Keuangan

260916 IHSG Terkoreksi Kembali

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 36.77 poin (-0.68%) di level 5,352.14 seperti yang telah tertera pada Sruput Pagi 260916 https://goo.gl/jLgLeu bahwa potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street, pelemahan harga minyak mentah dunia dan adanya aksi profit taking dari Investor Asing.

Total volume perdagangan sebesar 9,394.81 juta lembar saham, dengan total transaksi mencapai Rp6.37 triliun. Secara total, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp335.93 miliar.

Sebanyak 8 dari 10 sektor di tutup melemah. Sektor dengan penurunan terdalam yakni sektor misc-ind (-1.89%), disusul sektor mining (-1.26%) dan sektor consumer (-1.23%). Sedangkan sektor dengan penguatan terbesar yakni sektor infrastructure (+0.41%).

Saham yang masuk dalam jajaran top gainer hari ini yakni saham Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI, Rp4,700) +390, Solusi Tunas Pratama (SUPR, Rp7,500) +300, Multi Bintang Indonesia (MLBI, Rp275) +275. Sedangkan saham dalam jajaran, top loser yakni saham Gudang Garam (GGRM, Rp64,000) -1125, United Tractors (UNTR, Rp17,200) -725, dan Unilever Indonesia (UNVR, Rp44,850) -700.

Cerdaslah dalam berinvestasi
By : dapurinvestasi.com
Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG CERIA DI AKHIR PEKAN, 23 September 2016

Menutup perdagangan akhir pekan ini (23/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup menguat tipis sebesar 8,646 poin atau 0,161% ke level 5.388,908 setelah pada saat pembukaan hari ini dicatat melemah ke level 5375,712. Aksi beli investor asing turut memberikan efek positif pada penutupan perdagangan hari ini.
Tercatat sebesar 117 saham yang bergerak naik, sedangkan 160 saham lainnya bergerak turun, dan 98 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 6,363 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.7,705 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.181,4 Milliar.
Tercatat empat sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri sebesar -1,80% disusul dengan sektor Konstruksi -0,38%. Sedangkan enam sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar dengan kenaikan sebesar 1,73% disusul dengan sektor Consumer Goods dengan kenaikan sebesar 0,97%.
Saham-saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Matahari Putra Prima TBK (MPPA) naik 5,31% ke Rp.1.985,-, PT Charoen Pokphand Indonesia TBK (CPIN) naik 4,46% ke Rp.3.510,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) naik 3,27% ke Rp.18.150,-.
Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Pembangunan Perumahan (Persero) TBK (PTPP) turun -5,56% ke Rp.4.250,-, PT Wiajaya Karya (Persero) TBK (WIKA) turun -5,11% ke Rp.2.600,- dan PT Adhi Karya (Persero) TBK (ADHI) turun -3,27% ke Rp.2.370,-.
Cerdaslah dalam berinvestasi
By : dapurinvestasi.com

IHSG Menguat, Menanti The FED

Pada awal perdagangan hari ini (21/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di buka melemah ke level 5.295,883. Namun akhirnya IHSG berhasil move on ke zona hijau dengan ditutup menguat sebesar 40,099 poin atau sebesar 0,756% ke level 5342,592. Para investor masih menunggu hasil rapat The FED yang akan melakukan kenaikan suku bunga acuan dengan peluang sebesar kurang lebih 20%. Selain itu Bank of Japan (BOJ) telah memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuan di level -0,1%..

Tercatat sebesar 165 saham yang bergerak naik, sedangkan 126 saham lainnya bergerak turun, dan 90 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 8,388 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.8,748 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.551,4 Milliar.

Tercatat dua sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar sebesar -0,16% disusul dengan sektor Agrikultur -0,03%. Sedangkan delapan sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri dengan kenaikan sebesar 2,59% disusul dengan sektor Konstruksi dengan kenaikan sebesar 1,84%.

Saham- saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Aneka Tambang (Persero) TBK (ANTM) naik 6,40% ke Rp.665,-, PT Bank Tabungan Negara (Persero) TBK (BBTN) naik 4,74% ke Rp.1.990,- dan PT Summarecon Agung TBK (SMRA) naik 3,93% ke Rp.1.720,-.

Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Semen Indonesia (Persero) TBK (SMGR) turun -1,75% ke Rp.9.825,-, PT Kalbe Farma TBK (KLBF) turun -1,45% ke Rp.1.700,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) turun -0,86% ke Rp.17.350,-.

#Cerdaslah dalam berinvestasi

By : dapurinvestasi.com

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part II)

Haii,, Hayy Kawula Investasi Indonesia,, kembali lagi nihh bersama dapurinvestasi.com,, kali ini kami akan membahas kembali ulasan yang berjudul “Ada Apa Dengan The Fed?? Part II”, kenapa Part II?? Karena Ada Apa Dengan Cinta aja sampe Part II, maka dapurinvestasi.com ngga mau kalah,, hehhe.. just kidding,,

Alasan yang benar adalah, karena penulis sudah pernah menulis “Ada Apa Dengan The Fed?? Part I” obviously..

