acuan dalam menaikkan suku bunga Amerika Serikat adalah target pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan sebesar 2.1% – 2.2%, target Inflasi yang diperkirakan mencapai 2% dan target angka pengangguran yang diperkirakan berada pada level 5%.

Fakta yang terjadi ketika suku bunga acuan Amerika Serikat dinaikkan pada Desember 2015 adalah sebagai berikut :

Source : Trading Economic

Pertumbuhan GDP pada Kuartal IV 2015 hanya mencapai 1.9% lebih rendah dari target The Fed yang sebesar 2.1% – 2.2%.

Source : Trading Economic

Inflasi Amerika Serikat hanya tercatat sebesar 0.7% pada bulan Desember, jauh dibawah target The Fed yang sebesar 2%.

Source : Trading Economic

Data Unemployment rate Amerika Serikat tercatat sebesar 5% pada bulan Desember 2015, sesuai dengan target The Fed.

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada akhir tahun 2015 relatif terburu – buru dan cenderung nekat, mengingat dua dari tiga indikator ekonomi belum tercapai. Pada saat kenaikan tersebut terjadi, tentu perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat dalam beradaptasi terhadap keadaan tersebut. Apalagi perekonomian dunia yang kembali mengalami turbulence karena kebijakan kenaikan suku bunga The Fed.

Source : World Bank

Terlihat pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi dunia mengalami penurunan dan tercatat hanya tumbuh sebesar 2.47%.

Bagaimana dengan tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Pertanyaan diatas akan kami paparkan pada tulisan selanjutnya Part II..

Cerdaslah dalam berinvestasi ^__^

By : Putu Wahyu Suryawan