ekonomi makro

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part II)

Haii,, Hayy Kawula Investasi Indonesia,, kembali lagi nihh bersama dapurinvestasi.com,, kali ini kami akan membahas kembali ulasan yang berjudul “Ada Apa Dengan The Fed?? Part II”, kenapa Part II?? Karena Ada Apa Dengan Cinta aja sampe Part II, maka dapurinvestasi.com ngga mau kalah,, hehhe.. just kidding,,

Alasan yang benar adalah, karena penulis sudah pernah menulis “Ada Apa Dengan The Fed?? Part I” obviously..

Bisa di cek pada link berikut ini,,

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Nahh,, jadi di Part I itu, ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan Investor, Bagaimana perkembangan The Fed di tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? dan Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Okehh mari kita bahas dengan seksama,, perlu pembaca ketahui bahwa The Fed dijadwalkan mengadakan rapat dan memberikan keputusan terkait suku bunga acuan Amerika Serikat pada tanggal 20 – 21 September 2016. Berbagai pro dan kontra kembali terjadi terkait kenaikan suku bunga acuan Amerika tahap II, data terakhir menunjukkan bahwa pertaruhan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan September ini hanya memiliki probabilitas sebesar 20%, karena beberapa pihak masih belum yakin bahwa perekonomian Amerika Serikat mampu bertahan apabila suku bunga dinaikkan kembali.

Tanggal 20 – 21 akan menjadi hari hangat untuk membahas The Fed ini.

Penulis akan menjabarkan beberapa indicator ekonomi Amerika, sehingga pada akhir tulisan ini, pembaca dan Investor dapat mengambil kesimpulan terhadap keputusan Investasinya,,

GDP AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Pada kuartal II 2016 GDP Amerika Serikat tercatat sebesar 1.1% QoQ, lebih rendah tinggi dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% QoQ, tetapi secara tahunan hanya tercatat sebesar 1.2% YoY, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 1.6% YoY, walaupun secara tahunan masih melambat, tetapi terlihat bahwa GDP Amerika Serikat berangsur – angsur mengalami perbaikan.

Penulis memberikan point Netral untuk GDP Amerika Serikat.

INFLASI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Inflasi Amerika Serikat untuk bulan Agustus tercatat tumbuh sebesar 0.2% MoM, angka tersebut lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat hanya sebesar 0.0% MoM. Secara tahunan inflasi tercatat tumbuh lumayan sebesar 1.1% YoY, angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% YoY.

Dan apabila dilihat secara jangka panjang, inflasi Amerika Serikat telah mengalami perbaikan sejak awal tahun 2015.

Point yang cukup bagus dan positif dari segi inflasi untuk Amerika Serikat.

ANGKA PENGANGGURAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Data Initial Jobless Claims pada pekan lalu dirilis sebesar 260,000, memang mengalami peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebesar 259,000, tetapi terlihat pada grafik sebelah kiri, bahwa terjadi trend penurunan angka pengangguran dari yang tercatat sebesar 270,000.

Dalam lima tahun terakhir pun Initial Jobless Claims mengalami trend penurunan yang cukup kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat berhasil menekan angka pengangguran.

Point Positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Continuing Jobless Claims Amerika Serikat tercatat sebesar 2,143,000 pada pekan lalu, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,144,000 dan terlihat pada grafik sebelah kiri terjadi trend penurunan.

Apabila kita perpanjang data hingga lima tahun terakhir, terlihat trend penurunan angka pengangguran Amerika Serikat cukup kuat.

Point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Unemployment Rate juga sudah tercatat sebesar 4.9%, sesuai dengan target The Fed yang berada dibawah 5%. Dan apabila dilihat secara jangka panjang, Amerika Serikat telah berhasil menekan angka pengangguran dari sekitar 9% menjadi 4.9% dalam lima tahun terakhir.

Point positif lagi dan lagi untuk Amerika Serikat.

