saham pilihan

IHSG Mencoba Rebound di Akhir Bulan Agustus 2016

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.26% pada level 18,454.30, S&P 500 tercatat melemah -0.20% pada level 2,176.12 dan Nasdaq tercatat melemah -0.18% pada level 5,222.99. Pelemahan terjadi setelah mengalami penguatan pada hari perdagangan sebelumnya, pergerakan Bursa Wall Street menjadi sangat fluktuatif dan penuh ketidakpastian pasca pidato Janet Yellen selaku pimpinan The Fed mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, semakin membaik data ekonomi Amerika Serikat, maka semakin kuat kemungkinan suku bunga acuan dinaikkan.

Data ekonomi Amerika Serikat yang terbaru adalah rilisnya Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat tercatat sebesar 101.1 pada bulan Agustus, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 96.7, hal tersebut mengindikasikan bahwa data ekonomi Amerika semakin siap untuk kenaikan suku bunga Acuan Amerika Serikat dan Investor saat ini mencermati data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis pada pekan ini.

Dari Eropa, Indeks Kepercayaan Bisnis tercatat sebesar 0.02 pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.38 dan Indeks Kepercayaan Konsumen tercatat sebesar -8.5 pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -7.9.

Dari Asia, khususnya Jepang, Industrial Production tercatat tumbuh 0.0% MoM pada bulan Juli, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2.3% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar -3.8% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -1.5% YoY.

Dari dalam negeri, Pemerintah menargetkan, RAPBN 2017 akan sebesar Rp 1.737,6 triliun, lebih rendah dari tahun 2016. Meski total lebih rendah dari APBN-P 2016, anggaran Kementerian dan Lembaga (K/L) masih positif, untuk belanja K/L dialokasikan Rp 1.310 triliun dan untuk transfer daerah itu rp 760 triliun. Defisit RAPBN 2017 diperkirakan Rp 332,8 triliun, Kementrian PU masih tertinggi anggaran belanjanya dengan anggaran 105 triliun. Pertumbuhan ekonomi masih ditargetkan 5,3%, lebih optimis ketimbang target 2016 yang sebesar 5,2%, konsumsi rumah tangga ditargetkan tumbuh 5,2% dan konsumsi pemerintah naik 5,4%. Sedangkan investasi ditargetkan naik 6,4%, untuk ekspor dan impor ada dikisaran posistif diperkirakan 1,1% dan 2,2% itu juga dengan catatan kondisi perdagangan dunia masih lemah. Inflasi diperkirakan 4% dalam kisaran 3% sampai 5%, kemudian nilai tukar rupiah masih pada kisaran Rp 13.000 per dollar AS. Harga minyak diperkirakan US$ 45 per barel dalam kisaran US$ 40 – US$ 55. Asumsi lifting minyak sekitar 780.000 barel per hari.  Sedangkan lifting produksi gas 1.100 – 1.200 barrels of oil equivalen per day (BOEPD).

Melihat data ekonomi yang dirilis diatas, maka kami memperkirakan IHSG pada hari ini masih akan melanjutkan pelemahan namun akan terbatas dan akan mencoba untuk menguji support pada level 5,296. Apabila IHSG kuat bertahan pada level support tersebut maka diperkirakan IHSG akan mengalami technical rebound harian. Tetapi Indikasi technical tidak ditopang dengan sentiment ekonomi yang positif, kenaikan suku bunga The Fed dan pelemahan harga minyak mentah dunia masih membayangi pergerakan IHSG, ditambah lagi pesimisme akan pencapaian dana tebusan Tax Amnesty akan membebani laju IHSG pada hari ini. Belum ada data ekonomi dalam negeri yang mampu menopang IHSG dari pelemahan pasca pemangkasan anggaran belanja negara oleh pemerintah karena pemerintah mulai terlihat realistis dengan target penerimaan negara. Indeks diperkirakan akan bergerak pada range 5,296 – 5,390.

