tax amnesty

Sruput Pagi Senin 26 September 2016 : Profit Taking Investor Asing dan Kondisi Fundamental Perekonomian Indonesia Akan Menjadi Fokus Pasca Drama Bank Sentral

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Berbagai sentiment dan drama telah mengiringi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada perdagangan minggu kemarin, diantaranya The Fed dengan Fed Ratenya, Bank Of Japan dengan Suku Bunganya dan Bank Indonesia dengan 7 Days Reverse Repo.

Patut disyukuri bahwa IHSG menanggapi sentiment diatas dengan positif, dimana hingga akhir pekan IHSG ditutup mengalami penguatan mingguan sebesar +121.139 poin atau +2.30% pada level 5,388.908.

The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu.

Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, hal tersebut diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Bank Indonesia menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo setelah The Fed menunda kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, 7 Days Reverse Repo diturunkan menjadi 5% dari sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%, Deposit Facility Rate diturunkan menjadi 4.25% dan Lending Facility Rate diturunkan menjadi 5.75%. Dengan adanya penurunan rate dari Bank Indonesia diharapkan akan mampu menopang konsumsi masyarakat Indonesia, sehingga menstimulus pertumbuhan GDP Indonesia di sisa akhir tahun 2016 ini.

Ketiga sentiment diatas menurut dapurinvestasi.com merupakan sentiment positif yang mampu menopang perekonomian Indonesia tetap pada kata “Stabil”, sehingga pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang menurut konsesus sebesar 5.1% dapat tercapai.

Tetapi walaupun pergerakan IHSG pada minggu lalu tercatat positif menanggapi sentiment yang ada, namun Investor Asing melakukan net sell mingguan sebesar Rp 44.01 Milyar. Mengapa hal tersebut penting?? Karena Investor Asing masih memiliki porsi yang besar dalam perdagangan IHSG, yaitu sekitar 40%, maka gerak – gerik Investor Asing cepat atau lambat akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Source : Dapur Investasi

Grafik diatas merupakan grafik akumulasi pembelian saham oleh Investor Asing dan return IHSG sejak awal tahun 2016 (Merupakan data mingguan IHSG). Terlihat sejak Agustus 2016 bahwa Investor Asing telah mengurangi pembelian dan cenderung melakukan aksi profit taking, dan penguatan IHSG pada minggu lalu tidak ditopang oleh akumulasi pembelian Asing. Nahh Investor disarankan agar sedikit waspada, sekali lagi yang ditekankan oleh dapurinvestasi.com adalah “Waspada” bukan takut, resah dan gelisah, karena faktor fundamental ekonomi Indonesia masih baik baik saja, bahkan diperkirakan jauh lebih baik karena The Fed menunda kenaikan suku bunga pada bulan September, sehingga capital outflow tidak signifikan terjadi.

Berdasarkan data yang dapurinvestasi.com hitung, rata – rata akumulasi pembelian oleh Investor Asing berada pada harga 5,163 dengan nilai akumulasi net buy sejak Januari 2016 hingga September 2016 mencapai Rp 34.6 Triliun. Nahh Investor dapat mengawasi dan mencermati level 5,163 tersebut, selama IHSG tidak bergerak kearah level tersebut, maka IHSG masih dalam kondisi yang aman.

Sentiment selanjutnya yang menjadi kekhawatiran dari Investor kedepan adalah penerimaan pajak Pemerintah yang diperkirakan akan mengganggu dari anggaran belanja Pemerintah, khususnya Tax Amnesty masih sampai saat ini menjadi concern utama Investor.

Source : pajak.go.id

Berdasarkan data statistik Tax Amnesty, perkembangan uang tebusan mengalami peningkatan yang sangat signifikan di bulan September, dimana merupakan periode akhir untuk tarif tebusan sebesar 2%. Hingga 25 September 2016, tarif tebusan telah mencapai Rp 42.2 Triliun atau mencapai 25.58% dari total target penerimaan Pemerintah yang sebesar Rp 165 Triliun. Apabila dibandingkan dengan 23 September 2016 yang baru mencapai Rp 36.1 Triliun, maka peningkatan terjadi sebesar Rp 6.1 Triliun hanya dalam 2 hari atau meningkat sebesar 16.90%. Jumlah harta yang dilaporkan adalah sebesar Rp 1,769.8 Triliun dan dana repatriasi mencapai Rp 92.6 Triliun.