Bisa di cek pada link berikut ini,,

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Nahh,, jadi di Part I itu, ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan Investor, Bagaimana perkembangan The Fed di tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? dan Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Okehh mari kita bahas dengan seksama,, perlu pembaca ketahui bahwa The Fed dijadwalkan mengadakan rapat dan memberikan keputusan terkait suku bunga acuan Amerika Serikat pada tanggal 20 – 21 September 2016. Berbagai pro dan kontra kembali terjadi terkait kenaikan suku bunga acuan Amerika tahap II, data terakhir menunjukkan bahwa pertaruhan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan September ini hanya memiliki probabilitas sebesar 20%, karena beberapa pihak masih belum yakin bahwa perekonomian Amerika Serikat mampu bertahan apabila suku bunga dinaikkan kembali.

Tanggal 20 – 21 akan menjadi hari hangat untuk membahas The Fed ini.

Penulis akan menjabarkan beberapa indicator ekonomi Amerika, sehingga pada akhir tulisan ini, pembaca dan Investor dapat mengambil kesimpulan terhadap keputusan Investasinya,,

GDP AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Pada kuartal II 2016 GDP Amerika Serikat tercatat sebesar 1.1% QoQ, lebih rendah tinggi dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% QoQ, tetapi secara tahunan hanya tercatat sebesar 1.2% YoY, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 1.6% YoY, walaupun secara tahunan masih melambat, tetapi terlihat bahwa GDP Amerika Serikat berangsur – angsur mengalami perbaikan.

Penulis memberikan point Netral untuk GDP Amerika Serikat.

INFLASI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Inflasi Amerika Serikat untuk bulan Agustus tercatat tumbuh sebesar 0.2% MoM, angka tersebut lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat hanya sebesar 0.0% MoM. Secara tahunan inflasi tercatat tumbuh lumayan sebesar 1.1% YoY, angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% YoY.

Dan apabila dilihat secara jangka panjang, inflasi Amerika Serikat telah mengalami perbaikan sejak awal tahun 2015.

Point yang cukup bagus dan positif dari segi inflasi untuk Amerika Serikat.

ANGKA PENGANGGURAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Data Initial Jobless Claims pada pekan lalu dirilis sebesar 260,000, memang mengalami peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebesar 259,000, tetapi terlihat pada grafik sebelah kiri, bahwa terjadi trend penurunan angka pengangguran dari yang tercatat sebesar 270,000.

Dalam lima tahun terakhir pun Initial Jobless Claims mengalami trend penurunan yang cukup kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat berhasil menekan angka pengangguran.

Point Positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Continuing Jobless Claims Amerika Serikat tercatat sebesar 2,143,000 pada pekan lalu, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,144,000 dan terlihat pada grafik sebelah kiri terjadi trend penurunan.

Apabila kita perpanjang data hingga lima tahun terakhir, terlihat trend penurunan angka pengangguran Amerika Serikat cukup kuat.

Point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Unemployment Rate juga sudah tercatat sebesar 4.9%, sesuai dengan target The Fed yang berada dibawah 5%. Dan apabila dilihat secara jangka panjang, Amerika Serikat telah berhasil menekan angka pengangguran dari sekitar 9% menjadi 4.9% dalam lima tahun terakhir.

Point positif lagi dan lagi untuk Amerika Serikat.

ANGKA KONSUMSI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat tercatat stagnan sebesar 89.8 pada bulan September, walaupun sejak Oktober 2015 tercatat fluktuatif, tetapi dalam lima tahun terakhir Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat mengalami peningkatan.

Point positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Tetapi Penjualan Ritel Amerika Serikat tercatat tidak terlalu memuaskan, dimana data terakhir pada bulan Agustus menunjukkan penurunan sebesar -0.3% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.1% MoM, dan secara tahunan juga tercatat sebesar 1.9% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2.4% YoY.

Apabila kita lihat secara jangka panjang, maka terlihat saat ini pertumbuhan penjualan ritel Amerika Serikat mengalami konsolidasi dan cenderung mengalami pelemahan.

Dalam hal ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Data Personal Income Amerika Serikat pada bulan Juli tercatat tumbuh 0.4% MoM, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.3% MoM. Namun secara jangka panjang tercatat flat, hal ini mengindikasikan bahwa Personal Income Amerika Serikat belum bertumbuh.

Yahh,, kita anggap netral aja yaa untuk indicator ini.

Source : Trading Economics

Selanjutnya adalah data Personal Spending pada bulan Juli tercatat mengalami penurunan menjadi 0.3% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.5% dan secara jangka panjang tercatat flat.

Dari segi ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Dari segi Non – Farm Payrolls pada bulan Agustus tercatat sebesar 151,000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 275,000 dan secara jangka panjang tercatat flat dan cenderung mengalami pelemahan.