Chart IHSG

Secara technical, dalam dua hari terakhir IHSG memang sudah menebus level bawah (Break Down) dari MA 20, hal tersebut mengindikasikan bahwa secara jangka pendek trend IHSG telah berbalik arah dari Up Trend menjadi Down Trend. Saat ini arah pergerakan IHSG akan menuju level support 5,296 dan setelah itu kemungkinan besar akan mengalami konsolidasi pada area 5,296 – 5,450. Tetapi apabila IHSG tidak mampu bertahan pada level support 5,296 maka target pelemahan IHSG selanjutnya akan berada pada level 5,200. Namun Investor tidak perlu khawatir, karena secara jangka panjang IHSG masih positif dalam trend bullisnya, koreksi yang terjadi akan bersifat wajar mengingat belum adanya sentiment ekonomi yang bersifat positif untuk menopang laju IHSG.

Rekomendasi saham pada pagi ini bisa diperhatikan saham SMGR, SMRA, INCO dan KRAS

Selamat Berinvestasi ^^

by: dapurinvestasi.com

SRUPUT PAGI, MARKET REVIEW KAMIS 02 JUNI 2016

IHSG pada perdagangan Kamis (02/06) diperkirakan akan mengalami penurunan. Standards and Poor’s (S&P) mempertahankan peringkat investasi Indonesia di bawah Investment Grade dengan peringkat BB+ dengan prospek positif. Hal tersebut tentu merupakan data yang mengecewakan, karena Pemerintah mengharapkan level Investment Grade diberikan oleh Standards and Poor’s (S&P). Pelemahan data manufaktur China, pelemahan harga minyak dunia dan antisipasi kenaikan suku bunga The Fed juga menjadi katalis negatif pergerakan Indeks hari ini. Indeks diperkirakan akan bergerak pada range 4,740 – 4,850.

SRUPUT PAGI, MARKET REVIEW JUM’AT 27 MEI 2016

IHSG pada perdagangan Jumat (27/05) diperkirakan akan bergerak dengan koreksi terbatas. Investor tengah menunggu kepastian keputusan dari The Fed dan isu Brexit. Walaupun kinerja harga minyak dunia mampu menopang sektor komoditas Indonesia, namun hal tersebut hanya akan menyebabkan indeks melemah terbatas, belum mampu menopang penguatan Indeks. Dari data domestik, investor tengah menunggu keputusan S&P yang diperkirakan akan menaikkan rating Indonesia menjadi “Investment Grade”. Indeks akan diperkirakan bergerak pada level 4,750 – 4,800.

Bahas PDB Indonesia??

Heyy guys,, selamat membaca kembali di website kita “dapurinvestasi.com”..

Website kita kembali aktif nihh, setelah sebelumnya mengalami perbaikan, biar lebih keren lagii yaa guys.. hehehe.

Artikel kali ini, kita akan membahas GDP (Gross Domestic Product) atau dalam Bahasa Indonesia PDB (Produk Domestik Bruto). Secara simplenya sihh PDB itu salah satunya metode untuk menghitung pendapatan suatu negara, dimana didalamnya ada pengeluaran dari konsumsi masyarakat, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor juga impor.

So, didapat Rumus PDB atau GDP adalah,,

Rumus GDP

Nahh,, postur GDP Indonesia didominasi oleh konsumsi masyarakatnya, dimana data terakhir pada kuartal I 2016 menunjukkan konsumsi masyarakat mendominasi sebesar 56.25 %, seperti Tabel berikut ini,,

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Porsi kedua di peroleh oleh Investasi yang sebesar 34.61%, selanjutnya ekspor memperoleh porsi 21.18%, sedangkan ekspor 19.83%. Untuk pemerintah hanya memiliki porsi sebesar 6.09%.

