Derita Cap Kaki Tiga, Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd dan PT Kino Indonesia Tbk,, Lagi – Lagi Soal Logo??!!

Yoo yooo,, apa kabar Kawula Investasi??, semoga makin cerdas dalam berinvestasi yaa,, kembali lagi bersama dapurinvestasi.com dan lagi – lagi membahas mengenai investasi Indonesia,, okehh langsung ajaahh,,

Kenapa sih judul diatas sedikit horor dan ada kata “Derita” dan “Lagi – Lagi”??, karena perlu pembaca ketahui bahwa Cap Kaki Tiga yang kita kenal sebagai merek dagang minuman penyegar telah dua kali mengalami sengketa merek dan logo, sepertinya logo perusahaan gregett banget, sampai nemu masalah berkali – kali.. hehehe.

Okehh mari kita ceritakan sejarahnya,,

Jadi begini, merek Cap Kaki Tiga seperti yang terlihat pada gambar diatas adalah milik Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yang telah berdiri sejak tahun 1937 di Singapura dan bergerak di bidang kesehatan yang memproduksi berbagai obat kesehatan termasuk minuman penyegar. Tetapi khusus minuman penyegar, lambang yang digunakan adalah MEREK “CAP KAKI TIGA” dengan lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab bersama-sama dengan logo “Cap Kaki Tiga” sebagai satu kesatuan, seperti gambar berikut ini.

Pendaftaran merek “Cap Kaki Tiga” beserta etiketnya oleh Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yaitu di Singapura pada 14 Februari 1940 dan Malaysia pada 30 April 1951.

Nahh,, pada tahun 1978 hadirlah Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd di Indonesia dengan memberikan lisensi untuk memproduksi, menjual, memasarkan dan mendistribusikan minuman penyegar “Cap Kaki Tiga” kepada PT Sinde Budi Sentosa yang merupakan perusahaan Farmasi di Indonesia, dan PT Sinde Budi Sentosa memberikan hak pendistribusiannya kepada PT. Duta Lestari (yang kini merupakan anak usaha PT Kino Indonesia Tbk). Menurut data observasi kami, ketiga pihak tersebut memang bersahabat, sehingga kondisi bisnis dapat terjalin kondusif.

Seiring berjalannya waktu ternyata jalinan kasih diantara mereka mengalami masalah, dan persahabatan pun berakhir dengan gugatan di pengadilan.

Kasus yang terjadi adalah ternyata karena “miss komunikasi” antara PT Sinde Budi Sentosa dan Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd, bahwa PT Sinde Budi Sentosa mendaftarkan merek “Cap Kaki Tiga” hanya berupa tulisan “Cap Kaki Tiga” dan logo “Cap Kaki Tiga”. Lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab bersama-sama dengan logo Cap Kaki Tiga sebagai satu kesatuan tidak dilaporkan atas nama Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd. Jadi singkatnya Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual hanya mengetahui bahwa merek dagang dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yaa hanya tulisan “Cap Kaki Tiga” dan logo “Cap Kaki Tiga”.

Dan pada 25 November 1991 PT Sinde Budi Sentosa sendiri mendaftarkan ke Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual terkait merek dagang minuman penyegar dengan lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab atas nama PT Sinde Budi Sentosa, dan mendapat perpanjangan pada 12 Juni 2002.

Entah terlambat menyadari atau tidak mengetahui hal tersebut, akhirnya baru pada 12 April 2010 Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd mengajukan gugatan pada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, lalu gugatan tersebut ditolak begitu saja, karena berdasakan ketentuan Pasal 69 ayat 1 Jo Pasal 28 Undang- undang No. 15 tahun 2001 tentang Merek yaitu : Gugatan pembatalan sesuatu Merek terdaftar hanya dapat diajukan terhadap Merek yang masa Pendaftarannya belum melebihi batas waktu 5 ( lima) tahun, terhitung sejak tanggal penerimaan Pendaftaran merek yang bersangkutan. Maka berdasarkan putusan pengadilan tersebut, raib sudah logo badak dari “Cap Kaki Tiga”.

Bersamaan setelah peristiwa itu terjadi Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd tidak memperpanjang kontrak kerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa karena faktor beberapa hal, dan PT Sinde Budi Sentosa memproduksi minuman penyegar terbaru dengan merek “Cap Badak”, tentu saja ada gambar badaknya, seperti gambar berikut.

Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd pun mengalihkan merek dagangnya kepada PT Kino Indonesia Tbk yang merupakan Induk dari PT Dutalestari Sentratama. Jadi dari sebelumnya yang hanya distributor, maka PT Kino Indonesia Tbk saat ini memperoleh lisensi “Cap Kaki Tiga” dan diizinkan untuk memproduksi, menjual, memasarkan, mengiklankan dan melakukan distribusi, tentu saja logonya menjadi lebih sederhana, seperti gambar berikut ini.

Sekedar informasi, bahwa sebelum sengketa diatas terjadi PT Sinde Budi Sentosa sudah tidak bekerja sama lagi dengan PT. Duta Lestari sebagai distributor.

Sejak peristiwa diatas, hubungan masing – masing pihak menjadi tidak kondusif dan masing – masing pihak saling menuduh satu sama lain merusak pangsa pasar minuman penyegar dan menyebabkan kerugian.

Well,, apabila uraian diatas terlihat cenderung memihak, maka perlu pembaca ketahui uraian diatas bukan maksud penulis untuk memihak pihak tertentu, penulis bukan merupakan brand ambassador salah satu pihak diatas dan penulis bukan pengguna setia salah satu produk diatas, yaa kalo penulis lagi sakit panas dalam atau bibir pecah – pecah biasanya minum jamu – jamuan saja sambil nonton iklan minuman penyegar dari CJR (yang dulunya Coboy Junior) ,, hehehe…

Lanjutt,, masalah selanjutnya dan sangat hangat baru baru ini adalah logo “Cap Kaki Tiga” yang merupakan logo Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd digugat karena cenderung mirip logo dalam bendera negara persemakmuran Inggris yaitu Isle of Man.

Yang kiri merupakan “Cap Kaki Tiga” dan yang kanan merupakan bendera dari negara Isle Of Man.

Jadi pada suatu hari datanglah tiba – tiba Russel Vince yang merupakan Warga Negara Inggris melayangkan gugatan kepada pengadilan Indonesia terkait logo “Cap Kaki Tiga” yang sama dengan bendera Isle Of Man, padahal logo Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd tersebut sudah ada sejak tahun 1937.

Alasan Russel Vince melayangkan gugatan di Indonesia karena doi beranggapan bahwa produk minuman dengan merek tersebut hanya dijual di Indonesia, padahal menurut Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi selaku produsen dari minuman penyegar “Cap Kaki Tiga”, produk “Cap Kaki Tiga” sudah di produksi, didistribusikan dan dijual di Malaysia dan Singapura, dan pada 1980 di Indonesia.

Saat ini, Cap Kaki Tiga juga telah dijual di Thailand, Brunei, Srilanka, India, dan negara lain. Menurutnya, pernyataan produk Cap Kaki Tiga hanya dijual di Indonesia adalah tidak benar.

Tetapi ternyata gugatan dari Russel Vince menang dan menurut putusan MA dalam perkara Nomor.85 PK/Pdt.Sus-HKI/2015,  23 September 2015 jo Putusan MA No.582 K/Pdt.Sus-HakI/2013 tanggal  9 Januari 2014  jo  Putusan Pengadilan Niaga No. 66/Merek/2012 PN. Niaga Jakarta Pusat pada 5 Juni 2013, produk apapun yang mirip dengan lambang negara Isle Of Man tidak boleh di distribusikan dan diperjual belikan di Indonesia, serta tidak diperbolehkan pihak manapun untuk mengajukan pendaftaran mengenai logo apapun yang mirip dengan bendera Isle Of Man.

Namun,, perlu diingat juga bahwa dalam putusan tersebut, tidak dilarang untuk melakukan produksi, distribusi dan penjualan akan produk.

Jadii,, yaa sebenarnya yang dipermasalahkan karena logo yang sama dengan bendera Isle Of Man, bukan karena produk yang sama dengan PT Kino Indonesia Tbk.

Bener juga sihh,, jadi nanti kemungkinan besar gambar kaki tiga akan dirubah (menurut asumsi penulis) dan gugatan masalah logo tidak akan terulang kembali, kecuali kalo ternyata lambang bendera Isle Of Man ada gambar kaki tiga dan berisikan “Larutan Cap Kaki Tiga” dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab,, hehe. Sendainya seperti itu wahh, berarti Isle Of Man nya sedang panas dalam.. hahaha.

