Sruput Pagi Senin 26 September 2016 : Profit Taking Investor Asing dan Kondisi Fundamental Perekonomian Indonesia Akan Menjadi Fokus Pasca Drama Bank Sentral

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Berbagai sentiment dan drama telah mengiringi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada perdagangan minggu kemarin, diantaranya The Fed dengan Fed Ratenya, Bank Of Japan dengan Suku Bunganya dan Bank Indonesia dengan 7 Days Reverse Repo.

Patut disyukuri bahwa IHSG menanggapi sentiment diatas dengan positif, dimana hingga akhir pekan IHSG ditutup mengalami penguatan mingguan sebesar +121.139 poin atau +2.30% pada level 5,388.908.

The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu.

Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, hal tersebut diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Bank Indonesia menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo setelah The Fed menunda kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, 7 Days Reverse Repo diturunkan menjadi 5% dari sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%, Deposit Facility Rate diturunkan menjadi 4.25% dan Lending Facility Rate diturunkan menjadi 5.75%. Dengan adanya penurunan rate dari Bank Indonesia diharapkan akan mampu menopang konsumsi masyarakat Indonesia, sehingga menstimulus pertumbuhan GDP Indonesia di sisa akhir tahun 2016 ini.

Ketiga sentiment diatas menurut dapurinvestasi.com merupakan sentiment positif yang mampu menopang perekonomian Indonesia tetap pada kata “Stabil”, sehingga pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang menurut konsesus sebesar 5.1% dapat tercapai.

Tetapi walaupun pergerakan IHSG pada minggu lalu tercatat positif menanggapi sentiment yang ada, namun Investor Asing melakukan net sell mingguan sebesar Rp 44.01 Milyar. Mengapa hal tersebut penting?? Karena Investor Asing masih memiliki porsi yang besar dalam perdagangan IHSG, yaitu sekitar 40%, maka gerak – gerik Investor Asing cepat atau lambat akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Source : Dapur Investasi

Grafik diatas merupakan grafik akumulasi pembelian saham oleh Investor Asing dan return IHSG sejak awal tahun 2016 (Merupakan data mingguan IHSG). Terlihat sejak Agustus 2016 bahwa Investor Asing telah mengurangi pembelian dan cenderung melakukan aksi profit taking, dan penguatan IHSG pada minggu lalu tidak ditopang oleh akumulasi pembelian Asing. Nahh Investor disarankan agar sedikit waspada, sekali lagi yang ditekankan oleh dapurinvestasi.com adalah “Waspada” bukan takut, resah dan gelisah, karena faktor fundamental ekonomi Indonesia masih baik baik saja, bahkan diperkirakan jauh lebih baik karena The Fed menunda kenaikan suku bunga pada bulan September, sehingga capital outflow tidak signifikan terjadi.

Berdasarkan data yang dapurinvestasi.com hitung, rata – rata akumulasi pembelian oleh Investor Asing berada pada harga 5,163 dengan nilai akumulasi net buy sejak Januari 2016 hingga September 2016 mencapai Rp 34.6 Triliun. Nahh Investor dapat mengawasi dan mencermati level 5,163 tersebut, selama IHSG tidak bergerak kearah level tersebut, maka IHSG masih dalam kondisi yang aman.

Sentiment selanjutnya yang menjadi kekhawatiran dari Investor kedepan adalah penerimaan pajak Pemerintah yang diperkirakan akan mengganggu dari anggaran belanja Pemerintah, khususnya Tax Amnesty masih sampai saat ini menjadi concern utama Investor.

Source : pajak.go.id

Berdasarkan data statistik Tax Amnesty, perkembangan uang tebusan mengalami peningkatan yang sangat signifikan di bulan September, dimana merupakan periode akhir untuk tarif tebusan sebesar 2%. Hingga 25 September 2016, tarif tebusan telah mencapai Rp 42.2 Triliun atau mencapai 25.58% dari total target penerimaan Pemerintah yang sebesar Rp 165 Triliun. Apabila dibandingkan dengan 23 September 2016 yang baru mencapai Rp 36.1 Triliun, maka peningkatan terjadi sebesar Rp 6.1 Triliun hanya dalam 2 hari atau meningkat sebesar 16.90%. Jumlah harta yang dilaporkan adalah sebesar Rp 1,769.8 Triliun dan dana repatriasi mencapai Rp 92.6 Triliun.

Hasil Tax Amnesty diatas akan tercermin dalam pergerakan IHSG pada sisa bulan di tahun 2016, perspektif investor mengenai penerimaan pajak Pemerintah akan tercermin dalam keputusan Investasinya. Tetapi menurut dapurinvestasi.com, apabila penerimaan dan belanja Negara tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2016, maka sektor Konsumsi dan Investasi dapat menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan hal tersebut akan terealisasi mengingat berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Pertumbuhan Ekspor dan Impor Indonesia juga berangsur – angsur mengalami perbaikan walaupun belum tercatat positif.

Yapp,, kami tetap optimis akan pergerakan IHSG di sisa tahun 2016, tetapi koreksi kecil akan tetap terjadi mengingat indikasi profit taking dari Investor Asing dan tetap cermati level 5,163.

Sekedar informasi, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan pada akhir pekan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.71% pada level 18,261.45, S&P 500 tercatat melemah -0.57% pada level 2,164.69 dan Nasdaq tercatat melemah -0.63% pada level 5,305.75.

Pelemahan Bursa Wall Street sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Selain itu Apple Inc. dan Facebook Inc. juga menjadi pemberat Bursa Wall Street, dimana perusahaan riset asal Jerman yaitu GFK melaporkan penjualan iphone 7 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pejualan produk Apple tahun lalu, hal tersebut didasari data dari Eropa dan Asia. Facebook mengalami pelemahan setelah mengungkapkan bahwa terjadi mark up terhadap rata – rata durasi tayang iklan video sebesar 60% – 80% yang menurut perseroan disebabkan oleh kesalah matrik dan hal tersebut telah diperbaiki oleh perseroan, perlu diketahui bahwa 90% pendapatan perseroan berasal dari periklanan.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami pelemahan tajam pada akhir pekan, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -3.97% pada level 44.48 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -3.69% pada level 45.89 USD/barel. Pelemahan terjadi karena adanya spekulasi bahwa pertemuan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Algeria pada 26-28 September mendatang tidak akan mencapai kata sepakat untuk membekukan produksi.

Pada hari ini Senin, 26 September 2016 kami memperkirakan bahwa IHSG mengalami pelemahan jangka pendek pada range 5,340 – 5,400. Potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street dan pelemahan harga minyak mentah dunia.

Adapun pilihan saham dari kami adalah sebagai berikut : NRCA TP 620, WSBP TP 590, CTRP TP 750, TINS TP 850, LPPF TP 20100.

Note : TP = Target Price

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Putu Wahyu Suryawan, Hendri Prasetyo Utomo, Galuh Lindra Lazuardi Imani

Cerdaslah dalam berinvestasi,,…. ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.