dapurinvestasi

Sruput Pagi Selasa 27 September 2016 : Profit Taking Investor Asing Masih Terjadi dan Fokus Akhir Bulan Akan Tertuju Pada Penerimaan Tax Amnesty Periode I

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street kembali ditutup mengalami pelemahan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.91% pada level 18,094.83, S&P 500 tercatat melemah -0.86% pada level 2,146.10 dan Nasdaq tercatat melemah -0.91% pada level 5,257.49.

Pelemahan Bursa Wall Street terjadi karena beberapa faktor, diantaranya penantian debat calon Presiden untuk pertama kalinya dan penurunan saham Deutsche Bank AG karena spekulasi bahwa bank terbesar dari Jerman tersebut sangat membutuhkan penambahan modal, tetapi Kanselir Jerman Angela Merkel menegaskan bahwa pasar tidak perlu berspekulasi atas bantuan pemerintah dalam penambahan modal Deutsche Bank AG, karena pada dasarnya Pemerintah Jerman akan mengesampingkan usul bantuan tersebut.

Faktor yang menjadi pemicu turunnya Bursa Wall Street juga datang dari data Penjualan Rumah Baru Amerika Serikat tercatat sebesar 609,000 pada bulan Agustus dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 659,000. Penurunan penjualan kembali terjadi yaitu sebesar -7.6% MoM, jauh lebih rendah dari bulan Juli yang tumbuh sebesar 13.8% MoM.

Harga minyak mentah dunia tercatat mengalami penguatan atau teknikal rebound, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +2.65% pada level 45.66 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +2.53% pada level 47.05 USD/barel. Tetapi apabila dilihat sejak akhir pekan lalu, harga minyak tercatat stagnan, karena pada akhir pekan lalu mencatat penurunan tajam dan pada perdagangan kemarin, kembali pada posisi semula. Penguatan yang terjadi pada perdagangan kemarin didukung oleh Arab Saudi yang menawarkan untuk memotong output poduksi pada rapat OPEC pekan ini, walaupun Arab Saudi sendiri tidak berekspektasi lebih bahwa kesepatakan akan terjadi.

Dari dalam negeri, Penerimaan pajak hingga 25 September 2016 baru mencapai 52,3% yaitu sebesar Rp 729.7 triliun dari total target penerimaan pajak 2016 sebesar Rp 1,355.2 triliun. Hasil tersebut lebih baik dari bulan September 2015 yang tercatat sebesar Rp 660.12 Triliun, tetapi angka yang diraih hingga bulan September ini merupakan penambahan dari hasil Tax Amnesty, artinya penerimaan pajak normal tanpa Tax Amnesty sangat kecil dan jauh dibawah ekspektasi Pemerintah.

Hal ini terlihat wajar, mengingat sejak awal tahun pemerintah memberikan berbagai stimulus fiskal berupa pemangkasan pajak, sehingga berimbas pada penerimaan pajak Negara, tetapi kebijakan tersebut akan berdampak positif bagi daya beli masyarakat, sehingga dapat menopang sektor konsumsi dan memacu pertumbuhan GDP.

Dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 4.1 Triliun atau meningkat sebesar 9.72% menjadi Rp 46.3 Triliun dari hari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 42.2 Triliun atau telah mencapai 28.06% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun.

Source : Chart Nexus

Pada perdagangan kemarin yang digambarkan oleh chart paling akhir berwarna hitam, menunjukkan bahwa, walaupun IHSG mengalami penurunan tetapi mampu bertahan pada level support pada level 5,337, tetapi Investor Asing masih mencatatkan net sell sebesar -335.9 Milyar.

Berdasarkan data fundamental ekonomi dalam negeri yang belum menunjukkan pandangan positif, maka kami menilai bahwa Investor akan menunggu hasil akhir periode pertama dari Tax Amnesty hingga akhir bulan September.

Indikasi teknikal menunjukkan bahwa IHSG tertahan pada support level 5,336 dan kami memperkirakan IHSG akan bergerak konsolidasi sembari menunggu hasil akhir Tax Amnesty, IHSG akan bergerak pada range harga 5,336 – 5,411 dan hari ini teknikal rebound diperkirakan akan terjadi.

