Economic

Pahami Indikator Ekonomi Sebelum Khawatir Akan Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan

Selamat siang kawula investasi Indonesia,, semoga selalu cerdas dalam berinvestasi.. nahh pada artikel kali ini,, kami akan membahas kembali pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena penurunan tajam IHSG baru saja dimulai.

Menjelang libur hari raya Idul Adha, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam sebesar -89.161 poin atau -1.66% pada level 5,281.917. Dengan adanya penurunan tersebut membuat IHSG menembus level support jangka pendek di area 5,296 – 5,300, penurunan yang terjadi juga sekaligus mengiyakan indikasi teknikal yang sudah muncul selama sebulan terakhir, sejak 9 Agustus 2016 dan hal tersebut sempat kami bahas di website kami dapurinvestasi.com pada link berikut ini, http://dapurinvestasi.com/outlook-teknikal-indeks-harga-saham-gabungan-jangka-pendek-dan-menengah.html.

Nahh selanjutnya Investor pasti bertanya – tanya kemana arah IHSG berikutnya, apakah ini hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015??

Mari perhatikan gambar berikut ini.

Source : Chart Nexus

Apabila terlihat pada gambar, berdasarkan Indikator teknikal, pelemahan IHSG selanjutnya akan berada pada level 5,200, tentu hal tersebut pernah kami bahas juga pada artikel sebelumnya. Pencapaian target 5,200 menurut indicator teknikal dan psikologi pasar cukup kuat, karena pada perdagangan Jumat pekan lalu menjelang libur Idul Adha, Investor Asing mencatatkan net sell cukup tinggi sebesar 914 Milyar, angka yang tinggi karena pada hari – hari sebelumnya, walaupun IHSG mengalami koreksi, tetapi  net sell Investor Asing tidak terlalu signifikan, bahkan pernah mengalami net buy ketika IHSG terkoreksi.

Source : Chart Nexus

Dann berdasarkan teknikal jangka panjang, memang seharusnya trend bullish IHSG bergerak agak landai atau tidak terlalu curam, maka koreksi kali ini diperkirakan akan menjustifikasi pergerakan IHSG selama ini yang terlalu curam. Koreksi baru saja dimulai dan akan bergerak pada level 5,200 dan apabila level tersebut telah ditembus kembali, maka target pelemahan selanjutnya adalah pada level 5,100.

Apakah ini benar hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015?? Apa yang sebaiknya Investor lakukan pada sisa tahun 2016 ini?? Buy On Weakness atau Cash is King??

Tentu banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Investor ketika IHSG mengalami koreksi, karena pada umumnya sifat manusia tidak ingin adanya penurunan pada IHSG, semua orang ingin IHSG terus mengalami peningkatan, tetapi pada faktanya setiap ada kenaikan pasti ada penurunan dan IHSG harus bergerak sesuai kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Ada beberapa Indikator fundamental yang dapat kami bagikan, sebagai pandangan kami bagaimana seharusnya Investor menyikapi penurunan IHSG kali ini. Indikator pertama adalah yang bersifat relative positif bagi kami,, Mohon disimak yaa,,

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari segi PDB (Produk Domestik Bruto) hingga kuartal II 2016 tercatat lebih baik dibandingkan tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Kuartal II 2016, pertumbuhan PDB Indonesia tercatat tumbuh sebesar 4.02% QoQ dan 5.18% YoY, apabila terlihat pada gambar, terjadi trend penguatan sejak Kuartal I 2015. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia mengalami perbaikan.

Inflasi Indonesia tetap terjaga dan masih dibawah target Bank Indonesia yang sebesar 4%, tetapi Inflasi cenderung mengalami penurunan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus 2016, Indonesia mengalami deflasi sebesar -0.02% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar 2.79% YoY, maka sejak Januari hingga Agustus, Inflasi Indonesia masih tercatat sebesar 1.74%.

Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia terus mengalami peningkatan sejak mengalami posisi buruk pada tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Bulan Agustus 2016 Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia tercatat sebesar 113.3, walaupun angka tersebut lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat sebesar 114.2, tetapi Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia masih berada pada trend positif.

