Investasi

260916 IHSG Terkoreksi Kembali

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup melemah 36.77 poin (-0.68%) di level 5,352.14 seperti yang telah tertera pada Sruput Pagi 260916 https://goo.gl/jLgLeu bahwa potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street, pelemahan harga minyak mentah dunia dan adanya aksi profit taking dari Investor Asing.

Total volume perdagangan sebesar 9,394.81 juta lembar saham, dengan total transaksi mencapai Rp6.37 triliun. Secara total, investor asing mencatatkan transaksi jual bersih (net sell) sebesar Rp335.93 miliar.

Sebanyak 8 dari 10 sektor di tutup melemah. Sektor dengan penurunan terdalam yakni sektor misc-ind (-1.89%), disusul sektor mining (-1.26%) dan sektor consumer (-1.23%). Sedangkan sektor dengan penguatan terbesar yakni sektor infrastructure (+0.41%).

Saham yang masuk dalam jajaran top gainer hari ini yakni saham Maskapai Reasuransi Indonesia (MREI, Rp4,700) +390, Solusi Tunas Pratama (SUPR, Rp7,500) +300, Multi Bintang Indonesia (MLBI, Rp275) +275. Sedangkan saham dalam jajaran, top loser yakni saham Gudang Garam (GGRM, Rp64,000) -1125, United Tractors (UNTR, Rp17,200) -725, dan Unilever Indonesia (UNVR, Rp44,850) -700.

Cerdaslah dalam berinvestasi
By : dapurinvestasi.com
Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Senin 26 September 2016 : Profit Taking Investor Asing dan Kondisi Fundamental Perekonomian Indonesia Akan Menjadi Fokus Pasca Drama Bank Sentral

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Berbagai sentiment dan drama telah mengiringi IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan) pada perdagangan minggu kemarin, diantaranya The Fed dengan Fed Ratenya, Bank Of Japan dengan Suku Bunganya dan Bank Indonesia dengan 7 Days Reverse Repo.

Patut disyukuri bahwa IHSG menanggapi sentiment diatas dengan positif, dimana hingga akhir pekan IHSG ditutup mengalami penguatan mingguan sebesar +121.139 poin atau +2.30% pada level 5,388.908.

The Federal Reserve memutuskan untuk tidak menaikkan suku bunga acuan pada bulan September ini atau tetap pada range 0.25% – 0.50%, tetapi The Fed mengisyaratkan bahwa kesempatan terakhir dan kemungkinan kesempatan terbaik untuk menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat adalah pada bulan Desember, sama seperti tahun 2015 lalu.

Bank Of Japan memutuskan suku bunga acuan Jepang tetap pada level -0.10% dan memperkenalkan upaya stimulus “Yield Curve Control”, dimana Bank Of Japan menargetkan agar yield dari  Obligasi Pemerintah Jepang dengan jatuh tempo 10 tahun sebesar 0%, hal tersebut diharapkan akan memperbaiki kinerja perbankan yang mengalami kinerja buruk pasca diberlakukan kebijakan suku bunga negatif. Dengan adanya perbaikan dari sisi perbankan, maka diharapkan perekonomian Jepang akan mengalami perbaikan juga.

Bank Indonesia menurunkan rate dari 7 Days Reverse Repo setelah The Fed menunda kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, 7 Days Reverse Repo diturunkan menjadi 5% dari sebelumnya yang tercatat sebesar 5.25%, Deposit Facility Rate diturunkan menjadi 4.25% dan Lending Facility Rate diturunkan menjadi 5.75%. Dengan adanya penurunan rate dari Bank Indonesia diharapkan akan mampu menopang konsumsi masyarakat Indonesia, sehingga menstimulus pertumbuhan GDP Indonesia di sisa akhir tahun 2016 ini.

Ketiga sentiment diatas menurut dapurinvestasi.com merupakan sentiment positif yang mampu menopang perekonomian Indonesia tetap pada kata “Stabil”, sehingga pencapaian target pertumbuhan ekonomi yang menurut konsesus sebesar 5.1% dapat tercapai.

Tetapi walaupun pergerakan IHSG pada minggu lalu tercatat positif menanggapi sentiment yang ada, namun Investor Asing melakukan net sell mingguan sebesar Rp 44.01 Milyar. Mengapa hal tersebut penting?? Karena Investor Asing masih memiliki porsi yang besar dalam perdagangan IHSG, yaitu sekitar 40%, maka gerak – gerik Investor Asing cepat atau lambat akan mempengaruhi pergerakan IHSG.

Source : Dapur Investasi

Grafik diatas merupakan grafik akumulasi pembelian saham oleh Investor Asing dan return IHSG sejak awal tahun 2016 (Merupakan data mingguan IHSG). Terlihat sejak Agustus 2016 bahwa Investor Asing telah mengurangi pembelian dan cenderung melakukan aksi profit taking, dan penguatan IHSG pada minggu lalu tidak ditopang oleh akumulasi pembelian Asing. Nahh Investor disarankan agar sedikit waspada, sekali lagi yang ditekankan oleh dapurinvestasi.com adalah “Waspada” bukan takut, resah dan gelisah, karena faktor fundamental ekonomi Indonesia masih baik baik saja, bahkan diperkirakan jauh lebih baik karena The Fed menunda kenaikan suku bunga pada bulan September, sehingga capital outflow tidak signifikan terjadi.

Berdasarkan data yang dapurinvestasi.com hitung, rata – rata akumulasi pembelian oleh Investor Asing berada pada harga 5,163 dengan nilai akumulasi net buy sejak Januari 2016 hingga September 2016 mencapai Rp 34.6 Triliun. Nahh Investor dapat mengawasi dan mencermati level 5,163 tersebut, selama IHSG tidak bergerak kearah level tersebut, maka IHSG masih dalam kondisi yang aman.

Sentiment selanjutnya yang menjadi kekhawatiran dari Investor kedepan adalah penerimaan pajak Pemerintah yang diperkirakan akan mengganggu dari anggaran belanja Pemerintah, khususnya Tax Amnesty masih sampai saat ini menjadi concern utama Investor.

Source : pajak.go.id

Berdasarkan data statistik Tax Amnesty, perkembangan uang tebusan mengalami peningkatan yang sangat signifikan di bulan September, dimana merupakan periode akhir untuk tarif tebusan sebesar 2%. Hingga 25 September 2016, tarif tebusan telah mencapai Rp 42.2 Triliun atau mencapai 25.58% dari total target penerimaan Pemerintah yang sebesar Rp 165 Triliun. Apabila dibandingkan dengan 23 September 2016 yang baru mencapai Rp 36.1 Triliun, maka peningkatan terjadi sebesar Rp 6.1 Triliun hanya dalam 2 hari atau meningkat sebesar 16.90%. Jumlah harta yang dilaporkan adalah sebesar Rp 1,769.8 Triliun dan dana repatriasi mencapai Rp 92.6 Triliun.

Hasil Tax Amnesty diatas akan tercermin dalam pergerakan IHSG pada sisa bulan di tahun 2016, perspektif investor mengenai penerimaan pajak Pemerintah akan tercermin dalam keputusan Investasinya. Tetapi menurut dapurinvestasi.com, apabila penerimaan dan belanja Negara tidak mampu menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2016, maka sektor Konsumsi dan Investasi dapat menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, dan hal tersebut akan terealisasi mengingat berbagai stimulus telah dikeluarkan oleh Pemerintah dan Bank Indonesia. Pertumbuhan Ekspor dan Impor Indonesia juga berangsur – angsur mengalami perbaikan walaupun belum tercatat positif.

Yapp,, kami tetap optimis akan pergerakan IHSG di sisa tahun 2016, tetapi koreksi kecil akan tetap terjadi mengingat indikasi profit taking dari Investor Asing dan tetap cermati level 5,163.

Sekedar informasi, Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan pada akhir pekan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.71% pada level 18,261.45, S&P 500 tercatat melemah -0.57% pada level 2,164.69 dan Nasdaq tercatat melemah -0.63% pada level 5,305.75.

