Analisa Teknikal

Sruput Pagi Rabu 14 September 2016 : Pelemahan IHSG Akan Tertahan Support 5,200,, Cermati Sektor Perbankan dan Konstruksi!!

Selamat pagi Kawula Investasi,, disimak dulu yaa Indikator Investasi pagi inii,, ^ ^

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan, dimana Dow Jones tercatat melemah -1.41% pada level 18,066.75, S&P 500 tercatat melemah -1.48% pada level 2,127.02 dan Nasdaq tercatat melemah -1.09% pada level 5,155.25.

Jatuhnya Bursa Wall Street lebih cenderung dipengaruhi oleh pelemahan tajam harga minyak mentah dunia, walaupun sentiment akan keputusan The Fed mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika masih tampak tinggi, tetapi sentiment The Fed sudah sedikit mereda setelah pernyataan dari Gubernur The Fed Lael Brainard yaitu The Fed harus lebih berhati – hati dalam menaikkan suku bunga, walaupun perekonomian Amerika Serikat saat ini sudah berangsur –angsur naik mengikuti target The Fed sebagai acuan menaikkan suku bunga Amerika Serikat.

Menurut survey, probablitas kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan September mengalami penurunan menjadi hanya 20%.

Disisi lain data Indeks Optimisme Bisnis Amerika Serikat mengalami penurunan menjadi 94.4 pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 94.6, Optimisme Bisnis mengalami penurunan diperkirakan terkait spekulasi keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Harga minyak mentah dunia mengalami penurunan tajam, dimana minyak WTI tercatat melemah sebesar -2.77% pada level 45.01 USD/barel dan minyak Brent mengalami penurunan sebesar -2.65% pada level 47.04 USD/barel. Pelemahan berlanjut semenjak 8 September 2016, dengan harga WTI saat itu 47.62 USD/barel dan Brent 49.99 USD/barel, hal tersebut terjadi karena banyak faktor, diantaranya rilis data Baker Hughes Inc yang mencatatkan adanya aktivitas peningkatan rig menjadi 414, tertinggi sejak Februari, selanjutnya EIA memprediksi bahwa cadangan minyak dunia akan terus menumpuk hingga tahun 2017 seiring penurunan permintaan dari China dan India. OPEC juga merevisi persediaan dari luar produsen OPEC dan diperkirakan akan meningkat pada tahun 2017, yang terakhir adalah pasar memprediksi bahwa cadangan minyak Amerika Serikat yang akan dirilis pada pekan ini oleh EIA mengalami peningkatan menjadi 4 Juta barel. Investor sangat menunggu kepastian dari pertemuan OPEC di Algiers pada bulan ini.

Dari China, data – data ekonomi yang dirilis cukup menarik dan positif, dimana Industrial Production pada bulan Agustus tumbuh sebesar 6.3% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6.0% YoY, Penjualan Ritel mengalami peningkatan pada bulan Agustus sebesar 10.6% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 10.2% YoY, Foreign Direct Investment juga mengalami peningkatan pada bulan Agustus menjadi 4.5% YoY, dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 4.3% YoY. Sedangkan Investasi Asset Tetap stagnan pada level 8.1% YoY pada bulan Agustus, tetapi data positif diatas tidak mampu mengangkat Bursa China, dimana Indeks Shanghai selama jam perdagangan berada pada zona merah dan pada akhir sesi hanya menguat +0.05% pada level 3,023.51 dan Indeks Hang Seng sempat menguat tajam pada awal perdagangan, tetapi berakhir melemah pada akhir sesi -0.32% pada level 23,215.76.

Dari dalam negeri, setelah data penjualan ritel bulan Juli Indonesia mengalami penurunan menjadi 6.7% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 16.4% YoY, saat ini Investor tengah menunggu data pertumbuhan kredit Indonesia dan data neraca perdagangan Indonesia. Neraca perdagangan Indonesia bulan Agustus diperkirakan surplus sebesar $ 0.45 Milyar, lebih rendah dari dari bulan Juli yang tercatat sebesar $ 0.59 Milyar, tetapi Ekspor diperkirakan mengalami perbaikan menjadi -8.8% YoY dan Import juga mengalami perbaikan menjadi -10.55% YoY.

dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana pada hari kemarin tercatat uang tebusan hanya bertambah sebesar Rp 380 Milyar menjadi Rp 9.31 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 8.93 Triliun atau telah mencapai 5.6% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 405.6 Triliun dari 51,783 wajib pajak dan dana repatriasi mengalami peningkatan menjadi Rp 19 Triliun.