Okehh,, cukup yaa cerita sejarah dan hukumnya, mengingat bidang dari penulis bukan sejarawan atau pakar hokum, maka kita bahas saja bagai mana dampak peristiwa – peristiwa di atas, nah untuk seluruh permasalahan dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd, mari kita doakan supaya permasalahan cepat teratasi dan bisnis lancar kembali.

PT Kino Indonesia Tbk merupakan emiten yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia pada 11 Desember 2015 dengan kode saham “KINO”. Perseroan merupakan pemegang lisensi dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd untuk merek dagang “Cap Kaki Tiga” pada 28 April 2011, terakhir di addendum pada 15 Januari 2015 dan berlaku sampai 27 April 2026. Perjanjian memiliki jangka waktu 15 tahun dan dapat diperpanjang, untuk pembayaran royalti dihitung berdasarkan formula khusus.

Ini yang menjadi masalah bagi Investor, Investor bertanya – tanya bagaimana nasib KINO apabila penjualan dengan merek “Cap Kaki Tiga” ditarik atau dilarang beredar di Indonesia.

Semenjak tanggal 2 September 2016 saat dihapuskan merek dagang tersebut oleh Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, saham KINO telah mengalami penurunan sebesar -21.81% pada level 4,750 di tanggal 16 September 2016, pada hari itu juga KINO nyaris mengalami auto reject bawah, karena penurunan harian terlalu dalam sebesar -10.00%. Tetapi memang semenjak menyentuh harga tertinggi pasca IPO, yaitu pada level 7,175 di tanggal 19 Juli 2016, penurunan KINO sudah sebesar -33.80%.

Source : Chart Nexus

Mari kita bahas kegalauan Kawula Investasi yang menyelimuti pikiran dan hari saat ini.

KOMPOSISI PENDAPATAN PT KINO INDONESIA TBK

Source : Dapur Investasi

Gambar grafik diatas merupakan seluruh kontribusi masing – masing divisi bisnis KINO, pembaca bisa lihat pada grafik diatas, yaitu pada garis orange yang merupakan kontribusi penjualan divisi minuman KINO terhadap total penjualan KINO.

Pada kuartal II 2016 kontribusi divisi Minuman KINO tercatat sebesar 34.68% dari total penjualan, merupakan kontribusi penjualan terbesar kedua setelah divisi Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh.

Angka 34.68% itu adalah setara dengan Rp 672,389,071,561,- dari total penjualan kuartal II 2016 dan setara dengan Rp 1,344,482,000,000,- dari total penjualan tahun penuh 2015.

Menurut data perseroan, tiga kontribusi terbesar dari divisi minuman adalah “Cap Kaki Tiga”, “Panda” dan “Panther”, tetapi kami belum memiliki data pasti berapa sebenarnya kontribusi dari “Cap Kaki Tiga”.

Apabila penulis boleh berasumsi, maka angka divisi Minuman akan penulis bagi tiga, dan angka yang didapat adalah PT Kino Indonesia Tbk akan kehilangan sekitar Rp  448,160,666,667,- setiap tahunnya berdasarkan setahun penjualan 2015 atau setara dengan 13% dari total kontribusi Penjualan KINO, berdasarkan rata – rata kontribusi sejak tahun 2012 – Kuartal II 2016.

Bagi penulis, kontribusi “Cap Kaki Tiga” yang sebesar 13% dari total penjualan, merupakan angka yang cukup besar dan apabila penjualan “Cap Kaki Tiga” mengalami kendala, maka secara otomatis kinerja keuangan KINO akan cukup mengalami kendala.

Yang kedua adalah dari segi divisi Farmasi, karena memang perlu pembaca ketahui bahwa lisensi dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd, selain untuk minuman penyegar, tapi juga untuk divisi Farmasi dengan segala merek menggunakan “Cap Kaki Tiga”.

Apabila kita lihat, kontribusi rata -rata penjualan Farmasi terhadap seluruh penjualan KINO adalah sebesar 0.25% berdasarkan data dari 2012 – Kuartal II 2016, pada tahun 2015 kontribusi penjualan Farmasi adalah sebesar Rp 6,721,000,000,-, sehingga bisa dibayangkan kontribusi dari Farmasi, walaupun kecil tetapi dapat menghidupi bisnis dari KINO.

Tetapi sekali lagi Investor tidak perlu khawatir, karena Investor harus mencermati isi dari putusan pengadilan yang mana tidak tercantum larangan untuk “memproduksi, mendistribusikan, memasarkan dan melakukan penjualan”. Sekali lagi tidak tercantum larangan diatas. Maka perjanjian kerja sama antara PT Kino Indonesia Tbk dan Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd tetap akan berjalan hingga 27 April 2026.