Pelemahan Bursa Wall Street sebagian besar dipengaruhi oleh penurunan harga minyak mentah dunia. Selain itu Apple Inc. dan Facebook Inc. juga menjadi pemberat Bursa Wall Street, dimana perusahaan riset asal Jerman yaitu GFK melaporkan penjualan iphone 7 diperkirakan akan lebih rendah dibandingkan pejualan produk Apple tahun lalu, hal tersebut didasari data dari Eropa dan Asia. Facebook mengalami pelemahan setelah mengungkapkan bahwa terjadi mark up terhadap rata – rata durasi tayang iklan video sebesar 60% – 80% yang menurut perseroan disebabkan oleh kesalah matrik dan hal tersebut telah diperbaiki oleh perseroan, perlu diketahui bahwa 90% pendapatan perseroan berasal dari periklanan.

Harga minyak mentah dunia tercatat bergerak mengalami pelemahan tajam pada akhir pekan, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -3.97% pada level 44.48 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -3.69% pada level 45.89 USD/barel. Pelemahan terjadi karena adanya spekulasi bahwa pertemuan Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) di Algeria pada 26-28 September mendatang tidak akan mencapai kata sepakat untuk membekukan produksi.

Pada hari ini Senin, 26 September 2016 kami memperkirakan bahwa IHSG mengalami pelemahan jangka pendek pada range 5,340 – 5,400. Potensi koreksi harian dapat terjadi dipengaruhi oleh pelemahan Bursa Wall Street dan pelemahan harga minyak mentah dunia.

Adapun pilihan saham dari kami adalah sebagai berikut : NRCA TP 620, WSBP TP 590, CTRP TP 750, TINS TP 850, LPPF TP 20100.

Note : TP = Target Price

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucuuu pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Putu Wahyu Suryawan, Hendri Prasetyo Utomo, Galuh Lindra Lazuardi Imani

Cerdaslah dalam berinvestasi,,…. ^   ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG CERIA DI AKHIR PEKAN, 23 September 2016

Menutup perdagangan akhir pekan ini (23/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tutup menguat tipis sebesar 8,646 poin atau 0,161% ke level 5.388,908 setelah pada saat pembukaan hari ini dicatat melemah ke level 5375,712. Aksi beli investor asing turut memberikan efek positif pada penutupan perdagangan hari ini.
Tercatat sebesar 117 saham yang bergerak naik, sedangkan 160 saham lainnya bergerak turun, dan 98 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 6,363 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.7,705 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.181,4 Milliar.
Tercatat empat sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri sebesar -1,80% disusul dengan sektor Konstruksi -0,38%. Sedangkan enam sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar dengan kenaikan sebesar 1,73% disusul dengan sektor Consumer Goods dengan kenaikan sebesar 0,97%.
Saham-saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Matahari Putra Prima TBK (MPPA) naik 5,31% ke Rp.1.985,-, PT Charoen Pokphand Indonesia TBK (CPIN) naik 4,46% ke Rp.3.510,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) naik 3,27% ke Rp.18.150,-.
Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Pembangunan Perumahan (Persero) TBK (PTPP) turun -5,56% ke Rp.4.250,-, PT Wiajaya Karya (Persero) TBK (WIKA) turun -5,11% ke Rp.2.600,- dan PT Adhi Karya (Persero) TBK (ADHI) turun -3,27% ke Rp.2.370,-.
Cerdaslah dalam berinvestasi
By : dapurinvestasi.com

IHSG Menguat, Menanti The FED

Pada awal perdagangan hari ini (21/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di buka melemah ke level 5.295,883. Namun akhirnya IHSG berhasil move on ke zona hijau dengan ditutup menguat sebesar 40,099 poin atau sebesar 0,756% ke level 5342,592. Para investor masih menunggu hasil rapat The FED yang akan melakukan kenaikan suku bunga acuan dengan peluang sebesar kurang lebih 20%. Selain itu Bank of Japan (BOJ) telah memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuan di level -0,1%..

Tercatat sebesar 165 saham yang bergerak naik, sedangkan 126 saham lainnya bergerak turun, dan 90 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 8,388 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.8,748 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.551,4 Milliar.

Tercatat dua sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar sebesar -0,16% disusul dengan sektor Agrikultur -0,03%. Sedangkan delapan sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri dengan kenaikan sebesar 2,59% disusul dengan sektor Konstruksi dengan kenaikan sebesar 1,84%.

Saham- saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Aneka Tambang (Persero) TBK (ANTM) naik 6,40% ke Rp.665,-, PT Bank Tabungan Negara (Persero) TBK (BBTN) naik 4,74% ke Rp.1.990,- dan PT Summarecon Agung TBK (SMRA) naik 3,93% ke Rp.1.720,-.

Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Semen Indonesia (Persero) TBK (SMGR) turun -1,75% ke Rp.9.825,-, PT Kalbe Farma TBK (KLBF) turun -1,45% ke Rp.1.700,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) turun -0,86% ke Rp.17.350,-.

#Cerdaslah dalam berinvestasi

By : dapurinvestasi.com

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part II)

Haii,, Hayy Kawula Investasi Indonesia,, kembali lagi nihh bersama dapurinvestasi.com,, kali ini kami akan membahas kembali ulasan yang berjudul “Ada Apa Dengan The Fed?? Part II”, kenapa Part II?? Karena Ada Apa Dengan Cinta aja sampe Part II, maka dapurinvestasi.com ngga mau kalah,, hehhe.. just kidding,,

Alasan yang benar adalah, karena penulis sudah pernah menulis “Ada Apa Dengan The Fed?? Part I” obviously..

Bisa di cek pada link berikut ini,,

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Nahh,, jadi di Part I itu, ada beberapa hal yang menjadi pertanyaan Investor, Bagaimana perkembangan The Fed di tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? dan Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Okehh mari kita bahas dengan seksama,, perlu pembaca ketahui bahwa The Fed dijadwalkan mengadakan rapat dan memberikan keputusan terkait suku bunga acuan Amerika Serikat pada tanggal 20 – 21 September 2016. Berbagai pro dan kontra kembali terjadi terkait kenaikan suku bunga acuan Amerika tahap II, data terakhir menunjukkan bahwa pertaruhan The Fed untuk menaikkan suku bunga pada bulan September ini hanya memiliki probabilitas sebesar 20%, karena beberapa pihak masih belum yakin bahwa perekonomian Amerika Serikat mampu bertahan apabila suku bunga dinaikkan kembali.

Tanggal 20 – 21 akan menjadi hari hangat untuk membahas The Fed ini.

Penulis akan menjabarkan beberapa indicator ekonomi Amerika, sehingga pada akhir tulisan ini, pembaca dan Investor dapat mengambil kesimpulan terhadap keputusan Investasinya,,

GDP AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Pada kuartal II 2016 GDP Amerika Serikat tercatat sebesar 1.1% QoQ, lebih rendah tinggi dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% QoQ, tetapi secara tahunan hanya tercatat sebesar 1.2% YoY, lebih rendah dari kuartal sebelumnya yang tercatat sebesar 1.6% YoY, walaupun secara tahunan masih melambat, tetapi terlihat bahwa GDP Amerika Serikat berangsur – angsur mengalami perbaikan.

Penulis memberikan point Netral untuk GDP Amerika Serikat.

INFLASI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Source : Trading Economics

Inflasi Amerika Serikat untuk bulan Agustus tercatat tumbuh sebesar 0.2% MoM, angka tersebut lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat hanya sebesar 0.0% MoM. Secara tahunan inflasi tercatat tumbuh lumayan sebesar 1.1% YoY, angka tersebut mengalami peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.8% YoY.

Dan apabila dilihat secara jangka panjang, inflasi Amerika Serikat telah mengalami perbaikan sejak awal tahun 2015.

Point yang cukup bagus dan positif dari segi inflasi untuk Amerika Serikat.

ANGKA PENGANGGURAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Data Initial Jobless Claims pada pekan lalu dirilis sebesar 260,000, memang mengalami peningkatan dibandingkan pekan sebelumnya yang tercatat sebesar 259,000, tetapi terlihat pada grafik sebelah kiri, bahwa terjadi trend penurunan angka pengangguran dari yang tercatat sebesar 270,000.

Dalam lima tahun terakhir pun Initial Jobless Claims mengalami trend penurunan yang cukup kuat. Hal ini mengindikasikan bahwa Amerika Serikat berhasil menekan angka pengangguran.

Point Positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Continuing Jobless Claims Amerika Serikat tercatat sebesar 2,143,000 pada pekan lalu, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2,144,000 dan terlihat pada grafik sebelah kiri terjadi trend penurunan.

