investasi

260916 IHSG Terkoreksi Kembali

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 36.77 poin (-0.68%) di level 5,352.14 seperti yang telah tertera pada Sruput Pagi 260916 https://goo.gl/jLgLeu bahwa potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street, pelemahan harga minyak mentah dunia dan adanya aksi profit taking dari Investor Asing.

Total volume perdagangan sebesar 9,394.81 juta lembar saham, dengan total transaksi mencapai Rp6.37 triliun. Secara total, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp335.93 miliar.

Sebanyak 8 dari 10 sektor di tutup melemah. Sektor dengan penurunan terdalam yakni sektor misc-ind (-1.89%), disusul sektor mining (-1.26%) dan sektor consumer (-1.23%). Sedangkan sektor dengan penguatan terbesar yakni sektor infrastructure (+0.41%).

Saham yang masuk dalam jajaran top gainer hari ini yakni saham Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI, Rp4,700) +390, Solusi Tunas Pratama (SUPR, Rp7,500) +300, Multi Bintang Indonesia (MLBI, Rp275) +275. Sedangkan saham dalam jajaran, top loser yakni saham Gudang Garam (GGRM, Rp64,000) -1125, United Tractors (UNTR, Rp17,200) -725, dan Unilever Indonesia (UNVR, Rp44,850) -700.

Cerdaslah dalam berinvestasi
By : dapurinvestasi.com
Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG CERIA DI AKHIR PEKAN, 23 September 2016

Menutup perdagangan akhir pekan ini (23/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup menguat tipis sebesar 8,646 poin atau 0,161% ke level 5.388,908 setelah pada saat pembukaan hari ini dicatat melemah ke level 5375,712. Aksi beli investor asing turut memberikan efek positif pada penutupan perdagangan hari ini.
Tercatat sebesar 117 saham yang bergerak naik, sedangkan 160 saham lainnya bergerak turun, dan 98 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 6,363 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.7,705 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.181,4 Milliar.
Tercatat empat sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri sebesar -1,80% disusul dengan sektor Konstruksi -0,38%. Sedangkan enam sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar dengan kenaikan sebesar 1,73% disusul dengan sektor Consumer Goods dengan kenaikan sebesar 0,97%.
Saham-saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Matahari Putra Prima TBK (MPPA) naik 5,31% ke Rp.1.985,-, PT Charoen Pokphand Indonesia TBK (CPIN) naik 4,46% ke Rp.3.510,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) naik 3,27% ke Rp.18.150,-.
Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Pembangunan Perumahan (Persero) TBK (PTPP) turun -5,56% ke Rp.4.250,-, PT Wiajaya Karya (Persero) TBK (WIKA) turun -5,11% ke Rp.2.600,- dan PT Adhi Karya (Persero) TBK (ADHI) turun -3,27% ke Rp.2.370,-.
Cerdaslah dalam berinvestasi
By : dapurinvestasi.com

ASPEK TERPENTING DALAM INVESTASI

Selama ini, saya penasaran dengan jawaban para investor pemula tentang aspek terpenting dalam investasi. Karena jujur saya jarang bahkan hampir tidak pernah mendapat pertanyaaan ini. Pengalaman saya, orang lebih sering bertanya tentang apa investasi terbaik saat ini?  Dan akibat dari pertanyaan ini, banyak sekali tulisan atau seminar yang hanya fokus pada jenis-jenis investasi yang mengaku terbaik.

Kenapa pemahaman tentang aspek terpenting dalam investasi ini menjadi krusial? Selain untuk menjawab jenis investasi terbaik, juga karena investasi adalah hal yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan. Sayangnya masih banyak yang menghindari berinvestasi karena berbagai alasan, terutama karena takut ataupun tidak mengerti.

 PEMAHAMAN SALAH TENTANG INVESTASI

Beberapa saudara atau teman sekolah saya suka terkagum-kagum dengan kata investasi. Menurut mereka jika ada yang menyebtkan kata “investasi”, kesannya orang pintar dan kelas atas. Benarkah demikian? Mari kita bahas.

Setidaknya ada 3 pemahaman yang salah mengenai investasi antara lain:

  1. INVESTASI = INSTRUMEN KEUANGAN

Ini adalah pemahaman yag salah. Instrumen keuangan seperti saham, produk perbankan, surat utang (ORI, sukuk), reksadana adalah jenis instrumen keuangan yang digunakan untuk investasi. Namun selain itu masih banyak instrumen/alat lain yang bisa dijadikan alat investasi. Contohnya properti, emas, atau barang-barang hobi lainnya.

  1. INVESTASI = JUDI

Salah lagi. Investasi membutuhkan pemahaman dan perhitungan/analisa yang matang akan instrumen yang digunakan. Ada peluang untuk untung besar, untung sedang, untung kecil dan bahkan rugi. Sedangkan judi lebih bersifat spekulasi tanpa menggunakan perhitungan dan analisa, dengan hasil akhir berupa menang atau kalah. Ini akan kita bahas di tulisan tersendiri karena cukup panjang.