Data penjualan ritel Indonesia mengalami peningkatan yang cukup kuat sejak Agustus 2015

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus, penjualan ritel Indonesia tercatat sebesar 15.90% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 13.50% YoY, terlihat pada gambar penjualan ritel masih cukup kuat untuk melanjutkan trend positifnya.

Data Indonesia Nikkei Manufacturing PMI masih berada pada zona aman diatas 50

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus data Manufaktur Indonesia mengalami rebound menjadi 50.4 dari bulan Juli yang tercatat sebesar 48.4. Dengan perbaikan tersebut maka saat ini manufaktur Indonesia kembali berada pada zona ekspansi karena berada diatas level 50.

Data neraca perdagangan Indonesia kian membaik

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Walaupun pada bulan Agustus data neraca perdagangan Indonesia kembali terpuruk, dimana ekspor melemah -17.02% YoY dan Impor melemah -11.56% YoY, alhasil neraca perdagangan tercatat turun menjadi $ 0.59 Milyar, tetapi apabila dibandingkan bulan Oktober 2015, saat ini telah terjadi perbaikan pada ekspor impor Indonesia.

Selajutnya ada cadangan devisa Indonesia yang terus mengalami perbaikan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Untuk cadangan devisa Indonesia, mari simak ulasannya pada artikel berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/perkembangan-cadangan-devisa-indonesia-periode-2008-2016.html

Tetapii, perlu diketahui bahwa ada juga Indikator fundamental yang menjadi katalis negatif pergerakan IHSG, seperti hal nya berikut ini.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Adanya kebijakan dari Bank Indonesia dalam menurunkan Bi Rate, hingga memberlakukan 7 Days Reverse Repo, ternyata belum mampu meningkatkan pertumbuhan kredit di Indonesia. Hingga bulan Agustus 7 Days Reverse Repo mulai diberlakukan dengan rate sebesar 5.25% sebagai pengganti Bi Rate, tetapi pertumbuhan kredit belum juga tampak pulih, seperti yang dijelaskan pada garis kuning.

Investasi Langsung Asing di Indonesia juga mengalami penurunan pada Kuartal II 2016

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada kuartal II 2016, Investasi langsung dari Investor Asing hanya tumbuh 7.90% YoY, lebih rendah dari kuartal I 2016 yang tercatat sebesar 17.10%, angka tersebut terus megalami penurunan sejak mencapai level tertinggi sebesar 26% pada kuartal IV 2015.

Data selanjutnya yang paling kritis mempengaruhi IHSG adalah dari penerimaan negara yang sangat jauh dari ekspektasi, dan hal ini masih sangat hangat diperbincangkan khususnya terkait kebijakan Tax Amnesty.

Hingga akhir Agustus 2016 penerimaan pajak hanya sebesar Rp 596 Triliun atau 44% dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 sebesar Rp 1.355,2 triliun. Angka tersebut jauh berkurang dibandingkan penerimaan negara pada Agustus 2015 yang tercatat sebesar Rp 867.5 Triliun atau 49.2% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan dari segi keuangan pemerintah.

Indikator Eksternal adalah masalah The Fed yang masih ditunggu – tunggu akan kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada sisa tahun 2016 ini.

Okaayyy,, usai sudah pembahasan diatas mengenai kondisi perekonomian Indonesia, tetapi terlihat tidak komplit apabila kita tidak melihat kinerja emiten di IHSG sepanjang semester I 2016, berikut kami tampilkan pertumbuhan penjualan emiten sejak tahun 2014 dan juga pertumbuhan EPS sejak tahun 2014 berdasarkan 30 emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di IHSG. Kami mengambil sampel tersebut karena, menurut kami fundamental dari emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar maka turut akan mempengaruhi pergerakan IHSG di sisa tahun 2016 ini.