Melihat kondisi data diatas, kami melihat bahwa IHSG masih terus mengalami pelemahan, namun bersifat terbatas dan diperkirakan akan tertahan pada angka psikologis 5,200, ini merupakan support kuat sebagai acuan Investor menunggu data ekonomi positif selanjutnya, mengingat saat ini belum rilis data positif dari dalam negeri maupun luar negeri, bahkan pada area 5,200 ini IHSG diperkirakan akan mengalami konsolidasi. Pada perdagangan kemarin MA 50 kembali berhasil ditembus, maka berdasarkan indikasi teknikal tersebut, pelemahan IHSG dalam jangka pendek dan menengah masih akan terus berlanjut. Keputusan investasi Investor selanjutnya akan dipengaruhi oleh hasil rapat The Fed pada tanggal 21 – 22 September dan rapat OPEC pada bulan September ini di Algiers. Indeks kami perkirakan akan bergerak pada range 5,200 – 5,250.

Kami tetap menyarankan agar investor menunggu terlebih dahulu dari pola pergerakan IHSG, amankan posisi kas anda dan tunggu moment terbaik untuk melakukan average pembelian. Penurunan IHSG baru saja dimulai dan masih bersifat wajar. Cermati Sektor Perbankan dan Konstruksi.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan Asyyiiik (y 2, i 3, k 1) pagi hari ini sebelum melakukan Investasi,,

By : Dapur Investasi

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Pahami Indikator Ekonomi Sebelum Khawatir Akan Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan

Selamat siang kawula investasi Indonesia,, semoga selalu cerdas dalam berinvestasi.. nahh pada artikel kali ini,, kami akan membahas kembali pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena penurunan tajam IHSG baru saja dimulai.

Menjelang libur hari raya Idul Adha, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam sebesar -89.161 poin atau -1.66% pada level 5,281.917. Dengan adanya penurunan tersebut membuat IHSG menembus level support jangka pendek di area 5,296 – 5,300, penurunan yang terjadi juga sekaligus mengiyakan indikasi teknikal yang sudah muncul selama sebulan terakhir, sejak 9 Agustus 2016 dan hal tersebut sempat kami bahas di website kami dapurinvestasi.com pada link berikut ini, http://dapurinvestasi.com/outlook-teknikal-indeks-harga-saham-gabungan-jangka-pendek-dan-menengah.html.

Nahh selanjutnya Investor pasti bertanya – tanya kemana arah IHSG berikutnya, apakah ini hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015??

Mari perhatikan gambar berikut ini.

Source : Chart Nexus

Apabila terlihat pada gambar, berdasarkan Indikator teknikal, pelemahan IHSG selanjutnya akan berada pada level 5,200, tentu hal tersebut pernah kami bahas juga pada artikel sebelumnya. Pencapaian target 5,200 menurut indicator teknikal dan psikologi pasar cukup kuat, karena pada perdagangan Jumat pekan lalu menjelang libur Idul Adha, Investor Asing mencatatkan net sell cukup tinggi sebesar 914 Milyar, angka yang tinggi karena pada hari – hari sebelumnya, walaupun IHSG mengalami koreksi, tetapi  net sell Investor Asing tidak terlalu signifikan, bahkan pernah mengalami net buy ketika IHSG terkoreksi.

Source : Chart Nexus

Dann berdasarkan teknikal jangka panjang, memang seharusnya trend bullish IHSG bergerak agak landai atau tidak terlalu curam, maka koreksi kali ini diperkirakan akan menjustifikasi pergerakan IHSG selama ini yang terlalu curam. Koreksi baru saja dimulai dan akan bergerak pada level 5,200 dan apabila level tersebut telah ditembus kembali, maka target pelemahan selanjutnya adalah pada level 5,100.