  1. INVESTASI HANYA UNTUK ORANG PINTAR

Ini biasanya dikaitkan dengan poin no 1 di atas. Pada kenyataannya? Semua orang bisa melakukan investasi. Tidak peduli pada latar belakang pendidikan, jenis kelamin, lokasi tempat tinggal, dll.

Setiap orang yang melakukan investasi, pasti punya pemahaman akan instrumen yang mereka gunakan dan punya harapan keuntungan dan toleransi risiko yang berbeda-beda juga. Lebih jelasnya kita bahas dibawah.

ASPEK TERPENTING DALAM BERINVESTASI

Ada 3 hal mendasar yang harus diketahui oleh setiap orang sebelum mulai memutuskan instrumen investasi terbaik yang akan anda investasikan.

  1. PEMAHAMAN ATAS INSTRUMEN INVESTASI YANG DIGUNAKAN

Buat saya, ini aspek yang paling terpenting. Tanpa pemahaman mengenai instrumen/alat investasi yang kita gunakan, maka apa yang kita lakukan cenderung menjadi spekulasi dan lebih mengarah ke judi. Contoh di instrumen saham. Ini jelas-jelas produk investasi, diatur juga dengan khusus oleh Undang-Undang Pasar Modal dan dikenal juga ada istilah pasar modal syariah yang sah dan halal. Tapi banyak orang yang memberi cap “judi” atau “spekulasi” terhadap saham. Kenapa? Karena pengalaman dari orang-orang yang merugi di investasi saham sebagai akibat dari ketidakpahaman atas saham itu sendiri.

Balik ke pertanyaan di atas: jadi investasi apa yang paling bagus sekarang ini? Nah disini relasinya. Karena kriteria “terbaik” harus timbul dari pemahaman yang baik juga.

Imbal Hasil vs Risiko

Selain paham atas karakter alat investasi, kita juga harus paham akan potensi imbal hasil yang bisa diperoleh dan risiko yang kemungkinan terjadi. Dalam investasi, ini dua hal yang selalu ada. Semakin tinggi imbal hasil yang bisa dicapai, semakin tinggi juga risiko yang harus kita hadapi. Jika sampai ada yang menawarkan instrumen investasi dengan imbal hasil tinggi dan risiko rendah, hati-hati, anda sedang masuk dalam percobaan penipuan

Kenali Pasar Instrumen Investasi

Trus apa saja yang termasuk instrumen investasi? Jawabannya: semua alat yang ada pasarnya. Pasar disini maksudnya bukan bentuk pasar fisik saja, tapi semua alat yang memiliki permintaan dan penawaran di sana. Tanpa paham mengenai alat investasi, anda mustahil paham mengenai harga wajar alat tersebut di pasarnya. Kalau produk keuangan, pasar modal, emas atau property semua pasti tahu jika itu investasi. Gimana kalau batu akik yang sempat ngetrend tahun lalu? Apakah itu alat investasi? Buat saya batu akik pun bisa jadi instrumen investasi. Tetapi kalau saya memaksa untuk investasi disini, jelas saya akan jadi sasaran empuk untuk ditipu dan besar kemungkinan untuk gagal karena saya tidak mengerti dengan pasarnya. Tapi ada seorang teman baik saya yang menghasilkan banyak uang dari perdagangan batu akik ini. Sistemnya buy low sell high atau buy high sell higher. Mengapa? Karena dia sangat paham tentang dunia batu akik, termasuk permintaan dan penawaran yang ada. Contoh lain yaitu lukisan. Buat saya lukisan-lukisan mahal dan murah sama saja keliahatannya. Tapi buat pencinta seni, itu sangat berbeda. Lukisan ini bisa menjadi investasi yang menguntungkan, yang berangkat dari hobi dan pemahaman yang kuat akan instrumen tersebut.

intinya, pahami pasar dari alat investasi yang akan digunakan. Pemahaman ini yang menentukan “investasi terbaik” untuk kita.

  1. KENALI IMBAL HASIL YANG DIPEROLEH

Sebelum memulai investasi pasti kita memiliki tujuan untuk apa kita berinvestasi. Biasanya, dasar dari semua tujuan itu pasti satu hal yaitu inflasi, kenaikan harga barang atau jasa yang kita butuhkan dimasa depan. Jadi, hasil investasi yang kita lakukan setidaknya harus lebih tinggi dari inflasi. Hasil investasi harus lebih besar dari kenaikan uang pangkal di sekolah incaran. Harus lebih tinggi juga dari kenaikan harga tahunan paket liburan ke Eropa. Memahami imbal hasil investasi juga penting untuk menentukan instrumen investasi yang kita pilih yang sesuai dengan tujuan kita. Jadi jangan mengejar tujuan tinggi dengan alat investasi berimbal hasil rendah.