Porsi masing-masing sektor pada postur GDP Indonesia menjadi penting, karena pertumbuhan masing-masing sektor yang mempunyai porsi besar akan mempengaruhi pertumbuhan GDP secara signifikan. Dan saat ini GDP Indonesia masih bergantung pada konsumsi masyarakatnya. Jumlah penduduk yang besar menjadi senjata ampuh untuk menopang pertumbuhan GDP Indonesia.

Sekarang mari kita lihat pergerakan proporsi GDP Indonesia dari tahun 2000..

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Dari tabel tersebut dapat kita lihat trendnya dari tahun 2000, ternyata walaupun Konsumer masih mendominasi dalam postur GDP, namun secara trend proporsi mengalami penurunan, hal tersebut dikarenakan sejak krisis tahun 1998, pemerintah telah mulai memangkas subsidi BBM, dimana tingkat konsumsi masyarakat sangat bergantung pada murahnya harga BBM, apabila subsidi dikurangi perlahan, maka pertumbuhan konsumsi masyarakat tidak akan terlalu signifikan. Ekspor Impor Indonesia pun secara signifikan mengalami penurunan secara proporsional pada postur GDP Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh ekspor Indonesia yang bergantung pada komoditas pertambangan, saat ini harga komoditas telah jatuh dalam karena melambatnya perekonomian dunia. Maka dari itu pendapatan Indonesia dari Ekspor berdampak signifikan dan mengalami penurunan.

Nah dari segi impor, mengapa mengalami penurunan yang signifikan juga, hal tersebut disebabkan pemerintah telah memangkas subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak), bahkan di era pemerintahan Joko Widodo, subsidi sudah sama sekali dihapuskan. Apabila subsidi dihapuskan, maka harga BBM dalam negeri akan meningkat tajam dan akan menyebabkan permintaan akan BBM mengalami penurunan. BBM juga memiliki porsi yang lumayan besar dalam impor Indonesia, maka kinerja impor juga signifikan menurun karena hal itu. Kurs rupiah juga yang telah melemah terhadap dollar Amerika mempengaruhi kinerja Impor Indonesia, dimana barang barang luar negeri mengalami penurunan permintaan di dalam negeri.

Untuk Porsi pemerintah seperti terlihat pada gambar mengalami peningkatan, namun tidak terlalu signifikan, sedangkan dari segi Investasi mengalami peningkatan yang signifikan dari porsi GDP. Hal ini karena pemerintah sangat konsisten dalam menciptakan iklim investasi yang baik di Indonesia, sehingga Investor Asing dan Investor Domestik telah optimis dalam penanaman modal di Indonesia.

Selanjutnya kita akan menunjukkan data pertumbuhan GDP dari tahun 2000..

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

GDP Indonesia secara konsisten tumbuh pada frame 2001 – Q1 2016. Menurut perhitungan kami, secara YoY GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.32% YoY, secara Annualized GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.33% YoY dan secara QoQ GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 1.31%.

Berikut adalah tabel komposisi dan pertumbuhan GDP Indonesia dari Q1 2000 sampai Q1 2016,,

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Dapat kita lihat, walaupun GDP Indonesia secara konsisten tumbuh namun pertumbuhan GDP Indonesia mengalami trend penurunan sejak tahun 2007 yang tercatat sebesar 6.35% Annualized, hingga pada Annualized tahun 2015 tercatat dibawah 5.0% yaitu sebesar 4.79% Annualized. hal tersebut merupakan imbas dari perlambatan ekonomi dunia setelah krisis Amerika dan Eropa terjadi.

Tetapi, pembaca tidak perlu khawatir, karena menurut data terakhir yaitu Kuartal I 2016 GDP Indonesia tumbuh sebesar 4.92% lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang tumbuh hanya 4.73%, hal tersbut jelas mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai mengalami perubahan trend menjadi trend kenaikan.