Apabila kita perpanjang data hingga lima tahun terakhir, terlihat trend penurunan angka pengangguran Amerika Serikat cukup kuat.

Point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Unemployment Rate juga sudah tercatat sebesar 4.9%, sesuai dengan target The Fed yang berada dibawah 5%. Dan apabila dilihat secara jangka panjang, Amerika Serikat telah berhasil menekan angka pengangguran dari sekitar 9% menjadi 4.9% dalam lima tahun terakhir.

Point positif lagi dan lagi untuk Amerika Serikat.

ANGKA KONSUMSI AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat tercatat stagnan sebesar 89.8 pada bulan September, walaupun sejak Oktober 2015 tercatat fluktuatif, tetapi dalam lima tahun terakhir Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat mengalami peningkatan.

Point positif lagi untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Tetapi Penjualan Ritel Amerika Serikat tercatat tidak terlalu memuaskan, dimana data terakhir pada bulan Agustus menunjukkan penurunan sebesar -0.3% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.1% MoM, dan secara tahunan juga tercatat sebesar 1.9% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2.4% YoY.

Apabila kita lihat secara jangka panjang, maka terlihat saat ini pertumbuhan penjualan ritel Amerika Serikat mengalami konsolidasi dan cenderung mengalami pelemahan.

Dalam hal ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Data Personal Income Amerika Serikat pada bulan Juli tercatat tumbuh 0.4% MoM, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.3% MoM. Namun secara jangka panjang tercatat flat, hal ini mengindikasikan bahwa Personal Income Amerika Serikat belum bertumbuh.

Yahh,, kita anggap netral aja yaa untuk indicator ini.

Source : Trading Economics

Selanjutnya adalah data Personal Spending pada bulan Juli tercatat mengalami penurunan menjadi 0.3% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.5% dan secara jangka panjang tercatat flat.

Dari segi ini Amerika Serikat mendapat point negatif.

Source : Trading Economics

Dari segi Non – Farm Payrolls pada bulan Agustus tercatat sebesar 151,000, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 275,000 dan secara jangka panjang tercatat flat dan cenderung mengalami pelemahan.

Nahh, untuk Non – Farm Payrolls memang kita berikan point negative terlebih dahulu.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data Penjualan Rumah baru pada bulan Juli 2016, tercatat sebesar 654,000 jauh lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 582,000 dan secara jangka panjang dalam lima tahun terakhir menunjukkan trend menguatan yang cukup kuat.

Kita kasih point positif untuk Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Data Manufacturing PMI Amerika Serikat bulan Agustus tercatat mengalami penurunan menjadi 52, dari bulan Juli yang tercatat sebesar 52.9, apabila dilihat dari grafik jangka panjang, telah terjadi rebound dari Manufacturing PMI Amerika Serikat, dan saat ini Manufacturing PMI Amerika Serikat masih berada diatas level aman 50.

Yaa,, untuk pencapaian ini kita berikan point positif,,

Source : Trading Economics

Sedangkan untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat tercatat -0.4% YoY pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.1% YoY, dan secara jangka panjang memang trend pertumbuhan produksi manufaktur mengalami penurunan.

Penulis memberikan point negatif untuk pertumbuhan produksi manufaktur Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Industrial Production Amerika Serikat pada bulan Agustus tercatat mengalami penurunan -0.4% MoM, jauh lebih rendah dari bulan sebelumnya yang sebesar 0.6% MoM dan secara tahunan masih berada pada zona negatih yaitu -1.1% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -0.6% YoY.

Secara jangka panjang pertumbuhan Intial Production terus mengalami pelemahan, tetapi berhasil membaik pada tahun 2016.

Tetapi berdasarkan rilis data terbaru, maka penulis memutuskan untuk memperikan poin negatif untuk Industrial Production Amerika Serikat.

NERACA PERDAGANGAN AMERIKA SERIKAT

Source : Trading Economics

Apabila diperhatikan dengan seksama, sebenarnya neraca perdagangan Amerika Serikat mengalami perbaikan namun tidak terlalu signifikan, dan masih mengalami deficit neraca perdagangan. Ekspor mengalami penguatan sejak tahun 2012 dan melemah kembali pada 2015 karena USD mengalami penguatan akibat peningkatan suku bunga acuan Amerika Serikat untuk pertama kalinya sejak stimulus diberikan. Import juga cenderung mengalami pelemahan.

Sesungguhnya peningkatan suku bunga The Fed sangat berpengaruh terhadap ekspor Amerika Serikat, dimana barang dari Amerika Serikat akan terlihat lebih mahal karena USD yang mengalami penguatan terhadap beberapa mata uang negara di dunia.

Penulis memberikat point netral untuk neraca perdagangan Amerika Serikat.

Tetapi Fokus dari The Fed sendiri adalah bagaimana menekan angka pengangguran, sehingga mampu menciptakan lapangan kerja, selanjutnya dapat meningkatkan konsumsi masyarakat dan meningkatkan Inflasi, dan yang terakhir adalah menumbuhkan laju GDP Amerika Serikat.

Source : Trading Economics

Berdasarkan data indikator diatas, dimana data positif sebesar 7 point lebih besar dibandingkan data negatif yang sebesar 5 point dan data netral yang sebesar 3 point.

Maka bagi perkiraan penulis, Kondisi perekonomian Amerika Serikat sudah lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 dan tahun – tahun sebelumnya. Amerika Serikat sudah lebih siap untuk menaikkan suku bunga acuan pada tahun 2016 dibandingkan aksi nekat The Fed pada tahun 2015 lalu, tetapi apapun keputusan The Fed pada tanggak 21 September 2016 nanti, sudah mutlak keputusan yang terbaik bagi The Fed dan Amerika Serikat. Penulis hanya memperkirakan bahwa The Fed akan tetap meningkatkan suku bunga pada tahun 2016 ini, namun akan sama polanya seperti tahun 2015, yaitu pada bulan Desember, karena menurut penulis masih ada 5 indikator yang harus dipenuhi untuk benar – benar menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Selain itu Pemilu Amerika Serikat yang akan diselenggarakan pada bulan November akan menjadi pertimbangan The Fed juga.

Wokehhh,, pembahasan The Fed sudah terpenuhi,, tetapi bagaimana dampaknya untuk Indonesia??

Jujur menurut penilaian penulis, hingga bulan Agustus 2016, perekonomian Indonesia cukup baik dibandingkan pada tahun 2015. Pembaca bisa melihat ulasannya pada link berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/pahami-indikator-ekonomi-sebelum-khawatir-akan-pelemahan-indeks-harga-saham-gabungan.html

Disisa tahun 2016 ini, Indonesia harus berkutat dengan penerimaan pajak yang terancam tidak mencapai target, apabila hal ini terus terjadi, maka dampak kenaikan suku bunga The Fed tahap II akan cukup besar bagi Indonesia,, walaupuun, walaupunnya di Bold, masih lebih kuat dibandingkan tahun 2015 lalu, karena menurut penulis perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini cukup stabil.

Sekedar Informasi, bahwa Realisasi penerimaan pajak hingga 13 September 2016 sudah mencapai Rp 656,11 triliun. Jumlah itu sekitar 48,41% dari target pajak di APBN-P 2016. Namun, jika dibandingkan dengan outlook penerimaan pajak realistis yang dipatok pemerintah, pencapaian itu sudah  57,6%. Dalam APBN-P target pajak yang ditetapkan sebesar Rp 1.355,2 triliun, sedangkan outlook realistisnya Rp 1.139,2 triliun.

Sekian ulasan kami mengenai Ada Apa Dengan The Fed?? Part II, semoga dapat menjadi panduan Investasi bagi Kawula Investasi,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Derita Cap Kaki Tiga, Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd dan PT Kino Indonesia Tbk,, Lagi – Lagi Soal Logo??!!

Yoo yooo,, apa kabar Kawula Investasi??, semoga makin cerdas dalam berinvestasi yaa,, kembali lagi bersama dapurinvestasi.com dan lagi – lagi membahas mengenai investasi Indonesia,, okehh langsung ajaahh,,

Kenapa sih judul diatas sedikit horor dan ada kata “Derita” dan “Lagi – Lagi”??, karena perlu pembaca ketahui bahwa Cap Kaki Tiga yang kita kenal sebagai merek dagang minuman penyegar telah dua kali mengalami sengketa merek dan logo, sepertinya logo perusahaan gregett banget, sampai nemu masalah berkali – kali.. hehehe.