  1. PAHAMI JANGKA WAKTU INVESTASI

Instrumen investasi yang tepat juga ditentukan oleh jangka waktu investasi yang diinginkan. Ini terkait dengan tujuan investasi di awal. Jika uangnya akan digunakan satu tahun kedepan, uangnya jangan diinvestasikan di properti. Karena properti adalah investasi yang tidak likuid dan lebih bersifat jangka panjang. Instrumen investasi itu harus disesuaikan dengan jangka waktu tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuannya masih lama, boleh saja menggunakan instrumen investasi dengan fluktuasi lebih tinggi, karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang tidak rendah. Demikian juga jika dana yang diinvestasikan ingin digunakan dalam jangka pendek. Akan lebih bijaksana anda berinvestasi di instrumen dengan imbal hasil stabil seperti deposito perbankan ataupun reksadana pasar uang.

KESIMPULAN

Jadi, apa instrumen investasi terbaik buat anda? Intinya, pahamilah semua aspek dalam instrumen investasi sejelas mungkin sebelum anda menjatuhkan pilihan di salah satu instrumen investasi. Jangan cuma sekedar ikut-ikutan trend atau kata-kata orang lain. Mengapa demikian? Karena instrumen investasi terbaik berbeda untuk setiap orang. Investasi terbaik buat saya belum tentu terbaik buat anda, demikian pula sebaliknya.

Jadi, pahami dengan baik, dan selamat berinvestasi!!!

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^   ^

By : Hendri Prasetyo Utomo

IHSG Berhasil di Tutup Menguat Tipis

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup menguat tipis pada last minute perdagangan. Index berkonsolidasi di sepanjang hari ini seperti roller coaster. IHSG naik  0,04%  atau 1,95 poin ke level 5.267,76. Penguatan ini jika diperhatikan akibat di kereknya harga sama HMSP yang naik pada sesi pre closing market. Asing melakukan penjualan bersih (nett sell) sebesar -140,4 Miliar.

Penguatan indeks yang tipis ini didukung hanya 138 saham yang menguat dibanding dengan 160 saham yang melemah dan 94 saham yang stagnan. Selama perdagangan indeks bergerak fluktuatif. Untuk level tertinggi berada di 5.305,09 dan level terendah di 5.252.25 yang sempat tergelincir ke area negatif.

Neraca Perdagangan Indonesia bulan Agustus tercatat sebesar $ 0.29 Milyar, lebih rendah dari bulan lalu yang tercatat sebesar $ 0.51 Milyar, bahkan dibawah ekspektasi yang sebesar $ 0.45 Milyar. Tetapi Ekspor mengalami perbaikan pertumbuhan menjadi -0.74% YoY, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -17.02% YoY dan Impor juga mengalami perbaikan menjadi -0.49% YoY, lebih baik dari bulan lalu yang tercatat sebesar -11.56% YoY

BoE pada Kamis mempertahankan suku bunga acuan pada rekor terendah 0,25%, karena belum ada indikasi hasil referendum Brexit berdampak buruk terhadap perekonomian.

BoE memperkirakan laju perlambatan produk domestik bruto (PDB) Inggris pada paruh kedua 2016 lebih kecil dari perkiraan. Sebab data-data ekonomi lebih baik dari perkiraan pasca referendum 23 Juni 2016, yang menunjukkan Inggris akan meninggalkan Uni Eropa (UE).

Dari pasar regional rata-rata mengalami kenaikan untuk Nikkei mengalami kenaikan +0.70% menjadi 16.519,29, HSI mengalami kenaikan +0,63% menjadi 23.335,59 dan SHCOMP -0,68% menjadi 3.002,85.

Have Nice Wekeend Guys..

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Isu Merger Grup Ciputra yang Sudah Lama Tapi Layak di Perhatikan Kembali!!

Rencana mergernya salah satu Grup Properti terbesar akan penulis bahas sedikit di artikel ini. Sebenarnya isu ini sudah lama sih tapi  penulis ingin mengangkat kembali setelah kemarin dapat info dari teman dalam sebuah acara. Apa sih dampaknya atau pentingnya membahas merger grup ciputra tersebut?

Sebelum kita membahas tentang hal di atas, penulis ingin memberikan sedikit gambaran mengenai aksi koorporasi dalam sebuah perusahaan bagi pemula yang ingin tau. Yang di maksud dengan aksi korporasi atau biasa disebut dengan corporate action adalah dimana perusahaan mengambil langkah atau tindakan yang berdampak langsung terhadap investor atau kepemilikan saham. Aksi perusahaan perusahaan tersebut dalam rangka meningkatkan kinerja atau menunjukkan performance baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Banyak sekali macamnya aksi korporasi perusahaan tersebut seperti, mulai dari pergantian manajemen perusahaan, pembagian dividen, stock split, reverse stock, merger, akuisisi, divestasi, penerbitan saham baru, pembagian saham bonus, dividen saham, share swap, debt share swap, private placement, hingga melakukan penyertaan di perusahaan lain.

Nah Bagaimana ya dampaknya pada grup Properti Ciputra seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Ciputra Properti Tbk  (CTRP) dan PT Ciputra Surya Tbk (CTRS)?