GDP Indonesia pada Kuartal I 2016 tercatat sebesar 2,262 Triliun tumbuh 4,92% YoY. Konsumsi masyarakat tumbuh 4,97% YoY lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang sebesar 4,72% YoY dan tumbuh tinggi dari Kuartal I 2011 yang sebesar 4,13%. Hal ini menunjukkan konsumsi masyarakat secara perlahan telah mengalami perbaikan seiring kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sejak awal 2016, seperti penurunan harga BBM, Penurunan Bi Rate, Penguatah kurs Rupiah, Penurunan Lending Rate dan Deposit Rate, peningkatan Upah Minimum Masyarakat dan peningkatan PTKP ( Penghasilan Tidak Kena Pajak). Semua unsur tersebut sangat berdampak pada tingkat konsumsi masyarakat, dan secara otomatis akan berpengaruh pada pertumbuhan GDP, mengingat porsi konsumsi masyarakat sangat tinggi pada GDP Indonesia.

Dari segi Pemerintah, hanya tumbuh tipis yaitu sebesar 2,93% pada Kuartal I 2016, dimana angka tersebut hanya lebih tinggi tipis disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 2,91%. Belanja pemerintah memang sudah mulai digenjot pada Kuartal I 2016, namun Pemerintah masih memiliki kendala dalam realisasi belanja pemerintah, hal tersebut dikarenakan pendapatan Pemerintah dari pajak sangat minim. Pemerintah masih memperbaiki infrastruktur dan regulasi dalam Pajak. Berbagai paket kebijakan untuk menarik pajak sudah dikeluarkan dan diperkirakan efektif pada pertengahan tahun 2016.

Nahhh, untuk Investasi tumbuh lumayan nihh guys, pada Kuartal I 2016 Investasi tumbuh 5,57% YoY lebih tinggi disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 4,63% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa regulasi dan paket kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah untuk mempermudah Investasi dan kegiatan usaha di Indonesia mulai berhasil diterapkan. Pemerintah telah mempermudah pembuatan izin usaha dan izin-izin lainnya untuk Investasi.

Namun Ekspor dan Impor Indonesia masih mengalami penurunan, masih dipengaruhi perlambatan ekonomi dunia. Pemerintah diharapkan mengalihkan pendapatan ekspor dari yang semula bergantung pada ekspor komoditas, menjadi kuat pada sector pariwisata yang dapat menopang devisa negara. Penarikan dana investasi asing juga dapat digunakan untuk mengimbangi kinerja ekspor yang terus mengalami penurunan.

Okehhh,, paragraph mendekati terakhir nihh, dapurinvestasi.com akan mencoba untuk memberikan satu pandangan. Hal simple yang bisa diperoleh dari data diatas adalah “Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan sejalan dengan membaiknya iklim Investasi di negara tersebut”.. Acuan sederhana, apabila GDP tumbuh maka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia) juga akan tumbuh.

Kita telah mengetahui bahwa komponen utama dalam GDP Indonesia, yaitu Konsumsi Masyarakat dan Investasi telah tumbuh pada Kuartal I 2016 lebih tinggi dibandingkan Kuartal I 2015, maka hal itu mengindikasikan kebijakan pemerintah terkait tingkat konsumsi masyarakat dan terkait regulasi Investasi telah berhasil, dan Investor sangat tertarik berinvestasi di Indonesia. Masalah yang harus diperbaiki adalah Ekspor dan Impor Indonesia serta realisasi belanja pemerintah yang harus ditingkatkan lagi agar Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 5% lagii.

Tidak ada alasan untuk tidak berinvestasi di Indonesia apabila kita melihat indikator GDP Kuartal I 2016. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global mungkin tetap menjadi pertimbangan, namun apabila Indonesia bisa atau mampu dan sanggup tumbuh dalam keadaan ekonomi dunia yang sedang melambat. Menurut kami hal tersebut cukup aman untuk menanamkan dana investasi di Indonesia.

Sektor dalam IHSG yang dapat di koleksi sampai akhir tahun 2016 adalah Sektor Konsumsi, Sektor Infrastruktur, Sektor Property, Sektor Perbankan dan Sektor Manufaktur..