Okehh mari kita ceritakan sejarahnya,,

Jadi begini, merek Cap Kaki Tiga seperti yang terlihat pada gambar diatas adalah milik Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yang telah berdiri sejak tahun 1937 di Singapura dan bergerak di bidang kesehatan yang memproduksi berbagai obat kesehatan termasuk minuman penyegar. Tetapi khusus minuman penyegar, lambang yang digunakan adalah MEREK “CAP KAKI TIGA” dengan lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab bersama-sama dengan logo “Cap Kaki Tiga” sebagai satu kesatuan, seperti gambar berikut ini.

Pendaftaran merek “Cap Kaki Tiga” beserta etiketnya oleh Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yaitu di Singapura pada 14 Februari 1940 dan Malaysia pada 30 April 1951.

Nahh,, pada tahun 1978 hadirlah Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd di Indonesia dengan memberikan lisensi untuk memproduksi, menjual, memasarkan dan mendistribusikan minuman penyegar “Cap Kaki Tiga” kepada PT Sinde Budi Sentosa yang merupakan perusahaan Farmasi di Indonesia, dan PT Sinde Budi Sentosa memberikan hak pendistribusiannya kepada PT. Duta Lestari (yang kini merupakan anak usaha PT Kino Indonesia Tbk). Menurut data observasi kami, ketiga pihak tersebut memang bersahabat, sehingga kondisi bisnis dapat terjalin kondusif.

Seiring berjalannya waktu ternyata jalinan kasih diantara mereka mengalami masalah, dan persahabatan pun berakhir dengan gugatan di pengadilan.

Kasus yang terjadi adalah ternyata karena “miss komunikasi” antara PT Sinde Budi Sentosa dan Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd, bahwa PT Sinde Budi Sentosa mendaftarkan merek “Cap Kaki Tiga” hanya berupa tulisan “Cap Kaki Tiga” dan logo “Cap Kaki Tiga”. Lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab bersama-sama dengan logo Cap Kaki Tiga sebagai satu kesatuan tidak dilaporkan atas nama Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd. Jadi singkatnya Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual hanya mengetahui bahwa merek dagang dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yaa hanya tulisan “Cap Kaki Tiga” dan logo “Cap Kaki Tiga”.

Dan pada 25 November 1991 PT Sinde Budi Sentosa sendiri mendaftarkan ke Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual terkait merek dagang minuman penyegar dengan lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab atas nama PT Sinde Budi Sentosa, dan mendapat perpanjangan pada 12 Juni 2002.

Entah terlambat menyadari atau tidak mengetahui hal tersebut, akhirnya baru pada 12 April 2010 Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd mengajukan gugatan pada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, lalu gugatan tersebut ditolak begitu saja, karena berdasakan ketentuan Pasal 69 ayat 1 Jo Pasal 28 Undang- undang No. 15 tahun 2001 tentang Merek yaitu : Gugatan pembatalan sesuatu Merek terdaftar hanya dapat diajukan terhadap Merek yang masa Pendaftarannya belum melebihi batas waktu 5 ( lima) tahun, terhitung sejak tanggal penerimaan Pendaftaran merek yang bersangkutan. Maka berdasarkan putusan pengadilan tersebut, raib sudah logo badak dari “Cap Kaki Tiga”.

Bersamaan setelah peristiwa itu terjadi Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd tidak memperpanjang kontrak kerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa karena faktor beberapa hal, dan PT Sinde Budi Sentosa memproduksi minuman penyegar terbaru dengan merek “Cap Badak”, tentu saja ada gambar badaknya, seperti gambar berikut.

Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd pun mengalihkan merek dagangnya kepada PT Kino Indonesia Tbk yang merupakan Induk dari PT Dutalestari Sentratama. Jadi dari sebelumnya yang hanya distributor, maka PT Kino Indonesia Tbk saat ini memperoleh lisensi “Cap Kaki Tiga” dan diizinkan untuk memproduksi, menjual, memasarkan, mengiklankan dan melakukan distribusi, tentu saja logonya menjadi lebih sederhana, seperti gambar berikut ini.

Sekedar informasi, bahwa sebelum sengketa diatas terjadi PT Sinde Budi Sentosa sudah tidak bekerja sama lagi dengan PT. Duta Lestari sebagai distributor.

Sejak peristiwa diatas, hubungan masing – masing pihak menjadi tidak kondusif dan masing – masing pihak saling menuduh satu sama lain merusak pangsa pasar minuman penyegar dan menyebabkan kerugian.

Well,, apabila uraian diatas terlihat cenderung memihak, maka perlu pembaca ketahui uraian diatas bukan maksud penulis untuk memihak pihak tertentu, penulis bukan merupakan brand ambassador salah satu pihak diatas dan penulis bukan pengguna setia salah satu produk diatas, yaa kalo penulis lagi sakit panas dalam atau bibir pecah – pecah biasanya minum jamu – jamuan saja sambil nonton iklan minuman penyegar dari CJR (yang dulunya Coboy Junior) ,, hehehe…

Lanjutt,, masalah selanjutnya dan sangat hangat baru baru ini adalah logo “Cap Kaki Tiga” yang merupakan logo Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd digugat karena cenderung mirip logo dalam bendera negara persemakmuran Inggris yaitu Isle of Man.

Yang kiri merupakan “Cap Kaki Tiga” dan yang kanan merupakan bendera dari negara Isle Of Man.

Jadi pada suatu hari datanglah tiba – tiba Russel Vince yang merupakan Warga Negara Inggris melayangkan gugatan kepada pengadilan Indonesia terkait logo “Cap Kaki Tiga” yang sama dengan bendera Isle Of Man, padahal logo Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd tersebut sudah ada sejak tahun 1937.

Alasan Russel Vince melayangkan gugatan di Indonesia karena doi beranggapan bahwa produk minuman dengan merek tersebut hanya dijual di Indonesia, padahal menurut Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi selaku produsen dari minuman penyegar “Cap Kaki Tiga”, produk “Cap Kaki Tiga” sudah di produksi, didistribusikan dan dijual di Malaysia dan Singapura, dan pada 1980 di Indonesia.

Saat ini, Cap Kaki Tiga juga telah dijual di Thailand, Brunei, Srilanka, India, dan negara lain. Menurutnya, pernyataan produk Cap Kaki Tiga hanya dijual di Indonesia adalah tidak benar.

Tetapi ternyata gugatan dari Russel Vince menang dan menurut putusan MA dalam perkara Nomor.85 PK/Pdt.Sus-HKI/2015,  23 September 2015 jo Putusan MA No.582 K/Pdt.Sus-HakI/2013 tanggal  9 Januari 2014  jo  Putusan Pengadilan Niaga No. 66/Merek/2012 PN. Niaga Jakarta Pusat pada 5 Juni 2013, produk apapun yang mirip dengan lambang negara Isle Of Man tidak boleh di distribusikan dan diperjual belikan di Indonesia, serta tidak diperbolehkan pihak manapun untuk mengajukan pendaftaran mengenai logo apapun yang mirip dengan bendera Isle Of Man.

Namun,, perlu diingat juga bahwa dalam putusan tersebut, tidak dilarang untuk melakukan produksi, distribusi dan penjualan akan produk.

Jadii,, yaa sebenarnya yang dipermasalahkan karena logo yang sama dengan bendera Isle Of Man, bukan karena produk yang sama dengan PT Kino Indonesia Tbk.

Bener juga sihh,, jadi nanti kemungkinan besar gambar kaki tiga akan dirubah (menurut asumsi penulis) dan gugatan masalah logo tidak akan terulang kembali, kecuali kalo ternyata lambang bendera Isle Of Man ada gambar kaki tiga dan berisikan “Larutan Cap Kaki Tiga” dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab,, hehe. Sendainya seperti itu wahh, berarti Isle Of Man nya sedang panas dalam.. hahaha.

Okehh,, cukup yaa cerita sejarah dan hukumnya, mengingat bidang dari penulis bukan sejarawan atau pakar hokum, maka kita bahas saja bagai mana dampak peristiwa – peristiwa di atas, nah untuk seluruh permasalahan dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd, mari kita doakan supaya permasalahan cepat teratasi dan bisnis lancar kembali.

