GDP

Pahami Indikator Ekonomi Sebelum Khawatir Akan Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan

Selamat siang kawula investasi Indonesia,, semoga selalu cerdas dalam berinvestasi.. nahh pada artikel kali ini,, kami akan membahas kembali pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena penurunan tajam IHSG baru saja dimulai.

Menjelang libur hari raya Idul Adha, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam sebesar -89.161 poin atau -1.66% pada level 5,281.917. Dengan adanya penurunan tersebut membuat IHSG menembus level support jangka pendek di area 5,296 – 5,300, penurunan yang terjadi juga sekaligus mengiyakan indikasi teknikal yang sudah muncul selama sebulan terakhir, sejak 9 Agustus 2016 dan hal tersebut sempat kami bahas di website kami dapurinvestasi.com pada link berikut ini, http://dapurinvestasi.com/outlook-teknikal-indeks-harga-saham-gabungan-jangka-pendek-dan-menengah.html.

Nahh selanjutnya Investor pasti bertanya – tanya kemana arah IHSG berikutnya, apakah ini hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015??

Mari perhatikan gambar berikut ini.

Source : Chart Nexus

Apabila terlihat pada gambar, berdasarkan Indikator teknikal, pelemahan IHSG selanjutnya akan berada pada level 5,200, tentu hal tersebut pernah kami bahas juga pada artikel sebelumnya. Pencapaian target 5,200 menurut indicator teknikal dan psikologi pasar cukup kuat, karena pada perdagangan Jumat pekan lalu menjelang libur Idul Adha, Investor Asing mencatatkan net sell cukup tinggi sebesar 914 Milyar, angka yang tinggi karena pada hari – hari sebelumnya, walaupun IHSG mengalami koreksi, tetapi  net sell Investor Asing tidak terlalu signifikan, bahkan pernah mengalami net buy ketika IHSG terkoreksi.

Source : Chart Nexus

Dann berdasarkan teknikal jangka panjang, memang seharusnya trend bullish IHSG bergerak agak landai atau tidak terlalu curam, maka koreksi kali ini diperkirakan akan menjustifikasi pergerakan IHSG selama ini yang terlalu curam. Koreksi baru saja dimulai dan akan bergerak pada level 5,200 dan apabila level tersebut telah ditembus kembali, maka target pelemahan selanjutnya adalah pada level 5,100.

Apakah ini benar hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015?? Apa yang sebaiknya Investor lakukan pada sisa tahun 2016 ini?? Buy On Weakness atau Cash is King??

Tentu banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Investor ketika IHSG mengalami koreksi, karena pada umumnya sifat manusia tidak ingin adanya penurunan pada IHSG, semua orang ingin IHSG terus mengalami peningkatan, tetapi pada faktanya setiap ada kenaikan pasti ada penurunan dan IHSG harus bergerak sesuai kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Ada beberapa Indikator fundamental yang dapat kami bagikan, sebagai pandangan kami bagaimana seharusnya Investor menyikapi penurunan IHSG kali ini. Indikator pertama adalah yang bersifat relative positif bagi kami,, Mohon disimak yaa,,

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari segi PDB (Produk Domestik Bruto) hingga kuartal II 2016 tercatat lebih baik dibandingkan tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Kuartal II 2016, pertumbuhan PDB Indonesia tercatat tumbuh sebesar 4.02% QoQ dan 5.18% YoY, apabila terlihat pada gambar, terjadi trend penguatan sejak Kuartal I 2015. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia mengalami perbaikan.

Inflasi Indonesia tetap terjaga dan masih dibawah target Bank Indonesia yang sebesar 4%, tetapi Inflasi cenderung mengalami penurunan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus 2016, Indonesia mengalami deflasi sebesar -0.02% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar 2.79% YoY, maka sejak Januari hingga Agustus, Inflasi Indonesia masih tercatat sebesar 1.74%.

Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia terus mengalami peningkatan sejak mengalami posisi buruk pada tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Bulan Agustus 2016 Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia tercatat sebesar 113.3, walaupun angka tersebut lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat sebesar 114.2, tetapi Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia masih berada pada trend positif.

