Bank of Japan

Sruput Pagi Senin 26 September 2016 : Profit Taking Investor Asing dan Kondisi Fundamental Perekonomian Indonesia Akan Menjadi Fokus Pasca Drama Bank Sentral

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Berbagai sentiment dan drama telah mengiringi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada perdagangan minggu kemarin, diantaranya The Fed dengan Fed Ratenya, Bank Of Japan dengan Suku Bunganya dan Bank Indonesia dengan 7 Days Reverse Repo.

Patut disyukuri bahwa IHSG menanggapi sentiment diatas dengan positif, dimana hingga akhir pekan IHSG ditutup mengalami penguatan mingguan sebesar +121.139 poin atau +2.30% pada level 5,388.908.

The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu.

Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, hal tersebut diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Bank Indonesia menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo setelah The Fed menunda kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, 7 Days Reverse Repo diturunkan menjadi 5% dari sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%, Deposit Facility Rate diturunkan menjadi 4.25% dan Lending Facility Rate diturunkan menjadi 5.75%. Dengan adanya penurunan rate dari Bank Indonesia diharapkan akan mampu menopang konsumsi masyarakat Indonesia, sehingga menstimulus pertumbuhan GDP Indonesia di sisa akhir tahun 2016 ini.

Ketiga sentiment diatas menurut dapurinvestasi.com merupakan sentiment positif yang mampu menopang perekonomian Indonesia tetap pada kata “Stabil”, sehingga pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang menurut konsesus sebesar 5.1% dapat tercapai.

Tetapi walaupun pergerakan IHSG pada minggu lalu tercatat positif menanggapi sentiment yang ada, namun Investor Asing melakukan net sell mingguan sebesar Rp 44.01 Milyar. Mengapa hal tersebut penting?? Karena Investor Asing masih memiliki porsi yang besar dalam perdagangan IHSG, yaitu sekitar 40%, maka gerak – gerik Investor Asing cepat atau lambat akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Source : Dapur Investasi

Grafik diatas merupakan grafik akumulasi pembelian saham oleh Investor Asing dan return IHSG sejak awal tahun 2016 (Merupakan data mingguan IHSG). Terlihat sejak Agustus 2016 bahwa Investor Asing telah mengurangi pembelian dan cenderung melakukan aksi profit taking, dan penguatan IHSG pada minggu lalu tidak ditopang oleh akumulasi pembelian Asing. Nahh Investor disarankan agar sedikit waspada, sekali lagi yang ditekankan oleh dapurinvestasi.com adalah “Waspada” bukan takut, resah dan gelisah, karena faktor fundamental ekonomi Indonesia masih baik baik saja, bahkan diperkirakan jauh lebih baik karena The Fed menunda kenaikan suku bunga pada bulan September, sehingga capital outflow tidak signifikan terjadi.

Berdasarkan data yang dapurinvestasi.com hitung, rata – rata akumulasi pembelian oleh Investor Asing berada pada harga 5,163 dengan nilai akumulasi net buy sejak Januari 2016 hingga September 2016 mencapai Rp 34.6 Triliun. Nahh Investor dapat mengawasi dan mencermati level 5,163 tersebut, selama IHSG tidak bergerak kearah level tersebut, maka IHSG masih dalam kondisi yang aman.

Sentiment selanjutnya yang menjadi kekhawatiran dari Investor kedepan adalah penerimaan pajak Pemerintah yang diperkirakan akan mengganggu dari anggaran belanja Pemerintah, khususnya Tax Amnesty masih sampai saat ini menjadi concern utama Investor.

Source : pajak.go.id

Berdasarkan data statistik Tax Amnesty, perkembangan uang tebusan mengalami peningkatan yang sangat signifikan di bulan September, dimana merupakan periode akhir untuk tarif tebusan sebesar 2%. Hingga 25 September 2016, tarif tebusan telah mencapai Rp 42.2 Triliun atau mencapai 25.58% dari total target penerimaan Pemerintah yang sebesar Rp 165 Triliun. Apabila dibandingkan dengan 23 September 2016 yang baru mencapai Rp 36.1 Triliun, maka peningkatan terjadi sebesar Rp 6.1 Triliun hanya dalam 2 hari atau meningkat sebesar 16.90%. Jumlah harta yang dilaporkan adalah sebesar Rp 1,769.8 Triliun dan dana repatriasi mencapai Rp 92.6 Triliun.