Nahh, untuk Non – Farm Payrolls memang kita berikan point negative terlebih dahulu.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data Penjualan Rumah baru pada bulan Juli 2016, tercatat sebesar 654,000 jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 582,000 dan secara jangka panjang dalam lima tahun terakhir menunjukkan trend menguatan yang cukup kuat.

Kita kasih point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Manufacturing PMI Amerika Serikat bulan Agustus tercatat mengalami penurunan menjadi 52, dari bulan Juli yang tercatat sebesar 52.9, apabila dilihat dari grafik jangka panjang, telah terjadi rebound dari Manufacturing PMI Amerika Serikat, dan saat ini Manufacturing PMI Amerika Serikat masih berada diatas level aman 50.

Yaa,, untuk pencapaian ini kita berikan point positif,,

Source : Trading Economics

Sedangkan untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat tercatat -0.4% YoY pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.1% YoY, dan secara jangka panjang memang trend pertumbuhan produksi manufaktur mengalami penurunan.

Penulis memberikan point negatif untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Industrial Production Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat mengalami penurunan -0.4% MoM, jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 0.6% MoM dan secara tahunan masih berada pada zona negatih yaitu -1.1% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.6% YoY.

Secara jangka panjang pertumbuhan Intial Production terus mengalami pelemahan, tetapi berhasil membaik pada tahun 2016.

Tetapi berdasarkan rilis data terbaru, maka penulis memutuskan untuk memperikan poin negatif untuk Industrial Production Amerika Serikat.

NERACA PERDAGANGAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Apabila diperhatikan dengan seksama, sebenarnya neraca perdagangan Amerika Serikat mengalami perbaikan namun tidak terlalu signifikan, dan masih mengalami deficit neraca perdagangan. Ekspor mengalami penguatan sejak tahun 2012 dan melemah kembali pada 2015 karena USD mengalami penguatan akibat peningkatan suku bunga acuan Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak stimulus diberikan. Import juga cenderung mengalami pelemahan.

Sesungguhnya peningkatan suku bunga The Fed sangat berpengaruh terhadap ekspor Amerika Serikat, dimana barang dari Amerika Serikat akan terlihat lebih mahal karena USD yang mengalami penguatan terhadap beberapa mata uang negara di dunia.

Penulis memberikat point netral untuk neraca perdagangan Amerika Serikat.

Tetapi Fokus dari The Fed sendiri adalah bagaimana menekan angka pengangguran, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, selanjutnya dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan meningkatkan Inflasi, dan yang terakhir adalah menumbuhkan laju GDP Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data indikator diatas, dimana data positif sebesar 7 point lebih besar dibandingkan data negatif yang sebesar 5 point dan data netral yang sebesar 3 point.

Maka bagi perkiraan penulis, Kondisi perekonomian Amerika Serikat sudah lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 dan tahun – tahun sebelumnya. Amerika Serikat sudah lebih siap untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun 2016 dibandingkan aksi nekat The Fed pada tahun 2015 lalu, tetapi apapun keputusan The Fed pada tanggak 21 September 2016 nanti, sudah mutlak keputusan yang terbaik bagi The Fed dan Amerika Serikat. Penulis hanya memperkirakan bahwa The Fed akan tetap meningkatkan suku bunga pada tahun 2016 ini, namun akan sama polanya seperti tahun 2015, yaitu pada bulan Desember, karena menurut penulis masih ada 5 indikator yang harus dipenuhi untuk benar – benar menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Selain itu Pemilu Amerika Serikat yang akan diselenggarakan pada bulan November akan menjadi pertimbangan The Fed juga.

Wokehhh,, pembahasan The Fed sudah terpenuhi,, tetapi bagaimana dampaknya untuk Indonesia??

Jujur menurut penilaian penulis, hingga bulan Agustus 2016, perekonomian Indonesia cukup baik dibandingkan pada tahun 2015. Pembaca bisa melihat ulasannya pada link berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/pahami-indikator-ekonomi-sebelum-khawatir-akan-pelemahan-indeks-harga-saham-gabungan.html

Disisa tahun 2016 ini, Indonesia harus berkutat dengan penerimaan pajak yang terancam tidak mencapai target, apabila hal ini terus terjadi, maka dampak kenaikan suku bunga The Fed tahap II akan cukup besar bagi Indonesia,, walaupuun, walaupunnya di Bold, masih lebih kuat dibandingkan tahun 2015 lalu, karena menurut penulis perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini cukup stabil.

Sekedar Informasi, bahwa Realisasi penerimaan pajak hingga 13 September 2016 sudah mencapai Rp 656,11 triliun. Jumlah itu sekitar 48,41% dari target pajak di APBN-P 2016. Namun, jika dibandingkan dengan outlook penerimaan pajak realistis yang dipatok pemerintah, pencapaian itu sudah  57,6%. Dalam APBN-P target pajak yang ditetapkan sebesar Rp 1.355,2 triliun, sedangkan outlook realistisnya Rp 1.139,2 triliun.