Data penjualan ritel Indonesia mengalami peningkatan yang cukup kuat sejak Agustus 2015

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus, penjualan ritel Indonesia tercatat sebesar 15.90% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 13.50% YoY, terlihat pada gambar penjualan ritel masih cukup kuat untuk melanjutkan trend positifnya.

Data Indonesia Nikkei Manufacturing PMI masih berada pada zona aman diatas 50

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus data Manufaktur Indonesia mengalami rebound menjadi 50.4 dari bulan Juli yang tercatat sebesar 48.4. Dengan perbaikan tersebut maka saat ini manufaktur Indonesia kembali berada pada zona ekspansi karena berada diatas level 50.

Data neraca perdagangan Indonesia kian membaik

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Walaupun pada bulan Agustus data neraca perdagangan Indonesia kembali terpuruk, dimana ekspor melemah -17.02% YoY dan Impor melemah -11.56% YoY, alhasil neraca perdagangan tercatat turun menjadi $ 0.59 Milyar, tetapi apabila dibandingkan bulan Oktober 2015, saat ini telah terjadi perbaikan pada ekspor impor Indonesia.

Selajutnya ada cadangan devisa Indonesia yang terus mengalami perbaikan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Untuk cadangan devisa Indonesia, mari simak ulasannya pada artikel berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/perkembangan-cadangan-devisa-indonesia-periode-2008-2016.html

Tetapii, perlu diketahui bahwa ada juga Indikator fundamental yang menjadi katalis negatif pergerakan IHSG, seperti hal nya berikut ini.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Adanya kebijakan dari Bank Indonesia dalam menurunkan Bi Rate, hingga memberlakukan 7 Days Reverse Repo, ternyata belum mampu meningkatkan pertumbuhan kredit di Indonesia. Hingga bulan Agustus 7 Days Reverse Repo mulai diberlakukan dengan rate sebesar 5.25% sebagai pengganti Bi Rate, tetapi pertumbuhan kredit belum juga tampak pulih, seperti yang dijelaskan pada garis kuning.

Investasi Langsung Asing di Indonesia juga mengalami penurunan pada Kuartal II 2016

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada kuartal II 2016, Investasi langsung dari Investor Asing hanya tumbuh 7.90% YoY, lebih rendah dari kuartal I 2016 yang tercatat sebesar 17.10%, angka tersebut terus megalami penurunan sejak mencapai level tertinggi sebesar 26% pada kuartal IV 2015.

Data selanjutnya yang paling kritis mempengaruhi IHSG adalah dari penerimaan negara yang sangat jauh dari ekspektasi, dan hal ini masih sangat hangat diperbincangkan khususnya terkait kebijakan Tax Amnesty.

Hingga akhir Agustus 2016 penerimaan pajak hanya sebesar Rp 596 Triliun atau 44% dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 sebesar Rp 1.355,2 triliun. Angka tersebut jauh berkurang dibandingkan penerimaan negara pada Agustus 2015 yang tercatat sebesar Rp 867.5 Triliun atau 49.2% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan dari segi keuangan pemerintah.

Indikator Eksternal adalah masalah The Fed yang masih ditunggu – tunggu akan kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada sisa tahun 2016 ini.

Okaayyy,, usai sudah pembahasan diatas mengenai kondisi perekonomian Indonesia, tetapi terlihat tidak komplit apabila kita tidak melihat kinerja emiten di IHSG sepanjang semester I 2016, berikut kami tampilkan pertumbuhan penjualan emiten sejak tahun 2014 dan juga pertumbuhan EPS sejak tahun 2014 berdasarkan 30 emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di IHSG. Kami mengambil sampel tersebut karena, menurut kami fundamental dari emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar maka turut akan mempengaruhi pergerakan IHSG di sisa tahun 2016 ini.

