investasi syariah

Indeks Dalam Negeri Part 3 – Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

Indeks Dalam Negeri Part 3 – Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

Indeks Dalam Negeri Part 3 – Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI)

Hallo Sobat Dapur Investasi yang masih setia mantengin web kita setiap hari. Gimana kabar kalian hari ini? Pasti udah gak sabaran nih nunggu pembahasan kita selanjutnya. Pembahasan kita hari ini masih seputar Indeks yang ada di Indonesia. Sebelumnya kita pernah membahas tentang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan Indeks LQ45, hari ini kita akan membahas tentang Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI).

Indeks Saham Syariah Indonesia atau yang lebih dikenal dengan sebutan ISSI (bukan ISIS loh yaaa) merupakan Indeks saham yang mencerminkan keseluruhan saham syariah yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) merupakan gabungan keseluruhan saham yang tercantum dalam Daftar Efek Syariah (DES), berbeda dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merupakan gabungan dari seluruh saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI). Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI) di luncurkan oleh Bursa Efek Indonesia pada tanggal 12 Mei 2011.

Mungkin Sobat Dapur Investasi pernah mendengar kalimat atau kata-kata yang kurang lebih seperti ini “ah, jual beli saham itu kan haram.. Takut dosa!”. Hal-hal semacam itu menimbulkan paradigma fikiran bahwa investasi pada instrument saham merupakan sesuatu yang haram dan harus di hindarkan. Investasi saham dikatakan haram jika kita melakukan transaksi dengan cara gambling (tanpa perhitungan). Lalu bagaimana jika kita ingin melakukan investasi saham agar tidak dikatakan haram yang akibatnya menjadi “dosa”? Pada dasarnya, investasi pada instrument saham harus di dasari dengan pertimbangan data-data konkrit dan dengan data itu kita lakukan analisa baik analisa fundamental (dengan data laporan keuangan) atau pun analisa tekhnikal (dengan data historical harga saham).

Kembali lagi ke pembahasan mengenai Indeks Saham Syariah Indonesia (ISSI), Indeks ini di perbaharui setiap 6 bulan sekali. Untuk kriteria pemilihan saham syariah tentunya dengan melihat prinsip syariah Islam yang menganut kepada Peraturan Bapepam-LK No.II.K.1 tentang Kriteria dan Penerbitan Daftar Efek Syariah.

Nah, jadi untuk Sobat Dapur Investasi yang memang ingin melakukan transaksi pada instrument pasar modal terutama saham namun takut jika ternyata saham perusahaan yang dibeli mengandung unsur riba atau semacamnya, Sobat Dapur Investasi gak perlu takut lagi karena pada saat ini sudah banyak saham-saham yang dapat Sobat Dapur Investasi pilih sesuai dengan kriteria syariah Islam.

Semoga pembahasan kali ini bisa menambah pengetahuan Sobat Dapur Investasi.

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com

 

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 4 – Jenis-Jenis Investasi Syariah

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 4 - Jenis-Jenis Investasi Syariah

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 4 – Jenis-Jenis Investasi Syariah

Halo sobat Dapur Investasi, kali ini kita bakalan ngebahas tentang jenis-jenis investasi syariah. Tapi sebelum kita membahas tentang jenis-jenis syariah, ada beberapa hal yang perlu temen-temen tau, let’s go check this out..

Prinsip-prinsip syariah di pasar modal (Peraturan Bapepam-LK no. IX.A tentang penerbitan efek syariah).