Masyarakat tetap dapat menikmati dan mengkonsumsi kualitas produksi dari “Cap Kaki Tiga”, Cuma mungkin menurut penulis logo “Kaki Tiga” sudah tidak tercantum lagi dalam produk KINO, tetapi tulisan “Cap Kaki Tiga” masih tercantum. (Asumsi penulis).

Nahh,, kekhawatiran akan issue diatas bagi penulis sudah jelas dipaparkan, sehingga Investor tidak perlu panik karena Issue, karena semua sudah ada jalan keluarnya.

Yang ingin penulis sampaikan adalah, Investor sebaiknya fokus pada kinerja keuangan dan fundamental KINO sendiri dan menilai apakah harga saham saat ini sudah mencerminkan kondisi fundamental dari KINO itu sendiri.

Berikut kami tampilkan kembali komposisi penjualan KINO dan pertumbuhan penjualan masing – masih divisi.

Source : Dapur Investasi

Source : Dapur Investasi

Terlihat pada gambar, bahwa kontribusi penjualan dari divisi Minuman mengalami trend penurunan sejak tahun 2012, padahal divisi minuman menopang kontribusi kedua terbesar dari total penjuala KINO dan kontribusi penjualan dari divisi Pemeliharaan dan perawatan tubuh tercatat relatif flat sejak tahun 2012. Nahh ini yang perlu menjadi fokus Investor, malah divisi Makanan dan Farmasi, walaupun kontribusinya terbilang kecil, tetapi secara konsisten bertumbuh menambah kontribusi terhadap penjualan setiap tahunnya.

Dari segi pertumbuhan, malah yang memiliki pertumbuhan tertinggi berasal dari divisi Makanan dan Farmasi, pada kuartal II 2016 divisi farmasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi diantara divisi lainnya, yaitu 96.90% YoY, dibanding kuartal II 2015. Selanjutnya disusul oleh divisi Makanan yang tercatat tumbuh 36.98% YoY.

Dan untuk divisi yang mempunyai kontribusi besar, malah mencatatkan pertumbuhan yang relatif kecil dan cenderung mengalami penurunan pertumbuhan setiap tahunnya. Divisi Pemeliharaan dan perawatan tubuh hanya tumbuh sebesar 7.21% YoY dan divisi Minuman hanya tumbuh sebesar 6.30% YoY.

Apabila dilihat dari trendnya, sepertinya KINO mengalami kesulitan dalam menjangkau pangsa pasar yang lebih luas lagi untuk divisi Minuman dan Perawatan Tubuh.

Source : Dapur Investasi

PT Kino Indonesia Tbk melakukan IPO pada Desember 2015, dan apabila dilihat pada grafik total penjualan KINO, sebelum IPO selalu mencatatkan pertumbuhan diatas 30% YoY, tetapi pasca IPO, yaitu pada 2015 hanya mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7.92%, memang pada tahun 2015 terjadi perlambatan ekonomi baik di Indonesia maupun di Dunia, Karena The Fed menaikkan suku bunga acuan Amerika pada pertama kalinya.

Source : Dapur Investasi

Tetapi KINO secara konsisten memperbaiki margin laba bersih sejak tahun 2010 hingga kuartal II 2016, meskipun marjin laba bersih belum tercatat double digit, tetapi hal tersebut telah mampu menopang pertumbuhan laba bersih dari KINO, perseroan cukup handal dalam melakukan efisiensi.

Source : Dapur Investasi

Pertumbuhan laba bersih KINO secara rata – rata memang cukup tinggi, yaitu sekitar 128% YoY sejak tahun 2010, tetapi pada kuartal II 2016 hanya mampu tumbuh 29.99% YoY dari  kuartal II 2015. Sebenarnya angka 29.99% sudah cukup tinggi, dan terlihat pada tahun 2015, saat ekonomi sedang lesu, KINO mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 152.53% YoY.

Selanjutnya, bagaimana dengan ROA, ROE, DER dan DEA??

Source : Dapur Investasi

Secara rata – rata sejak tahun 2010 hingga tahun penuh 2015, ROA dan ROE dari KINO konsisten mengalami peningkatan, walaupun ROE tertinggi pada tahun 2011, belum mampu dilampaui KINO kembali. Tetapi dari indicator ROA dan ROE kita dapat melihat bahwa KINO cukup efektif dan efisien dalam mengalokasikan Asset dan Ekuitas, sehingga menciptakan ROA dan ROE yang cukup baik.