Source : Dapur Investasi

Secara rata – rata pertumbuhan 30 emiten dengan kapitalisasi besar mencatatkan perbaikan pada semester I 2016, dengan rata – rata pertumbuhan penjualan tercatat tumbuh sebesar 5.99% YoY dibandingkan pada tahun 2015 yang tercatat hanya tumbuh sebesar 2.74% YoY. Laba bersih secara rata – rata tumbuh sebesar 8.05% YoY, jauh lebih baik dibandingkan tahun 2015 yang tercatat – 2.05%.

Dari sekian Indikator fundamental ekonomi yang kami tampilkan, baik dari segi makro maupun mikro, kami menilai bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini masih lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 yang mengalami keterpurukan. Investor hanya perlu mewaspadai penerimaan pajak negara, investasi asing, pertumbuhan kredit dan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Indikator negatif tersebut diperkirakan akan mampu menyeret IHSG pada trend pelemahan jangka pendek.

Tetapi kami tetap optimis bahwa secara jangka panjang IHSG masih berada pada trend bullish dan kami menyarankan agar investor mengurangi bobot portofolio pada saham yang memiliki kinerja kurang bagus di semester I 2016 (ditandai dengan warna merah pada tabel), kecuali prospek kedepan sectoral saham tersebut mengalami perbaikan kinerja. Mulai lah beralih pada saham defensif dan emiten yang memiliki kinerja positif di tahun 2016.

Asumsi kami adalah, apabila ekonomi Indonesia tahun 2016 mengalami perbaikan, maka seharusnya emiten melakukan langkah positif agar bisa menggaet pangsa pasar atau potensi keuntungan ketika ekonomi membaik, hal tersebut ditunjukkan dengan kinerja yang mantapp juga pada laporan keuangan. Tetapi apabila penjualan dan laba bersih perusahaan mengalami penurunan ditengah penguatan ekonomi Indonesia, maka kami memperkirakan industri dan manajemen emiten sedang dalam performa buruk.

Hindari pula sektor yang sudah mencatatkan kenaikan tertinggi seperti sektor pertambangan dan aneka industry.

Sekian tulisan dari kami pada kali ini, semoga dapat mencerahkan keputusan investasi dari pembaca, sehingga tau apa yang harus dilakukan pada sisa tahun 2016 ini.

Terima kasih

By : Putu Wahyu Suryawan

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Bahas PDB Indonesia??

Heyy guys,, selamat membaca kembali di website kita “dapurinvestasi.com”..

Website kita kembali aktif nihh, setelah sebelumnya mengalami perbaikan, biar lebih keren lagii yaa guys.. hehehe.

Artikel kali ini, kita akan membahas GDP (Gross Domestic Product) atau dalam Bahasa Indonesia PDB (Produk Domestik Bruto). Secara simplenya sihh PDB itu salah satunya metode untuk menghitung pendapatan suatu negara, dimana didalamnya ada pengeluaran dari konsumsi masyarakat, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor juga impor.

So, didapat Rumus PDB atau GDP adalah,,

Rumus GDP

Nahh,, postur GDP Indonesia didominasi oleh konsumsi masyarakatnya, dimana data terakhir pada kuartal I 2016 menunjukkan konsumsi masyarakat mendominasi sebesar 56.25 %, seperti Tabel berikut ini,,

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Porsi kedua di peroleh oleh Investasi yang sebesar 34.61%, selanjutnya ekspor memperoleh porsi 21.18%, sedangkan ekspor 19.83%. Untuk pemerintah hanya memiliki porsi sebesar 6.09%.

Porsi masing-masing sektor pada postur GDP Indonesia menjadi penting, karena pertumbuhan masing-masing sektor yang mempunyai porsi besar akan mempengaruhi pertumbuhan GDP secara signifikan. Dan saat ini GDP Indonesia masih bergantung pada konsumsi masyarakatnya. Jumlah penduduk yang besar menjadi senjata ampuh untuk menopang pertumbuhan GDP Indonesia.

Sekarang mari kita lihat pergerakan proporsi GDP Indonesia dari tahun 2000..