ANGKA KONSUMSI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat tercatat stagnan sebesar 89.8 pada bulan September, walaupun sejak Oktober 2015 tercatat fluktuatif, tetapi dalam lima tahun terakhir Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat mengalami peningkatan.

Point positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Tetapi Penjualan Ritel Amerika Serikat tercatat tidak terlalu memuaskan, dimana data terakhir pada bulan Agustus menunjukkan penurunan sebesar -0.3% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.1% MoM, dan secara tahunan juga tercatat sebesar 1.9% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2.4% YoY.

Apabila kita lihat secara jangka panjang, maka terlihat saat ini pertumbuhan penjualan ritel Amerika Serikat mengalami konsolidasi dan cenderung mengalami pelemahan.

Dalam hal ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Data Personal Income Amerika Serikat pada bulan Juli tercatat tumbuh 0.4% MoM, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.3% MoM. Namun secara jangka panjang tercatat flat, hal ini mengindikasikan bahwa Personal Income Amerika Serikat belum bertumbuh.

Yahh,, kita anggap netral aja yaa untuk indicator ini.

Source : Trading Economics

Selanjutnya adalah data Personal Spending pada bulan Juli tercatat mengalami penurunan menjadi 0.3% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.5% dan secara jangka panjang tercatat flat.

Dari segi ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Dari segi Non – Farm Payrolls pada bulan Agustus tercatat sebesar 151,000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 275,000 dan secara jangka panjang tercatat flat dan cenderung mengalami pelemahan.

Nahh, untuk Non – Farm Payrolls memang kita berikan point negative terlebih dahulu.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data Penjualan Rumah baru pada bulan Juli 2016, tercatat sebesar 654,000 jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 582,000 dan secara jangka panjang dalam lima tahun terakhir menunjukkan trend menguatan yang cukup kuat.

Kita kasih point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Manufacturing PMI Amerika Serikat bulan Agustus tercatat mengalami penurunan menjadi 52, dari bulan Juli yang tercatat sebesar 52.9, apabila dilihat dari grafik jangka panjang, telah terjadi rebound dari Manufacturing PMI Amerika Serikat, dan saat ini Manufacturing PMI Amerika Serikat masih berada diatas level aman 50.

Yaa,, untuk pencapaian ini kita berikan point positif,,

Source : Trading Economics

Sedangkan untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat tercatat -0.4% YoY pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.1% YoY, dan secara jangka panjang memang trend pertumbuhan produksi manufaktur mengalami penurunan.

Penulis memberikan point negatif untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Industrial Production Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat mengalami penurunan -0.4% MoM, jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 0.6% MoM dan secara tahunan masih berada pada zona negatih yaitu -1.1% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.6% YoY.

Secara jangka panjang pertumbuhan Intial Production terus mengalami pelemahan, tetapi berhasil membaik pada tahun 2016.

Tetapi berdasarkan rilis data terbaru, maka penulis memutuskan untuk memperikan poin negatif untuk Industrial Production Amerika Serikat.

NERACA PERDAGANGAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Apabila diperhatikan dengan seksama, sebenarnya neraca perdagangan Amerika Serikat mengalami perbaikan namun tidak terlalu signifikan, dan masih mengalami deficit neraca perdagangan. Ekspor mengalami penguatan sejak tahun 2012 dan melemah kembali pada 2015 karena USD mengalami penguatan akibat peningkatan suku bunga acuan Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak stimulus diberikan. Import juga cenderung mengalami pelemahan.

Sesungguhnya peningkatan suku bunga The Fed sangat berpengaruh terhadap ekspor Amerika Serikat, dimana barang dari Amerika Serikat akan terlihat lebih mahal karena USD yang mengalami penguatan terhadap beberapa mata uang negara di dunia.

Penulis memberikat point netral untuk neraca perdagangan Amerika Serikat.

Tetapi Fokus dari The Fed sendiri adalah bagaimana menekan angka pengangguran, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, selanjutnya dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan meningkatkan Inflasi, dan yang terakhir adalah menumbuhkan laju GDP Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data indikator diatas, dimana data positif sebesar 7 point lebih besar dibandingkan data negatif yang sebesar 5 point dan data netral yang sebesar 3 point.