Hasil Tax Amnesty diatas akan tercermin dalam pergerakan IHSG pada sisa bulan di tahun 2016, perspektif investor mengenai penerimaan pajak Pemerintah akan tercermin dalam keputusan Investasinya. Tetapi menurut dapurinvestasi.com, apabila penerimaan dan belanja Negara tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2016, maka sektor Konsumsi dan Investasi dapat menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan hal tersebut akan terealisasi mengingat berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Pertumbuhan Ekspor dan Impor Indonesia juga berangsur – angsur mengalami perbaikan walaupun belum tercatat positif.

Yapp,, kami tetap optimis akan pergerakan IHSG di sisa tahun 2016, tetapi koreksi kecil akan tetap terjadi mengingat indikasi profit taking dari Investor Asing dan tetap cermati level 5,163.

Sekedar informasi, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan pada akhir pekan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.71% pada level 18,261.45, S&P 500 tercatat melemah -0.57% pada level 2,164.69 dan Nasdaq tercatat melemah -0.63% pada level 5,305.75.

Pelemahan Bursa Wall Street sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Selain itu Apple Inc. dan Facebook Inc. juga menjadi pemberat Bursa Wall Street, dimana perusahaan riset asal Jerman yaitu GFK melaporkan penjualan iphone 7 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pejualan produk Apple tahun lalu, hal tersebut didasari data dari Eropa dan Asia. Facebook mengalami pelemahan setelah mengungkapkan bahwa terjadi mark up terhadap rata – rata durasi tayang iklan video sebesar 60% – 80% yang menurut perseroan disebabkan oleh kesalah matrik dan hal tersebut telah diperbaiki oleh perseroan, perlu diketahui bahwa 90% pendapatan perseroan berasal dari periklanan.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami pelemahan tajam pada akhir pekan, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -3.97% pada level 44.48 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -3.69% pada level 45.89 USD/barel. Pelemahan terjadi karena adanya spekulasi bahwa pertemuan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Algeria pada 26-28 September mendatang tidak akan mencapai kata sepakat untuk membekukan produksi.

Pada hari ini Senin, 26 September 2016 kami memperkirakan bahwa IHSG mengalami pelemahan jangka pendek pada range 5,340 – 5,400. Potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street dan pelemahan harga minyak mentah dunia.

Adapun pilihan saham dari kami adalah sebagai berikut : NRCA TP 620, WSBP TP 590, CTRP TP 750, TINS TP 850, LPPF TP 20100.

Note : TP = Target Price

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Putu Wahyu Suryawan, Hendri Prasetyo Utomo, Galuh Lindra Lazuardi Imani

Cerdaslah dalam berinvestasi,,…. ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Kamis 22 September 2016 : The Fed, Bank Of Japan, Tax Amnesty dan 7 Days Reverse Repo Akan Lengkapi Stimulus IHSG Hari Ini, Cermati Si Kapitalisasi Pasar Besar…

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan, dimana Dow Jones tercatat menguat +0.90% pada level 18,293.70, S&P 500 tercatat menguat +1.09% pada level 2,163.12 dan Nasdaq tercatat menguat +1.03% pada level 5,295.18.

Penguatan Bursa Wall Street tercatat signifikan setelah The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu. The Fed harus memastikan berbagai indicator ekonomi dan politik dalam kondisi kondusif, dimana saat ini memang terlihat risiko masih selalu muncul dan sangan fluktuatif.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami penguatan tajam, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +4.86% pada level 45.55 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +2.55% pada level 47.05 USD/barel. Penguatan signifikan ini merupakan imbas dari ditundanya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan November, dimana akibat dari Dollar Amerika yang mengalami pelemahan, mengingat pergerakan harga minyak dunia dan Dollar Amerika memiliki korelasi yang negatif. Selain itu The U.S Energy Information Administration (EIA) mencatat bahwa pada pekan ini cadangan minyak Amerika kembali mengalami penurunan menjadi -6.2 Juta barel dari pekan lalu yang turun hanya sebesar -0.559 juta barel.

Dari Jepang, Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, mungkin hal tersebut terlihat rendah, namun masih lebih baik dibandingkan Instrument Investasi saat ini yang tercatat negatif, dimana salah satunya Indeks Nikkei mengalami pelemahan -11.70% pada level 16,807.62. Dengan adanya acuan yield Obligasi Pemerintah Jepang yang sebesar 0%, juga diperkirakan akan memperbaiki marjin dari Perbankan, dimana Perbankan Jepang akan mendapatkan dan pihak ketiga dengan cost sesuai suku bunga -0.10% dan mendapatkan yield sebesar 0% apabila di investasikan pada Obligasi Pemerintah 10 Tahun. Hal ini diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Dari dalam negeri, Ketidakpastian ekonomi menjadi lebih terurai pasca ditundanya kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan September ini, karena bagi Indonesia yang termasuk negara Emerging Market, akan berdampak terhadap capital outflow apabila kenaikan suku bunga acuan Amerika diberlakukan kembali, arus dana keluar akan mengganggu perekonomian Indonesia yang saat ini sedang mencoba untuk berbenah sejak tahun 2015 lalu.