Setiap aksi korporasi memiliki dampak baik ataupun buruk atau malah tidak ada dampaknya, tergantung dari kebijakan perusahaan tersebut alasan melakukan aksi korporasi tersebut untuk apa. Rencana merger tiga emiten grup Ciputra membuat investor mulai memburu saham PT Ciputra Surya Tbk (CTRS) dan PT Ciputra Properti Tbk (CTRP). Rencananya, grup konglomerasi ini akan melebur tiga anak usahanya yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi satu emiten yakni PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Sebelumnya aksi yang dilakukan grup ciputra ini memilki tujuan  rencana lama atas saran investor dan konsultan yang melihat dengan struktur tiga emiten ini terlalu complicated agar investor tidak kebingungan untuk memilih perusahaan mana yang ingin di investasikan karena ada 3 macam. Dengan adanya merger di harapkan investor lebih mudah menginvestasikannya hanya pada satu saham saja, karena dengan hanya satu saham kapitalisasi pasarnya semakin besar dan membuat lebih likuid dan semakin menarik di mata investor.

Aksi korporasi ini sangat menarik untuk di perhatikan khususnya pada saham CTRP dan CTRS rencana merger tersebut merupakan sentimen positif bagi kedua saham tersebut. Nilai penjualan CTRP dan CTRS pun dapat dikatakan sangat baik terutama CTRS yang fokus kepada bisnis properti Ciputra di daerah Surabaya. Penjualan CTRS di tahun 2015 mencapai 132% dari target yaitu sebesar Rp4.1triliun. Hingga bulan Mei’16, CTRS sendiri telah mencatat penjualan sebesar Rp1.3triliun atau mencapai 42% dari target 2016. Sementara CTRP sendiri merupakan salah satu emiten properti dengan persentasi pendapatan berulang dari sewa yang terbesar (dibandingkan dengan total penjualan dalam setahun). CTRO menyusul PWON yang selama ini dianggap sebagai emiten properti dengan Recurring Income terbesar. Pada Q1 2016 persentasi PWON sebesar 49% sementara  Recurring Income CTRP tercatat sebesar 59% dari penjualan 1Q16.

Seabagai info Kepemilikan saham CTRA saat ini terdiri dari 30% milik PT sang Pelopor, 7,71% digenggam Credit Suisse AG Singapura, 5,42% Fine-C Capital dan 56,24% dimiliki publik. Sedangkan saham CTRS dimiliki oleh CTRA 62,66% dan publik 37,34% serta CTRP dimiliki oleh CTRA 56,28% dan publik 43,72%.

Tetapi kami belum bisa menghitung lebih lanjut seberapa besar dampak rencana tersebut terhadap harga saham CTRP dan CTRS karena mekanisme mergernya pun belum ditetapkan. Tunggu saja tulisan selanjutnya apabila aksi korporasi dari Grup Ciputra ini jadi di realisasikan. Dan infonya bulan oktober nanti aksi tersebut bisa terealisasi.

By : Galuh Lindra L I

Cerdaslah dalam berinvestasi ^^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Menanti Bangkitnya Tambang Batubara (Part I)

Ada rasa penasaran yang hinggap di kepala untuk menulis kenaikan pergerakan harga Batubara yang dari beberapa bulan terakhir mengalami peningkatan.

Hitsnya komoditas pada era 2000-an sampai 2008 menghasilkan keuntungan yang signifikan untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di dalam ekspor batubara. Kenaikan harga komoditas ini sebagian besar dipicu oleh pertumbuhan ekonomi di negara-negara berkembang termasuk di Indonesia. Tetapi pada tahun 2008 terjadi krisis global yang mengakibatkan jatuhnya harga komoditas termasuk batubara merosot sangat tajam. Penurunan aktivitas ekonomi global telah menurunkan permintaan batubara, sehingga menyebabkan penurunan harga batubara yang dimulai dari awal tahun 2011 sampai saat ini. Bukan hanya dari krisis global penurunan harga batubara di akibatkan kelebihan suplai yang terjadi, perusahaan-perusahaan batu bara yang ada di Indonesia berlomba lomba untuk terus memproduksi batu bara.

Source : ABPI, Kementerian Energy dan Sumber Daya Mineral

Indonesia merupakan negara eksportir terbesar di dunia. Ekspor batubara Indonesia berkisar antara 70 sampai 80 persen dari total produksi batubara, sisanya dijual di pasar domestik. Fungsi dari batubara sendiri adalah penggunaan dalam pembangkit tenaga listrik terbesar. 27 persen dari total output energi dunia dan lebih dari 39 persen dari seluruh listrik dihasilkan oleh pembangkit listrik bertenaga batubara.

Source : Minerba, Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

Indonesia merupakan negara kawasan asia tenggara yang sangat sangat strategis, sehingga banyak negara-negara yang berada di sekitarnya membutuhkan akan batubara.  Negara tujuan utama untuk ekspor batubara Indonesia adalah China, India, Jepang dan Korea.

Bagaimana yah Prospek batubara dan perusahaanya kedepan?