PT Kino Indonesia Tbk merupakan emiten yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia pada 11 Desember 2015 dengan kode saham “KINO”. Perseroan merupakan pemegang lisensi dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd untuk merek dagang “Cap Kaki Tiga” pada 28 April 2011, terakhir di addendum pada 15 Januari 2015 dan berlaku sampai 27 April 2026. Perjanjian memiliki jangka waktu 15 tahun dan dapat diperpanjang, untuk pembayaran royalti dihitung berdasarkan formula khusus.

Ini yang menjadi masalah bagi Investor, Investor bertanya – tanya bagaimana nasib KINO apabila penjualan dengan merek “Cap Kaki Tiga” ditarik atau dilarang beredar di Indonesia.

Semenjak tanggal 2 September 2016 saat dihapuskan merek dagang tersebut oleh Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, saham KINO telah mengalami penurunan sebesar -21.81% pada level 4,750 di tanggal 16 September 2016, pada hari itu juga KINO nyaris mengalami auto reject bawah, karena penurunan harian terlalu dalam sebesar -10.00%. Tetapi memang semenjak menyentuh harga tertinggi pasca IPO, yaitu pada level 7,175 di tanggal 19 Juli 2016, penurunan KINO sudah sebesar -33.80%.

Source : Chart Nexus

Mari kita bahas kegalauan Kawula Investasi yang menyelimuti pikiran dan hari saat ini.

KOMPOSISI PENDAPATAN PT KINO INDONESIA TBK

Source : Dapur Investasi

Gambar grafik diatas merupakan seluruh kontribusi masing – masing divisi bisnis KINO, pembaca bisa lihat pada grafik diatas, yaitu pada garis orange yang merupakan kontribusi penjualan divisi minuman KINO terhadap total penjualan KINO.

Pada kuartal II 2016 kontribusi divisi Minuman KINO tercatat sebesar 34.68% dari total penjualan, merupakan kontribusi penjualan terbesar kedua setelah divisi Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh.

Angka 34.68% itu adalah setara dengan Rp 672,389,071,561,- dari total penjualan kuartal II 2016 dan setara dengan Rp 1,344,482,000,000,- dari total penjualan tahun penuh 2015.

Menurut data perseroan, tiga kontribusi terbesar dari divisi minuman adalah “Cap Kaki Tiga”, “Panda” dan “Panther”, tetapi kami belum memiliki data pasti berapa sebenarnya kontribusi dari “Cap Kaki Tiga”.

Apabila penulis boleh berasumsi, maka angka divisi Minuman akan penulis bagi tiga, dan angka yang didapat adalah PT Kino Indonesia Tbk akan kehilangan sekitar Rp  448,160,666,667,- setiap tahunnya berdasarkan setahun penjualan 2015 atau setara dengan 13% dari total kontribusi Penjualan KINO, berdasarkan rata – rata kontribusi sejak tahun 2012 – Kuartal II 2016.

Bagi penulis, kontribusi “Cap Kaki Tiga” yang sebesar 13% dari total penjualan, merupakan angka yang cukup besar dan apabila penjualan “Cap Kaki Tiga” mengalami kendala, maka secara otomatis kinerja keuangan KINO akan cukup mengalami kendala.

Yang kedua adalah dari segi divisi Farmasi, karena memang perlu pembaca ketahui bahwa lisensi dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd, selain untuk minuman penyegar, tapi juga untuk divisi Farmasi dengan segala merek menggunakan “Cap Kaki Tiga”.

Apabila kita lihat, kontribusi rata -rata penjualan Farmasi terhadap seluruh penjualan KINO adalah sebesar 0.25% berdasarkan data dari 2012 – Kuartal II 2016, pada tahun 2015 kontribusi penjualan Farmasi adalah sebesar Rp 6,721,000,000,-, sehingga bisa dibayangkan kontribusi dari Farmasi, walaupun kecil tetapi dapat menghidupi bisnis dari KINO.

Tetapi sekali lagi Investor tidak perlu khawatir, karena Investor harus mencermati isi dari putusan pengadilan yang mana tidak tercantum larangan untuk “memproduksi, mendistribusikan, memasarkan dan melakukan penjualan”. Sekali lagi tidak tercantum larangan diatas. Maka perjanjian kerja sama antara PT Kino Indonesia Tbk dan Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd tetap akan berjalan hingga 27 April 2026.

Masyarakat tetap dapat menikmati dan mengkonsumsi kualitas produksi dari “Cap Kaki Tiga”, Cuma mungkin menurut penulis logo “Kaki Tiga” sudah tidak tercantum lagi dalam produk KINO, tetapi tulisan “Cap Kaki Tiga” masih tercantum. (Asumsi penulis).

Nahh,, kekhawatiran akan issue diatas bagi penulis sudah jelas dipaparkan, sehingga Investor tidak perlu panik karena Issue, karena semua sudah ada jalan keluarnya.

Yang ingin penulis sampaikan adalah, Investor sebaiknya fokus pada kinerja keuangan dan fundamental KINO sendiri dan menilai apakah harga saham saat ini sudah mencerminkan kondisi fundamental dari KINO itu sendiri.

Berikut kami tampilkan kembali komposisi penjualan KINO dan pertumbuhan penjualan masing – masih divisi.

Source : Dapur Investasi

Source : Dapur Investasi

Terlihat pada gambar, bahwa kontribusi penjualan dari divisi Minuman mengalami trend penurunan sejak tahun 2012, padahal divisi minuman menopang kontribusi kedua terbesar dari total penjuala KINO dan kontribusi penjualan dari divisi Pemeliharaan dan perawatan tubuh tercatat relatif flat sejak tahun 2012. Nahh ini yang perlu menjadi fokus Investor, malah divisi Makanan dan Farmasi, walaupun kontribusinya terbilang kecil, tetapi secara konsisten bertumbuh menambah kontribusi terhadap penjualan setiap tahunnya.

Dari segi pertumbuhan, malah yang memiliki pertumbuhan tertinggi berasal dari divisi Makanan dan Farmasi, pada kuartal II 2016 divisi farmasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi diantara divisi lainnya, yaitu 96.90% YoY, dibanding kuartal II 2015. Selanjutnya disusul oleh divisi Makanan yang tercatat tumbuh 36.98% YoY.

Dan untuk divisi yang mempunyai kontribusi besar, malah mencatatkan pertumbuhan yang relatif kecil dan cenderung mengalami penurunan pertumbuhan setiap tahunnya. Divisi Pemeliharaan dan perawatan tubuh hanya tumbuh sebesar 7.21% YoY dan divisi Minuman hanya tumbuh sebesar 6.30% YoY.

Apabila dilihat dari trendnya, sepertinya KINO mengalami kesulitan dalam menjangkau pangsa pasar yang lebih luas lagi untuk divisi Minuman dan Perawatan Tubuh.

Source : Dapur Investasi

PT Kino Indonesia Tbk melakukan IPO pada Desember 2015, dan apabila dilihat pada grafik total penjualan KINO, sebelum IPO selalu mencatatkan pertumbuhan diatas 30% YoY, tetapi pasca IPO, yaitu pada 2015 hanya mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7.92%, memang pada tahun 2015 terjadi perlambatan ekonomi baik di Indonesia maupun di Dunia, Karena The Fed menaikkan suku bunga acuan Amerika pada pertama kalinya.

Source : Dapur Investasi

Tetapi KINO secara konsisten memperbaiki margin laba bersih sejak tahun 2010 hingga kuartal II 2016, meskipun marjin laba bersih belum tercatat double digit, tetapi hal tersebut telah mampu menopang pertumbuhan laba bersih dari KINO, perseroan cukup handal dalam melakukan efisiensi.

Source : Dapur Investasi

Pertumbuhan laba bersih KINO secara rata – rata memang cukup tinggi, yaitu sekitar 128% YoY sejak tahun 2010, tetapi pada kuartal II 2016 hanya mampu tumbuh 29.99% YoY dari  kuartal II 2015. Sebenarnya angka 29.99% sudah cukup tinggi, dan terlihat pada tahun 2015, saat ekonomi sedang lesu, KINO mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 152.53% YoY.

Selanjutnya, bagaimana dengan ROA, ROE, DER dan DEA??