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Dari tabel tersebut dapat kita lihat trendnya dari tahun 2000, ternyata walaupun Konsumer masih mendominasi dalam postur GDP, namun secara trend proporsi mengalami penurunan, hal tersebut dikarenakan sejak krisis tahun 1998, pemerintah telah mulai memangkas subsidi BBM, dimana tingkat konsumsi masyarakat sangat bergantung pada murahnya harga BBM, apabila subsidi dikurangi perlahan, maka pertumbuhan konsumsi masyarakat tidak akan terlalu signifikan. Ekspor Impor Indonesia pun secara signifikan mengalami penurunan secara proporsional pada postur GDP Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh ekspor Indonesia yang bergantung pada komoditas pertambangan, saat ini harga komoditas telah jatuh dalam karena melambatnya perekonomian dunia. Maka dari itu pendapatan Indonesia dari Ekspor berdampak signifikan dan mengalami penurunan.

Nah dari segi impor, mengapa mengalami penurunan yang signifikan juga, hal tersebut disebabkan pemerintah telah memangkas subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak), bahkan di era pemerintahan Joko Widodo, subsidi sudah sama sekali dihapuskan. Apabila subsidi dihapuskan, maka harga BBM dalam negeri akan meningkat tajam dan akan menyebabkan permintaan akan BBM mengalami penurunan. BBM juga memiliki porsi yang lumayan besar dalam impor Indonesia, maka kinerja impor juga signifikan menurun karena hal itu. Kurs rupiah juga yang telah melemah terhadap dollar Amerika mempengaruhi kinerja Impor Indonesia, dimana barang barang luar negeri mengalami penurunan permintaan di dalam negeri.

Untuk Porsi pemerintah seperti terlihat pada gambar mengalami peningkatan, namun tidak terlalu signifikan, sedangkan dari segi Investasi mengalami peningkatan yang signifikan dari porsi GDP. Hal ini karena pemerintah sangat konsisten dalam menciptakan iklim investasi yang baik di Indonesia, sehingga Investor Asing dan Investor Domestik telah optimis dalam penanaman modal di Indonesia.

Selanjutnya kita akan menunjukkan data pertumbuhan GDP dari tahun 2000..

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

GDP Indonesia secara konsisten tumbuh pada frame 2001 – Q1 2016. Menurut perhitungan kami, secara YoY GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.32% YoY, secara Annualized GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.33% YoY dan secara QoQ GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 1.31%.

Berikut adalah tabel komposisi dan pertumbuhan GDP Indonesia dari Q1 2000 sampai Q1 2016,,

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Dapat kita lihat, walaupun GDP Indonesia secara konsisten tumbuh namun pertumbuhan GDP Indonesia mengalami trend penurunan sejak tahun 2007 yang tercatat sebesar 6.35% Annualized, hingga pada Annualized tahun 2015 tercatat dibawah 5.0% yaitu sebesar 4.79% Annualized. hal tersebut merupakan imbas dari perlambatan ekonomi dunia setelah krisis Amerika dan Eropa terjadi.

Tetapi, pembaca tidak perlu khawatir, karena menurut data terakhir yaitu Kuartal I 2016 GDP Indonesia tumbuh sebesar 4.92% lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang tumbuh hanya 4.73%, hal tersbut jelas mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai mengalami perubahan trend menjadi trend kenaikan.

GDP Indonesia pada Kuartal I 2016 tercatat sebesar 2,262 Triliun tumbuh 4,92% YoY. Konsumsi masyarakat tumbuh 4,97% YoY lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang sebesar 4,72% YoY dan tumbuh tinggi dari Kuartal I 2011 yang sebesar 4,13%. Hal ini menunjukkan konsumsi masyarakat secara perlahan telah mengalami perbaikan seiring kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sejak awal 2016, seperti penurunan harga BBM, Penurunan Bi Rate, Penguatah kurs Rupiah, Penurunan Lending Rate dan Deposit Rate, peningkatan Upah Minimum Masyarakat dan peningkatan PTKP ( Penghasilan Tidak Kena Pajak). Semua unsur tersebut sangat berdampak pada tingkat konsumsi masyarakat, dan secara otomatis akan berpengaruh pada pertumbuhan GDP, mengingat porsi konsumsi masyarakat sangat tinggi pada GDP Indonesia.