Kenaikan penggunaan batubara di Asia serta pemangkasan produksi China melambungkan harga batubara dalam delapan bulan pertama di tahun ini. Harga batubara kontrak pengiriman Oktober 2016 di ICE Futures Exchange melejit 7,2% dari hari sebelumnya ke level US$ 69,75 per metrik ton (bloomberg). Rekor harga tertinggi sejak Oktober 2014. Selama delapan bulan pertama tahun ini, harga batubara sudah melambung hingga 49,6%. Selama bulan Agustus batubara juga mencatat kenaikan sebesar 0,50%.

Dari tahun 2014-an pengurangan produksi batubara dilakukan oleh banyak perusahaan batubara di Indonesia, upaya ini dilakukan untuk menekan cost yang dikeluarkan oleh perusahaan, dan ini bagus untuk perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor pertambangan batubara.

Source : Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral

Ada beberapa katalis positif kedepannya untuk kita bisa perhatikan. Yang Pertama, peningkatan kebutuhan impor batubara dari China menjadi salah  satu penyebabnya, karena produksi batu bara Negeri Tirai Bambu  itu diperkirakan akan terun turus. China juga berencana menutup lebih dari 1.000 tambangnya tahun  ini serta mengurangi kapasitas produksinya sebanyak 500 juta ton  selama tiga hingga lima tahun ke depan. Langkah tersebut diharapkan  mampu menekan surplus pasokan yang diperkirakan mencapai 2 miliar ton  per  tahun. Yang kedua adalah aktivitas industri seperti tekstil dan sepatu di Bangladesh terus bertumbuh. Ketiga peningkatan konsumsi batu bara untuk pembangkit listrik di Pakistan. Dan faktor positif yang terakhir adalah Proyek dari pemerintah yang akan membuat Proyek Listrik 35Ribu Megawatt, alasan Pemerintah masih mengandalkan PLTU batubara adalah untuk meningkatkan rasio elektrifikasi karena harga beli listriknya jauh lebih murah.  Konsumsi batubara diperkirakan akan meningkat pesat seiring dengan proyek pembangunan pembangkit listrik berkapasitas total 35 ribu Mega Watt (MW). Peningkatannya bahkan bisa mencapai 90 persen dalam tiga tahun ke depan. Maka dari itu Pemerintah ingin meningkatkan konsumsi domestik batubara sehingga batubara mensuplai sekitar 30% dari pencampuran energi nasional pada tahun 2025.

Source : Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Di harapkan dengan adanya beberapa faktor positif tersebut bisa membuat perusahan-perusahaan yang berbasis tambang batubara semakin membaik, baik dari hulu ataupun hilir bisa memaksimalkan momen tersebut. Ada 20 perusahaan yang merupakan produksi batubara terbanyak dari tahun 2015-2016.

Source : Minerba, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral

Pembahasan mengenai perusahaan apa saja yang menurut penulis bisa menjadi pilihan investasi di sektor pertambangan batubara nantikan pembahasan selanjutnya di part II. Ditunggu yaah ^^

Cerdaslah Dalam Berinvestasi ^^

By : Galuh Lindra Lazuardi Imani

IHSG Tak Berdaya Turun -0,19%

Pada perdagangan hari ini IHSG tidak berdaya  di tutup pada level 5.371,07 turun -10,27 point atau -0,19%. Sepanjang perdagangan Kamis, indeks mencapai level tertinggi di 5.383,536 atau menguat 2,182 poin dan mencapai level terendahya di angka 5.364,610 atau melemah 16,744 poin. investor asing mencatatkan pembelian saham senilai Rp2,30 triliun dan penjualan saham senilai Rp2,55 triliun. Alhasil, investor asing mencatatkan penjualan saham bersih (net foreign sell) senilai Rp253,1 miliar

Perlu diketahui The Fed juga tengah merilis Beige Book yang berisikan laporan ekonomi dan merupakan indicator penting bagi The Fed dalam mengambil keputusan. Dalam Beige Book  tersebut tertulis bahwa kegelisahan bisnis semakin tinggi menjelang pemilu Amerika Serikat pada tahun ini, hal tersebut sedikit lebih tinggi tensinya dibandingkan saat pemilu periode lalu yang dimenangkan oleh Presiden Barack Obama. Dalam Beige Book juga tertulis bahwa The Fed menyatakan perekonomian Amerika Serikat telah tumbuh moderat pada bulan Juli dan Agustus dan terjadi tekanan gaji yang dirasakan oleh tenaga kerja ahli. The Fed juga melihat, mayoritas dari 12 cabang bank sentral di AS melaporkan adanya tekanan terhadap tingkat upah meski tipis dan diperkirakan tekanan tersebut akan tetap berlangsung dalam beberapa bulan ke depan.

Adanya issue kenaikan Fed Rate semakin menambah kebingungan para pelaku pasar yang ada. Semua mengamati kejadian-kejadian dan beberapa indikator yang mendukung untuk di naikan Fed Rate. Hal ini menyebabkan pasar akan terus konsolidasi sampai menunggu adanya kepastian tersebut.

Hari ini, indeks Nikkei 225 ditutup turun 0,32% atau 53,67 poin pada 16.958,77 karena yen tetap relatif kuat. Indeks S & P / ASX 200 berakhir turun 0,71 %, atau 38,45 poin pada 5.385,8.