Source : Dapur Investasi

Secara rata – rata sejak tahun 2010 hingga tahun penuh 2015, ROA dan ROE dari KINO konsisten mengalami peningkatan, walaupun ROE tertinggi pada tahun 2011, belum mampu dilampaui KINO kembali. Tetapi dari indicator ROA dan ROE kita dapat melihat bahwa KINO cukup efektif dan efisien dalam mengalokasikan Asset dan Ekuitas, sehingga menciptakan ROA dan ROE yang cukup baik.

Source : Dapur Investasi

Dari segi rasio risiko Hutang, yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan Debt to Asset Ratio (DEA), KINO mencatatkan risiko yang minim pasca IPO, hal tersebut cukup wajar karena pada saat IPO akan menambah ekuitas dan asset, sehinggaDER dan DEA dapat terlihat kecil.

Tetapi memang sejak tahun 2010, rasio DEA dan DER sudah terlihat mengalami trend penurunan dan mengindikasikan bahwa KINO cukup handal dalam menggunakan Hutang untuk menumbuhkan Ekuitas dan Asset.

Nahh berdasarkan penilaian sederhana rasio – rasio diatas, kita dapat ketahui bahwa KINO jago dalam melakukan efisiensi dan efektifitas, tetapi KINO harus tetap mencari solusi untuk mempertahankan pertumbuhan penjualan di masa yang akan datang, strategi pemasaran atau penjangkauan pangsa pasar harus terus diperkuat. Karena kalo hanya modal efisiensi, suatu saat bisnis KINO akan tergerus oleh perubahan jaman.

Sebenarnya menurut Euromonitor, minuman herbal Panda dan minuman penyegar “Cap Kaki Tiga” dari KINO memiliki pangsa pasar masing – masing 35.7% dan 46.2%. selain itu menurut Top Brand Awards, “Cap Kaki Tiga” berada pada urutan pertama dengan pangsa pasar sebesar 46.3%

Source : Top Brand Awards

KINO juga telah melakukan sejumlah ekspansi dengan memperluas jaringan bisnis di regional Asia Tenggara, dengan membuka cucu usaha dibawah Kino International Pte.Ltd di negara Malaysia, Filipina, Vietnam dan Singapura. Fokus perseroan adalah pada bisnis Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh dan meluncurkan merek pertama pada tahun 2004, yaitu “Ellips Cologne”.

Produk dari KINO saat ini diantaranya :

Produk Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh : Ellips dan Sasha (Perawatan Rambut), B&B, Eskulin Kids, Master Kids, Resik-V, Absolute, Ovale.

Produk Makanan : Snackit, Kino Candy, Segar Sari, Chocofun.

Produk Minuman : “Cap Kaki Tiga”, Cap Panda, Panther dan Tampico.

Produk Farmasai : Obat batuk madu “Cap Kaki Tiga” dan Balsem “Cap Kaki Tiga”

Setelah memahami kinerja dari KINO, mari kita lihat wajar atau tidak saham KINO di pasar Bursa Efek Indonesia.

Source : Stock Bit

Dari data Annualized P/E diatas kita bisa lihat bahwa saat ini harga KINO sedikit lebih murah dibandingkan saham sejenis dalam sektornya, tetapi masih lebih menarik AISA dari segi P/E.

Tetapi walaupun P/E KINO tercatat masih wajar, dan KINO mempunyai bisnis yang cukup terdiversifikasi dengan baik dibidang consumer goods, Investor harus tetap memperhatikan lini bisnis Minuman dan Perawatan Tubuh dari KINO yang mencatatkan kinerja tidak terlalu bagus dari segi pertumbuhan, padahal kedua lini tersebut merupakan ujung tombak perusahaan.

Source : Chart Nexus

Saran Penulis

Saran dari penulis berdasarkan kinerja keuangan diatas adalah menunggu penurunan dari saham KINO mereda, dan saat itu terjadi Investor dapat mulai melakukan akumulasi pembelian. Untuk Investor dengan range waktu jangka pendek, dapat mengakumulasi saham KINO pada range 4,500 – 4,600, karena pada support level tersebut diperkirakan akan terjadi rebound rebound lucu, hehe. Tetapi untuk Investor jangka panjang, sebaiknya menunggu akumulasi pada area dibawah 4,500. Karena untuk harga dibawah 4,500 sudah terlihat lebih wajar berdasarkan nilai fundamental, dibandingkan harga saham di Bursa Efek Indonesia saat ini.

Sekian tulisan dan uraian kali ini,, semoga bermanfaat dan bisa dijadikan panduan investasi bagi Kawula Investasi, sehingga tetap berinvestasi dengan cerdas dan tidak menjadikan paradigma bahwa Saham atau Pasar Modal itu adalah Judi,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Senin 19 September 2016 : Penurunan IHSG Masih Jauh Dari Kata Selesai,,

Selamat pagii Kawula Investasii,, dibaca dulu yaa sruput paginyaa,, semoga bisa menjadi panduan Investasi hari ini,,

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.49% pada level 18,123.80, S&P 500 tercatat melemah -0.38% pada level 2,139.16 dan Nasdaq tercatat melemah -0.10% pada level 5,244.57.

Pelemahan Bursa Wall Street terjadi, lagi lagi dipengaruhi oleh pelemahan harga minyak mentah dunia yang turut menyeret saham berbasis komoditas. Keputusan The Fed pada rapat FOMC tanggal 21 – 22 September nanti tetap menjadi fokus Investor. Sektor keuangan juga mengalami guncangan setelah Departement Kehakiman mengenakan denda terhadap Deutsche Bank AG atas penyelesaian pinjaman hipotek dan kegiatan sekuritisasi selama gelembung perumahan di era 2000-an, diperkirakan denda yang dikenakan adalah sebesar $ 14 Milyar.

Selain sentiment diatas, data Inflasi Amerika Serikat juga mengalami perbaikan pada bulan Agustus, dimana Inflasi tercatat tumbuh 0.2% MoM lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat hanya sebesar 0.00% MoM, dan secara tahunan tercatat sebesar 1.1% YoY, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar 0.8% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa inflasi Amerika semakin menguat dan mendekati target dari The Fed, serta bisa menjadi bahan pertimbangan The Fed pada rapat pekan ini.

Pada Jumat akhir pekan lalu harga minyak mentah dunia kembali mengalami pelemahan, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -2.00% pada level 43.03 USD/barel dan minyak Brent mengalami pelemahan sebesar -1.76% pada level 45.77 USD/barel. Pelemahan terjadi negara anggota OPEC yaitu Libya dan Nigeria yang mana supply minyak negara tersebut telah berkurang karena konflik domestik, saat ini sedang mempersiapkan untuk menambah ekspor dalam beberapa minggu. Surplus minyak akan lebih lama dari perkiraan dengan permintaan yang berkurang dan penambahan output produksi. Tetapi pada pagi ini Senin, 19 September 2016 harga minyak mentah dunia mengalami teknikal rebound, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +1.07% pada level 43.49 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +1.14% pada level 46.29 USD/barel.

Dari dalam negeri, data penjualan mobil Indonesia tumbuh sebesar 6.4% YoY pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 12.5% YoY, tetapi masih lebih tinggi dibandingkan estimasi pasar yang sebesar 4.5% YoY. Selain itu menurut Menteri Keuangan Sri Mulyani, sampai dengan Agustus tahun ini, realisasi penerimaan negara baru mencapai 46,1% dari target penerimaan dalam APBN-P 2016 yang sebesar Rp 1.784 triliun, tetapi pemerintah belum akan mengubah proyeksi penerimaan negara. Pemerintah, masih memperkirakan penerimaan pajak akan meleset Rp 219 triliun dan Pemerintah akan kembali menaikkan defisit Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) tahun 2016 sebesar 0,2% dari Produk Domestik Bruto (PDB) seiring makin besarnya selisih target penerimaan negara dari realisasinya (shortfall).

Dengan kenaikan defisit 0,2% dari PDB, maka total defisit APBN-P 2016 akan mencapai 2,7%. Sebelumnya dalam APBN-P 2016 yang disepakati pemerintah dan DPR, target defisit dipatok 0,35% dari PDB. Jumlah itu kemudian direvisi menjadi 3,5% dari PDB dengan asumsi ada shortfall penerimaan pajak sebesar Rp 219 triliun.

dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana sampai hari ini tercatat uang tebusan mengalami peningkatan sebesar Rp 3.7 Triliun menjadi Rp 16.8 Triliun dari sebelumnya pada Jumat, 16 September 2016 yang tercatat sebesar Rp 13.1 Triliun atau telah mencapai 10.18% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 714.4 Triliun dari 81,554 wajib pajak.