Apakah ini benar hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015?? Apa yang sebaiknya Investor lakukan pada sisa tahun 2016 ini?? Buy On Weakness atau Cash is King??

Tentu banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Investor ketika IHSG mengalami koreksi, karena pada umumnya sifat manusia tidak ingin adanya penurunan pada IHSG, semua orang ingin IHSG terus mengalami peningkatan, tetapi pada faktanya setiap ada kenaikan pasti ada penurunan dan IHSG harus bergerak sesuai kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Ada beberapa Indikator fundamental yang dapat kami bagikan, sebagai pandangan kami bagaimana seharusnya Investor menyikapi penurunan IHSG kali ini. Indikator pertama adalah yang bersifat relative positif bagi kami,, Mohon disimak yaa,,

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari segi PDB (Produk Domestik Bruto) hingga kuartal II 2016 tercatat lebih baik dibandingkan tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Kuartal II 2016, pertumbuhan PDB Indonesia tercatat tumbuh sebesar 4.02% QoQ dan 5.18% YoY, apabila terlihat pada gambar, terjadi trend penguatan sejak Kuartal I 2015. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia mengalami perbaikan.

Inflasi Indonesia tetap terjaga dan masih dibawah target Bank Indonesia yang sebesar 4%, tetapi Inflasi cenderung mengalami penurunan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus 2016, Indonesia mengalami deflasi sebesar -0.02% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar 2.79% YoY, maka sejak Januari hingga Agustus, Inflasi Indonesia masih tercatat sebesar 1.74%.

Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia terus mengalami peningkatan sejak mengalami posisi buruk pada tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Bulan Agustus 2016 Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia tercatat sebesar 113.3, walaupun angka tersebut lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat sebesar 114.2, tetapi Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia masih berada pada trend positif.

Data penjualan ritel Indonesia mengalami peningkatan yang cukup kuat sejak Agustus 2015

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus, penjualan ritel Indonesia tercatat sebesar 15.90% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 13.50% YoY, terlihat pada gambar penjualan ritel masih cukup kuat untuk melanjutkan trend positifnya.

Data Indonesia Nikkei Manufacturing PMI masih berada pada zona aman diatas 50

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus data Manufaktur Indonesia mengalami rebound menjadi 50.4 dari bulan Juli yang tercatat sebesar 48.4. Dengan perbaikan tersebut maka saat ini manufaktur Indonesia kembali berada pada zona ekspansi karena berada diatas level 50.

Data neraca perdagangan Indonesia kian membaik

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Walaupun pada bulan Agustus data neraca perdagangan Indonesia kembali terpuruk, dimana ekspor melemah -17.02% YoY dan Impor melemah -11.56% YoY, alhasil neraca perdagangan tercatat turun menjadi $ 0.59 Milyar, tetapi apabila dibandingkan bulan Oktober 2015, saat ini telah terjadi perbaikan pada ekspor impor Indonesia.

Selajutnya ada cadangan devisa Indonesia yang terus mengalami perbaikan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Untuk cadangan devisa Indonesia, mari simak ulasannya pada artikel berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/perkembangan-cadangan-devisa-indonesia-periode-2008-2016.html

Tetapii, perlu diketahui bahwa ada juga Indikator fundamental yang menjadi katalis negatif pergerakan IHSG, seperti hal nya berikut ini.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Adanya kebijakan dari Bank Indonesia dalam menurunkan Bi Rate, hingga memberlakukan 7 Days Reverse Repo, ternyata belum mampu meningkatkan pertumbuhan kredit di Indonesia. Hingga bulan Agustus 7 Days Reverse Repo mulai diberlakukan dengan rate sebesar 5.25% sebagai pengganti Bi Rate, tetapi pertumbuhan kredit belum juga tampak pulih, seperti yang dijelaskan pada garis kuning.

Investasi Langsung Asing di Indonesia juga mengalami penurunan pada Kuartal II 2016

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada kuartal II 2016, Investasi langsung dari Investor Asing hanya tumbuh 7.90% YoY, lebih rendah dari kuartal I 2016 yang tercatat sebesar 17.10%, angka tersebut terus megalami penurunan sejak mencapai level tertinggi sebesar 26% pada kuartal IV 2015.