Sedangkan, indeks Shanghai komposit ditutup naik 0,15 %, atau 4,674 poin pada 3.096,602 dan komposit Shenzhen berakhir naik 0,27 %, atau 5,527 poin pada 2.050,8.

Cerdaslah Dalam Berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Federal Reserve atau The Fed kembali membawa kekhawatiran bagi pasar keuangan di dunia. Janet Yellen selaku pimpinan The Fed pada pertemuan Jackson Hole Jumat (26/8) pukul 11.00 waktu New York menegaskan akan menaikkan suku bunga acuan pada beberapa bulan terakhir di 2016 seiring data ekonomi Amerika yang membaik.

Pasar memang sedikit bertingkah manja terhadap gejolak ekonomi, sejak Amerika memberikan quantitative easing (pelonggaran moneter dengan cara pengucuran dana oleh Bank Sentral melalui pembelian asset, dalam hal ini Obligasi) pada tahun 2008 karena krisis subprime motgage, pasar menjadi candu akan stimulus moneter, pergerakan pasar keuangan seolah sejalan dengan besar atau kecilnya stimulus moneter yang dikucurkan oleh Bank Sentral di berbagai Negara termasuk Amerika. Pasar terus berharap agar pelonggaran moneter terus diberikan sehingga tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Pada tahun 2013 pasar kembali bergejolak karena The Fed memastikan untuk mengurangi quantitative easing atau dikenal dengan istilah tapering off, dimana The Fed mulai mengurangi pembelian Obligasi dan pasar berpandangan bahwa pengurangan stimulus moneter tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi Amerika dan pertumbuhan ekonomi Dunia mengalami kontraksi.

Setelah tahun 2013 berlalu, ekonomi mulai pulih kembali dan seolah olah pasar berpandangan bahwa “gapapa The Fed ngga ngasih quantitative easing lagi, asalkan Amerika Serikat tetap menganut suku bunga rendah yaitu sebesar 0.25%”, sehingga dengan adanya suku bunga rendah maka daya beli masyarakat akan tumbuh, permintaan tenaga kerja akan stabil dan perekonomian akan meningkat kembali.

Tetapi pada tahun 2015 The Fed kembali mengguncang pasar keuangan, dengan memastikan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali sebesar 25 bps menjadi 0.50% dari sebelumnya yang sebesar 0.25%. Hal tersebut sontak membuat dollar Amerika Serikat menguat dibandingkan mata uang negara di dunia, mata uang negara emerging market mengalami depresiasi yang cukup dahsyat, terutama bagi negara yang tidak memiliki fundamental yang cukup baik.

Indikator utama yang menjadi acuan dalam menaikkan suku bunga Amerika Serikat adalah target pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan sebesar 2.1% – 2.2%, target Inflasi yang diperkirakan mencapai 2% dan target angka pengangguran yang diperkirakan berada pada level 5%.

Fakta yang terjadi ketika suku bunga acuan Amerika Serikat dinaikkan pada Desember 2015 adalah sebagai berikut :

Source : Trading Economic

Pertumbuhan GDP pada Kuartal IV 2015 hanya mencapai 1.9% lebih rendah dari target The Fed yang sebesar 2.1% – 2.2%.

Source : Trading Economic

Inflasi Amerika Serikat hanya tercatat sebesar 0.7% pada bulan Desember, jauh dibawah target The Fed yang sebesar 2%.

Source : Trading Economic

Data Unemployment rate Amerika Serikat tercatat sebesar 5% pada bulan Desember 2015, sesuai dengan target The Fed.

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada akhir tahun 2015 relatif terburu – buru dan cenderung nekat, mengingat dua dari tiga indikator ekonomi belum tercapai. Pada saat kenaikan tersebut terjadi, tentu perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat dalam beradaptasi terhadap keadaan tersebut. Apalagi perekonomian dunia yang kembali mengalami turbulence karena kebijakan kenaikan suku bunga The Fed.

Source : World Bank

Terlihat pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi dunia mengalami penurunan dan tercatat hanya tumbuh sebesar 2.47%.

Bagaimana dengan tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Pertanyaan diatas akan kami paparkan pada tulisan selanjutnya Part II..

Cerdaslah dalam berinvestasi ^__^

By : Putu Wahyu Suryawan

Outlook Teknikal Indeks Harga Saham Gabungan Jangka Pendek dan Menengah

Review IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia (IHSG) telah mengalami penguatan sebesar 763.946 poin atau 16.63% sejak akhir tahun 2015 yaitu 30 Desember 2015 sampai pada perdagangan kemarin 05 September 2016 dan Indeks LQ 45 tercatat mengalami penguatan sebesar 128.11 poin atau 16.17%.