Sekian ulasan kami mengenai Ada Apa Dengan The Fed?? Part II, semoga dapat menjadi panduan Investasi bagi Kawula Investasi,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sharing Sharing Lucu Dapur Investasi di cozora.com

Heii,, Hayy,, Kawula Investasi Indonesia,, semoga semua dalam keadaan baik dan tetap cerdas dalam berinvestasi,,

guyss,, Dapur Investasi mau live cast  lohh di cozora.com dan kita akan membahas mengenai betapa penting Investasi itu dilakukan. “Why Investing Is Important”.

Jadwalnya kapan?? tentunya saat malam minggu tiba yaitu Sabtu, 24 September 2016 jam 19.00 WIB atau 07.00 PM WIB.

Event ini merupakan salah satu aksi kami untuk selalu mensosialisasikan dan memandu paradigma Investasi di Indonesia, sehingga kedepannya masyarakat Indonesia menjadi Investor yang teredukasi dan tidak beranggapan bahwa Investasi itu adalah Judi, dan tentunya harapan kami Investor domestik Indonesia terus bertambah banyak..

Okeh langsung sajaa, cara pendaftaran live cast ini gampang, cukup masuk pada link ini

https://www.cozora.com/whyinvestingisimportant

setelah itu klik menu register dan ikuti prosedur pendaftarannya,,

ehhh BTW pendaftaran ini gratiss lohhh,  for free!!!

tapi ingatt persiapkan perlengkapan seperti laptop dan tentunya jaringan Internet yang cukup stabil yaa.. hehehe

Kalian bakal liatt wajah wajah kita yang ngga terlalu ganteng dan ngga jelek jelek amat ini,, heehe,

Okayy, cukup sekian Informasinya,, jangan lupa daftar dan online yaa tgl 24 September ini..

Cheers..,,,

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

By : Dapur Investasi

ASPEK TERPENTING DALAM INVESTASI

Selama ini, saya penasaran dengan jawaban para investor pemula tentang aspek terpenting dalam investasi. Karena jujur saya jarang bahkan hampir tidak pernah mendapat pertanyaaan ini. Pengalaman saya, orang lebih sering bertanya tentang apa investasi terbaik saat ini?  Dan akibat dari pertanyaan ini, banyak sekali tulisan atau seminar yang hanya fokus pada jenis-jenis investasi yang mengaku terbaik.

Kenapa pemahaman tentang aspek terpenting dalam investasi ini menjadi krusial? Selain untuk menjawab jenis investasi terbaik, juga karena investasi adalah hal yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan. Sayangnya masih banyak yang menghindari berinvestasi karena berbagai alasan, terutama karena takut ataupun tidak mengerti.

 PEMAHAMAN SALAH TENTANG INVESTASI

Beberapa saudara atau teman sekolah saya suka terkagum-kagum dengan kata investasi. Menurut mereka jika ada yang menyebtkan kata “investasi”, kesannya orang pintar dan kelas atas. Benarkah demikian? Mari kita bahas.

Setidaknya ada 3 pemahaman yang salah mengenai investasi antara lain:

  1. INVESTASI = INSTRUMEN KEUANGAN

Ini adalah pemahaman yag salah. Instrumen keuangan seperti saham, produk perbankan, surat utang (ORI, sukuk), reksadana adalah jenis instrumen keuangan yang digunakan untuk investasi. Namun selain itu masih banyak instrumen/alat lain yang bisa dijadikan alat investasi. Contohnya properti, emas, atau barang-barang hobi lainnya.

  1. INVESTASI = JUDI

Salah lagi. Investasi membutuhkan pemahaman dan perhitungan/analisa yang matang akan instrumen yang digunakan. Ada peluang untuk untung besar, untung sedang, untung kecil dan bahkan rugi. Sedangkan judi lebih bersifat spekulasi tanpa menggunakan perhitungan dan analisa, dengan hasil akhir berupa menang atau kalah. Ini akan kita bahas di tulisan tersendiri karena cukup panjang.

  1. INVESTASI HANYA UNTUK ORANG PINTAR

Ini biasanya dikaitkan dengan poin no 1 di atas. Pada kenyataannya? Semua orang bisa melakukan investasi. Tidak peduli pada latar belakang pendidikan, jenis kelamin, lokasi tempat tinggal, dll.

Setiap orang yang melakukan investasi, pasti punya pemahaman akan instrumen yang mereka gunakan dan punya harapan keuntungan dan toleransi risiko yang berbeda-beda juga. Lebih jelasnya kita bahas dibawah.

ASPEK TERPENTING DALAM BERINVESTASI

Ada 3 hal mendasar yang harus diketahui oleh setiap orang sebelum mulai memutuskan instrumen investasi terbaik yang akan anda investasikan.