Source : Dapur Investasi

Secara rata – rata pertumbuhan 30 emiten dengan kapitalisasi besar mencatatkan perbaikan pada semester I 2016, dengan rata – rata pertumbuhan penjualan tercatat tumbuh sebesar 5.99% YoY dibandingkan pada tahun 2015 yang tercatat hanya tumbuh sebesar 2.74% YoY. Laba bersih secara rata – rata tumbuh sebesar 8.05% YoY, jauh lebih baik dibandingkan tahun 2015 yang tercatat – 2.05%.

Dari sekian Indikator fundamental ekonomi yang kami tampilkan, baik dari segi makro maupun mikro, kami menilai bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini masih lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 yang mengalami keterpurukan. Investor hanya perlu mewaspadai penerimaan pajak negara, investasi asing, pertumbuhan kredit dan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Indikator negatif tersebut diperkirakan akan mampu menyeret IHSG pada trend pelemahan jangka pendek.

Tetapi kami tetap optimis bahwa secara jangka panjang IHSG masih berada pada trend bullish dan kami menyarankan agar investor mengurangi bobot portofolio pada saham yang memiliki kinerja kurang bagus di semester I 2016 (ditandai dengan warna merah pada tabel), kecuali prospek kedepan sectoral saham tersebut mengalami perbaikan kinerja. Mulai lah beralih pada saham defensif dan emiten yang memiliki kinerja positif di tahun 2016.

Asumsi kami adalah, apabila ekonomi Indonesia tahun 2016 mengalami perbaikan, maka seharusnya emiten melakukan langkah positif agar bisa menggaet pangsa pasar atau potensi keuntungan ketika ekonomi membaik, hal tersebut ditunjukkan dengan kinerja yang mantapp juga pada laporan keuangan. Tetapi apabila penjualan dan laba bersih perusahaan mengalami penurunan ditengah penguatan ekonomi Indonesia, maka kami memperkirakan industri dan manajemen emiten sedang dalam performa buruk.

Hindari pula sektor yang sudah mencatatkan kenaikan tertinggi seperti sektor pertambangan dan aneka industry.

Sekian tulisan dari kami pada kali ini, semoga dapat mencerahkan keputusan investasi dari pembaca, sehingga tau apa yang harus dilakukan pada sisa tahun 2016 ini.

Terima kasih

By : Putu Wahyu Suryawan

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia Periode 2008 – 2016

Heyy guys, kali ini kita mau bahas Cadangan devisa Indonesia nihh,, perlu kalian ketahui pada bulan Agustus 2016 kemarin, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar $ 113.5 Milyar, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar $ 111.4 Milyar.

Kalo kata Bank Indonesia sihh peningkatan itu dikarenakan penerimaan cadangan devisa meningkat yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa migas.

Truss,, pada bulan Agustus juga ada penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, sehingga hal tersebut menyebabkan adanya arus dana masuk yang cukup besar dan mempengaruhi peningkatan cadangan devisa Indonesia.

Dannn,, secara bersamaan pemerintah Indonesia juga melakukan pembayaran hutang luar negeri serta melunasi SBBI valas yang sedang jatuh tempo, namun hal tersebut tidak menjadi kendala, karena arus dana keluar untuk membayar hutang lebih kecil dibandingan dana yang masuk ke Indonesia karena perolehan hutang baru, pembayaran pajak dan devisa migas.

Berdasarkan perhitungan Bank Indonesia, cadangan devisa bulan Agustus itu mampu lohh atau cukup membiayai 8,3 – 8,7 bulan kebutuhan Impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah. Jadi bisa dibilang cadangan Indonesia cukup aman, karena menurut standar Internasional, cadangan devisa yang kredibel itu mampu membiayain impor selama 3 bulan.

Nahh, mari kita bahas perkembangan cadangan devisa Indonesia sejak tahun 2008, dan bagaimana dampaknya bagi Rupiah terhadap kurs Dollar Amerika.

Source : Dapur Investasi

Apabila dilihat dari grafik diatas, terlihat bahwa perubahan kurs Rupiah (garis panah hijau) berbanding terbalik dengan perubahan cadangan devisa Indonesia (garis panah merah), tetapi apabila diterjemahkan, maka pergerakan Rupiah berbanding lurus dengan perubahan Cadangan Devisa Indonesia, karena apabila Rupiah menguat maka cadangan devisa mengalami penigkatan dan apabila Rupiah melemah maka cadangan devisa mengalami penurunan.