Source : Tim Dapur Investasi

Lima sektor yang mencatat penguatan tertinggi dalam IHSG adalah :
– Sektor Pertambangan yang tercatat menguat sebesar 46.30% Ytd
– Sektor Aneka Industri yang tercatat menguat sebesar 30.07%
– Sektor Industri dasar yang telah menguat sebesar 24.70%
– Sektor Konsumsi yang telah menguat sebesar 18.87%
– Sektor Property yang telah menguat sebesar 16.03%

Source : Tim Dapur Investasi

IHSG Secara Jangka Pendek

IHSG sempat menyentuh level tertinggi di tahun 2016 pada level 5,476.22 yaitu pada tanggal 9 Agustus 2016. Tetapi sejak level tertinggi itu tersentuh, IHSG mulai mengalami konsolidasi dengan kecenderungan melemah.

Source : Chart Nexus

Pelemahan yang terjadi pasca menyentuh level tertinggi (no : 1) cenderung tertahan pada garis MA 20 ditandai dengan (huruf : a), setelah itu penguatan kembali terjadi tetapi kembali tertahan pada level 5,470.979 ditandai dengan (no : 2). Pelemahan selanjutnya terjadi hingga kembali tertahan pada garis MA 20 ditandai dengan (huruf : b) dan lagi – lagi menguat, namun tertahan pada level 5,456.638 ditandai dengan (no : 3).

Nahh setelah tertahan pada fase no 3 IHSG terus mengalami pelemahan hingga akhirnya menembus garis MA 20 sebagai level support jangka pendek. Dengan tertembusnya  garis MA 20 maka bisa dipastikan bahwa dalam jangka pendek IHSG berada pada kondisi down trend. Setelah itu IHSG mencoba untuk rebound kembali, namun selalu tertahan resistance garis MA 20 tersebut, ditandai dengan garis biru. Hal tersebut menandakan bahwa IHSG belum mampu melawan derasnya koreksi atau aksi profit taking Investor.

Pada perdagangan 05 September 2016, IHSG mengalami penguatan, namun kembali tertahan pada garis MA 20. Dengan kuatnya level resistance MA 20 tersebut maka kami memperkirakan dalam jangka pendek IHSG akan terus mengalami pelemahan dengan target jangka pendek pada level 5,296 – 5,300.

IHSG Secara Jangka Panjang

Source : Chart Nexus

Secara jangka panjang IHSG masih berada pada trend bullis sejak periode 29 September 2015 dan saat ini memang berada pada area tertingginya. Koreksi sehat sangat mungkin terjadi mengingat saat ini belum rilis sentiment fundamental ekonomi yang positif dan Investor masih menunggu kepastian atau fakta dari kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Kami memperkirakan berdasarkan indicator technical, bahwa IHSG secara jangka pendek dan menengah akan mencatatkan koreksi, mengingat pergerakan IHSG saat ini cukup fluktuatif dan selalu tertahan hingga membentuk triple top. Apabila koreksi terjadi dan suppor pada area 5,296 – 5,300 berhasil ditembus, maka target pelemahan selanjutnya akan berada pada level 5,200.

Tetapi Investor tidak perlu khawatir, karena apabila berkaca pada range jangka panjang, maka bisa dipastikan saat ini IHSG berada pada kondisi bullish, pelemahan jangka pendek yang terjadi dapat dijadikan momentum untuk melakukan akumulasi pembelian dan tetap melakukan strategi Average Down, sehingga pada saat IHSG mencapai pelemahan terendahnya maka Investor mendapatkan nilai akumulasi yang optimal dan ketika IHSG kembali mengalami kenaikan maka keuntungan maksimal akan diperkirakan mampu diraih.

Kami menyarankan Investor agar tetap mempertahankan kemampuan keuangan perusahaan dan melakukan akumulasi saham – saham yang memiliki kondisi fundamental yang cukup baik.

Sebagai Review pada tulisan ini dirilis 06 September 2016 IHSG tercatat mengalami pelemahan -4.57 poin atau -0.09% pada level 5,352.57.

Sekian tulisan kali ini,, terima kasihhhh….

Cerdaslah dalam berinvestasi ^_^

By : Putu Wahyu Suryawan

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

“Outlook Dapur Investasi Untuk Kelapa Sawit Indonesia Serta Rekomendasi AALI, LSIP dan SSMS” (Part I)

Prospek Minyak Kelapa Sawit Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit di dunia dan menduduki peringkat kedua setelah Malaysia. Indonesia dan Malaysia menyumbang produksi minyak kelapa sawit sekitar 85% sampai 90% dari keseluruhan produksi minyak kelapa sawit di dunia.

Pada tahun 2015, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk membentuk Council Of Palm Oil Production Countries atau Dewan Negara Penghasil Palm Oil. Dengan adanya kesepakatan tersebut, maka diharapkan Indonesia dan Malaysia dapat saling berkoordinasi dalam menentukan standard dari kelapa sawit itu sendiri, karena selama ini Indonesia dan Malaysia cukup saling bersaing dalam menentukan standard minyak kelapa sawit. Kesepakatan ini juga akan membuat Indonesia dan Malaysia dapat mengontrol pergerakan harga miyak kelapa sawit, sehingga pergerakan harga minyak kelapa sawit lebih teratur dan terjaga.

Kami menilai bahwa hal tersebut sangat positif bagi prospek harga minyak kelapa sawit kedepannya.