  1. PEMAHAMAN ATAS INSTRUMEN INVESTASI YANG DIGUNAKAN

Buat saya, ini aspek yang paling terpenting. Tanpa pemahaman mengenai instrumen/alat investasi yang kita gunakan, maka apa yang kita lakukan cenderung menjadi spekulasi dan lebih mengarah ke judi. Contoh di instrumen saham. Ini jelas-jelas produk investasi, diatur juga dengan khusus oleh Undang-Undang Pasar Modal dan dikenal juga ada istilah pasar modal syariah yang sah dan halal. Tapi banyak orang yang memberi cap “judi” atau “spekulasi” terhadap saham. Kenapa? Karena pengalaman dari orang-orang yang merugi di investasi saham sebagai akibat dari ketidakpahaman atas saham itu sendiri.

Balik ke pertanyaan di atas: jadi investasi apa yang paling bagus sekarang ini? Nah disini relasinya. Karena kriteria “terbaik” harus timbul dari pemahaman yang baik juga.

Imbal Hasil vs Risiko

Selain paham atas karakter alat investasi, kita juga harus paham akan potensi imbal hasil yang bisa diperoleh dan risiko yang kemungkinan terjadi. Dalam investasi, ini dua hal yang selalu ada. Semakin tinggi imbal hasil yang bisa dicapai, semakin tinggi juga risiko yang harus kita hadapi. Jika sampai ada yang menawarkan instrumen investasi dengan imbal hasil tinggi dan risiko rendah, hati-hati, anda sedang masuk dalam percobaan penipuan

Kenali Pasar Instrumen Investasi

Trus apa saja yang termasuk instrumen investasi? Jawabannya: semua alat yang ada pasarnya. Pasar disini maksudnya bukan bentuk pasar fisik saja, tapi semua alat yang memiliki permintaan dan penawaran di sana. Tanpa paham mengenai alat investasi, anda mustahil paham mengenai harga wajar alat tersebut di pasarnya. Kalau produk keuangan, pasar modal, emas atau property semua pasti tahu jika itu investasi. Gimana kalau batu akik yang sempat ngetrend tahun lalu? Apakah itu alat investasi? Buat saya batu akik pun bisa jadi instrumen investasi. Tetapi kalau saya memaksa untuk investasi disini, jelas saya akan jadi sasaran empuk untuk ditipu dan besar kemungkinan untuk gagal karena saya tidak mengerti dengan pasarnya. Tapi ada seorang teman baik saya yang menghasilkan banyak uang dari perdagangan batu akik ini. Sistemnya buy low sell high atau buy high sell higher. Mengapa? Karena dia sangat paham tentang dunia batu akik, termasuk permintaan dan penawaran yang ada. Contoh lain yaitu lukisan. Buat saya lukisan-lukisan mahal dan murah sama saja keliahatannya. Tapi buat pencinta seni, itu sangat berbeda. Lukisan ini bisa menjadi investasi yang menguntungkan, yang berangkat dari hobi dan pemahaman yang kuat akan instrumen tersebut.

intinya, pahami pasar dari alat investasi yang akan digunakan. Pemahaman ini yang menentukan “investasi terbaik” untuk kita.

  1. KENALI IMBAL HASIL YANG DIPEROLEH

Sebelum memulai investasi pasti kita memiliki tujuan untuk apa kita berinvestasi. Biasanya, dasar dari semua tujuan itu pasti satu hal yaitu inflasi, kenaikan harga barang atau jasa yang kita butuhkan dimasa depan. Jadi, hasil investasi yang kita lakukan setidaknya harus lebih tinggi dari inflasi. Hasil investasi harus lebih besar dari kenaikan uang pangkal di sekolah incaran. Harus lebih tinggi juga dari kenaikan harga tahunan paket liburan ke Eropa. Memahami imbal hasil investasi juga penting untuk menentukan instrumen investasi yang kita pilih yang sesuai dengan tujuan kita. Jadi jangan mengejar tujuan tinggi dengan alat investasi berimbal hasil rendah.

  1. PAHAMI JANGKA WAKTU INVESTASI

Instrumen investasi yang tepat juga ditentukan oleh jangka waktu investasi yang diinginkan. Ini terkait dengan tujuan investasi di awal. Jika uangnya akan digunakan satu tahun kedepan, uangnya jangan diinvestasikan di properti. Karena properti adalah investasi yang tidak likuid dan lebih bersifat jangka panjang. Instrumen investasi itu harus disesuaikan dengan jangka waktu tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuannya masih lama, boleh saja menggunakan instrumen investasi dengan fluktuasi lebih tinggi, karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang tidak rendah. Demikian juga jika dana yang diinvestasikan ingin digunakan dalam jangka pendek. Akan lebih bijaksana anda berinvestasi di instrumen dengan imbal hasil stabil seperti deposito perbankan ataupun reksadana pasar uang.

KESIMPULAN

Jadi, apa instrumen investasi terbaik buat anda? Intinya, pahamilah semua aspek dalam instrumen investasi sejelas mungkin sebelum anda menjatuhkan pilihan di salah satu instrumen investasi. Jangan cuma sekedar ikut-ikutan trend atau kata-kata orang lain. Mengapa demikian? Karena instrumen investasi terbaik berbeda untuk setiap orang. Investasi terbaik buat saya belum tentu terbaik buat anda, demikian pula sebaliknya.

