Sruput Pagi Selasa 20 September 2016 : Penerimaan Tax Amnesty Akan Membantu IHSG Mengarungi Ketidakpastian The Fed

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan tipis, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.02% pada level 18,120.17, S&P 500 tercatat melemah -0.00% pada level 2,139.12 dan Nasdaq tercatat melemah -0.18% pada level 5,235.03.

Pelemahan tipis Bursa Wall Street dipengaruhi oleh aksi wait and see dari Investor mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat yang diumumkan pekan ini, probabilitas telah mengalami penurunan yang saat ini tercatat sebesar 20% probabilitas, dibandingkan pada bulan Agustus yang tercatat sebesar 40% Probabiliatas. The Fed diperkirakan akan mempertimbangkan ekonomi global juga dalam keputusan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Data pembangunan perumahan yang akan diumumkan pada hari ini, diperkirakan sebagai data terakhir yang rilis sebagai pertimbangat The Fed pada rapat 20 – 21 September 2016.Pembangunan perumahan diperkirakan mengalami penurunan sebesar -1.7% MoM dengan jumlah sebesar 1,191,000 rumah. Dengan adanya penurunan kinerja dari pembangunan perumahan, maka The Fed diperkirakan akan menunda kenaikan suku bunga acuan tersebut.

Disisi lain sentiment muncul dari Bank Sentral Eropa dan Bank Of Japan, dimana kedua Bank Sentral tersebut tengah mempelajari efektifitas dari kebijakan stimulus yang telah mereka keluarkan, sebelum memutuskan untuk memberikan stimulus tambahan. Untuk Rabu pekan ini, Bank Of Japan juga akan mengumumkan berbagai kebijakan, diantaranya pemotongan suku bunga acuan Jepang lebih rendah lagi, untuk memacu perekonomian Jepang, seperti biasa, hal seperti ini yang ditunggu – tunggu oleh pasar.

Selain sentiment diatas, data Inflasi Amerika Serikat juga mengalami perbaikan pada bulan Agustus, dimana Inflasi tercatat tumbuh 0.2% MoM lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat hanya sebesar 0.00% MoM, dan secara tahunan tercatat sebesar 1.1% YoY, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar 0.8% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi Amerika semakin menguat dan mendekati target dari The Fed, serta bisa menjadi bahan pertimbangan The Fed pada rapat pekan ini.

Harga minyak mentah dunia mengalami teknikal rebound, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.51% pada level 43.25 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +0.22% pada level 45.87 USD/barel. Penguatan harga minyak mentah dunia hanya bersifat jangka pendek dan tertahan, karena pasca konflik yang terjadi di Libya, dimana terjadi bentrok antara Petroleum Facilities Guard Unit dengan tentara militan di bawah pasukan Khalifa Haftar, saat ini kapal tangki minyak telah kembali ke terminal ekspor Ras Lanuf Libya untuk memuat minyak dan akan mengirim minyak mentah ke luar negeri untuk pertama kalinya sejak tahun 2014. Direncanakan kapal Seadelta mengekspor 781.000 barel minyak mentah ke Italia.

Dari China, Indeks Angka Perumahan mengalami pertumbuhan sebesar 9.2% YoY pada bulan Agustus, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 7.9% YoY. Disisi lain Bank for International Settlements (BIS) melaporkan bahwa pertumbuhan kredit yang tinggi di China menandakan peningkatan risiko krisis perbankan pada tiga tahun ke depan, dimana jarak atau gap antara kredit terhadap produk domestik bruto (PDB) China telah menyentuh level 30,1 pada kuartal pertama tahun ini dan berada di atas level 10 menandakan krisis yang berpotensi terjadi dalam tiga tahun mendatang.

Dari dalam negeri, menurut Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan (Kemkeu) Suahasil Nazara mengatakan, kemungkinan batas defisit APBN-P akan melebar menjadi 2,7% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB), dengan adanya hal tersebut pemerintah harus menambah utang sekitar Rp 37 triliun untuk menambal pelebaran defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) tahun 2016. Utang untuk menutup defisit tersebut rencananya akan didapat dari penerbitan surat berharga negara (SBN).

Dilain sisi, Utang Indonesia kepada China selama setahun terakhir telah tumbuh 46,09%. Jika pada Juli tahun lalu jumlah utang ke China sebesar US$ 9,69 miliar maka Juli tahun ini naik US$ 4,47 miliar menjadi US$ 14,17 miliar. Berdasarkan rilis Statistik Utang Luar Negeri (Sulni) Bank Indonesia (BI), posisi China sebagai negara kreditor juga mengalami lonjakan. Jika tahun lalu China masih ada di posisi kelima dalam daftar lima kreditor terbesar Indonesia, maka Juli tahun ini sudah ada di tiga besar. Hal tersebut terjadi karena memang sebagian besar proyek Infrastruktur Indonesia merupakan hasil kerjasama antara Indonesia dan China, sekaligus pembiayaan yang dilakukan oleh China, secara tidak langsung Foreign Direct Investment dari China cukup mengalami peningkatan.

dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami pelonjakan tajam sebesar Rp 7.2 Triliun atau meningkat sebesar 42.86% menjadi Rp 24 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 16.8 Triliun atau telah mencapai 14.55% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 1,013 Triliun dari 88,983 wajib pajak.

Melihat data ekonomi diatas khususnya pelonjakan tajak pada penerimaan Tax Amnesty, diperkirakan IHSG pada hari ini akan melanjutkan penguatan. Issue The Fed masih tetap menjadi perhatian Investor, namun Investor akan lebih fokus pada penerimaan pajak dalam negeri dan pelebaran deficit APBN P 2016. Apabila pertumbuhan penerimaan Tax Amnesty melonjak secara konsisten setiap harinya, disisa periode tariff 2%, maka penerimaan dana tebusan Tax Amnesty akan menjadi lebih optimis. IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range 5,300 – 5,370.

Investor disarankan dapat melakukan pembelian, namun tetap mewaspadai risiko profit taking dari Investor Asing, karena pada perdagangan kemarin, walaupun IHSG mengalami kenaikan, namun Investor Asing masih mencatatkan net sell sebesar 97.4 Milyar.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.