Cermati saham PGAS, TINS, ADRO, LSIP

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG CERIA DI AKHIR PEKAN, 23 September 2016

Menutup perdagangan akhir pekan ini (23/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup menguat tipis sebesar 8,646 poin atau 0,161% ke level 5.388,908 setelah pada saat pembukaan hari ini dicatat melemah ke level 5375,712. Aksi beli investor asing turut memberikan efek positif pada penutupan perdagangan hari ini.
Tercatat sebesar 117 saham yang bergerak naik, sedangkan 160 saham lainnya bergerak turun, dan 98 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 6,363 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.7,705 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.181,4 Milliar.
Tercatat empat sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri sebesar -1,80% disusul dengan sektor Konstruksi -0,38%. Sedangkan enam sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar dengan kenaikan sebesar 1,73% disusul dengan sektor Consumer Goods dengan kenaikan sebesar 0,97%.
Saham-saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Matahari Putra Prima TBK (MPPA) naik 5,31% ke Rp.1.985,-, PT Charoen Pokphand Indonesia TBK (CPIN) naik 4,46% ke Rp.3.510,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) naik 3,27% ke Rp.18.150,-.
Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Pembangunan Perumahan (Persero) TBK (PTPP) turun -5,56% ke Rp.4.250,-, PT Wiajaya Karya (Persero) TBK (WIKA) turun -5,11% ke Rp.2.600,- dan PT Adhi Karya (Persero) TBK (ADHI) turun -3,27% ke Rp.2.370,-.
Cerdaslah dalam berinvestasi
By : dapurinvestasi.com

IHSG Menguat, Menanti The FED

Pada awal perdagangan hari ini (21/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di buka melemah ke level 5.295,883. Namun akhirnya IHSG berhasil move on ke zona hijau dengan ditutup menguat sebesar 40,099 poin atau sebesar 0,756% ke level 5342,592. Para investor masih menunggu hasil rapat The FED yang akan melakukan kenaikan suku bunga acuan dengan peluang sebesar kurang lebih 20%. Selain itu Bank of Japan (BOJ) telah memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuan di level -0,1%..

Tercatat sebesar 165 saham yang bergerak naik, sedangkan 126 saham lainnya bergerak turun, dan 90 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 8,388 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.8,748 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.551,4 Milliar.

Tercatat dua sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar sebesar -0,16% disusul dengan sektor Agrikultur -0,03%. Sedangkan delapan sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri dengan kenaikan sebesar 2,59% disusul dengan sektor Konstruksi dengan kenaikan sebesar 1,84%.

Saham- saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Aneka Tambang (Persero) TBK (ANTM) naik 6,40% ke Rp.665,-, PT Bank Tabungan Negara (Persero) TBK (BBTN) naik 4,74% ke Rp.1.990,- dan PT Summarecon Agung TBK (SMRA) naik 3,93% ke Rp.1.720,-.

Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Semen Indonesia (Persero) TBK (SMGR) turun -1,75% ke Rp.9.825,-, PT Kalbe Farma TBK (KLBF) turun -1,45% ke Rp.1.700,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) turun -0,86% ke Rp.17.350,-.

#Cerdaslah dalam berinvestasi

By : dapurinvestasi.com

Investor Menanti Rapat FOMC Membuat IHSG Tak Berdaya

Menanti rapat FOMC Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup melemah pada hari ini 20 September 2016. Index hampir sepanjang sesi mengalami di zona merah.  IHSG melemah  19,34 point  atau 0,34% ke level 5.302,49. Pelemahan ini di akabitakan spekulasi adanya kenaikan suku bunga The Fed. Perlu di ketahui hari ini tanggal 20-21 FOMC akan membahas kebijakan tersebut. Aksi ini di respon dengan asing melakukan penjualan bersih (nett sell) sebesar -440,4 Miliar.

Mayoritas sektor saham mendukung pelemahan IHSG. Saham-saham di sektor konsumer memimpin penurunan 0,91%, disusul infrastruktur 0,85%, properti 0,81%, perdagangan 0,54%, pertambangan 0,54%, dan perkebunan 0,34%. Sedangkan tiga sektor saham bertahan di zona positif seperti aneka industri yang menguat 0,77%, disusul keuangan 0,26%, dan industri dasar 0,02%.

Pelaku pasar juga diperkirakan juga akan menyikapi keputusan yang akan ditempuh oleh bank sentral Jepang (BoJ) tentang program stimulus ke perbankan.

indeks MSCI Asia Pacific naik 0,3 % menjadi 138,71 pada pukul 16:01 sore di Hong Kong, dengan volume 85 % dari rata-rata tiga bulan.