Data selanjutnya yang paling kritis mempengaruhi IHSG adalah dari penerimaan negara yang sangat jauh dari ekspektasi, dan hal ini masih sangat hangat diperbincangkan khususnya terkait kebijakan Tax Amnesty.

Hingga akhir Agustus 2016 penerimaan pajak hanya sebesar Rp 596 Triliun atau 44% dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 sebesar Rp 1.355,2 triliun. Angka tersebut jauh berkurang dibandingkan penerimaan negara pada Agustus 2015 yang tercatat sebesar Rp 867.5 Triliun atau 49.2% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan dari segi keuangan pemerintah.

Indikator Eksternal adalah masalah The Fed yang masih ditunggu – tunggu akan kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada sisa tahun 2016 ini.

Okaayyy,, usai sudah pembahasan diatas mengenai kondisi perekonomian Indonesia, tetapi terlihat tidak komplit apabila kita tidak melihat kinerja emiten di IHSG sepanjang semester I 2016, berikut kami tampilkan pertumbuhan penjualan emiten sejak tahun 2014 dan juga pertumbuhan EPS sejak tahun 2014 berdasarkan 30 emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di IHSG. Kami mengambil sampel tersebut karena, menurut kami fundamental dari emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar maka turut akan mempengaruhi pergerakan IHSG di sisa tahun 2016 ini.

Source : Dapur Investasi

Secara rata – rata pertumbuhan 30 emiten dengan kapitalisasi besar mencatatkan perbaikan pada semester I 2016, dengan rata – rata pertumbuhan penjualan tercatat tumbuh sebesar 5.99% YoY dibandingkan pada tahun 2015 yang tercatat hanya tumbuh sebesar 2.74% YoY. Laba bersih secara rata – rata tumbuh sebesar 8.05% YoY, jauh lebih baik dibandingkan tahun 2015 yang tercatat – 2.05%.

Dari sekian Indikator fundamental ekonomi yang kami tampilkan, baik dari segi makro maupun mikro, kami menilai bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini masih lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 yang mengalami keterpurukan. Investor hanya perlu mewaspadai penerimaan pajak negara, investasi asing, pertumbuhan kredit dan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Indikator negatif tersebut diperkirakan akan mampu menyeret IHSG pada trend pelemahan jangka pendek.

Tetapi kami tetap optimis bahwa secara jangka panjang IHSG masih berada pada trend bullish dan kami menyarankan agar investor mengurangi bobot portofolio pada saham yang memiliki kinerja kurang bagus di semester I 2016 (ditandai dengan warna merah pada tabel), kecuali prospek kedepan sectoral saham tersebut mengalami perbaikan kinerja. Mulai lah beralih pada saham defensif dan emiten yang memiliki kinerja positif di tahun 2016.

Asumsi kami adalah, apabila ekonomi Indonesia tahun 2016 mengalami perbaikan, maka seharusnya emiten melakukan langkah positif agar bisa menggaet pangsa pasar atau potensi keuntungan ketika ekonomi membaik, hal tersebut ditunjukkan dengan kinerja yang mantapp juga pada laporan keuangan. Tetapi apabila penjualan dan laba bersih perusahaan mengalami penurunan ditengah penguatan ekonomi Indonesia, maka kami memperkirakan industri dan manajemen emiten sedang dalam performa buruk.

Hindari pula sektor yang sudah mencatatkan kenaikan tertinggi seperti sektor pertambangan dan aneka industry.

Sekian tulisan dari kami pada kali ini, semoga dapat mencerahkan keputusan investasi dari pembaca, sehingga tau apa yang harus dilakukan pada sisa tahun 2016 ini.

Terima kasih

By : Putu Wahyu Suryawan

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Sruput Pagi Selasa 13 September 2016 : IHSG Masih Mencatatkan Penurunan Lanjutan,, Wait For The Great Moment..

Bursa Wall Street ditutup mengalami penguatan, dimana Dow Jones tercatat menguat +1.32% pada level 18,325.07, S&P 500 tercatat menguat +1.47% pada level 2,159.04 dan Nasdaq tercatat menguat +1.68% pada level 5,211.89.