IHSG pada akhir pekan lalu memang diperdagangkan cukup fluktuatif, dimana sempat dibuka positif pada awal perdagangan, tetapi selama jam perdagangan bergerak dari positif ke negatif, kembali ke positif lagi, lalu menuju negatif, dan akhirnya berhasil ditutup di zona positif walaupun hanya tipis sebesar +1.950 poin atau +0.037% pada level 5,267.769.

Melihat data ekonomi diatas dan sangat fluktuatifnya pergerakan IHSG, kami masih menilai bahwa penurunan IHSG jauh dari kata selesai, perkembangan ekonomi Indonesia di sisa tahun 2016 terlihat sedikit rapuh karena penerimaan pajak pemerintah yang masih terbilang kecil. Karena belum kuatnya kondisi fundamental dalam negeri, maka Investor masih akan menunggu kepastian dari keputusan The Fed pada pekan ini. IHSG pada hari ini diperkirakan akan bergerak pada range 5,220 – 5,303.

Investor disarankan untuk menunggu terlebih dahulu dalam melakukan Investasi, sebaiknya tunggu hingga The Fed memberikan keputusan dan penurunan IHSG mereda. Investor tidak perlu khawatir, karena tanda – tanda berakhirnya penurunan IHSG pasti akan muncul, sehingga Investor tidak perlu takut akan kehilangan potensial gain.

Stock Pick : PWON (Trading Buy) dan EXCL (Buy On Weakness).

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan Asyyiiik (y 2, i 3, k 1) pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sharing Sharing Lucu Dapur Investasi di cozora.com

Heii,, Hayy,, Kawula Investasi Indonesia,, semoga semua dalam keadaan baik dan tetap cerdas dalam berinvestasi,,

guyss,, Dapur Investasi mau live cast  lohh di cozora.com dan kita akan membahas mengenai betapa penting Investasi itu dilakukan. “Why Investing Is Important”.

Jadwalnya kapan?? tentunya saat malam minggu tiba yaitu Sabtu, 24 September 2016 jam 19.00 WIB atau 07.00 PM WIB.

Event ini merupakan salah satu aksi kami untuk selalu mensosialisasikan dan memandu paradigma Investasi di Indonesia, sehingga kedepannya masyarakat Indonesia menjadi Investor yang teredukasi dan tidak beranggapan bahwa Investasi itu adalah Judi, dan tentunya harapan kami Investor domestik Indonesia terus bertambah banyak..

Okeh langsung sajaa, cara pendaftaran live cast ini gampang, cukup masuk pada link ini

https://www.cozora.com/whyinvestingisimportant

setelah itu klik menu register dan ikuti prosedur pendaftarannya,,

ehhh BTW pendaftaran ini gratiss lohhh,  for free!!!

tapi ingatt persiapkan perlengkapan seperti laptop dan tentunya jaringan Internet yang cukup stabil yaa.. hehehe

Kalian bakal liatt wajah wajah kita yang ngga terlalu ganteng dan ngga jelek jelek amat ini,, heehe,

Okayy, cukup sekian Informasinya,, jangan lupa daftar dan online yaa tgl 24 September ini..

Cheers..,,,

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

By : Dapur Investasi

ASPEK TERPENTING DALAM INVESTASI

Selama ini, saya penasaran dengan jawaban para investor pemula tentang aspek terpenting dalam investasi. Karena jujur saya jarang bahkan hampir tidak pernah mendapat pertanyaaan ini. Pengalaman saya, orang lebih sering bertanya tentang apa investasi terbaik saat ini?  Dan akibat dari pertanyaan ini, banyak sekali tulisan atau seminar yang hanya fokus pada jenis-jenis investasi yang mengaku terbaik.

Kenapa pemahaman tentang aspek terpenting dalam investasi ini menjadi krusial? Selain untuk menjawab jenis investasi terbaik, juga karena investasi adalah hal yang harus dijalankan untuk mencapai tujuan keuangan di masa depan. Sayangnya masih banyak yang menghindari berinvestasi karena berbagai alasan, terutama karena takut ataupun tidak mengerti.

 PEMAHAMAN SALAH TENTANG INVESTASI

Beberapa saudara atau teman sekolah saya suka terkagum-kagum dengan kata investasi. Menurut mereka jika ada yang menyebtkan kata “investasi”, kesannya orang pintar dan kelas atas. Benarkah demikian? Mari kita bahas.

Setidaknya ada 3 pemahaman yang salah mengenai investasi antara lain:

  1. INVESTASI = INSTRUMEN KEUANGAN

Ini adalah pemahaman yag salah. Instrumen keuangan seperti saham, produk perbankan, surat utang (ORI, sukuk), reksadana adalah jenis instrumen keuangan yang digunakan untuk investasi. Namun selain itu masih banyak instrumen/alat lain yang bisa dijadikan alat investasi. Contohnya properti, emas, atau barang-barang hobi lainnya.

  1. INVESTASI = JUDI

Salah lagi. Investasi membutuhkan pemahaman dan perhitungan/analisa yang matang akan instrumen yang digunakan. Ada peluang untuk untung besar, untung sedang, untung kecil dan bahkan rugi. Sedangkan judi lebih bersifat spekulasi tanpa menggunakan perhitungan dan analisa, dengan hasil akhir berupa menang atau kalah. Ini akan kita bahas di tulisan tersendiri karena cukup panjang.

  1. INVESTASI HANYA UNTUK ORANG PINTAR

Ini biasanya dikaitkan dengan poin no 1 di atas. Pada kenyataannya? Semua orang bisa melakukan investasi. Tidak peduli pada latar belakang pendidikan, jenis kelamin, lokasi tempat tinggal, dll.

Setiap orang yang melakukan investasi, pasti punya pemahaman akan instrumen yang mereka gunakan dan punya harapan keuntungan dan toleransi risiko yang berbeda-beda juga. Lebih jelasnya kita bahas dibawah.

ASPEK TERPENTING DALAM BERINVESTASI

Ada 3 hal mendasar yang harus diketahui oleh setiap orang sebelum mulai memutuskan instrumen investasi terbaik yang akan anda investasikan.

  1. PEMAHAMAN ATAS INSTRUMEN INVESTASI YANG DIGUNAKAN

Buat saya, ini aspek yang paling terpenting. Tanpa pemahaman mengenai instrumen/alat investasi yang kita gunakan, maka apa yang kita lakukan cenderung menjadi spekulasi dan lebih mengarah ke judi. Contoh di instrumen saham. Ini jelas-jelas produk investasi, diatur juga dengan khusus oleh Undang-Undang Pasar Modal dan dikenal juga ada istilah pasar modal syariah yang sah dan halal. Tapi banyak orang yang memberi cap “judi” atau “spekulasi” terhadap saham. Kenapa? Karena pengalaman dari orang-orang yang merugi di investasi saham sebagai akibat dari ketidakpahaman atas saham itu sendiri.

Balik ke pertanyaan di atas: jadi investasi apa yang paling bagus sekarang ini? Nah disini relasinya. Karena kriteria “terbaik” harus timbul dari pemahaman yang baik juga.