Maka bagi perkiraan penulis, Kondisi perekonomian Amerika Serikat sudah lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 dan tahun – tahun sebelumnya. Amerika Serikat sudah lebih siap untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun 2016 dibandingkan aksi nekat The Fed pada tahun 2015 lalu, tetapi apapun keputusan The Fed pada tanggak 21 September 2016 nanti, sudah mutlak keputusan yang terbaik bagi The Fed dan Amerika Serikat. Penulis hanya memperkirakan bahwa The Fed akan tetap meningkatkan suku bunga pada tahun 2016 ini, namun akan sama polanya seperti tahun 2015, yaitu pada bulan Desember, karena menurut penulis masih ada 5 indikator yang harus dipenuhi untuk benar – benar menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Selain itu Pemilu Amerika Serikat yang akan diselenggarakan pada bulan November akan menjadi pertimbangan The Fed juga.

Wokehhh,, pembahasan The Fed sudah terpenuhi,, tetapi bagaimana dampaknya untuk Indonesia??

Jujur menurut penilaian penulis, hingga bulan Agustus 2016, perekonomian Indonesia cukup baik dibandingkan pada tahun 2015. Pembaca bisa melihat ulasannya pada link berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/pahami-indikator-ekonomi-sebelum-khawatir-akan-pelemahan-indeks-harga-saham-gabungan.html

Disisa tahun 2016 ini, Indonesia harus berkutat dengan penerimaan pajak yang terancam tidak mencapai target, apabila hal ini terus terjadi, maka dampak kenaikan suku bunga The Fed tahap II akan cukup besar bagi Indonesia,, walaupuun, walaupunnya di Bold, masih lebih kuat dibandingkan tahun 2015 lalu, karena menurut penulis perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini cukup stabil.

Sekedar Informasi, bahwa Realisasi penerimaan pajak hingga 13 September 2016 sudah mencapai Rp 656,11 triliun. Jumlah itu sekitar 48,41% dari target pajak di APBN-P 2016. Namun, jika dibandingkan dengan outlook penerimaan pajak realistis yang dipatok pemerintah, pencapaian itu sudah  57,6%. Dalam APBN-P target pajak yang ditetapkan sebesar Rp 1.355,2 triliun, sedangkan outlook realistisnya Rp 1.139,2 triliun.

Sekian ulasan kami mengenai Ada Apa Dengan The Fed?? Part II, semoga dapat menjadi panduan Investasi bagi Kawula Investasi,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Bahas PDB Indonesia??

Heyy guys,, selamat membaca kembali di website kita “dapurinvestasi.com”..

Website kita kembali aktif nihh, setelah sebelumnya mengalami perbaikan, biar lebih keren lagii yaa guys.. hehehe.

Artikel kali ini, kita akan membahas GDP (Gross Domestic Product) atau dalam Bahasa Indonesia PDB (Produk Domestik Bruto). Secara simplenya sihh PDB itu salah satunya metode untuk menghitung pendapatan suatu negara, dimana didalamnya ada pengeluaran dari konsumsi masyarakat, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor juga impor.

So, didapat Rumus PDB atau GDP adalah,,

Rumus GDP

Nahh,, postur GDP Indonesia didominasi oleh konsumsi masyarakatnya, dimana data terakhir pada kuartal I 2016 menunjukkan konsumsi masyarakat mendominasi sebesar 56.25 %, seperti Tabel berikut ini,,

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Porsi kedua di peroleh oleh Investasi yang sebesar 34.61%, selanjutnya ekspor memperoleh porsi 21.18%, sedangkan ekspor 19.83%. Untuk pemerintah hanya memiliki porsi sebesar 6.09%.