Tidak ada data ekonomi yang rilis sebagai sentiment positif dari lonjakan Bursa Wall Street, penguatan Indeks terjadi dikarenakan setelah Gubernur The Fed Lael Brainard berkata dalam pidatonya yaitu The Fed harus lebih berhati – hati dalam menaikkan suku bunga, walaupun perekonomian Amerika Serikat saat ini sudah berangsur –angsur naik mengikuti target The Fed sebagai acuan menaikkan suku bunga Amerika Serikat. Ada beberapa poin yang menjadi fokus dari Lael Brainard, diantaranya Inflasi kurang responsif terhadap pasar tenaga kerja yang saat ini tengah membaik, artinya walaupun angka pengangguran mengalami penurunan, tetapi hal tersebut tidak mampu menciptakan demand dan meningkatkan Inflasi. Yang kedua adalah gejolak ekonomi dunia masih menjadi fokus dari Lael Brainard, dan yang terakhir adalah menurut Lael Brainard, kebijakan moneter kurang mampu merespon pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat.

Menurut survey, probablitas kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat pada bulan September mengalami penurunan menjadi hanya 20%

Harga minyak mentah dunia mengalami penguatan tipis, dimana minyak WTI tercatat menguat sebesar +0.41% pada level 46.07 USD/barel dan minyak Brent mengalami penguatan sebesar +0.27% pada level 48.14 USD/barel. Penguatan tipis terjadi setelah pada hari sebelumnya harga minyak dunia mengalami pelemahan tajam dikarenakan rilis data Baker Hughes Inc yang mencatatkan adanya aktivitas peningkatan rig menjadi 414, tertinggi sejak Februari dan negara pengekspor minyak OPEC memprediksi terjadi peningkatan produksi dari produsen minyak selain OPEC pada tahun 2017. Selain itu Investor masih menunggu kepastian hasil meeting OPEC mengenai pembekuan produksi minyak dunia.

Dari China, data terakhir menunjukkan bahwa Inflasi China pada bulan Agustus tercatat sebesar 0.1% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.2% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar 1.3% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 1.8% YoY, tetapi data Angka Produksi mengalami perbaikan menjadi -0.8% YoY pada bulan Agustus, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -1.7%. Data diatas menjadi pemberat Indeks Hang Seng yang melemah -3.36% pada level 23,290.60. Pada hari ini Investor tengah menunggu data penjualan ritel China.

Dari Jepang, Angka Produksi mengalami penurunan pada bulan Agustus sebesar -0.3% MoM, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.0% MoM, tetapi secara tahunan tercatat lebih baik sebesar -3.6% YoY, dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -3.9% YoY.

Dari dalam negeri, data penjualan ritel bulan Juli Indonesia mengalami penurunan menjadi 6.7% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 16.4% YoY, dan mengenai perkembangan realisasi Tax Amnesty, dimana pada pada libur akhir pekan terjadi penambahan dana tebusan sebesar Rp 1.57 Triliun menjadi Rp 8.93 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 7.36 Triliun atau telah mencapai 5.4% dari target pemerintah yang sebesar 165 Triliun, Jumlah Harta yang telah dilaporkan adalah sebesar Rp 388.5 Triliun dari 49.270 wajib pajak dan dana repatriasi mengalami peningkatan menjadi Rp 18.8 Triliun.

Melihat dari data diatas, kami melihat bahwa IHSG masih terus mengalami pelemahan. Selain data ekonomi dalam negeri yang belum cukup baik, dimana penjualan ritel mengalami pelemahan, secara teknikal IHSG telah menembus support kuat pada range 5,296 – 5,300 dengan net sell Investor Asing sebesar Rp 914 Milyar. Tetapi pelemahan hari ini akan bersifat terbatas dan arah selanjutnya adalah konsolidasi sembari menunggu kepastian keputusan The Fed dan data ekonomi selanjutnya yang diekspektasikan akan positif. Indeks kami perkirakan akan bergerak pada range 5,220 – 5,320.