Prinsip-prinsip hukum Islam dalam kegiatan di bidang pasar modal didasarkan pada fatwa DSN-MUI, baik fatwa yang ditetapkan dalam peraturan Otoritas Jasa Keuangan maupun fatwa yang telah diterbitkan sebelum ditetapkannya peraturan ini. Sepanjang fatwa di maksud tidak bertentangan dengan peraturan ini dan atau peraturan Otoritas Jasa Keuangan lain yang didasarkan pada fatwa DSN-MUI

Peraturan no. IX.A.14 Akad-akad yang di gunakan dalam penerbitan efek syariah (Kep-430/BL/2012)

Isi pokok peraturan, jenis akad-akad di pasar modal syariah:

  1. Akad Ijarah (sewa menyewa)
  2. Akad Kafalah (Memberikan Jaminan)
  3. Akad Mudharabah (Kerjasama)
  4. Akad Wakalah (Memberikan Kuasa)
  5. Akad Musyarakah (Kerjasama)
  6. Akad Istishna (Pemesanan)

Efek Syariah 

Efek sebagaimana dimaksud dalam UU pasar modal dan peraturan pelaksanaannya yang akad, cara, dan kegiatan usaha yang menjadi landasan penerbitannya tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah di pasar modal.

  1. Saham Syariah
  2. Sukuk Negara
  3. Sukuk Korporasi
  4. Reksadana Syariah
  5. ETF Syariah

Nah kita sudah melihat sekilas mengenai prinsip, akad dan yang tergolong efek syariah. Dan kita akan membahas satu persatu beberapa instrument Syariah, check this out..

  1. Saham Syariah

Proses seleksi yang dilakukan oleh Otoritas Jasa Keuangan adalah sesuai dengan peraturan Bapepam dan LK No. II.K.1 yang mengatur kriteria dan penerbitan efek syariah.

  • Tidak melakukan kegiatan usaha yang dilarang secara syariah dan tercatat di Bursa Efek Indonesia
  • Rasio utang berbasis bunga dibandingkan total asset < 45%
  • Rasio pendapatan non halal terhadap pendapatan < 10%
  1. Sukuk

Peraturan yang mengatur tentang sukuk goverment dan corporate adalah peraturan Bapepam dan LK no. IX A 13 yang berisi tentang penerbitan efek syariah, sukuk seperti obligasi konvensional dan untuk definisi sukuk sendiri adalah sertifikat atau bukti kepemilikan yang bernilai sama dan mewakili bagian yang tidak tertentu atas :

  • A’yan maujudat (asset berwujud tertentu)
  • Manafiul A’yan (nilai manfaat atas asset berwujud)
  • Al khadmat (jasa yang sudah ada maupun yang aka ada)
  • Maujudat masyru’ mu’ayyan (asset proyek tertentu)
  • Nasyath ististmarin khashah (kegiatan investasi yang telah di tentukan)
  1. ETF Syariah

Exchange Trade Syariah yang diterbitkan sesuai dengan prinsip-prinsip syariah di bursa efek Indonesia. Fatma MUI tentang ETF syariah adalah fatwa No.80/DSN-MUIIII/2011. ETF syariah sendiri adalah reksadana yang tercatat di Bursa Efek Indonesia yang pada dasarnya sama dengan ETF konvesional, yang membedakan hanya dari segi portofolio, pada ETF Syariah dikomposisikan dengan instrument Syariah yang lebih banyak.

Sekian pembahasan kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi sobat Dapur Investasi..

Cerdaslah kita dalam berinestasi ^^

By : dapurinvestasi.com

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 3

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 3

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 3

Hallo sobat Dapur Investasi.. Hari ini kita akan mereview tentang investasi konvensional dan investasi syariah..

Seperti yang sudah pernah dibahas sebelumnya mengenai investasi konvensional dan investasi syariah.. Hari ini kita sedikit meriview yang sudah kita bahas dua hari yang lalu ya.. Investasi konvensional ialah investasi yang mengabaikan aspek hukum syariah Islam, jadi pelaku investasinya itu menganut sistem konvensional dengan hanya menanamkan modalnya dengan tujuan keuntungan semata dengan memperhitungkan resiko yang ada. Berbagai macam investasi konvensional bisa jumpai secara mudah, contoh yang paling sederhana yaitu dengan menabung deposito di Bank konvensional. Contoh yang lainnya investasi konvensional bisa kita jumpai dalam pasar modal Indonesia, Bursa efek Indonesia menyediakan berbagai fasilitas investasi dimana menampung seluruh perusahaan tanpa mengindahkan aspek haram dan halal. Perusahaan yang tercatat sahamnya di Bursa efek Indonesia yang masuk dalam kategori konvensioal biasanya memiliki komposisi hutang yang tidak terjaga dan akan memiliki pertumbuhan yang  fluktuatif, jadi pada dasarnya investasi di konvesional bisa di anggap lebih bebas.