Meskipun investor berspekulasi terhadap kenaikan suku bunga, dunia usaha di Indonesia masih terjaga secara moderat. Iklim investasi terus meningkat, terlihat pada Indeks Keyakinan Bisnis dan hasil survei terhadap 25 emiten besar Indonesia. Dibandingkan semester pertama 2016, rencana belanja modal semester kedua 2016 meningkat, terutama di sektor properti, perdagangan (wholesale maupun retail).

By : Dapurinvestasi

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG Berhasil di Tutup Menguat Tipis

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup menguat tipis pada last minute perdagangan. Index berkonsolidasi di sepanjang hari ini seperti roller coaster. IHSG naik  0,04%  atau 1,95 poin ke level 5.267,76. Penguatan ini jika diperhatikan akibat di kereknya harga sama HMSP yang naik pada sesi pre closing market. Asing melakukan penjualan bersih (nett sell) sebesar -140,4 Miliar.

Penguatan indeks yang tipis ini didukung hanya 138 saham yang menguat dibanding dengan 160 saham yang melemah dan 94 saham yang stagnan. Selama perdagangan indeks bergerak fluktuatif. Untuk level tertinggi berada di 5.305,09 dan level terendah di 5.252.25 yang sempat tergelincir ke area negatif.

Neraca Perdagangan Indonesia bulan Agustus tercatat sebesar $ 0.29 Milyar, lebih rendah dari bulan lalu yang tercatat sebesar $ 0.51 Milyar, bahkan dibawah ekspektasi yang sebesar $ 0.45 Milyar. Tetapi Ekspor mengalami perbaikan pertumbuhan menjadi -0.74% YoY, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -17.02% YoY dan Impor juga mengalami perbaikan menjadi -0.49% YoY, lebih baik dari bulan lalu yang tercatat sebesar -11.56% YoY

BoE pada Kamis mempertahankan suku bunga acuan pada rekor terendah 0,25%, karena belum ada indikasi hasil referendum Brexit berdampak buruk terhadap perekonomian.

BoE memperkirakan laju perlambatan produk domestik bruto (PDB) Inggris pada paruh kedua 2016 lebih kecil dari perkiraan. Sebab data-data ekonomi lebih baik dari perkiraan pasca referendum 23 Juni 2016, yang menunjukkan Inggris akan meninggalkan Uni Eropa (UE).

Dari pasar regional rata-rata mengalami kenaikan untuk Nikkei mengalami kenaikan +0.70% menjadi 16.519,29, HSI mengalami kenaikan +0,63% menjadi 23.335,59 dan SHCOMP -0,68% menjadi 3.002,85.

Have Nice Wekeend Guys..

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG Masih Dalam Pusaran Penurunan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih dalam pusaran penurunan pada hari ini  (14/9). Indeks terkoreksi 1,33%  atau 69,529 poin ke level 5.146,038 . Pelemahan ini memimpin penurunan terdalam di bursa regional.

Seluruh indeks sektoral memerah. Sektor aneka industri jatuh 2,48% dan sekaligus memimpin penurunan dari 10 indeks sektoral. Asing masih agresif melakukan penjualan walaupun pada sesi 1 tidak begitu deras, malah sebaliknya domestik yang melakukan penjualan pada sesi 1.

indeks MSCI Asia Pacific tenggelam 0,7 % menjadi 136,21 pada 17:10 di Tokyo, dengan pasar saham Indonesia dan Malaysia memimpin kejatuhan. Indeks acuan ini jatuh untuk hari kelima setelah valuasi bulan ini mencapai level tertinggi lebih dari satu tahun dan investor tengah menyesuaikan portofolio yang mencerminkan prospek stimulus moneter. Indeks Topix kehilangan 0,6 % setelah surat kabar Nikkei mengatakan Bank of Japan sedang mempertimbangkan menggali lebih dalam suku bunga negatif, sebuah langkah yang menyakiti saham-saham perbankan awal tahun ini. Indeks Hang Seng Hong Kong turun 0,1 % dan indeks komposit Shanghai merosot 0,7 % sebelum pasar ditutup untuk sisa minggu untuk liburan.