Kami menyarankan agar investor menunggu terlebih dahulu dari pola pergerakan IHSG, amankan posisi kas anda dan tunggu moment terbaik untuk melakukan average pembelian. Penurunan IHSG baru saja dimulai dan masih bersifat wajar.

Terima kasihh,, sekian baca – bacaan lucu hari ini sebelum melakukan Investasi,,

Cerdaslah dalam berinvestasi… ^ ^

By : Dapur Investasi

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Outlook Teknikal Indeks Harga Saham Gabungan Jangka Pendek dan Menengah

Review IHSG

Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia (IHSG) telah mengalami penguatan sebesar 763.946 poin atau 16.63% sejak akhir tahun 2015 yaitu 30 Desember 2015 sampai pada perdagangan kemarin 05 September 2016 dan Indeks LQ 45 tercatat mengalami penguatan sebesar 128.11 poin atau 16.17%.

Source : Tim Dapur Investasi

Lima sektor yang mencatat penguatan tertinggi dalam IHSG adalah :
– Sektor Pertambangan yang tercatat menguat sebesar 46.30% Ytd
– Sektor Aneka Industri yang tercatat menguat sebesar 30.07%
– Sektor Industri dasar yang telah menguat sebesar 24.70%
– Sektor Konsumsi yang telah menguat sebesar 18.87%
– Sektor Property yang telah menguat sebesar 16.03%

Source : Tim Dapur Investasi

IHSG Secara Jangka Pendek

IHSG sempat menyentuh level tertinggi di tahun 2016 pada level 5,476.22 yaitu pada tanggal 9 Agustus 2016. Tetapi sejak level tertinggi itu tersentuh, IHSG mulai mengalami konsolidasi dengan kecenderungan melemah.

Source : Chart Nexus

Pelemahan yang terjadi pasca menyentuh level tertinggi (no : 1) cenderung tertahan pada garis MA 20 ditandai dengan (huruf : a), setelah itu penguatan kembali terjadi tetapi kembali tertahan pada level 5,470.979 ditandai dengan (no : 2). Pelemahan selanjutnya terjadi hingga kembali tertahan pada garis MA 20 ditandai dengan (huruf : b) dan lagi – lagi menguat, namun tertahan pada level 5,456.638 ditandai dengan (no : 3).

Nahh setelah tertahan pada fase no 3 IHSG terus mengalami pelemahan hingga akhirnya menembus garis MA 20 sebagai level support jangka pendek. Dengan tertembusnya  garis MA 20 maka bisa dipastikan bahwa dalam jangka pendek IHSG berada pada kondisi down trend. Setelah itu IHSG mencoba untuk rebound kembali, namun selalu tertahan resistance garis MA 20 tersebut, ditandai dengan garis biru. Hal tersebut menandakan bahwa IHSG belum mampu melawan derasnya koreksi atau aksi profit taking Investor.

Pada perdagangan 05 September 2016, IHSG mengalami penguatan, namun kembali tertahan pada garis MA 20. Dengan kuatnya level resistance MA 20 tersebut maka kami memperkirakan dalam jangka pendek IHSG akan terus mengalami pelemahan dengan target jangka pendek pada level 5,296 – 5,300.

IHSG Secara Jangka Panjang

Source : Chart Nexus

Secara jangka panjang IHSG masih berada pada trend bullis sejak periode 29 September 2015 dan saat ini memang berada pada area tertingginya. Koreksi sehat sangat mungkin terjadi mengingat saat ini belum rilis sentiment fundamental ekonomi yang positif dan Investor masih menunggu kepastian atau fakta dari kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat.

Kami memperkirakan berdasarkan indicator technical, bahwa IHSG secara jangka pendek dan menengah akan mencatatkan koreksi, mengingat pergerakan IHSG saat ini cukup fluktuatif dan selalu tertahan hingga membentuk triple top. Apabila koreksi terjadi dan suppor pada area 5,296 – 5,300 berhasil ditembus, maka target pelemahan selanjutnya akan berada pada level 5,200.