Hasil Tax Amnesty diatas akan tercermin dalam pergerakan IHSG pada sisa bulan di tahun 2016, perspektif investor mengenai penerimaan pajak Pemerintah akan tercermin dalam keputusan Investasinya. Tetapi menurut dapurinvestasi.com, apabila penerimaan dan belanja Negara tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2016, maka sektor Konsumsi dan Investasi dapat menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan hal tersebut akan terealisasi mengingat berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Pertumbuhan Ekspor dan Impor Indonesia juga berangsur – angsur mengalami perbaikan walaupun belum tercatat positif.

Yapp,, kami tetap optimis akan pergerakan IHSG di sisa tahun 2016, tetapi koreksi kecil akan tetap terjadi mengingat indikasi profit taking dari Investor Asing dan tetap cermati level 5,163.

Sekedar informasi, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan pada akhir pekan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.71% pada level 18,261.45, S&P 500 tercatat melemah -0.57% pada level 2,164.69 dan Nasdaq tercatat melemah -0.63% pada level 5,305.75.

Pelemahan Bursa Wall Street sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Selain itu Apple Inc. dan Facebook Inc. juga menjadi pemberat Bursa Wall Street, dimana perusahaan riset asal Jerman yaitu GFK melaporkan penjualan iphone 7 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pejualan produk Apple tahun lalu, hal tersebut didasari data dari Eropa dan Asia. Facebook mengalami pelemahan setelah mengungkapkan bahwa terjadi mark up terhadap rata – rata durasi tayang iklan video sebesar 60% – 80% yang menurut perseroan disebabkan oleh kesalah matrik dan hal tersebut telah diperbaiki oleh perseroan, perlu diketahui bahwa 90% pendapatan perseroan berasal dari periklanan.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami pelemahan tajam pada akhir pekan, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -3.97% pada level 44.48 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -3.69% pada level 45.89 USD/barel. Pelemahan terjadi karena adanya spekulasi bahwa pertemuan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Algeria pada 26-28 September mendatang tidak akan mencapai kata sepakat untuk membekukan produksi.

Pada hari ini Senin, 26 September 2016 kami memperkirakan bahwa IHSG mengalami pelemahan jangka pendek pada range 5,340 – 5,400. Potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street dan pelemahan harga minyak mentah dunia.

Adapun pilihan saham dari kami adalah sebagai berikut : NRCA TP 620, WSBP TP 590, CTRP TP 750, TINS TP 850, LPPF TP 20100.

Note : TP = Target Price

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Putu Wahyu Suryawan, Hendri Prasetyo Utomo, Galuh Lindra Lazuardi Imani

Cerdaslah dalam berinvestasi,,…. ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Selasa 20 September 2016 : Penerimaan Tax Amnesty Akan Membantu IHSG Mengarungi Ketidakpastian The Fed

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan tipis, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.02% pada level 18,120.17, S&P 500 tercatat melemah -0.00% pada level 2,139.12 dan Nasdaq tercatat melemah -0.18% pada level 5,235.03.

Pelemahan tipis Bursa Wall Street dipengaruhi oleh aksi wait and see dari Investor mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat yang diumumkan pekan ini, probabilitas telah mengalami penurunan yang saat ini tercatat sebesar 20% probabilitas, dibandingkan pada bulan Agustus yang tercatat sebesar 40% Probabiliatas. The Fed diperkirakan akan mempertimbangkan ekonomi global juga dalam keputusan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Data pembangunan perumahan yang akan diumumkan pada hari ini, diperkirakan sebagai data terakhir yang rilis sebagai pertimbangat The Fed pada rapat 20 – 21 September 2016.Pembangunan perumahan diperkirakan mengalami penurunan sebesar -1.7% MoM dengan jumlah sebesar 1,191,000 rumah. Dengan adanya penurunan kinerja dari pembangunan perumahan, maka The Fed diperkirakan akan menunda kenaikan suku bunga acuan tersebut.