Sekian dan terimakasih..

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com

 

Kereta Cepat Jakarta – Bandung dan Efeknya terhadap Perkembangan Investasi

Kereta Cepat Jakarta – Bandung dan Efeknya terhadap Perkembangan Investasi

Kereta Cepat Jakarta – Bandung dan Efeknya terhadap Perkembangan Investasi

Sejak awal Jokowi menjadi Presiden, pemerintah saat ini memang mencanangkan akan memberikan semua fasilitas dan kemudahan untuk berinvestasi di Indonesia guna menggerakkan perekonomian Indonesia yang memang sedang melambat serta dapat menciptakan lapangan pekerjaan. Beragam kebijakan seperti perizinan mudah, pembangunan infrastruktur, jaminan keamanan, dan berbagai insentif lainnya dikeluarkan pemerintah untuk menunjang kegiatan investasi ini. Dengan hal tersebut, kita bisa melihat watak dari pemerintahan saat ini adalah pro investasi, dan ini tidak serta merta dikonotasikan hal yang buruk. Asalkan dengan hitung-hitungan yang akurat, bermanfaat untuk rakyat, dan menunjang pertumbuhan ekonomi, kebijakan pro investasi ini sejatinya harus kita dukung.

Beberapa waktu yang lalu, media dihebohkan soal pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 km. Pembangunan kereta cepat merupakan proyek kolaboratif konsorsium PT Kereta Cepat Indonesia Cina (KCIC), yang terdiri dari China Railway International Co Ltd (CRI) dan PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI). PSBI merupakan gabungan dari empat perusahaan BUMN, yakni PT Wijaya Karya (Persero) Tbk, PT Kereta Api Indonesia (Persero), PT Jasa Marga (Persero), dan PT Perkebunan Nusantara VIII (Persero).

Total nilai proyek pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung sebesar USD5.5 miliar. Jika dirupiahkan dengan kurs Rp13.600/USD, diperoleh nilai Rp74,8 triliun rupiah. Sebesar 75% dari biaya ini adalah pinjaman dari Bank Pembangunan China (CDB). Sisanya sebesar 25% (Rp18,7 triliun) harus disediakan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China. Dengan porsi sebesar 60%, kewajiban dari PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia adalah menyetor sebesar Rp11,2 triliun. Jika dihitung per BUMN anggota konsorsium, PT Wijaya Karya Tbk mempunyai kewajiban sebesar Rp4,263 triliun (38%), PT Jasa Marga Tbk sebesar Rp1,346 triliun (12%), PT Kereta Api Indonesia sebesar Rp2,805 triliun (25%), dan PT Perkebunan Nusantara VIII sebesar Rp2,805 triliun (25%).

Menurut rencana, kereta cepat ini akan mulai beroperasi pada tahun 2020 dengan tarif yang diharapkan sebesar Rp 200.000/perjalanan. Kemudian pertanyaannya adalah, berapa lama operasi kereta cepat ini bisa balik modal dan meraih keuntungan? Pemerintah memperkirakan titik impas (break even point) proyek kereta cepat Jakarta-Bandung ini pada tahun ke-40. Untuk sebuah proyek yang pembiayaannya murni bisnis, 40 tahun adalah waktu yang sangat lama, kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dalam 40 tahun kedepan bukan? Mudah-mudahan tidak terjadi hal yang buruk. Berdasarkan pernyataan pemerintah tersebut, tidak heran banyak pakar berpendapat, proyek ini mempunyai resiko yang cukup tinggi dan bisa merugikan BUMN, apalagi sebagian besar pembiayaan didapat dari pinjaman yang dikhawatirkan mengganggu keuangan BUMN yang ikut serta. Akhirnya menjadi sebuah kewajaran banyak yang menolak proyek ini.