Memang secara alamiah, apabila Kurs Rupiah mengalami penguatan, maka harus didukung adanya arus dana masuk untuk Indonesia, baik melalui Kegiatan Ekspor, Perdagangan Jasa, Pariwisata, TKI atau TKW, Penanaman modal asing, Pinjaman luar negeri dan Hibah atau hadiah dari luar negeri.

Dari grafik juga dapat terlihat bahwa apabila Kurs Rupiah mengalami pelemahan maka kemungkinan besar hal tersebut dipengaruhi oleh adanya arus dana keluar dari Indonesia,,

Nahh selanjutnya kita akan bertanyaa,, apa hubungan Rupiah dengan Cadangan devisa Indonesia??

Mengapa kedua hal tersebut saling berkaitan dan perubahannya berjalan searah.

Berikut penjelasannya,

Bank Indonesia memiliki fungsi menjaga stabilitas moneter Indonesia, termasuk menjaga stabilitas mata uang Rupiah, maka ketika Rupiah mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika, Bank Indonesia akan melakukan intervensi pasar agar pelemahan Rupiah tidak terlalu dalam dan pergerakan Rupiah menjadi stabil, hal tersebut tentu akan menguras Cadangan devisa Indonesia, dan ketika Rupiah mengalami penguatan maka Cadangan devisa akan mengalami penambahan kembali.

Nahh, Investor perlu memperhatikan satu hal penting, dimana ketika Rupiah mengalami penguatan seharusnya Cadangan devisa mengalami peningkatan juga, tetapi apabila Rupiah mengalami penguatan dan Cadangan devisa mengalami penurunan, maka bisa dipastikan bahwa penguatan Rupiah yang terjadi akibat dari intervensi Bank Indonesia, bukan karena performa yang baik dari Ekspor, Perdagangan Jasa, Pariwisata, TKI atau TKW, Penanaman modal asing, Pinjaman luar negeri dan Hibah atau hadiah dari luar negeri.

Tentu kita akan merasa tenang apabila penguatan Rupiah terjadi karena kinerja ekonomi Indonesia mengalami perbaikan bukan karena intervensi Bank Indonesia, walaupun terkadang intervensi itu perlu dilakukan.

Apabila dilihat pada grafik dari periode September 2011 sampai September 2013, cadangan devisa terkuras habis hingga mencapai titik terendah $ 93 Milyar (dibawah batas wajar $ 100 Milyar) pada periode tersebut, tetapi hal tersebut tidak mampu menjadikan Rupiah menguat, karena memang pada tahun – tahun tersebut Rupiah mengalami pelemahan hingga tahun 2015 akibat adanya arus keluar dari Indonesia karena pengurangan stimulus dari The Federal Reserve Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, ditambah lagi pada periode tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan.

Pada tahun 2016 Cadangan devisa Indonesia telah berangsur angsur mengalami pertumbuhan, dimana pada Januari 2016 Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar $ 102.1 Milyar dan pada bulan Agustus tercatat sebesar $ 113.5 Milyar, dan Rupiah telah mengalami penguatan yang cukup tinggi, dimana pada bulan September 2015 tercatat sebesar 14,396 dan pada 08 September 2016 tercatat sebesar 13,086. Rupiah telah mengalami penguatan sebesar +9.10%.

Intinya dari segi Cadangan devisa dan Pergerakan Rupiah, ekonomi Indonesia sudah terlihat membaik dibandingkan tahun – tahun sebelumnya, dan hal tersebut harus dipertahankan, sehingga kondisi perekonomian Indonesia cukup kuat menghadapi perlambatan ekonomi dunia. Apalagi ketika pada akhir tahun 2016, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika. Indonesia harus mampu menghadapi badai ekonomi tersebut.