 IHSG anjlok karena belum ada kepastiannya kapan tingkat suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (AS), the Fed, akan dinaikkan. Hal ini memberikan sentimen negatif pada perdagangan di dunia, hingga berimbas ke dalam negeri.

Beberapa negara maju megucurkan mengucurkan likuiditas untuk memperbaiki perekonomian negaranya seperti bank sentral Jepang yang juga berencana akan menggelontorkan likuiditas membeli finansial aset . Ini juga merupakan salah satu faktor yang menyeret IHSG

IHSG diperkirakan akan terus berkonsolidasi dengan kecenderungan penurunan hingga adanya kepastian dari pertemuan FOMC yang membahas kepastian suku bunga AS.

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG Sempat Ke Zona Merah dan Akhirnya Bangkit di Tutup Menguat Tipis

IHSG di tutup hari ini 05/9/2016 dengan kenaikan tipis +3,49 point atau +0,07% menjadi 5.536,95. Investor asing mencatatkan pembelian bersih sebesar 434,6 Miliar.

Data Ekonomi AS membuat Bursa saham Asia dan IHSG menguat. Bursa Saham Aisa naik dengan indeks acuan regional menuju kenaikan tertinggi setahun, Senin (5/9). Menyusul lemahnya data tenaga kerja AS yang meleset dari perkiraan di tengah spekulasi kenaikan suku bunga AS. Data Average Hourly Earnings Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat hanya tumbuh 0.1% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 0.3% MoM.

Data Manufacturing Payrolls Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat -14.000 jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6.000 dan Non Farm Payrolls Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat hanya sebesar 151.000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 225.000.

Unemployment rate Amerika Serikat tercatat stagnan sebesar 4.9% pada bulan Agustus. Kendati data pembayaran tenaga kerja mengalami pelemahan, tetapi data neraca perdagangan Amerika Serikat pada bulan Juli tercatat mengalami perbaikan sebesar $-39.47B, dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar $-44.66B, dengan Ekspor yang tumbuh sebesar 1.9% MoM dan Impor mengalami penurunan sebesar -0.8% MoM.

Sektor-sektor penggerak IHSG mayoritas menguat. Penguatan dipimpin oleh sektor pertambangan yang naik 2,7 persen. Sementara pelemahan dipimpin oleh sektor konsumer yang melemah 1,3 persen.

Saham-saham yang masuk top gainers LQ45 antara lain; PT Vale Indonesia Tbk (INCO) naik 5,64% ke Rp 2.810, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) naik 4,27% ke Rp 1.220, dan PT Tambang Batubara Bukit Asam Tbk (PTBA) naik 3,09% ke Rp 10.000.

Saham-saham yang masuk top losers LQ45 antara lain; PT United Tractors Tbk (UNTR) turun 3,01% ke Rp 18.525, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) turun 2,58% ke Rp 9.450, dan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) turun 2,27% ke Rp 1.720.

 

By: dapurinvestasi.com

“Outlook Dapur Investasi Untuk Kelapa Sawit Indonesia Serta Rekomendasi AALI, LSIP dan SSMS” (Part I)

Prospek Minyak Kelapa Sawit Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit di dunia dan menduduki peringkat kedua setelah Malaysia. Indonesia dan Malaysia menyumbang produksi minyak kelapa sawit sekitar 85% sampai 90% dari keseluruhan produksi minyak kelapa sawit di dunia.

Pada tahun 2015, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk membentuk Council Of Palm Oil Production Countries atau Dewan Negara Penghasil Palm Oil. Dengan adanya kesepakatan tersebut, maka diharapkan Indonesia dan Malaysia dapat saling berkoordinasi dalam menentukan standard dari kelapa sawit itu sendiri, karena selama ini Indonesia dan Malaysia cukup saling bersaing dalam menentukan standard minyak kelapa sawit. Kesepakatan ini juga akan membuat Indonesia dan Malaysia dapat mengontrol pergerakan harga miyak kelapa sawit, sehingga pergerakan harga minyak kelapa sawit lebih teratur dan terjaga.

Kami menilai bahwa hal tersebut sangat positif bagi prospek harga minyak kelapa sawit kedepannya.

Selain itu prospek minyak kelapa sawit Indonesia juga ditopang oleh kebijakan pemerintah Indonesia, dimana pemerintah telah memoratorium penambahan lahan sawit untuk lima tahun kedepan. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit akan sedikit melambat dan supply akan terkontrol, maka harga minyak kelapa sawit akan mengalami kenaikan.