Jadi, pahami dengan baik, dan selamat berinvestasi!!!

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^   ^

By : Hendri Prasetyo Utomo

Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia Periode 2008 – 2016

Heyy guys, kali ini kita mau bahas Cadangan devisa Indonesia nihh,, perlu kalian ketahui pada bulan Agustus 2016 kemarin, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar $ 113.5 Milyar, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar $ 111.4 Milyar.

Kalo kata Bank Indonesia sihh peningkatan itu dikarenakan penerimaan cadangan devisa meningkat yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa migas.

Truss,, pada bulan Agustus juga ada penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, sehingga hal tersebut menyebabkan adanya arus dana masuk yang cukup besar dan mempengaruhi peningkatan cadangan devisa Indonesia.

Dannn,, secara bersamaan pemerintah Indonesia juga melakukan pembayaran hutang luar negeri serta melunasi SBBI valas yang sedang jatuh tempo, namun hal tersebut tidak menjadi kendala, karena arus dana keluar untuk membayar hutang lebih kecil dibandingan dana yang masuk ke Indonesia karena perolehan hutang baru, pembayaran pajak dan devisa migas.

Berdasarkan perhitungan Bank Indonesia, cadangan devisa bulan Agustus itu mampu lohh atau cukup membiayai 8,3 – 8,7 bulan kebutuhan Impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah. Jadi bisa dibilang cadangan Indonesia cukup aman, karena menurut standar Internasional, cadangan devisa yang kredibel itu mampu membiayain impor selama 3 bulan.

Nahh, mari kita bahas perkembangan cadangan devisa Indonesia sejak tahun 2008, dan bagaimana dampaknya bagi Rupiah terhadap kurs Dollar Amerika.

Source : Dapur Investasi

Apabila dilihat dari grafik diatas, terlihat bahwa perubahan kurs Rupiah (garis panah hijau) berbanding terbalik dengan perubahan cadangan devisa Indonesia (garis panah merah), tetapi apabila diterjemahkan, maka pergerakan Rupiah berbanding lurus dengan perubahan Cadangan Devisa Indonesia, karena apabila Rupiah menguat maka cadangan devisa mengalami penigkatan dan apabila Rupiah melemah maka cadangan devisa mengalami penurunan.

Memang secara alamiah, apabila Kurs Rupiah mengalami penguatan, maka harus didukung adanya arus dana masuk untuk Indonesia, baik melalui Kegiatan Ekspor, Perdagangan Jasa, Pariwisata, TKI atau TKW, Penanaman modal asing, Pinjaman luar negeri dan Hibah atau hadiah dari luar negeri.

Dari grafik juga dapat terlihat bahwa apabila Kurs Rupiah mengalami pelemahan maka kemungkinan besar hal tersebut dipengaruhi oleh adanya arus dana keluar dari Indonesia,,

Nahh selanjutnya kita akan bertanyaa,, apa hubungan Rupiah dengan Cadangan devisa Indonesia??

Mengapa kedua hal tersebut saling berkaitan dan perubahannya berjalan searah.

Berikut penjelasannya,

Bank Indonesia memiliki fungsi menjaga stabilitas moneter Indonesia, termasuk menjaga stabilitas mata uang Rupiah, maka ketika Rupiah mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika, Bank Indonesia akan melakukan intervensi pasar agar pelemahan Rupiah tidak terlalu dalam dan pergerakan Rupiah menjadi stabil, hal tersebut tentu akan menguras Cadangan devisa Indonesia, dan ketika Rupiah mengalami penguatan maka Cadangan devisa akan mengalami penambahan kembali.

Nahh, Investor perlu memperhatikan satu hal penting, dimana ketika Rupiah mengalami penguatan seharusnya Cadangan devisa mengalami peningkatan juga, tetapi apabila Rupiah mengalami penguatan dan Cadangan devisa mengalami penurunan, maka bisa dipastikan bahwa penguatan Rupiah yang terjadi akibat dari intervensi Bank Indonesia, bukan karena performa yang baik dari Ekspor, Perdagangan Jasa, Pariwisata, TKI atau TKW, Penanaman modal asing, Pinjaman luar negeri dan Hibah atau hadiah dari luar negeri.

Tentu kita akan merasa tenang apabila penguatan Rupiah terjadi karena kinerja ekonomi Indonesia mengalami perbaikan bukan karena intervensi Bank Indonesia, walaupun terkadang intervensi itu perlu dilakukan.

Apabila dilihat pada grafik dari periode September 2011 sampai September 2013, cadangan devisa terkuras habis hingga mencapai titik terendah $ 93 Milyar (dibawah batas wajar $ 100 Milyar) pada periode tersebut, tetapi hal tersebut tidak mampu menjadikan Rupiah menguat, karena memang pada tahun – tahun tersebut Rupiah mengalami pelemahan hingga tahun 2015 akibat adanya arus keluar dari Indonesia karena pengurangan stimulus dari The Federal Reserve Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, ditambah lagi pada periode tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan.