Disisi lain sentiment muncul dari Bank Sentral Eropa dan Bank Of Japan, dimana kedua Bank Sentral tersebut tengah mempelajari efektifitas dari kebijakan stimulus yang telah mereka keluarkan, sebelum memutuskan untuk memberikan stimulus tambahan. Untuk Rabu pekan ini, Bank Of Japan juga akan mengumumkan berbagai kebijakan, diantaranya pemotongan suku bunga acuan Jepang lebih rendah lagi, untuk memacu perekonomian Jepang, seperti biasa, hal seperti ini yang ditunggu – tunggu oleh pasar.

Selain sentiment diatas, data Inflasi Amerika Serikat juga mengalami perbaikan pada bulan Agustus, dimana Inflasi tercatat tumbuh 0.2% MoM lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat hanya sebesar 0.00% MoM, dan secara tahunan tercatat sebesar 1.1% YoY, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar 0.8% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi Amerika semakin menguat dan mendekati target dari The Fed, serta bisa menjadi bahan pertimbangan The Fed pada rapat pekan ini.

Harga minyak mentah dunia mengalami teknikal rebound, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.51% pada level 43.25 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +0.22% pada level 45.87 USD/barel. Penguatan harga minyak mentah dunia hanya bersifat jangka pendek dan tertahan, karena pasca konflik yang terjadi di Libya, dimana terjadi bentrok antara Petroleum Facilities Guard Unit dengan tentara militan di bawah pasukan Khalifa Haftar, saat ini kapal tangki minyak telah kembali ke terminal ekspor Ras Lanuf Libya untuk memuat minyak dan akan mengirim minyak mentah ke luar negeri untuk pertama kalinya sejak tahun 2014. Direncanakan kapal Seadelta mengekspor 781.000 barel minyak mentah ke Italia.

Dari China, Indeks Angka Perumahan mengalami pertumbuhan sebesar 9.2% YoY pada bulan Agustus, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7.9% YoY. Disisi lain Bank for International Settlements (BIS) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit yang tinggi di China menandakan peningkatan risiko krisis perbankan pada tiga tahun ke depan, dimana jarak atau gap antara kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) China telah menyentuh level 30,1 pada kuartal pertama tahun ini dan berada di atas level 10 menandakan krisis yang berpotensi terjadi dalam tiga tahun mendatang.

Dari dalam negeri, menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suahasil Nazara mengatakan, kemungkinan batas defisit APBN-P akan melebar menjadi 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan adanya hal tersebut pemerintah harus menambah utang sekitar Rp 37 triliun untuk menambal pelebaran defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) tahun 2016. Utang untuk menutup defisit tersebut rencananya akan didapat dari penerbitan surat berharga negara (SBN).

Dilain sisi, Utang Indonesia kepada China selama setahun terakhir telah tumbuh 46,09%. Jika pada Juli tahun lalu jumlah utang ke China sebesar US$ 9,69 miliar maka Juli tahun ini naik US$ 4,47 miliar menjadi US$ 14,17 miliar. Berdasarkan rilis Statistik Utang Luar Negeri (Sulni) Bank Indonesia (BI), posisi China sebagai negara kreditor juga mengalami lonjakan. Jika tahun lalu China masih ada di posisi kelima dalam daftar lima kreditor terbesar Indonesia, maka Juli tahun ini sudah ada di tiga besar. Hal tersebut terjadi karena memang sebagian besar proyek Infrastruktur Indonesia merupakan hasil kerjasama antara Indonesia dan China, sekaligus pembiayaan yang dilakukan oleh China, secara tidak langsung Foreign Direct Investment dari China cukup mengalami peningkatan.

dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami pelonjakan tajam sebesar Rp 7.2 Triliun atau meningkat sebesar 42.86% menjadi Rp 24 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 16.8 Triliun atau telah mencapai 14.55% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,013 Triliun dari 88,983 wajib pajak.

Melihat data ekonomi diatas khususnya pelonjakan tajak pada penerimaan Tax Amnesty, diperkirakan IHSG pada hari ini akan melanjutkan penguatan. Issue The Fed masih tetap menjadi perhatian Investor, namun Investor akan lebih fokus pada penerimaan pajak dalam negeri dan pelebaran deficit APBN P 2016. Apabila pertumbuhan penerimaan Tax Amnesty melonjak secara konsisten setiap harinya, disisa periode tariff 2%, maka penerimaan dana tebusan Tax Amnesty akan menjadi lebih optimis. IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range 5,300 – 5,370.