Berbeda dengan investasi konvensional, investasi syariah memiliki hukum-hukum syariah yang sudah di tetapkan oleh Dewan Syariah Nasional (DSN) dimana kegiatan usaha yang bertentangan dengan prinsip-prinsip syariah antara lain :

  • Kegiatan perjudian dan segala macam permainan yang tergolong judi
  • Perdagangan yang dilarang menurut syariah Islam
  • Jasa keuangan ribawi yaitu bank berbasis bunga atau perusahaan pembiayaan berbasis bunga;
  • Jual beli ketidakpastian risiko seperti asuransi konvensional
  • Memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan dan atau menyediakan barang atau jasa yang haram zatnya seperti perusahaan bir
  • Melakukan transaksi yang mengandung unsur suap

Apabila perusahaan yang sahamnya tercatat di Bursa Efek Indonesia telah lolos dalam kategori-kategori yang disebutkan sebelumnya diatas ditambah memenuhi rasio keuangan yaitu :

  • Total utang yang berbasis bunga dibandingkan dengan total assets tidak lebih dari 45%
  • Total pendapatan bunga dan pendapatan tidak halal lainnya dibandingkan dengan total pendapatan usaha (revenue) dan pendapatan lain-lain tidak lebih dari 10%,

maka perusahaan tersebut masuk dalam kategori Daftar Efek Syariah atau bisa disebut juga dengan saham-saham syariah. Dan ternyata saham-saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagian besar merupakan masuk dalam kategori Daftar Efek Syariah yaitu sebanyak 317 perusahaan.

 Sekian pembahasan kali ini semoga dapat membantu sobat Dapur Investasi dalam memilih Investasi.

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By: dapurinvestasi.com

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 2 – Investasi Syariah

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 2 - Investasi Syariah

Perbedaan Investasi Konvensional & Syariah Part 2 – Investasi Syariah

Hallo sobat Dapur Investasi.. Setelah kemarin kita membahas investasi konvensional, mari kita membahas investasi syariah hari ini..

Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia, iklim investasi syariah berkembang dengan sangat pesat di Indonesia. Hal tersebut juga didukung oleh berkembangnya sistem perbankan dan investasi berbasis syariah, yaitu sistem yang berdasarkan prinsip dasar syariah pada sektor pasar modal dan Bank di tanah air. Hal ini tentu menjadi hal yang menggembirakan bagi para investor muslim karena dapat menampung kebutuhan umat muslim di Indonesia yang ingin menanamkan modal atau berinvestasi sesuai dengan syariah Islam. Dengan demikian masyarakat diharapkan semakin bersemangat dalam melakukan investasi karena dapat memilih alternatif investasi yang paling sesuai baginya.

Pada umumnya, investor pada investasi syariah mendapat keuntungan berupa presentase bagi hasil (nisbah) dari keuntungan Bank atau Lembaga Keuangan dari hasil pengelolaan dana nasabah. Namun dengan sistem bagi hasil, meski nisbah disepakati sejak awal, kita tidak bisa mengetahui hasil pasti yang akan diterima, sebelum keuntungan hasil usaha tersebut diketahui di akhir periode yang telah ditentukan.