Pada tahun 2016 Cadangan devisa Indonesia telah berangsur angsur mengalami pertumbuhan, dimana pada Januari 2016 Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar $ 102.1 Milyar dan pada bulan Agustus tercatat sebesar $ 113.5 Milyar, dan Rupiah telah mengalami penguatan yang cukup tinggi, dimana pada bulan September 2015 tercatat sebesar 14,396 dan pada 08 September 2016 tercatat sebesar 13,086. Rupiah telah mengalami penguatan sebesar +9.10%.

Intinya dari segi Cadangan devisa dan Pergerakan Rupiah, ekonomi Indonesia sudah terlihat membaik dibandingkan tahun – tahun sebelumnya, dan hal tersebut harus dipertahankan, sehingga kondisi perekonomian Indonesia cukup kuat menghadapi perlambatan ekonomi dunia. Apalagi ketika pada akhir tahun 2016, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika. Indonesia harus mampu menghadapi badai ekonomi tersebut.

Sekian artikel singkat dari kami, jangan lupa like, comment and subscribe yaaahhh guyyyysss.. hahaha

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^^

By : Putu Wahyu Suryawan

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Federal Reserve atau The Fed kembali membawa kekhawatiran bagi pasar keuangan di dunia. Janet Yellen selaku pimpinan The Fed pada pertemuan Jackson Hole Jumat (26/8) pukul 11.00 waktu New York menegaskan akan menaikkan suku bunga acuan pada beberapa bulan terakhir di 2016 seiring data ekonomi Amerika yang membaik.

Pasar memang sedikit bertingkah manja terhadap gejolak ekonomi, sejak Amerika memberikan quantitative easing (pelonggaran moneter dengan cara pengucuran dana oleh Bank Sentral melalui pembelian asset, dalam hal ini Obligasi) pada tahun 2008 karena krisis subprime motgage, pasar menjadi candu akan stimulus moneter, pergerakan pasar keuangan seolah sejalan dengan besar atau kecilnya stimulus moneter yang dikucurkan oleh Bank Sentral di berbagai Negara termasuk Amerika. Pasar terus berharap agar pelonggaran moneter terus diberikan sehingga tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Pada tahun 2013 pasar kembali bergejolak karena The Fed memastikan untuk mengurangi quantitative easing atau dikenal dengan istilah tapering off, dimana The Fed mulai mengurangi pembelian Obligasi dan pasar berpandangan bahwa pengurangan stimulus moneter tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi Amerika dan pertumbuhan ekonomi Dunia mengalami kontraksi.

Setelah tahun 2013 berlalu, ekonomi mulai pulih kembali dan seolah olah pasar berpandangan bahwa “gapapa The Fed ngga ngasih quantitative easing lagi, asalkan Amerika Serikat tetap menganut suku bunga rendah yaitu sebesar 0.25%”, sehingga dengan adanya suku bunga rendah maka daya beli masyarakat akan tumbuh, permintaan tenaga kerja akan stabil dan perekonomian akan meningkat kembali.

Tetapi pada tahun 2015 The Fed kembali mengguncang pasar keuangan, dengan memastikan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali sebesar 25 bps menjadi 0.50% dari sebelumnya yang sebesar 0.25%. Hal tersebut sontak membuat dollar Amerika Serikat menguat dibandingkan mata uang negara di dunia, mata uang negara emerging market mengalami depresiasi yang cukup dahsyat, terutama bagi negara yang tidak memiliki fundamental yang cukup baik.

Indikator utama yang menjadi acuan dalam menaikkan suku bunga Amerika Serikat adalah target pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan sebesar 2.1% – 2.2%, target Inflasi yang diperkirakan mencapai 2% dan target angka pengangguran yang diperkirakan berada pada level 5%.

Fakta yang terjadi ketika suku bunga acuan Amerika Serikat dinaikkan pada Desember 2015 adalah sebagai berikut :

Source : Trading Economic

Pertumbuhan GDP pada Kuartal IV 2015 hanya mencapai 1.9% lebih rendah dari target The Fed yang sebesar 2.1% – 2.2%.

Source : Trading Economic

Inflasi Amerika Serikat hanya tercatat sebesar 0.7% pada bulan Desember, jauh dibawah target The Fed yang sebesar 2%.

Source : Trading Economic

Data Unemployment rate Amerika Serikat tercatat sebesar 5% pada bulan Desember 2015, sesuai dengan target The Fed.

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada akhir tahun 2015 relatif terburu – buru dan cenderung nekat, mengingat dua dari tiga indikator ekonomi belum tercapai. Pada saat kenaikan tersebut terjadi, tentu perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat dalam beradaptasi terhadap keadaan tersebut. Apalagi perekonomian dunia yang kembali mengalami turbulence karena kebijakan kenaikan suku bunga The Fed.