Dari segi Pemerintah, hanya tumbuh tipis yaitu sebesar 2,93% pada Kuartal I 2016, dimana angka tersebut hanya lebih tinggi tipis disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 2,91%. Belanja pemerintah memang sudah mulai digenjot pada Kuartal I 2016, namun Pemerintah masih memiliki kendala dalam realisasi belanja pemerintah, hal tersebut dikarenakan pendapatan Pemerintah dari pajak sangat minim. Pemerintah masih memperbaiki infrastruktur dan regulasi dalam Pajak. Berbagai paket kebijakan untuk menarik pajak sudah dikeluarkan dan diperkirakan efektif pada pertengahan tahun 2016.

Nahhh, untuk Investasi tumbuh lumayan nihh guys, pada Kuartal I 2016 Investasi tumbuh 5,57% YoY lebih tinggi disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 4,63% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa regulasi dan paket kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah untuk mempermudah Investasi dan kegiatan usaha di Indonesia mulai berhasil diterapkan. Pemerintah telah mempermudah pembuatan izin usaha dan izin-izin lainnya untuk Investasi.

Namun Ekspor dan Impor Indonesia masih mengalami penurunan, masih dipengaruhi perlambatan ekonomi dunia. Pemerintah diharapkan mengalihkan pendapatan ekspor dari yang semula bergantung pada ekspor komoditas, menjadi kuat pada sector pariwisata yang dapat menopang devisa negara. Penarikan dana investasi asing juga dapat digunakan untuk mengimbangi kinerja ekspor yang terus mengalami penurunan.

Okehhh,, paragraph mendekati terakhir nihh, dapurinvestasi.com akan mencoba untuk memberikan satu pandangan. Hal simple yang bisa diperoleh dari data diatas adalah “Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan sejalan dengan membaiknya iklim Investasi di negara tersebut”.. Acuan sederhana, apabila GDP tumbuh maka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia) juga akan tumbuh.

Kita telah mengetahui bahwa komponen utama dalam GDP Indonesia, yaitu Konsumsi Masyarakat dan Investasi telah tumbuh pada Kuartal I 2016 lebih tinggi dibandingkan Kuartal I 2015, maka hal itu mengindikasikan kebijakan pemerintah terkait tingkat konsumsi masyarakat dan terkait regulasi Investasi telah berhasil, dan Investor sangat tertarik berinvestasi di Indonesia. Masalah yang harus diperbaiki adalah Ekspor dan Impor Indonesia serta realisasi belanja pemerintah yang harus ditingkatkan lagi agar Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 5% lagii.

Tidak ada alasan untuk tidak berinvestasi di Indonesia apabila kita melihat indikator GDP Kuartal I 2016. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global mungkin tetap menjadi pertimbangan, namun apabila Indonesia bisa atau mampu dan sanggup tumbuh dalam keadaan ekonomi dunia yang sedang melambat. Menurut kami hal tersebut cukup aman untuk menanamkan dana investasi di Indonesia.

Sektor dalam IHSG yang dapat di koleksi sampai akhir tahun 2016 adalah Sektor Konsumsi, Sektor Infrastruktur, Sektor Property, Sektor Perbankan dan Sektor Manufaktur..

Sekian dan terimakasih..

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com

 

Mengapa IHSG pada Jum’at 5 Februari 2016 Naik Signifikan?

Mengapa IHSG pada Jum’at 5 Februari 2016 Naik Signifikan?

Mengapa IHSG pada Jum’at 5 Februari 2016 Naik Signifikan?