Source : Dapur Investasi

Dari segi rasio risiko Hutang, yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan Debt to Asset Ratio (DEA), KINO mencatatkan risiko yang minim pasca IPO, hal tersebut cukup wajar karena pada saat IPO akan menambah ekuitas dan asset, sehinggaDER dan DEA dapat terlihat kecil.

Tetapi memang sejak tahun 2010, rasio DEA dan DER sudah terlihat mengalami trend penurunan dan mengindikasikan bahwa KINO cukup handal dalam menggunakan Hutang untuk menumbuhkan Ekuitas dan Asset.

Nahh berdasarkan penilaian sederhana rasio – rasio diatas, kita dapat ketahui bahwa KINO jago dalam melakukan efisiensi dan efektifitas, tetapi KINO harus tetap mencari solusi untuk mempertahankan pertumbuhan penjualan di masa yang akan datang, strategi pemasaran atau penjangkauan pangsa pasar harus terus diperkuat. Karena kalo hanya modal efisiensi, suatu saat bisnis KINO akan tergerus oleh perubahan jaman.

Sebenarnya menurut Euromonitor, minuman herbal Panda dan minuman penyegar “Cap Kaki Tiga” dari KINO memiliki pangsa pasar masing – masing 35.7% dan 46.2%. selain itu menurut Top Brand Awards, “Cap Kaki Tiga” berada pada urutan pertama dengan pangsa pasar sebesar 46.3%

Source : Top Brand Awards

KINO juga telah melakukan sejumlah ekspansi dengan memperluas jaringan bisnis di regional Asia Tenggara, dengan membuka cucu usaha dibawah Kino International Pte.Ltd di negara Malaysia, Filipina, Vietnam dan Singapura. Fokus perseroan adalah pada bisnis Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh dan meluncurkan merek pertama pada tahun 2004, yaitu “Ellips Cologne”.

Produk dari KINO saat ini diantaranya :

Produk Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh : Ellips dan Sasha (Perawatan Rambut), B&B, Eskulin Kids, Master Kids, Resik-V, Absolute, Ovale.

Produk Makanan : Snackit, Kino Candy, Segar Sari, Chocofun.

Produk Minuman : “Cap Kaki Tiga”, Cap Panda, Panther dan Tampico.

Produk Farmasai : Obat batuk madu “Cap Kaki Tiga” dan Balsem “Cap Kaki Tiga”

Setelah memahami kinerja dari KINO, mari kita lihat wajar atau tidak saham KINO di pasar Bursa Efek Indonesia.

Source : Stock Bit

Dari data Annualized P/E diatas kita bisa lihat bahwa saat ini harga KINO sedikit lebih murah dibandingkan saham sejenis dalam sektornya, tetapi masih lebih menarik AISA dari segi P/E.

Tetapi walaupun P/E KINO tercatat masih wajar, dan KINO mempunyai bisnis yang cukup terdiversifikasi dengan baik dibidang consumer goods, Investor harus tetap memperhatikan lini bisnis Minuman dan Perawatan Tubuh dari KINO yang mencatatkan kinerja tidak terlalu bagus dari segi pertumbuhan, padahal kedua lini tersebut merupakan ujung tombak perusahaan.

Source : Chart Nexus

Saran Penulis

Saran dari penulis berdasarkan kinerja keuangan diatas adalah menunggu penurunan dari saham KINO mereda, dan saat itu terjadi Investor dapat mulai melakukan akumulasi pembelian. Untuk Investor dengan range waktu jangka pendek, dapat mengakumulasi saham KINO pada range 4,500 – 4,600, karena pada support level tersebut diperkirakan akan terjadi rebound rebound lucu, hehe. Tetapi untuk Investor jangka panjang, sebaiknya menunggu akumulasi pada area dibawah 4,500. Karena untuk harga dibawah 4,500 sudah terlihat lebih wajar berdasarkan nilai fundamental, dibandingkan harga saham di Bursa Efek Indonesia saat ini.

Sekian tulisan dan uraian kali ini,, semoga bermanfaat dan bisa dijadikan panduan investasi bagi Kawula Investasi, sehingga tetap berinvestasi dengan cerdas dan tidak menjadikan paradigma bahwa Saham atau Pasar Modal itu adalah Judi,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.