Selain itu prospek minyak kelapa sawit Indonesia juga ditopang oleh kebijakan pemerintah Indonesia, dimana pemerintah telah memoratorium penambahan lahan sawit untuk lima tahun kedepan. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit akan sedikit melambat dan supply akan terkontrol, maka harga minyak kelapa sawit akan mengalami kenaikan.

Pemerintah juga tengah memberlakukan kenaikan bea keluar atau bea export dari kelapa sawit, hal ini dilakukan karena pemerintah sudah menilai bahwa harga minyak kelapa sawit dunia sudah pulih dan mulai mengalami peningkatan.

Pemerintah juga menerapkan kebijakan B20 atau produsen Bahan Bakar Minyak (BBM) diharuskan untuk mencampurkan 20% komponen solar dengan minyak sawit. Hal tersebut dapat menghemat devisa negara sebesar Rp 2,85 Triliun dan juga dapat menurunkan emisi CO2 sebanyak 1,06 Juta Ton. Tentu kebijakan tersebut juga berdampak positif bagi pertumbuhan emiten CPO di Indonesia karena permintaan akan CPO semakin meningkat dengan adanya kebijakan tersebut.

Badai El Nino merupakan badai yang menyebabkan kekeringan dan dapat menghambat produksi tanaman karena berkurangnya asupan air dari tanah dan Badai La Nina merupakan badai yang menyebabkan meningkatnya curah hujan sehingga bias berdampak positif bagi tanaman yang membutuhkan asupan air cukup banyak, tetapi apabila Badai La Nina terus berlanjut maka asupan sinar matahari akan berkurang sehingga proses fotosintesis pun akan terganggu.

Kedua badai diatas sangat mengganggu proses bertumbuhnya kelapa sawit, karena ketika El Nino terjadi kelapa sawit akan kekurangan air dan saat La Nina Terjadi, maka kelapa sawit akan kesulitan dalam melakukan fotosintesis. Dan badai – badai tersebut menjadi berkah yang positif bagi emiten sawit karena harga kelapa sawit menjadi meningkat seiring kurangnya supply dipasar.

Perkembangan Harga Kelapa Sawit Selama 7 Tahun Terakhir

Source : MPOC

Selama tujuh tahun terakhir, harga CPO dunia mengalami penurunan menurut data yang kami peroleh dari MPOC. Tetapi menurut grafik pergerakan harga CPO telah mampu bertahan pada level harga 1,998 – 2,200 sepeti terlihat pada gambar dengan tanda bulat merah.

Selain itu trend penurunan yang digambarkan dengan garis hitam juga telah berhasil ditembus oleh harga CPO, hal tersebut mengindikasikan bahwa trend penurunan harga CPO telah berakhir dan saat ini siap untuk berganti trend menjadi up trend didukung oleh kebijakan – kebijakan positif dari pemerintah.

Apabila dilihat dari siklus pergerakan harga CPO, harga cenderung mulai mengalami kenaikan pada bulan Sepember dan Oktober (ditunjukkan dengan panah warna Hijau), tetapi cenderung mengalami penurunan pada bulan Januari dan April. Hal tersebut sangat sesuai dengan siklus musim dingin di dunia yang terjadi pada periode Oktober sampai Januari, dimana CPO dibutuhkan juga sebagai bahan bakar untuk penghangat ketika musim dingin tiba, maka saat musim dingin terjadi, permintaan akan CPO semakin meningkat.

Nahhh, agan dan sista mulai bisa perhatikan bahwa sejak April 2016 sampai bulan Juli 2016, bahkan saat tulisan ini dirilis, harga CPO telah mengalami koreksi ditunjukkan dengan panah berwarna merah.

Maka bulan September ini agan dan sistaa dapat mengakumulasi saham – saham berbasis CPO karena sesuai siklus, harga CPO kami perkirakan akan mengalami peningkatan kembali mulai September dan Oktober.

 

Emiten Kelapa Sawit di Bursa Efek Indonesia

Kami hanya melakukan screening saham dengan dua kriteria, yaitu berdasarkan Market Cap tertinggi dan perdagangan harga saham yang likuid.

Maka Kami memperoleh saham saham berikut : AALI, LSIP, SSMS, BWPT dan SIMP

Selanjutnya kami melakukan screening kembali dari lima saham tersebut dan membandingkan kinerja harga saham dengan harga minyak kelapa sawit dari MPOC, berikut hasil perbandingannya :

Source: MPOC, yahoo finance

Garis Merah menggambarkan kinerja return dari CPO sejak tahun 2010, dan hanya 2 emiten yang memiliki kinerja return harga saham diatas return harga CPO, yaitu PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Hal tersebut mengindikasikan bahwa investor mengapresiasi kinerja LSIP dan SSMS melalui pergerakan harga saham yang positif.

Selanjutnya kami memilih juga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), walaupun kinerja return saham AALI berada dibawah return harga CPO, namun masih lebih baik dibandingkan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

 

Cerdaslah Dalam Berinvestasi ^^

 

By: Putu Wahyu Suryawan