Peluang Investasi untuk sektor Properti dan Turunannya

Menarik untuk mencermati nama-nama BUMN yang ikut dalam konsorsium proyek kereta cepat ini. Ya, ada nama Jasa Marga dan PTPN VIII yang sebenernya tidak ada hubungannya dengan transportasi Kereta Api. Satu-satunya alasan mengapa mereka ikut serta menurut kami adalah adanya potensi keuntungan lain diluar kereta cepat yang bisa menjadi sumber pendapatan baru dan berhubungan dengan Jasa Marga serta PTPN terutama dari sektor properti hunian dan kawasan industri.

Sepanjang jalur yang akan dilalui oleh kereta cepat ini, adalah tanah-tanah dan aset milik Jasa Marga dan PTPN VIII. Dengan dilalui kereta cepat, tanah-tanah, aset, dan kawasannya akan memiliki nilai yang lebih tinggi dibanding saat ini. Daerah karawang dan sekitarnya yang selama ini dikenal merupakan kawasan industri juga akan terkena dampak dengan akan maraknya pertumbuhan hunian maupun kawasan industri baru. Di Walini (akan ada stasiun pemberhetian kereta cepat di sini), sudah mulai direncanakan akan ada kota raya baru seluas 1.270 hektar untuk hunian dan agrowisata. Hal tersebut membuat kawasan tersebut sudah pasti akan jadi rebutan para pengembang besar. Bahkan rencananya di kawasan ini akan dibangun Disneyland. Ada pengembang besar yang punya lahan di Karawang, 100 hektar sudah dikembangkan menjadi tahap awal Industrial Park. Jarak lokasi itu dengan Jakarta 40 km, 70 km dari Bandara Soetta, dan ingat, nanti akan ada Pelabuhan Cilamaya juga di dekatnya. Menurut kami itu lokasi yang benar-benar sangat strategis apalagi jika adanya kereta cepat nanti. Berdasarkan pantauan kami, saat ini dimana kereta cepat baru proses groundbreaking, namun pengembang di kawasan sekitar yang akan dilalui kereta cepat sudah percaya diri mulai menaikkan harga lahan di sana sebesar 10% – 15%.

Jadi menurut kami, ini memang benar-benar soal bisnis. Soal potensi pasar yang besar dari pengembangan sektor properti, bukan sekedar bisnis transportasi Kereta. Tapi, apapun jenis bisnisnya, proyeknya, sebesar apapun potensinya, kita berharap pemerintah melalui proyek kereta cepat ini, benar-benar memiliki motivasi untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah, pemerataan pembangunan, serta bermanfaat bagi rakyat.

Efek terhadap Saham-saham di Pasar Modal

Di atas sudah dijelaskan mengenai apa itu proyek kereta cepat serta potensinya bagi investasi. Selanjutnya apa hubungan dengan saham-saham di Bursa Efek Indonesia? Dalam penjelasan di atas, dalam konsorsium BUMN, ada 2 perusahaan yang sahamnya tercatat di bursa, yaitu PT Wijaya Karya (WIKA) dan PT Jasa Marga (JSMR). Jika kereta cepat ini sudah efektif berjalan, berpotensi akan menambah pendapatan dari perusahaan tersebut. Jangan dilupakan juga saham-saham property yang mempunyai lahan disekitar wilayah yang dilalui juga berpotensi menambah pendapatan serta meningkatkan nilai Aset perusahaan tersebut. Saham-saham tersebut adalah Puradelta Lestari (DMAS), Modernland Realty (MDLN), Bekasi Fajar Industrial Estate (BEST), dan Kawasan Industri Jababeka (KIJA).

  Jadi untuk kedepan, jika proyek kereta cepat benar-benar terealisasikan, saham-saham di atas bisa menjadi pilihan untuk investasi teman-teman mengingat potensi ekonomi dari proyek tersebut akan meningkatkan pendapatan serta kinerja mereka secara keuangan.

Sekian bahasan kali ini semoga dapat bermanfaat bagi Sobat Dapur Investasi.

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com