Source : World Bank

Terlihat pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi dunia mengalami penurunan dan tercatat hanya tumbuh sebesar 2.47%.

Bagaimana dengan tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Pertanyaan diatas akan kami paparkan pada tulisan selanjutnya Part II..

Cerdaslah dalam berinvestasi ^__^

By : Putu Wahyu Suryawan

Bisakah Tax Amnesty Mencapai Target??

Mulai bermunculan rasa pesimistis dari pelaku pasar dengan program tax amnesty yang di buat oleh pemerintah beberapa bulan yang lalu. Tapi sampai sekarang perkembangan program tersebut cukup mengkhawatirkan.
Permasalah utama yang dihadapi adalah masih banyak petugas pajak yang belum memahami aturan tax amnesty. Padahal, mereka dituntut untuk bisa menjelaskannya kepada masyarakat mengenai program tersebut.

Ditambah adanya petugas pajak yang masih tidak sinkron mengenai penerapan tax amnesty dan bermunculan kebingungan di kalangan masyarakat yang menilai dimana pada awalnya program tax amnesty ini dibuat untuk menjaring pengusaha besar yang melarikan hartanya keluar negeri, namun pada kenyataannya sekarang masyarakat biasapun menjadi sasaran pemerintah.

Kendala lain yang muncul adalah, masih rendahnya warga negara yang memiliki aset besar ikut tax amnesty . Para konglomerat ini masih belum yakin dengan program tax amnesty dengan berbagai alasan.

Bahkan ancaman terbesar juga datang dari negara tetangga, Singapura. Dalam beberapa kesempatan sejumlah pihak dari Singapura bertemu dengan pengusaha Indonesia, mereka membujuk agar tidak merepatriasi hartanya.
Perlu diketahui sampai bulan ini uang tebusan baru mencapai Rp. 2.42 Triliun atau baru mencapai 1.5%. Dengan komposisi uang tebusan Badan UMKM Rp. 6,86 Miliar, Badan Non UMKM Rp. 235 Miliar, Orang Perseorangan Non UMKM Rp.2,04 Triliun dan Orang Perseorangan UMKM sebesar Rp. 145 Miliar.

Statistik Amnesti Pajak

Kami memprediksi apabila sampai akhir  bulan September target dari tax amnesty tidak sampai dari setengah yang telah di tentukan maka bisa berdampak negatif kepadan Pendapatan Negara. Target Pendapatan Negara dalam APBN tahun 2016 ditetapkan sebesar Rp1.822,5 triliun, atau Rp25,6 triliun lebih rendah dari yang diusulkan dalam RAPBN Tahun Anggaran 2016.

realisasi penerimaan pajak hingga Senin (29/8) baru mencapai 44% dari target dalam APBN-P 2016. Dengan demikian, realisasi penerimaan pajak telah mencapai sekitar Rp 596 triliun dari target penerimaan pajak  setengah dari jumlah yang ditargetkan pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 sebesar Rp 1.355,2 triliun.

Sebaiknya investor tetap mengikuti dinamika perkembangan tax amnesty tersebut agar selalu bisa mengambil keputusan dalam berinvestasi dengan baik dan cermat.

Cerdaslah dalam berinvestasi ^^

By: dapurinvestasi.com

Indeks Harga Saham Gabungan Tersengat Pidato Yellen di awal pekan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok pada  perdangan bursa hari ini 29 Agustus 2016 dengan penurunan -68,06 point atau -1.25%. Penurunan ini setelah adanya pidato Guburner Federal Reserve (The Fed) Janet Yellen yang mengindakasikan kenaikan suku bunga AS pada akhir tahun ini.

Seperti yang dilansir Reuters, Yellen mengatakan dalam sebuah pidato pada konferensi kebijakan moneter tahunan Fed di Jackson Hole, Wyoming, Jumat pekan lalu bahwa kemungkinan kenaikan suku bunga AS meningkat dalam beberapa bulan terakhir, seiring dengan data tenaga kerja yang kuat serta pertumbuhan ekonomi yang sepertinya akan terus pada kecepatan moderat,

Walaupun Yellen tidak memberikan petunjuk mengenai apa harus dilakukan bank sentral sebelum menaikkan suku bunga, data tenaga kerja dan inflasi sudah hampir memenuhi target The Fed

Semua sektor saham kompak mendukung pelemahan IHSG. Saham-saham di sektor aneka industri memimpin pelemahan 2,94%, perkebunan 2,11%, properti 2,01%, infrastruktur 2,01%, pertambangan 1,43%, keuangan 1,22%, industri dasar 0,83%, konsumer 0,52%, dan perdagangan 0,33%.

Sementara itu, investor asing mencatatkan penjualan saham bersih (net foreign sell) senilai Rp151,4 miliar.

IHSG di prediksi akan melanjtukan penurunanya pada esok hari dengan rentan penurunan 5295-5300

Cerdaslah dalam Berinvestasi ^^

By: dapurinvestasi.com