Pada hari ini Investor akan menunggu hasil rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia mengenai 7 Days Reverse Repo, yang diperkirakan akan diturunkan kembali menjadi 5% dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%. Apabila hal tersebut benar dilakukan oleh Bank Indonesia, maka stimulus terhadap pasar keuangan Indonesia akan semakin lengkap dan positif.

Dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 3.9 Triliun atau meningkat sebesar 14.39% menjadi Rp 31 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 27.1 Triliun atau telah mencapai 18.79% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,290 Triliun.

Source : Chart Nexus

Pada perdagangan kemarin yang digambarkan oleh chart paling akhir berwarna putih, menunjukkan bahwa IHSG mampu menembus resistance pada level 5,336, dimana sekaligus menjadi resistance trend line. Pada perdagangan kemarin, Investor asing juga mencatatkan net buy sebesar 551.4 Milyar, dan angka tersebut cukup mengkonfirmasi break out sementara down trend jangka pendek dan sentiment ekonomi yang rilis saat ini akan mampu menopang penguatan lanjutan dari IHSG, dimana The Fed menunda kenaikan suku bunga acauan Amerika pada bulan September ini. Apabila Bank Indonesia merestui untuk kembali menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo, maka akan melengkapi stimulus ekonomi hari ini. Perkembangan dari penerimaan Tax Amnesty juga terbilang cukup positif untuk menjadi penggerak IHSG hari ini. IHSG pada hari ini kami perkirakan akan bergerak pada range 5,350 – 5,420.

Berdasarkan data fundamental ekonomi positif yang rilis dan indikasi teknikal yang cukup positif pula, maka hari ini Investor dapat melakukan pembelian. Seperti ulasan kami sebelumnya, saat ini sebagian besar indicator telah terkonfirmasi, maka Investor dapat mengakumulasi saham dengan kapitalisasi pasar besar, seperti BBCA, UNVR, HMSP, TLKM, BMRI, ASII, BBRI, GGRM, BBNI, ICBP.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,… ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Rabu 21 September 2016 : IHSG Masih Berada Pada Area Resistance Trend Line, Tunggu Konfirmasi Indikator Untuk Keputusan Investasi Selanjutnya

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan tipis, dimana Dow Jones tercatat menguat +0.05% pada level 18,129.96, S&P 500 tercatat menguat +0.03% pada level 2,139.76 dan Nasdaq tercatat menguat +0.12% pada level 5,241.35.

Pergerakan Bursa Wall Street terlihat cukup fluktuatif mendekati pengumuman keputusan The Fed mengenai kepastian kenaikan tingkat suku bunga acuan Amerika Serikat tahap II pada tanggal 22 September ini. Terlihat pada perdagangan sebelumnya, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan tipis, dan semalam ditutup menguat tipis. Tetapi sebenarnya probabilitas The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan pada bulan September terbilang relatif kecil, karena rilis data ekonomi terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Amerika belum cukup kuat apabila kenaikan terjadi di bulan September.

Data Pembangunan Perumahan jauh mengalami penurunan yaitu sebesar -5.8% MoM pada bulan Agustus dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1.4% MoM, angka tersebut juga jauh dari perkiraan yang hanya turun sebesar -1.7%. Jumlah Pembangunan Perumahan hanya sebesar 1,142,000, dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,212,000.

Selain itu Izin pendirian gedung di Amerika Serikat juga terus mengalami penurunan, dari bulan Juli yang turun sebesar -0.8% dan turun sebesar -0.4% MoM pada bulan Agustus atau tercatat sebesar 1,139,000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1,144,000.

Sentiment lainya juga datang dari Jepang, dimana Yen mengalami penguatan setelah Bank Of Japan terlihat kehabisan cara dalam memberikan stimulus moneter untuk memacu pertumbuhan ekonomi Jepang. Pada perdagangan hari ini Bank Of Japan akan mengumumkan suku bunga acuan Jepang.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak bervariasi, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.32% pada level 43.44 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -0.17% pada level 45.87 USD/barel. Pergerakan tersebut terjadi setelah Menteri Energi Aljazair mengatakan bahwa 14 anggota group akan melakukan pertemuan secara formal untuk mencari cara memotong pasokan minyak mentah 1 juta barel per hari demi kembali mencapai keseimbangan pasar dan menstabilkan harga.