Porsi masing-masing sektor pada postur GDP Indonesia menjadi penting, karena pertumbuhan masing-masing sektor yang mempunyai porsi besar akan mempengaruhi pertumbuhan GDP secara signifikan. Dan saat ini GDP Indonesia masih bergantung pada konsumsi masyarakatnya. Jumlah penduduk yang besar menjadi senjata ampuh untuk menopang pertumbuhan GDP Indonesia.

Sekarang mari kita lihat pergerakan proporsi GDP Indonesia dari tahun 2000..

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Dari tabel tersebut dapat kita lihat trendnya dari tahun 2000, ternyata walaupun Konsumer masih mendominasi dalam postur GDP, namun secara trend proporsi mengalami penurunan, hal tersebut dikarenakan sejak krisis tahun 1998, pemerintah telah mulai memangkas subsidi BBM, dimana tingkat konsumsi masyarakat sangat bergantung pada murahnya harga BBM, apabila subsidi dikurangi perlahan, maka pertumbuhan konsumsi masyarakat tidak akan terlalu signifikan. Ekspor Impor Indonesia pun secara signifikan mengalami penurunan secara proporsional pada postur GDP Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh ekspor Indonesia yang bergantung pada komoditas pertambangan, saat ini harga komoditas telah jatuh dalam karena melambatnya perekonomian dunia. Maka dari itu pendapatan Indonesia dari Ekspor berdampak signifikan dan mengalami penurunan.

Nah dari segi impor, mengapa mengalami penurunan yang signifikan juga, hal tersebut disebabkan pemerintah telah memangkas subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak), bahkan di era pemerintahan Joko Widodo, subsidi sudah sama sekali dihapuskan. Apabila subsidi dihapuskan, maka harga BBM dalam negeri akan meningkat tajam dan akan menyebabkan permintaan akan BBM mengalami penurunan. BBM juga memiliki porsi yang lumayan besar dalam impor Indonesia, maka kinerja impor juga signifikan menurun karena hal itu. Kurs rupiah juga yang telah melemah terhadap dollar Amerika mempengaruhi kinerja Impor Indonesia, dimana barang barang luar negeri mengalami penurunan permintaan di dalam negeri.

Untuk Porsi pemerintah seperti terlihat pada gambar mengalami peningkatan, namun tidak terlalu signifikan, sedangkan dari segi Investasi mengalami peningkatan yang signifikan dari porsi GDP. Hal ini karena pemerintah sangat konsisten dalam menciptakan iklim investasi yang baik di Indonesia, sehingga Investor Asing dan Investor Domestik telah optimis dalam penanaman modal di Indonesia.

Selanjutnya kita akan menunjukkan data pertumbuhan GDP dari tahun 2000..

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

GDP Indonesia secara konsisten tumbuh pada frame 2001 – Q1 2016. Menurut perhitungan kami, secara YoY GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.32% YoY, secara Annualized GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.33% YoY dan secara QoQ GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 1.31%.

Berikut adalah tabel komposisi dan pertumbuhan GDP Indonesia dari Q1 2000 sampai Q1 2016,,

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Dapat kita lihat, walaupun GDP Indonesia secara konsisten tumbuh namun pertumbuhan GDP Indonesia mengalami trend penurunan sejak tahun 2007 yang tercatat sebesar 6.35% Annualized, hingga pada Annualized tahun 2015 tercatat dibawah 5.0% yaitu sebesar 4.79% Annualized. hal tersebut merupakan imbas dari perlambatan ekonomi dunia setelah krisis Amerika dan Eropa terjadi.

Tetapi, pembaca tidak perlu khawatir, karena menurut data terakhir yaitu Kuartal I 2016 GDP Indonesia tumbuh sebesar 4.92% lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang tumbuh hanya 4.73%, hal tersbut jelas mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai mengalami perubahan trend menjadi trend kenaikan.