Tetapi Investor tidak perlu khawatir, karena apabila berkaca pada range jangka panjang, maka bisa dipastikan saat ini IHSG berada pada kondisi bullish, pelemahan jangka pendek yang terjadi dapat dijadikan momentum untuk melakukan akumulasi pembelian dan tetap melakukan strategi Average Down, sehingga pada saat IHSG mencapai pelemahan terendahnya maka Investor mendapatkan nilai akumulasi yang optimal dan ketika IHSG kembali mengalami kenaikan maka keuntungan maksimal akan diperkirakan mampu diraih.

Kami menyarankan Investor agar tetap mempertahankan kemampuan keuangan perusahaan dan melakukan akumulasi saham – saham yang memiliki kondisi fundamental yang cukup baik.

Sebagai Review pada tulisan ini dirilis 06 September 2016 IHSG tercatat mengalami pelemahan -4.57 poin atau -0.09% pada level 5,352.57.

Sekian tulisan kali ini,, terima kasihhhh….

Cerdaslah dalam berinvestasi ^_^

By : Putu Wahyu Suryawan

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

IHSG Mencoba Rebound di Akhir Bulan Agustus 2016

Bursa Wall Street ditutup mengalami pelemahan, dimana Dow Jones tercatat melemah -0.26% pada level 18,454.30, S&P 500 tercatat melemah -0.20% pada level 2,176.12 dan Nasdaq tercatat melemah -0.18% pada level 5,222.99. Pelemahan terjadi setelah mengalami penguatan pada hari perdagangan sebelumnya, pergerakan Bursa Wall Street menjadi sangat fluktuatif dan penuh ketidakpastian pasca pidato Janet Yellen selaku pimpinan The Fed mengenai kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, semakin membaik data ekonomi Amerika Serikat, maka semakin kuat kemungkinan suku bunga acuan dinaikkan.

Data ekonomi Amerika Serikat yang terbaru adalah rilisnya Indeks Kepercayaan Konsumen Amerika Serikat tercatat sebesar 101.1 pada bulan Agustus, lebih baik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 96.7, hal tersebut mengindikasikan bahwa data ekonomi Amerika semakin siap untuk kenaikan suku bunga Acuan Amerika Serikat dan Investor saat ini mencermati data tenaga kerja Amerika Serikat yang akan dirilis pada pekan ini.

Dari Eropa, Indeks Kepercayaan Bisnis tercatat sebesar 0.02 pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 0.38 dan Indeks Kepercayaan Konsumen tercatat sebesar -8.5 pada bulan Agustus, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -7.9.

Dari Asia, khususnya Jepang, Industrial Production tercatat tumbuh 0.0% MoM pada bulan Juli, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 2.3% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar -3.8% YoY, lebih rendah dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar -1.5% YoY.

Dari dalam negeri, Pemerintah menargetkan, RAPBN 2017 akan sebesar Rp 1.737,6 triliun, lebih rendah dari tahun 2016. Meski total lebih rendah dari APBN-P 2016, anggaran Kementerian dan Lembaga (K/L) masih positif, untuk belanja K/L dialokasikan Rp 1.310 triliun dan untuk transfer daerah itu rp 760 triliun. Defisit RAPBN 2017 diperkirakan Rp 332,8 triliun, Kementrian PU masih tertinggi anggaran belanjanya dengan anggaran 105 triliun. Pertumbuhan ekonomi masih ditargetkan 5,3%, lebih optimis ketimbang target 2016 yang sebesar 5,2%, konsumsi rumah tangga ditargetkan tumbuh 5,2% dan konsumsi pemerintah naik 5,4%. Sedangkan investasi ditargetkan naik 6,4%, untuk ekspor dan impor ada dikisaran posistif diperkirakan 1,1% dan 2,2% itu juga dengan catatan kondisi perdagangan dunia masih lemah. Inflasi diperkirakan 4% dalam kisaran 3% sampai 5%, kemudian nilai tukar rupiah masih pada kisaran Rp 13.000 per dollar AS. Harga minyak diperkirakan US$ 45 per barel dalam kisaran US$ 40 – US$ 55. Asumsi lifting minyak sekitar 780.000 barel per hari.  Sedangkan lifting produksi gas 1.100 – 1.200 barrels of oil equivalen per day (BOEPD).