Dari dalam negeri, belum ada data ekonomi terbaru yang rilis, tetapi pada pekan ini Investor sangat menunggu beberapa data mengenai suku bunga acuan, yaitu The Fed, BOJ dan 7 days reverse repo dari Bank Indonesia. Ketiga sentiment tersebut akan menjadikan acuan Investor dalam memberikan keputusan Investasi selanjutnya.

Dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 3.1 Triliun atau meningkat sebesar 12.92% menjadi Rp 27.1 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 24 Triliun atau telah mencapai 16.42% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,131 Triliun. Menurut Direktur Eskekutif Center for Indonesia Taxation Analisis Yustinus Prastowo, penerimaan sebesar itu sangat jauh dari target dan maka dari itu beliau membuat petisi melalui change.org. Isinya, agar Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperpanjang periode pertama tax amnesty. Karena memang kendala periode pertama pengampunan pajak berlaku mulai tanggal 1 Juli 2016 lalu hingga akhir September yaitu karena persiapan yang terbatas, pada tiga bulan pertama tersebut juga pemerintah masih dalam periode sosialisasi dan aturan teknis yang dirilis secara bertahap membuat masyarakat ragu dalam memastikan langkah untuk mengikuti tax amnesty pada awal periode.

Source : Chart Nexus

Pada perdagangan kemarin yang digambarkan oleh chart paling akhir berwarna hitam, menunjukkan bahwa IHSG tertahan oleh resistance 5,336, dimana sekaligus menjadi resistance trend line. Sejak bulan Agustus, pola down trend telah mulai terbentuk dan pergerakan IHSG pada hari ini akan mengkonfirmasi arah downtrend tersebut. Koreksi IHSG lebih cenderung besar terjadi seiring spekulasi terkait The Fed dan Bank Of Japan. Investor asing juga mengkonfirmasi resistance trend line tersebut dengan melakukan net sell sebesar 440.4 Milyar, marupakan angka yang cukup tinggi untuk mengkonfirmasi pola teknikal. MA 20 juga hampir mendekati MA 50 dan diperkirakan akan berpotongan dan membentuk dead cross, tetapi sekali lagi, pergerakan hari ini sebagai konfirmasi dari indicator tersebut. IHSG pada hari ini kami perkirakan akan bergerak pada range 5,250 – 5,340.

Lagi – lagi, seiring data fundamental yang belum positif dan indikator teknikal yang menunjukkan ketidakpastian, kami tetap menyarankan agar Investor menunggu terlebih dahulu dalam melakukan transaksi, saran kami adalah lebih baik menunggu dari pada melakukan cut loss.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Selasa 20 September 2016 : Penerimaan Tax Amnesty Akan Membantu IHSG Mengarungi Ketidakpastian The Fed

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan tipis, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.02% pada level 18,120.17, S&P 500 tercatat melemah -0.00% pada level 2,139.12 dan Nasdaq tercatat melemah -0.18% pada level 5,235.03.

Pelemahan tipis Bursa Wall Street dipengaruhi oleh aksi wait and see dari Investor mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat yang diumumkan pekan ini, probabilitas telah mengalami penurunan yang saat ini tercatat sebesar 20% probabilitas, dibandingkan pada bulan Agustus yang tercatat sebesar 40% Probabiliatas. The Fed diperkirakan akan mempertimbangkan ekonomi global juga dalam keputusan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Data pembangunan perumahan yang akan diumumkan pada hari ini, diperkirakan sebagai data terakhir yang rilis sebagai pertimbangat The Fed pada rapat 20 – 21 September 2016.Pembangunan perumahan diperkirakan mengalami penurunan sebesar -1.7% MoM dengan jumlah sebesar 1,191,000 rumah. Dengan adanya penurunan kinerja dari pembangunan perumahan, maka The Fed diperkirakan akan menunda kenaikan suku bunga acuan tersebut.