Pemerintah juga tengah memberlakukan kenaikan bea keluar atau bea export dari kelapa sawit, hal ini dilakukan karena pemerintah sudah menilai bahwa harga minyak kelapa sawit dunia sudah pulih dan mulai mengalami peningkatan.

Pemerintah juga menerapkan kebijakan B20 atau produsen Bahan Bakar Minyak (BBM) diharuskan untuk mencampurkan 20% komponen solar dengan minyak sawit. Hal tersebut dapat menghemat devisa negara sebesar Rp 2,85 Triliun dan juga dapat menurunkan emisi CO2 sebanyak 1,06 Juta Ton. Tentu kebijakan tersebut juga berdampak positif bagi pertumbuhan emiten CPO di Indonesia karena permintaan akan CPO semakin meningkat dengan adanya kebijakan tersebut.

Badai El Nino merupakan badai yang menyebabkan kekeringan dan dapat menghambat produksi tanaman karena berkurangnya asupan air dari tanah dan Badai La Nina merupakan badai yang menyebabkan meningkatnya curah hujan sehingga bias berdampak positif bagi tanaman yang membutuhkan asupan air cukup banyak, tetapi apabila Badai La Nina terus berlanjut maka asupan sinar matahari akan berkurang sehingga proses fotosintesis pun akan terganggu.

Kedua badai diatas sangat mengganggu proses bertumbuhnya kelapa sawit, karena ketika El Nino terjadi kelapa sawit akan kekurangan air dan saat La Nina Terjadi, maka kelapa sawit akan kesulitan dalam melakukan fotosintesis. Dan badai – badai tersebut menjadi berkah yang positif bagi emiten sawit karena harga kelapa sawit menjadi meningkat seiring kurangnya supply dipasar.

Perkembangan Harga Kelapa Sawit Selama 7 Tahun Terakhir

Source : MPOC

Selama tujuh tahun terakhir, harga CPO dunia mengalami penurunan menurut data yang kami peroleh dari MPOC. Tetapi menurut grafik pergerakan harga CPO telah mampu bertahan pada level harga 1,998 – 2,200 sepeti terlihat pada gambar dengan tanda bulat merah.

Selain itu trend penurunan yang digambarkan dengan garis hitam juga telah berhasil ditembus oleh harga CPO, hal tersebut mengindikasikan bahwa trend penurunan harga CPO telah berakhir dan saat ini siap untuk berganti trend menjadi up trend didukung oleh kebijakan – kebijakan positif dari pemerintah.

Apabila dilihat dari siklus pergerakan harga CPO, harga cenderung mulai mengalami kenaikan pada bulan Sepember dan Oktober (ditunjukkan dengan panah warna Hijau), tetapi cenderung mengalami penurunan pada bulan Januari dan April. Hal tersebut sangat sesuai dengan siklus musim dingin di dunia yang terjadi pada periode Oktober sampai Januari, dimana CPO dibutuhkan juga sebagai bahan bakar untuk penghangat ketika musim dingin tiba, maka saat musim dingin terjadi, permintaan akan CPO semakin meningkat.

Nahhh, agan dan sista mulai bisa perhatikan bahwa sejak April 2016 sampai bulan Juli 2016, bahkan saat tulisan ini dirilis, harga CPO telah mengalami koreksi ditunjukkan dengan panah berwarna merah.

Maka bulan September ini agan dan sistaa dapat mengakumulasi saham – saham berbasis CPO karena sesuai siklus, harga CPO kami perkirakan akan mengalami peningkatan kembali mulai September dan Oktober.

 

Emiten Kelapa Sawit di Bursa Efek Indonesia

Kami hanya melakukan screening saham dengan dua kriteria, yaitu berdasarkan Market Cap tertinggi dan perdagangan harga saham yang likuid.

Maka Kami memperoleh saham saham berikut : AALI, LSIP, SSMS, BWPT dan SIMP

Selanjutnya kami melakukan screening kembali dari lima saham tersebut dan membandingkan kinerja harga saham dengan harga minyak kelapa sawit dari MPOC, berikut hasil perbandingannya :

Source: MPOC, yahoo finance

Garis Merah menggambarkan kinerja return dari CPO sejak tahun 2010, dan hanya 2 emiten yang memiliki kinerja return harga saham diatas return harga CPO, yaitu PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Hal tersebut mengindikasikan bahwa investor mengapresiasi kinerja LSIP dan SSMS melalui pergerakan harga saham yang positif.