Pada akhir pekan lalu jumat 5 Februari 2016 Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak positif dan menguat melonjak lebih dari 2% ke level 4.798,95 dan di tutup naik signifikan sebesar 2,85% di level 4.799. Seluruh sektor menghijau menopang laju IHSG dipimpin penguatan tajam di sektor keuangan naik 3,53 persen, sektor industry lain-lain naik 4,32 persen dan sektor infrastruktur naik 2,79%. Perdagangan pada hari Jumat pekan lalu juga sangat ramai hingga menembus nilai transaksi lebih dari Rp. 9 triliun. Berdasarkan perhitungan web tradingconomics, kenaikan mengesankan IHSG ini saat penutupan akhir pekan kemarin nyaris tertinggi di seluruh kawasan Global, hanya kalah tipis dari Bursa Peru yang mencatatkan kenaikan di penutupan sebesar 2.87%.

Apa penyebab IHSG pada jumat pekan lalu naik signifikan?

Kenaikan IHSG pada jumat pekan lalu dipicu naiknya pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal IV 2015 yang berhasil melampaui estimasi. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Tingkat Produk Domestik Bruto Indonesia tumbuh 5,04% dalam tiga bulan hingga Desember dibandingkan tahun sebelumnya, demikian rilis biro statistik di Jakarta, jumat(05/02). Badan Pusat Statistik menyatakan Ekonomi Indonesia triwulan IV-2015 bila dibandingkan triwulan IV-2014 yoy tumbuh 5,04% tertinggi dibanding triwulan-triwulan sebelumnya tahun 2015, yaitu masing-masing sebesar 4,73% (triwulan I), 4,66% (triwulan II) dan 4.74% (triwulan II) seperti terlihat di gambar berikut :

Data GDP

Data GDP

Dengan peningkatan ekonomi Indonesia ini mampu memperlihatkan usaha pemerintah yang terus menerus dengan melakukan berbagai macam upaya hingga meluncurkan paket kebijakan ekonomi oleh Presiden Joko Widodo dapat memperlihatkan hasil yang nyata dan mengesankan. Penguatan Rupiah merupakan salah satu faktor pendukung kenaikan IHSG pada jumat pekan lalu dimana Rupiah menguat 0,61% pada posisi 13,626. Dan faktor pendukung lainnya adalah terkendalinya Inflasi Indonesia, Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data Inflasi Indonesia dimana Inflasi Januari mencatatkan hasil 0,51 persen, turun dari hasil ekspektasi sebesar 0,64 persen dan turun dari hasil sebelumnya yaitu 0,96 persen, dari hasil Inflasi ini mampu memberikan harapan pemerintah untuk berusaha mampu mengendalikan Inflasi agar Inflasi pada tingkat yang semakin rendah dan stabil.

Dengan penjabaran diatas kita mampu menganalisa bahwa penguatan ekonomi, penguatan domestik dan penguatan Rupiah mampu menopang IHSG bergerak positif dan menguat. Dan yang menjadi pendukung lainnya adalah dengan adanya pengakuan peringkat investment grade Indonesia pada posisi stabil dan layak oleh Lembaga Pemeringkat Moody’s Investors Service dan Japan Credit Rating Agency, Ltd (JCR) sehingga mampu menarik dan memberikan kepercayaan investor asing untuk berinvestasi di Indonesia karena Indonesia mampu menjadi negara yang layak untuk berinvestasi.

Dengan pertumbuhan ekonomi yang positif dan terus tumbuh ini semua mampu tercapai dengan usaha yang maksimal dan kinerja pemerintah yang terus menerus menjalankan percepatan pembangunan, dengan dimulai dari percepatan pembangunan infrastruktur, perumahan, perhubungan, transportasi, keuangan hingga pariwisata dan akan menyusul sektor-sektor lainnya. Sehingga Ekonomi Indonesia mampu bergerak positif dan stabil dengan bukti dan hasil kerja yang telah di berikan oleh pemerintahan Presiden Joko Widodo, kitapun harus terus mendukung dan sama-sama memajukan ekonomi Indonesia dengan ikut serta menjadi investor aktif di Indonesia dan selalu mendukung pemerintah dalam mewujudkan Indonesia yang lebih baik.

Sekian ulasan kali ini semoga dapat bermanfaat bagi Sobat Dapur Investasi.

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com