Disisi lain sentiment muncul dari Bank Sentral Eropa dan Bank Of Japan, dimana kedua Bank Sentral tersebut tengah mempelajari efektifitas dari kebijakan stimulus yang telah mereka keluarkan, sebelum memutuskan untuk memberikan stimulus tambahan. Untuk Rabu pekan ini, Bank Of Japan juga akan mengumumkan berbagai kebijakan, diantaranya pemotongan suku bunga acuan Jepang lebih rendah lagi, untuk memacu perekonomian Jepang, seperti biasa, hal seperti ini yang ditunggu – tunggu oleh pasar.

Selain sentiment diatas, data Inflasi Amerika Serikat juga mengalami perbaikan pada bulan Agustus, dimana Inflasi tercatat tumbuh 0.2% MoM lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat hanya sebesar 0.00% MoM, dan secara tahunan tercatat sebesar 1.1% YoY, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar 0.8% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi Amerika semakin menguat dan mendekati target dari The Fed, serta bisa menjadi bahan pertimbangan The Fed pada rapat pekan ini.

Harga minyak mentah dunia mengalami teknikal rebound, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.51% pada level 43.25 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +0.22% pada level 45.87 USD/barel. Penguatan harga minyak mentah dunia hanya bersifat jangka pendek dan tertahan, karena pasca konflik yang terjadi di Libya, dimana terjadi bentrok antara Petroleum Facilities Guard Unit dengan tentara militan di bawah pasukan Khalifa Haftar, saat ini kapal tangki minyak telah kembali ke terminal ekspor Ras Lanuf Libya untuk memuat minyak dan akan mengirim minyak mentah ke luar negeri untuk pertama kalinya sejak tahun 2014. Direncanakan kapal Seadelta mengekspor 781.000 barel minyak mentah ke Italia.

Dari China, Indeks Angka Perumahan mengalami pertumbuhan sebesar 9.2% YoY pada bulan Agustus, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7.9% YoY. Disisi lain Bank for International Settlements (BIS) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit yang tinggi di China menandakan peningkatan risiko krisis perbankan pada tiga tahun ke depan, dimana jarak atau gap antara kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) China telah menyentuh level 30,1 pada kuartal pertama tahun ini dan berada di atas level 10 menandakan krisis yang berpotensi terjadi dalam tiga tahun mendatang.

Dari dalam negeri, menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suahasil Nazara mengatakan, kemungkinan batas defisit APBN-P akan melebar menjadi 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan adanya hal tersebut pemerintah harus menambah utang sekitar Rp 37 triliun untuk menambal pelebaran defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) tahun 2016. Utang untuk menutup defisit tersebut rencananya akan didapat dari penerbitan surat berharga negara (SBN).

Dilain sisi, Utang Indonesia kepada China selama setahun terakhir telah tumbuh 46,09%. Jika pada Juli tahun lalu jumlah utang ke China sebesar US$ 9,69 miliar maka Juli tahun ini naik US$ 4,47 miliar menjadi US$ 14,17 miliar. Berdasarkan rilis Statistik Utang Luar Negeri (Sulni) Bank Indonesia (BI), posisi China sebagai negara kreditor juga mengalami lonjakan. Jika tahun lalu China masih ada di posisi kelima dalam daftar lima kreditor terbesar Indonesia, maka Juli tahun ini sudah ada di tiga besar. Hal tersebut terjadi karena memang sebagian besar proyek Infrastruktur Indonesia merupakan hasil kerjasama antara Indonesia dan China, sekaligus pembiayaan yang dilakukan oleh China, secara tidak langsung Foreign Direct Investment dari China cukup mengalami peningkatan.

dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami pelonjakan tajam sebesar Rp 7.2 Triliun atau meningkat sebesar 42.86% menjadi Rp 24 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 16.8 Triliun atau telah mencapai 14.55% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,013 Triliun dari 88,983 wajib pajak.

Melihat data ekonomi diatas khususnya pelonjakan tajak pada penerimaan Tax Amnesty, diperkirakan IHSG pada hari ini akan melanjutkan penguatan. Issue The Fed masih tetap menjadi perhatian Investor, namun Investor akan lebih fokus pada penerimaan pajak dalam negeri dan pelebaran deficit APBN P 2016. Apabila pertumbuhan penerimaan Tax Amnesty melonjak secara konsisten setiap harinya, disisa periode tariff 2%, maka penerimaan dana tebusan Tax Amnesty akan menjadi lebih optimis. IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range 5,300 – 5,370.

Investor disarankan dapat melakukan pembelian, namun tetap mewaspadai risiko profit taking dari Investor Asing, karena pada perdagangan kemarin, walaupun IHSG mengalami kenaikan, namun Investor Asing masih mencatatkan net sell sebesar 97.4 Milyar.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.