Selanjutnya kami memilih juga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), walaupun kinerja return saham AALI berada dibawah return harga CPO, namun masih lebih baik dibandingkan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

 

Cerdaslah Dalam Berinvestasi ^^

 

By: Putu Wahyu Suryawan

 

Sruput Pagi Senin 05 Agustus 2016 : IHSG Rebound Karena Sentiment The Fed, Cermati Saham Berkapitalisasi Pasar Besar!!

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan, Dow Jones tercatat menguat +0.39% pada level 18,491.96, S&P 500 tercatat menguat +0.42% pada level 2,179.98 dan Nasdaq tercatat menguat +0.43% pada level 5,249.90.

Penguatan Bursa Wall Street dipengaruhi oleh ekspektasi pertimbangan ulang The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan September, The Fed diharapkan untuk mempertimbangkan secara matang kebijakan tersebut, mengingat data ekonomi yang dirilis pada hari Jumat dibawah ekspektasi pasar atau mengalami pelemahan.

Data Average Hourly Earnings Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat hanya tumbuh 0.1% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat tumbuh sebesar 0.3% MoM.

Data Manufacturing Payrolls Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat -14.000 jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6.000 dan Non Farm Payrolls Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat hanya sebesar 151.000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 225.000.

Unemployment rate Amerika Serikat tercatat stagnan sebesar 4.9% pada bulan Agustus. Kendati data pembayaran tenaga kerja mengalami pelemahan, tetapi data neraca perdagangan Amerika Serikat pada bulan Juli tercatat mengalami perbaikan sebesar $-39.47B, dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar $-44.66B, dengan Ekspor yang tumbuh sebesar 1.9% MoM dan Impor mengalami penurunan sebesar -0.8% MoM.

Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan, dimana minyak WTI tercatat menguat +2.97% pada level 44.44 USD/barel dan minyak Brent menguat sebesar +3.04% pada level 46.83 USD/barel. Penguatan terjadi seiring spekulasi pertemuan OPEC yang akan membahas tentang pembekuan produksi minyak.

Dari Asia, khususnya Jepang, investor tengah menunggu pidato gubernur BOJ Kuroda mengenai stimulus lanjutan, mengingat perekonomian Jepang semakin melemah pasca stimulus fiskal yang dirilis pada bulan sebelumnya.

Dari dalam negeri, investor tengah menunggu data Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia yang akan dirilis pada pekan ini dan diperkirakan akan mengalami peningkatan menjadi 114.5.

Melihat data ekonomi yang dirilis diatas, maka kami memperkirakan IHSG pada hari ini akan mengalami penguatan. Indikator Technical juga mendukung seluruh data positif fundamental ekonomi. Penguatan harga minyak mentah dunia, pertimbangan The Fed untuk menunda kenaikan suku bunga acuan dan kenaikan bursa Amerika juga bursa Eropa menjadi katalis positif pergerakan IHSG. Selain itu Investor juga tenga menunggu pidato dari gubernur Bank Of Japan mengenai stimulus ekonomi lanjutan, mengingat perekonomian Jepang terus mengalami pelemahan, dan tentunya angka Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia yang akan dirilis pada awal pekan menjadi katalis positif dari dalam negeri. Indeks diperkirakan akan bergerak pada range 5,350 – 5,400.

Nahh apabila IHSG mengalami rebound maka Investor dapat mencermati saham – saham yang mempunyai nilai kapitalisasi pasar yang besar dan berkaitan dengan sentiment The Fed, Investor dapat mencermati saham – saham perbankan seperti BBCA, BMRI, BBRI dan BBNI.

Berikut 10 besar saham berkapitalisasi besar pada IHSG : HMSP, TLKM, BBCA, UNVR, ASII, BBRI, BMRI, GGRM, ICBP dan BBNI.

Cerdaslah Dalam Berinvestasi ^^

By: Dapurinvestasi

ANALISA TEKNIKAL IHSG, KAMIS 25 FEBRUARI 2016

Analisa Teknikal adalah analisis harga dan volume saham. Analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume. Analisis Teknikal digunakan untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk membeli saham atau menjual suatu saham.

Berikut di bawah ini adalah Analisa Teknikal untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Check It Out..