GDP Indonesia pada Kuartal I 2016 tercatat sebesar 2,262 Triliun tumbuh 4,92% YoY. Konsumsi masyarakat tumbuh 4,97% YoY lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang sebesar 4,72% YoY dan tumbuh tinggi dari Kuartal I 2011 yang sebesar 4,13%. Hal ini menunjukkan konsumsi masyarakat secara perlahan telah mengalami perbaikan seiring kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sejak awal 2016, seperti penurunan harga BBM, Penurunan Bi Rate, Penguatah kurs Rupiah, Penurunan Lending Rate dan Deposit Rate, peningkatan Upah Minimum Masyarakat dan peningkatan PTKP ( Penghasilan Tidak Kena Pajak). Semua unsur tersebut sangat berdampak pada tingkat konsumsi masyarakat, dan secara otomatis akan berpengaruh pada pertumbuhan GDP, mengingat porsi konsumsi masyarakat sangat tinggi pada GDP Indonesia.

Dari segi Pemerintah, hanya tumbuh tipis yaitu sebesar 2,93% pada Kuartal I 2016, dimana angka tersebut hanya lebih tinggi tipis disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 2,91%. Belanja pemerintah memang sudah mulai digenjot pada Kuartal I 2016, namun Pemerintah masih memiliki kendala dalam realisasi belanja pemerintah, hal tersebut dikarenakan pendapatan Pemerintah dari pajak sangat minim. Pemerintah masih memperbaiki infrastruktur dan regulasi dalam Pajak. Berbagai paket kebijakan untuk menarik pajak sudah dikeluarkan dan diperkirakan efektif pada pertengahan tahun 2016.

Nahhh, untuk Investasi tumbuh lumayan nihh guys, pada Kuartal I 2016 Investasi tumbuh 5,57% YoY lebih tinggi disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 4,63% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa regulasi dan paket kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah untuk mempermudah Investasi dan kegiatan usaha di Indonesia mulai berhasil diterapkan. Pemerintah telah mempermudah pembuatan izin usaha dan izin-izin lainnya untuk Investasi.

Namun Ekspor dan Impor Indonesia masih mengalami penurunan, masih dipengaruhi perlambatan ekonomi dunia. Pemerintah diharapkan mengalihkan pendapatan ekspor dari yang semula bergantung pada ekspor komoditas, menjadi kuat pada sector pariwisata yang dapat menopang devisa negara. Penarikan dana investasi asing juga dapat digunakan untuk mengimbangi kinerja ekspor yang terus mengalami penurunan.

Okehhh,, paragraph mendekati terakhir nihh, dapurinvestasi.com akan mencoba untuk memberikan satu pandangan. Hal simple yang bisa diperoleh dari data diatas adalah “Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan sejalan dengan membaiknya iklim Investasi di negara tersebut”.. Acuan sederhana, apabila GDP tumbuh maka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia) juga akan tumbuh.

Kita telah mengetahui bahwa komponen utama dalam GDP Indonesia, yaitu Konsumsi Masyarakat dan Investasi telah tumbuh pada Kuartal I 2016 lebih tinggi dibandingkan Kuartal I 2015, maka hal itu mengindikasikan kebijakan pemerintah terkait tingkat konsumsi masyarakat dan terkait regulasi Investasi telah berhasil, dan Investor sangat tertarik berinvestasi di Indonesia. Masalah yang harus diperbaiki adalah Ekspor dan Impor Indonesia serta realisasi belanja pemerintah yang harus ditingkatkan lagi agar Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 5% lagii.

Tidak ada alasan untuk tidak berinvestasi di Indonesia apabila kita melihat indikator GDP Kuartal I 2016. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global mungkin tetap menjadi pertimbangan, namun apabila Indonesia bisa atau mampu dan sanggup tumbuh dalam keadaan ekonomi dunia yang sedang melambat. Menurut kami hal tersebut cukup aman untuk menanamkan dana investasi di Indonesia.

Sektor dalam IHSG yang dapat di koleksi sampai akhir tahun 2016 adalah Sektor Konsumsi, Sektor Infrastruktur, Sektor Property, Sektor Perbankan dan Sektor Manufaktur..

Sekian dan terimakasih..

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com