Melihat data ekonomi yang dirilis diatas, maka kami memperkirakan IHSG pada hari ini masih akan melanjutkan pelemahan namun akan terbatas dan akan mencoba untuk menguji support pada level 5,296. Apabila IHSG kuat bertahan pada level support tersebut maka diperkirakan IHSG akan mengalami technical rebound harian. Tetapi Indikasi technical tidak ditopang dengan sentiment ekonomi yang positif, kenaikan suku bunga The Fed dan pelemahan harga minyak mentah dunia masih membayangi pergerakan IHSG, ditambah lagi pesimisme akan pencapaian dana tebusan Tax Amnesty akan membebani laju IHSG pada hari ini. Belum ada data ekonomi dalam negeri yang mampu menopang IHSG dari pelemahan pasca pemangkasan anggaran belanja negara oleh pemerintah karena pemerintah mulai terlihat realistis dengan target penerimaan negara. Indeks diperkirakan akan bergerak pada range 5,296 – 5,390.

Chart IHSG

Secara technical, dalam dua hari terakhir IHSG memang sudah menebus level bawah (Break Down) dari MA 20, hal tersebut mengindikasikan bahwa secara jangka pendek trend IHSG telah berbalik arah dari Up Trend menjadi Down Trend. Saat ini arah pergerakan IHSG akan menuju level support 5,296 dan setelah itu kemungkinan besar akan mengalami konsolidasi pada area 5,296 – 5,450. Tetapi apabila IHSG tidak mampu bertahan pada level support 5,296 maka target pelemahan IHSG selanjutnya akan berada pada level 5,200. Namun Investor tidak perlu khawatir, karena secara jangka panjang IHSG masih positif dalam trend bullisnya, koreksi yang terjadi akan bersifat wajar mengingat belum adanya sentiment ekonomi yang bersifat positif untuk menopang laju IHSG.

Rekomendasi saham pada pagi ini bisa diperhatikan saham SMGR, SMRA, INCO dan KRAS

Selamat Berinvestasi ^^

by: dapurinvestasi.com

ANALISA PT JASA MARGA (PERSERO) TBK, SENIN 16 MEI 2016

Analisa Teknikal adalah analisis harga dan volume saham. Analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume. Analisis Teknikal digunakan untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk membeli saham atau menjual suatu saham.

Berikut di bawah ini adalah Analisa Teknikal untuk PT Jasa Marga (Persero) Tbk (JSMR)

BUY  TP 5,700

Short Term Trade (Support Confirm)

Check It Out..

ANALISA TEKNIKAL IHSG, KAMIS 25 FEBRUARI 2016

Analisa Teknikal adalah analisis harga dan volume saham. Analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume. Analisis Teknikal digunakan untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk membeli saham atau menjual suatu saham.

Berikut di bawah ini adalah Analisa Teknikal untuk Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Check It Out..

ANALISA TEKNIKAL, KAMIS 25 FEBRUARI 2016

Analisa Teknikal adalah analisis harga dan volume saham. Analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume. Analisis Teknikal digunakan untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk membeli saham atau menjual suatu saham.

Analisa Teknikal Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) DAN PT. Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI)

Analisa Teknikal, Rabu 17 Februari 2016

Analisa Teknikal adalah analisis harga dan volume saham. Analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume. Analisis Teknikal digunakan untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk membeli saham atau menjual suatu saham.

Kali ini mari kita lihat PT. Lippo Karawaci Tbk (LPKR) dan PT. Bank Bukopin Tbk (BBKP).

Analisa Teknikal, Selasa 16 Februari 2016

Analisa Teknikal adalah analisis harga dan volume saham. Analisis teknikal berfokus pada pergerakan harga dan volume. Analisis Teknikal digunakan untuk melihat kapan waktu yang tepat untuk membeli saham atau menjual suatu saham.

Hari ini ayo kita mencoba untuk melihat Analisa Teknikal dari saham PT. Wijaya Karya (Persero) Tbk (WIKA).

WIKA saat ini berada pada level supportnya dengan Stochastic pada area Over sold. Potensial Upside sebesar +15.5% dan Downside sebesar -6.8%.

Buy Range : 2,700 – 2,750

Target Price I : 2,900

Target Price II : 3,100

Stop loss : 2,500