Investor disarankan dapat melakukan pembelian, namun tetap mewaspadai risiko profit taking dari Investor Asing, karena pada perdagangan kemarin, walaupun IHSG mengalami kenaikan, namun Investor Asing masih mencatatkan net sell sebesar 97.4 Milyar.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Jumat 16 September 2016 : Penguatan IHSG Berlanjutt,,

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami kenaikan, dimana Dow Jones tercatat menguat +0.99% pada level 18,212.48, S&P 500 tercatat menguat +1.01% pada level 2,147.26 dan Nasdaq tercatat menguat +1.47% pada level 5,249.69.

Penguatan Bursa Wall Street terjadi setelah data ekonomi Amerika yang tercatat dibawah ekspektasi, disaat rapat The Fed semakin dekat. Angka pengangguran Amerika Serikat mengalami kenaikan tipis sebesar 1.000 menjadi 260.000, dari pekan lalu yang tercatat sebesar 259.000. Penjualan Ritel bulan Agustus secara bulanan mengalami penurunan sebesar -0.3% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.1% MoM dan secara tahunan mengalami penurunan menjadi 1.9% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2.4% YoY. Industrial Production bulan Agustus juga mengalami pelemahan menjadi -0.4% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.6% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar -1.1% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.5% YoY. Sedangkan Angka Indeks Produksi mengalami perbaikan walaupun tidak terlalu signifikan yaitu 0.0% MoM pada bulan Agustus, lebih baik dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.4% MoM dan secara tahunan juga tercatat sebesar 0.0% YoY, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.2% YoY.

Berdasarkan data ekonomi diatas yang dirilis, maka menurut CME Group’s FedWatch probabilitas kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan ini hanya sebesar 12%, sedangkan untuk spekulasi di pasar saat ini sudah mengalami penurunan dibawah 20% probabilitas.

Harga minyak mentah dunia mengalami teknikal rebound, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.67% pada level 43.87 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +1.29% pada level 46.44 USD/barel. Kenaikan ditopang oleh penundaan pengiriman minyak menuju New York Harbor, penguatan harga minyak mentah dunia ditopang peningkatan bensin yang menguat sebesar 5.1% setelah pipa saluran yang mulai dibangun diperkirakan mampu menyalurkan lebih dari 1 juta barel dari pantai teluk ke Amerika timur.

Dari Eropa, data inflasi tercatat sebesar 0.1% MoM pada bulan Agustus, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.6%, dan secara tahunan tercatat stagnan pada level 0.2% YoY.

Dari dalam negeri, data Neraca Perdagangan Indonesia bulan Agustus tercatat sebesar $ 0.29 Milyar, lebih rendah dari bulan lalu yang tercatat sebesar $ 0.51 Milyar, bahkan dibawah ekspektasi yang sebesar $ 0.45 Milyar. Tetapi Ekspor mengalami perbaikan pertumbuhan menjadi -0.74% YoY, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -17.02% YoY dan Impor juga mengalami perbaikan menjadi -0.49% YoY, lebih baik dari bulan lalu yang tercatat sebesar -11.56% YoY

dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana pada hari kemarin tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 1.9 Triliun menjadi Rp 13.1 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 11.2 Triliun atau telah mencapai 7.94% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 552.5 Triliun dari 66,077 wajib pajak.

Sentiment Tax Amnesty telah mengangkat IHSG sebanyak +2.328% pada level 5,265.819 pada perdagangan kemarin, selain itu IHSG cukup wajar mengalami rebound karena telah mencatatkan penurunan selama 4 hari berturut – turut. Dan pada hari ini, kami memperkirakan bahwa IHSG tetap melanjutkan penguatan namun Investor harus tetap mewaspadai aksi profit taking karena kenaikan kemarin cukup tinggi, selain itu, disaat IHSG tercatat mengalami penguatan, namun Investor asing mencatatkan net sell sebesar 527.8 Milyar. Indeks diperkirakan bergerak pada range 5,250 – 5,300.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan Asyyiiik (y 2, i 3, k 1) pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Selasa 13 September 2016 : IHSG Masih Mencatatkan Penurunan Lanjutan,, Wait For The Great Moment..

