“Outlook Dapur Investasi Untuk Kelapa Sawit Indonesia Serta Rekomendasi AALI, LSIP dan SSMS” (Part I)

Prospek Minyak Kelapa Sawit Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit di dunia dan menduduki peringkat kedua setelah Malaysia. Indonesia dan Malaysia menyumbang produksi minyak kelapa sawit sekitar 85% sampai 90% dari keseluruhan produksi minyak kelapa sawit di dunia.

Pada tahun 2015, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk membentuk Council Of Palm Oil Production Countries atau Dewan Negara Penghasil Palm Oil. Dengan adanya kesepakatan tersebut, maka diharapkan Indonesia dan Malaysia dapat saling berkoordinasi dalam menentukan standard dari kelapa sawit itu sendiri, karena selama ini Indonesia dan Malaysia cukup saling bersaing dalam menentukan standard minyak kelapa sawit. Kesepakatan ini juga akan membuat Indonesia dan Malaysia dapat mengontrol pergerakan harga miyak kelapa sawit, sehingga pergerakan harga minyak kelapa sawit lebih teratur dan terjaga.

Kami menilai bahwa hal tersebut sangat positif bagi prospek harga minyak kelapa sawit kedepannya.

Selain itu prospek minyak kelapa sawit Indonesia juga ditopang oleh kebijakan pemerintah Indonesia, dimana pemerintah telah memoratorium penambahan lahan sawit untuk lima tahun kedepan. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit akan sedikit melambat dan supply akan terkontrol, maka harga minyak kelapa sawit akan mengalami kenaikan.

Pemerintah juga tengah memberlakukan kenaikan bea keluar atau bea export dari kelapa sawit, hal ini dilakukan karena pemerintah sudah menilai bahwa harga minyak kelapa sawit dunia sudah pulih dan mulai mengalami peningkatan.

Pemerintah juga menerapkan kebijakan B20 atau produsen Bahan Bakar Minyak (BBM) diharuskan untuk mencampurkan 20% komponen solar dengan minyak sawit. Hal tersebut dapat menghemat devisa negara sebesar Rp 2,85 Triliun dan juga dapat menurunkan emisi CO2 sebanyak 1,06 Juta Ton. Tentu kebijakan tersebut juga berdampak positif bagi pertumbuhan emiten CPO di Indonesia karena permintaan akan CPO semakin meningkat dengan adanya kebijakan tersebut.

Badai El Nino merupakan badai yang menyebabkan kekeringan dan dapat menghambat produksi tanaman karena berkurangnya asupan air dari tanah dan Badai La Nina merupakan badai yang menyebabkan meningkatnya curah hujan sehingga bias berdampak positif bagi tanaman yang membutuhkan asupan air cukup banyak, tetapi apabila Badai La Nina terus berlanjut maka asupan sinar matahari akan berkurang sehingga proses fotosintesis pun akan terganggu.

Kedua badai diatas sangat mengganggu proses bertumbuhnya kelapa sawit, karena ketika El Nino terjadi kelapa sawit akan kekurangan air dan saat La Nina Terjadi, maka kelapa sawit akan kesulitan dalam melakukan fotosintesis. Dan badai – badai tersebut menjadi berkah yang positif bagi emiten sawit karena harga kelapa sawit menjadi meningkat seiring kurangnya supply dipasar.

Perkembangan Harga Kelapa Sawit Selama 7 Tahun Terakhir

Source : MPOC

Selama tujuh tahun terakhir, harga CPO dunia mengalami penurunan menurut data yang kami peroleh dari MPOC. Tetapi menurut grafik pergerakan harga CPO telah mampu bertahan pada level harga 1,998 – 2,200 sepeti terlihat pada gambar dengan tanda bulat merah.

Selain itu trend penurunan yang digambarkan dengan garis hitam juga telah berhasil ditembus oleh harga CPO, hal tersebut mengindikasikan bahwa trend penurunan harga CPO telah berakhir dan saat ini siap untuk berganti trend menjadi up trend didukung oleh kebijakan – kebijakan positif dari pemerintah.

Apabila dilihat dari siklus pergerakan harga CPO, harga cenderung mulai mengalami kenaikan pada bulan Sepember dan Oktober (ditunjukkan dengan panah warna Hijau), tetapi cenderung mengalami penurunan pada bulan Januari dan April. Hal tersebut sangat sesuai dengan siklus musim dingin di dunia yang terjadi pada periode Oktober sampai Januari, dimana CPO dibutuhkan juga sebagai bahan bakar untuk penghangat ketika musim dingin tiba, maka saat musim dingin terjadi, permintaan akan CPO semakin meningkat.

Nahhh, agan dan sista mulai bisa perhatikan bahwa sejak April 2016 sampai bulan Juli 2016, bahkan saat tulisan ini dirilis, harga CPO telah mengalami koreksi ditunjukkan dengan panah berwarna merah.

Maka bulan September ini agan dan sistaa dapat mengakumulasi saham – saham berbasis CPO karena sesuai siklus, harga CPO kami perkirakan akan mengalami peningkatan kembali mulai September dan Oktober.

 

Emiten Kelapa Sawit di Bursa Efek Indonesia

Kami hanya melakukan screening saham dengan dua kriteria, yaitu berdasarkan Market Cap tertinggi dan perdagangan harga saham yang likuid.

Maka Kami memperoleh saham saham berikut : AALI, LSIP, SSMS, BWPT dan SIMP

Selanjutnya kami melakukan screening kembali dari lima saham tersebut dan membandingkan kinerja harga saham dengan harga minyak kelapa sawit dari MPOC, berikut hasil perbandingannya :

Source: MPOC, yahoo finance

Garis Merah menggambarkan kinerja return dari CPO sejak tahun 2010, dan hanya 2 emiten yang memiliki kinerja return harga saham diatas return harga CPO, yaitu PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Hal tersebut mengindikasikan bahwa investor mengapresiasi kinerja LSIP dan SSMS melalui pergerakan harga saham yang positif.

Selanjutnya kami memilih juga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), walaupun kinerja return saham AALI berada dibawah return harga CPO, namun masih lebih baik dibandingkan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

 

Cerdaslah Dalam Berinvestasi ^^

 

By: Putu Wahyu Suryawan