Prinsip-prinsip Investasi Syariah

Beberapa prinsip yang harus perhatikan dalam investasi menurut Islam :

  1. Halal

Suatu bentuk investasi harus terhindar dari bidang bisnis yang syubhat atau haram. Kehalalan juga menyangkut pada penggunaan barang atau jasa yang ditransaksikan. Contoh industri yang dikategorikan haram adalah: industri alkohol, industri pornografi, jasa keuangan ribawi, judi, dll.

Prosedur juga harus terhindar dari hal-hal yang syubhat atau haram tersebut. Selain itu, kehalalan juga meliputi niat seseorang saat bertransaksi dan selama prosedur pelaksanaan transaksi.

Kehalalan juga ternyata terkait dengan niat atau motivasi. Motivasi yang halal ialah transaksi yang berorientasi kepada hasil yang dapat memberikan manfaat kepada pihak-pihak yang terlibat di dalamnya.

  1. Maslahah

Maslahah (manfaat) merupakan hal yang paling esensial dalam semua tindakan muamalah. Para pihak yang terlibat dalam investasi, masing-masing harus dapat memperoleh manfaat sesuai dengan porsinya. Misalnya, manfaat yang timbul harus dirasakan oleh pihak yang bertransaksi dan harus dapat dirasakan oleh masyarakat pada umumnya.

Selain memperhatikan faktor kehalalan dan kemaslahatan, investasi harus terhindar dari praktek sistem riba, gharar, maysir (spekulasi), berikut penjelasannya..

  1. Transaksi dalam investasi yang dilakukan harus terbebas dari riba (bunga). Karena itu investasi kepada perusahaan yang menjalankan sistem riba seperti perbankan, asuransi, pegadaian, dsb, adalah dilarang. Membeli saham bank konvensional juga dilarang karena mengandung riba yang diharamkan.
  2. Setiap transaksi harus bebas dari gharar, yaitu penipuan dan ketidak-jelasan. Dengan demikian transaksi bisnis harus transparan, tidak menimbulkan kerugian atau unsur penipuan disalah satu pihak baik secara sengaja maupun tidak sengaja.. Gharar dapat pula diartikan sebegai bentuk jual beli saham dimana penjual belum membeli (memiliki) sahamnya tetapi telah dijual kepada pihak lain. Karena itu Islam melarang praktek margin trading, short selling, insider trading, Demikian pula najasy (rumor) untuk mengelabui investor.
  3. Setiap transaksi harus terbebas dari kegiatan maysir (spekulasi). Maysir dalam konteks ini bukanlah hanya perjudian biasa, tetapi adalah segala bentuk spekulasi di pasar uang atau pasar modal. Islam melarang spekulasi uang, karena menurut Islam uang bukan komoditas. Karena itu Islam melarang spekulasi valuta asing. Uang adalah alat pertukaran yang menggambarkan daya beli suatu barang atau harta. Sedangkan manfaat atau keuntungan yang ditimbulkannya berdasarkan atas aktivitas riil, seperti penjualan harta (bay’) atau pemakaian barang (ijarah).
  4. Risiko yang mungkin timbul harus dikelola sehingga tidak menimbulkan risiko yang besar atau melebihi kemampuan menanggung risiko (maysir). Untuk itu diperlukan ilmu manajemen resiko. Ini adalah aplikasi konsep fath zariah dalam ilmu ushul fiqh. Dalam Islam setiap transaksi yang mengharapkan hasil harus bersedia menanggung risiko sesuai kaedah Al-Kharaj bidh Dhaman dan Al-Ghurm bil ghurmi.
  5. Manajemen yang diterapkan manajemen Islami yang tidak mengandung unsur spekulatif dan menghormati hak asasi manusia serta menjaga lestarinya lingkungan hidup.

Satu hal lagi, jika Anda berinvestasi secara syariah, hasil investasi itu ‘dibersihkan’ melalui pengeluaran zakat yang bisa dilakukan secara otomatis oleh pihak institusi keuangan syariah atau oleh Anda sendiri.

Setelah penjabaran diatas, apakah anda mulai tertarik dengan investasi syariah?

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com