Imbal Hasil vs Risiko

Selain paham atas karakter alat investasi, kita juga harus paham akan potensi imbal hasil yang bisa diperoleh dan risiko yang kemungkinan terjadi. Dalam investasi, ini dua hal yang selalu ada. Semakin tinggi imbal hasil yang bisa dicapai, semakin tinggi juga risiko yang harus kita hadapi. Jika sampai ada yang menawarkan instrumen investasi dengan imbal hasil tinggi dan risiko rendah, hati-hati, anda sedang masuk dalam percobaan penipuan

Kenali Pasar Instrumen Investasi

Trus apa saja yang termasuk instrumen investasi? Jawabannya: semua alat yang ada pasarnya. Pasar disini maksudnya bukan bentuk pasar fisik saja, tapi semua alat yang memiliki permintaan dan penawaran di sana. Tanpa paham mengenai alat investasi, anda mustahil paham mengenai harga wajar alat tersebut di pasarnya. Kalau produk keuangan, pasar modal, emas atau property semua pasti tahu jika itu investasi. Gimana kalau batu akik yang sempat ngetrend tahun lalu? Apakah itu alat investasi? Buat saya batu akik pun bisa jadi instrumen investasi. Tetapi kalau saya memaksa untuk investasi disini, jelas saya akan jadi sasaran empuk untuk ditipu dan besar kemungkinan untuk gagal karena saya tidak mengerti dengan pasarnya. Tapi ada seorang teman baik saya yang menghasilkan banyak uang dari perdagangan batu akik ini. Sistemnya buy low sell high atau buy high sell higher. Mengapa? Karena dia sangat paham tentang dunia batu akik, termasuk permintaan dan penawaran yang ada. Contoh lain yaitu lukisan. Buat saya lukisan-lukisan mahal dan murah sama saja keliahatannya. Tapi buat pencinta seni, itu sangat berbeda. Lukisan ini bisa menjadi investasi yang menguntungkan, yang berangkat dari hobi dan pemahaman yang kuat akan instrumen tersebut.

intinya, pahami pasar dari alat investasi yang akan digunakan. Pemahaman ini yang menentukan “investasi terbaik” untuk kita.

  1. KENALI IMBAL HASIL YANG DIPEROLEH

Sebelum memulai investasi pasti kita memiliki tujuan untuk apa kita berinvestasi. Biasanya, dasar dari semua tujuan itu pasti satu hal yaitu inflasi, kenaikan harga barang atau jasa yang kita butuhkan dimasa depan. Jadi, hasil investasi yang kita lakukan setidaknya harus lebih tinggi dari inflasi. Hasil investasi harus lebih besar dari kenaikan uang pangkal di sekolah incaran. Harus lebih tinggi juga dari kenaikan harga tahunan paket liburan ke Eropa. Memahami imbal hasil investasi juga penting untuk menentukan instrumen investasi yang kita pilih yang sesuai dengan tujuan kita. Jadi jangan mengejar tujuan tinggi dengan alat investasi berimbal hasil rendah.

  1. PAHAMI JANGKA WAKTU INVESTASI

Instrumen investasi yang tepat juga ditentukan oleh jangka waktu investasi yang diinginkan. Ini terkait dengan tujuan investasi di awal. Jika uangnya akan digunakan satu tahun kedepan, uangnya jangan diinvestasikan di properti. Karena properti adalah investasi yang tidak likuid dan lebih bersifat jangka panjang. Instrumen investasi itu harus disesuaikan dengan jangka waktu tujuan yang ingin dicapai. Jika tujuannya masih lama, boleh saja menggunakan instrumen investasi dengan fluktuasi lebih tinggi, karena menawarkan imbal hasil lebih tinggi dengan risiko yang tidak rendah. Demikian juga jika dana yang diinvestasikan ingin digunakan dalam jangka pendek. Akan lebih bijaksana anda berinvestasi di instrumen dengan imbal hasil stabil seperti deposito perbankan ataupun reksadana pasar uang.

KESIMPULAN

Jadi, apa instrumen investasi terbaik buat anda? Intinya, pahamilah semua aspek dalam instrumen investasi sejelas mungkin sebelum anda menjatuhkan pilihan di salah satu instrumen investasi. Jangan cuma sekedar ikut-ikutan trend atau kata-kata orang lain. Mengapa demikian? Karena instrumen investasi terbaik berbeda untuk setiap orang. Investasi terbaik buat saya belum tentu terbaik buat anda, demikian pula sebaliknya.

Jadi, pahami dengan baik, dan selamat berinvestasi!!!

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^   ^

By : Hendri Prasetyo Utomo

Isu Merger Grup Ciputra yang Sudah Lama Tapi Layak di Perhatikan Kembali!!

Rencana mergernya salah satu Grup Properti terbesar akan penulis bahas sedikit di artikel ini. Sebenarnya isu ini sudah lama sih tapi  penulis ingin mengangkat kembali setelah kemarin dapat info dari teman dalam sebuah acara. Apa sih dampaknya atau pentingnya membahas merger grup ciputra tersebut?

Sebelum kita membahas tentang hal di atas, penulis ingin memberikan sedikit gambaran mengenai aksi koorporasi dalam sebuah perusahaan bagi pemula yang ingin tau. Yang di maksud dengan aksi korporasi atau biasa disebut dengan corporate action adalah dimana perusahaan mengambil langkah atau tindakan yang berdampak langsung terhadap investor atau kepemilikan saham. Aksi perusahaan perusahaan tersebut dalam rangka meningkatkan kinerja atau menunjukkan performance baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang.

Banyak sekali macamnya aksi korporasi perusahaan tersebut seperti, mulai dari pergantian manajemen perusahaan, pembagian dividen, stock split, reverse stock, merger, akuisisi, divestasi, penerbitan saham baru, pembagian saham bonus, dividen saham, share swap, debt share swap, private placement, hingga melakukan penyertaan di perusahaan lain.

Nah Bagaimana ya dampaknya pada grup Properti Ciputra seperti PT Ciputra Development Tbk (CTRA), PT Ciputra Properti Tbk  (CTRP) dan PT Ciputra Surya Tbk (CTRS)?

Setiap aksi korporasi memiliki dampak baik ataupun buruk atau malah tidak ada dampaknya, tergantung dari kebijakan perusahaan tersebut alasan melakukan aksi korporasi tersebut untuk apa. Rencana merger tiga emiten grup Ciputra membuat investor mulai memburu saham PT Ciputra Surya Tbk (CTRS) dan PT Ciputra Properti Tbk (CTRP). Rencananya, grup konglomerasi ini akan melebur tiga anak usahanya yang listing di Bursa Efek Indonesia (BEI) menjadi satu emiten yakni PT Ciputra Development Tbk (CTRA).

Sebelumnya aksi yang dilakukan grup ciputra ini memilki tujuan  rencana lama atas saran investor dan konsultan yang melihat dengan struktur tiga emiten ini terlalu complicated agar investor tidak kebingungan untuk memilih perusahaan mana yang ingin di investasikan karena ada 3 macam. Dengan adanya merger di harapkan investor lebih mudah menginvestasikannya hanya pada satu saham saja, karena dengan hanya satu saham kapitalisasi pasarnya semakin besar dan membuat lebih likuid dan semakin menarik di mata investor.

Aksi korporasi ini sangat menarik untuk di perhatikan khususnya pada saham CTRP dan CTRS rencana merger tersebut merupakan sentimen positif bagi kedua saham tersebut. Nilai penjualan CTRP dan CTRS pun dapat dikatakan sangat baik terutama CTRS yang fokus kepada bisnis properti Ciputra di daerah Surabaya. Penjualan CTRS di tahun 2015 mencapai 132% dari target yaitu sebesar Rp4.1triliun. Hingga bulan Mei’16, CTRS sendiri telah mencatat penjualan sebesar Rp1.3triliun atau mencapai 42% dari target 2016. Sementara CTRP sendiri merupakan salah satu emiten properti dengan persentasi pendapatan berulang dari sewa yang terbesar (dibandingkan dengan total penjualan dalam setahun). CTRO menyusul PWON yang selama ini dianggap sebagai emiten properti dengan Recurring Income terbesar. Pada Q1 2016 persentasi PWON sebesar 49% sementara  Recurring Income CTRP tercatat sebesar 59% dari penjualan 1Q16.

Seabagai info Kepemilikan saham CTRA saat ini terdiri dari 30% milik PT sang Pelopor, 7,71% digenggam Credit Suisse AG Singapura, 5,42% Fine-C Capital dan 56,24% dimiliki publik. Sedangkan saham CTRS dimiliki oleh CTRA 62,66% dan publik 37,34% serta CTRP dimiliki oleh CTRA 56,28% dan publik 43,72%.

Tetapi kami belum bisa menghitung lebih lanjut seberapa besar dampak rencana tersebut terhadap harga saham CTRP dan CTRS karena mekanisme mergernya pun belum ditetapkan. Tunggu saja tulisan selanjutnya apabila aksi korporasi dari Grup Ciputra ini jadi di realisasikan. Dan infonya bulan oktober nanti aksi tersebut bisa terealisasi.

By : Galuh Lindra L I

Cerdaslah dalam berinvestasi ^^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.