Sekian artikel singkat dari kami, jangan lupa like, comment and subscribe yaaahhh guyyyysss.. hahaha

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^^

By : Putu Wahyu Suryawan

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Federal Reserve atau The Fed kembali membawa kekhawatiran bagi pasar keuangan di dunia. Janet Yellen selaku pimpinan The Fed pada pertemuan Jackson Hole Jumat (26/8) pukul 11.00 waktu New York menegaskan akan menaikkan suku bunga acuan pada beberapa bulan terakhir di 2016 seiring data ekonomi Amerika yang membaik.

Pasar memang sedikit bertingkah manja terhadap gejolak ekonomi, sejak Amerika memberikan quantitative easing (pelonggaran moneter dengan cara pengucuran dana oleh Bank Sentral melalui pembelian asset, dalam hal ini Obligasi) pada tahun 2008 karena krisis subprime motgage, pasar menjadi candu akan stimulus moneter, pergerakan pasar keuangan seolah sejalan dengan besar atau kecilnya stimulus moneter yang dikucurkan oleh Bank Sentral di berbagai Negara termasuk Amerika. Pasar terus berharap agar pelonggaran moneter terus diberikan sehingga tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Pada tahun 2013 pasar kembali bergejolak karena The Fed memastikan untuk mengurangi quantitative easing atau dikenal dengan istilah tapering off, dimana The Fed mulai mengurangi pembelian Obligasi dan pasar berpandangan bahwa pengurangan stimulus moneter tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi Amerika dan pertumbuhan ekonomi Dunia mengalami kontraksi.

Setelah tahun 2013 berlalu, ekonomi mulai pulih kembali dan seolah olah pasar berpandangan bahwa “gapapa The Fed ngga ngasih quantitative easing lagi, asalkan Amerika Serikat tetap menganut suku bunga rendah yaitu sebesar 0.25%”, sehingga dengan adanya suku bunga rendah maka daya beli masyarakat akan tumbuh, permintaan tenaga kerja akan stabil dan perekonomian akan meningkat kembali.

Tetapi pada tahun 2015 The Fed kembali mengguncang pasar keuangan, dengan memastikan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali sebesar 25 bps menjadi 0.50% dari sebelumnya yang sebesar 0.25%. Hal tersebut sontak membuat dollar Amerika Serikat menguat dibandingkan mata uang negara di dunia, mata uang negara emerging market mengalami depresiasi yang cukup dahsyat, terutama bagi negara yang tidak memiliki fundamental yang cukup baik.

Indikator utama yang menjadi acuan dalam menaikkan suku bunga Amerika Serikat adalah target pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan sebesar 2.1% – 2.2%, target Inflasi yang diperkirakan mencapai 2% dan target angka pengangguran yang diperkirakan berada pada level 5%.

Fakta yang terjadi ketika suku bunga acuan Amerika Serikat dinaikkan pada Desember 2015 adalah sebagai berikut :

Source : Trading Economic

Pertumbuhan GDP pada Kuartal IV 2015 hanya mencapai 1.9% lebih rendah dari target The Fed yang sebesar 2.1% – 2.2%.

Source : Trading Economic

Inflasi Amerika Serikat hanya tercatat sebesar 0.7% pada bulan Desember, jauh dibawah target The Fed yang sebesar 2%.

Source : Trading Economic

Data Unemployment rate Amerika Serikat tercatat sebesar 5% pada bulan Desember 2015, sesuai dengan target The Fed.

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada akhir tahun 2015 relatif terburu – buru dan cenderung nekat, mengingat dua dari tiga indikator ekonomi belum tercapai. Pada saat kenaikan tersebut terjadi, tentu perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat dalam beradaptasi terhadap keadaan tersebut. Apalagi perekonomian dunia yang kembali mengalami turbulence karena kebijakan kenaikan suku bunga The Fed.

Source : World Bank

Terlihat pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi dunia mengalami penurunan dan tercatat hanya tumbuh sebesar 2.47%.

Bagaimana dengan tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Pertanyaan diatas akan kami paparkan pada tulisan selanjutnya Part II..

Cerdaslah dalam berinvestasi ^__^

By : Putu Wahyu Suryawan