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan, dimana Dow Jones tercatat menguat +1.32% pada level 18,325.07, S&P 500 tercatat menguat +1.47% pada level 2,159.04 dan Nasdaq tercatat menguat +1.68% pada level 5,211.89.

Tidak ada data ekonomi yang rilis sebagai sentiment positif dari lonjakan Bursa Wall Street, penguatan Indeks terjadi dikarenakan setelah Gubernur The Fed Lael Brainard berkata dalam pidatonya yaitu The Fed harus lebih berhati – hati dalam menaikkan suku bunga, walaupun perekonomian Amerika Serikat saat ini sudah berangsur –angsur naik mengikuti target The Fed sebagai acuan menaikkan suku bunga Amerika Serikat. Ada beberapa poin yang menjadi fokus dari Lael Brainard, diantaranya Inflasi kurang responsif terhadap pasar tenaga kerja yang saat ini tengah membaik, artinya walaupun angka pengangguran mengalami penurunan, tetapi hal tersebut tidak mampu menciptakan demand dan meningkatkan Inflasi. Yang kedua adalah gejolak ekonomi dunia masih menjadi fokus dari Lael Brainard, dan yang terakhir adalah menurut Lael Brainard, kebijakan moneter kurang mampu merespon pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Menurut survey, probablitas kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan September mengalami penurunan menjadi hanya 20%

Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan tipis, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.41% pada level 46.07 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +0.27% pada level 48.14 USD/barel. Penguatan tipis terjadi setelah pada hari sebelumnya harga minyak dunia mengalami pelemahan tajam dikarenakan rilis data Baker Hughes Inc yang mencatatkan adanya aktivitas peningkatan rig menjadi 414, tertinggi sejak Februari dan negara pengekspor minyak OPEC memprediksi terjadi peningkatan produksi dari produsen minyak selain OPEC pada tahun 2017. Selain itu Investor masih menunggu kepastian hasil meeting OPEC mengenai pembekuan produksi minyak dunia.

Dari China, data terakhir menunjukkan bahwa Inflasi China pada bulan Agustus tercatat sebesar 0.1% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.2% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar 1.3% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1.8% YoY, tetapi data Angka Produksi mengalami perbaikan menjadi -0.8% YoY pada bulan Agustus, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -1.7%. Data diatas menjadi pemberat Indeks Hang Seng yang melemah -3.36% pada level 23,290.60. Pada hari ini Investor tengah menunggu data penjualan ritel China.

Dari Jepang, Angka Produksi mengalami penurunan pada bulan Agustus sebesar -0.3% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.0% MoM, tetapi secara tahunan tercatat lebih baik sebesar -3.6% YoY, dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -3.9% YoY.

Dari dalam negeri, data penjualan ritel bulan Juli Indonesia mengalami penurunan menjadi 6.7% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 16.4% YoY, dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana pada pada libur akhir pekan terjadi penambahan dana tebusan sebesar Rp 1.57 Triliun menjadi Rp 8.93 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 7.36 Triliun atau telah mencapai 5.4% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 388.5 Triliun dari 49.270 wajib pajak dan dana repatriasi mengalami peningkatan menjadi Rp 18.8 Triliun.

Melihat dari data diatas, kami melihat bahwa IHSG masih terus mengalami pelemahan. Selain data ekonomi dalam negeri yang belum cukup baik, dimana penjualan ritel mengalami pelemahan, secara teknikal IHSG telah menembus support kuat pada range 5,296 – 5,300 dengan net sell Investor Asing sebesar Rp 914 Milyar. Tetapi pelemahan hari ini akan bersifat terbatas dan arah selanjutnya adalah konsolidasi sembari menunggu kepastian keputusan The Fed dan data ekonomi selanjutnya yang diekspektasikan akan positif. Indeks kami perkirakan akan bergerak pada range 5,220 – 5,320.

Kami menyarankan agar investor menunggu terlebih dahulu dari pola pergerakan IHSG, amankan posisi kas anda dan tunggu moment terbaik untuk melakukan average pembelian. Penurunan IHSG baru saja dimulai dan masih bersifat wajar.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucu hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Cerdaslah dalam berinvestasi… ^ ^

By : Dapur Investasi

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.