Analisa Fundamental

IHSG Menguat, Menanti The FED

Pada awal perdagangan hari ini (21/9) Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di buka melemah ke level 5.295,883. Namun akhirnya IHSG berhasil move on ke zona hijau dengan ditutup menguat sebesar 40,099 poin atau sebesar 0,756% ke level 5342,592. Para investor masih menunggu hasil rapat The FED yang akan melakukan kenaikan suku bunga acuan dengan peluang sebesar kurang lebih 20%. Selain itu Bank of Japan (BOJ) telah memutuskan untuk mempertahankan kebijakan suku bunga acuan di level -0,1%..

Tercatat sebesar 165 saham yang bergerak naik, sedangkan 126 saham lainnya bergerak turun, dan 90 saham stagnan atau tidak berubah dari harga penutupan sebelumnya. Perdagangan hari ini melibatkan volume perdagangan sebanyak 8,388 Milliar dengan nilai transaksi mencapai Rp.8,748 Triliun. Investor asing tercatat melakukan net buy sebesar Rp.551,4 Milliar.

Tercatat dua sektor mengalami pelemahan. Pelemahan tertinggi dicatatkan oleh sektor Industri Dasar sebesar -0,16% disusul dengan sektor Agrikultur -0,03%. Sedangkan delapan sektor lainnya mengalami penguatan. Penguatan tertinggi dicatatkan oleh sektor Aneka Industri dengan kenaikan sebesar 2,59% disusul dengan sektor Konstruksi dengan kenaikan sebesar 1,84%.

Saham- saham LQ45 yang mengalami kenaikan antara lain PT Aneka Tambang (Persero) TBK (ANTM) naik 6,40% ke Rp.665,-, PT Bank Tabungan Negara (Persero) TBK (BBTN) naik 4,74% ke Rp.1.990,- dan PT Summarecon Agung TBK (SMRA) naik 3,93% ke Rp.1.720,-.

Adapun saham-saham LQ45 yang mengalami penurunan antara lain PT Semen Indonesia (Persero) TBK (SMGR) turun -1,75% ke Rp.9.825,-, PT Kalbe Farma TBK (KLBF) turun -1,45% ke Rp.1.700,- dan PT Indocement Tunggal Prakarsa TBK (INTP) turun -0,86% ke Rp.17.350,-.

#Cerdaslah dalam berinvestasi

By : dapurinvestasi.com

Derita Cap Kaki Tiga, Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd dan PT Kino Indonesia Tbk,, Lagi – Lagi Soal Logo??!!

Yoo yooo,, apa kabar Kawula Investasi??, semoga makin cerdas dalam berinvestasi yaa,, kembali lagi bersama dapurinvestasi.com dan lagi – lagi membahas mengenai investasi Indonesia,, okehh langsung ajaahh,,

Kenapa sih judul diatas sedikit horor dan ada kata “Derita” dan “Lagi – Lagi”??, karena perlu pembaca ketahui bahwa Cap Kaki Tiga yang kita kenal sebagai merek dagang minuman penyegar telah dua kali mengalami sengketa merek dan logo, sepertinya logo perusahaan gregett banget, sampai nemu masalah berkali – kali.. hehehe.

Okehh mari kita ceritakan sejarahnya,,

Jadi begini, merek Cap Kaki Tiga seperti yang terlihat pada gambar diatas adalah milik Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yang telah berdiri sejak tahun 1937 di Singapura dan bergerak di bidang kesehatan yang memproduksi berbagai obat kesehatan termasuk minuman penyegar. Tetapi khusus minuman penyegar, lambang yang digunakan adalah MEREK “CAP KAKI TIGA” dengan lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab bersama-sama dengan logo “Cap Kaki Tiga” sebagai satu kesatuan, seperti gambar berikut ini.

Pendaftaran merek “Cap Kaki Tiga” beserta etiketnya oleh Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yaitu di Singapura pada 14 Februari 1940 dan Malaysia pada 30 April 1951.

Nahh,, pada tahun 1978 hadirlah Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd di Indonesia dengan memberikan lisensi untuk memproduksi, menjual, memasarkan dan mendistribusikan minuman penyegar “Cap Kaki Tiga” kepada PT Sinde Budi Sentosa yang merupakan perusahaan Farmasi di Indonesia, dan PT Sinde Budi Sentosa memberikan hak pendistribusiannya kepada PT. Duta Lestari (yang kini merupakan anak usaha PT Kino Indonesia Tbk). Menurut data observasi kami, ketiga pihak tersebut memang bersahabat, sehingga kondisi bisnis dapat terjalin kondusif.

Seiring berjalannya waktu ternyata jalinan kasih diantara mereka mengalami masalah, dan persahabatan pun berakhir dengan gugatan di pengadilan.

Kasus yang terjadi adalah ternyata karena “miss komunikasi” antara PT Sinde Budi Sentosa dan Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd, bahwa PT Sinde Budi Sentosa mendaftarkan merek “Cap Kaki Tiga” hanya berupa tulisan “Cap Kaki Tiga” dan logo “Cap Kaki Tiga”. Lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab bersama-sama dengan logo Cap Kaki Tiga sebagai satu kesatuan tidak dilaporkan atas nama Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd. Jadi singkatnya Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual hanya mengetahui bahwa merek dagang dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd yaa hanya tulisan “Cap Kaki Tiga” dan logo “Cap Kaki Tiga”.

Dan pada 25 November 1991 PT Sinde Budi Sentosa sendiri mendaftarkan ke Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual terkait merek dagang minuman penyegar dengan lukisan badak yang berdiri di atas batu, latar belakang berupa gambar gunung, sungai, dan sawah, serta tulisan larutan penyegar dalam bahasa Indonesia dan Arab atas nama PT Sinde Budi Sentosa, dan mendapat perpanjangan pada 12 Juni 2002.

Entah terlambat menyadari atau tidak mengetahui hal tersebut, akhirnya baru pada 12 April 2010 Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd mengajukan gugatan pada Pengadilan Niaga Jakarta Pusat, lalu gugatan tersebut ditolak begitu saja, karena berdasakan ketentuan Pasal 69 ayat 1 Jo Pasal 28 Undang- undang No. 15 tahun 2001 tentang Merek yaitu : Gugatan pembatalan sesuatu Merek terdaftar hanya dapat diajukan terhadap Merek yang masa Pendaftarannya belum melebihi batas waktu 5 ( lima) tahun, terhitung sejak tanggal penerimaan Pendaftaran merek yang bersangkutan. Maka berdasarkan putusan pengadilan tersebut, raib sudah logo badak dari “Cap Kaki Tiga”.

Bersamaan setelah peristiwa itu terjadi Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd tidak memperpanjang kontrak kerja sama dengan PT Sinde Budi Sentosa karena faktor beberapa hal, dan PT Sinde Budi Sentosa memproduksi minuman penyegar terbaru dengan merek “Cap Badak”, tentu saja ada gambar badaknya, seperti gambar berikut.

Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd pun mengalihkan merek dagangnya kepada PT Kino Indonesia Tbk yang merupakan Induk dari PT Dutalestari Sentratama. Jadi dari sebelumnya yang hanya distributor, maka PT Kino Indonesia Tbk saat ini memperoleh lisensi “Cap Kaki Tiga” dan diizinkan untuk memproduksi, menjual, memasarkan, mengiklankan dan melakukan distribusi, tentu saja logonya menjadi lebih sederhana, seperti gambar berikut ini.

Sekedar informasi, bahwa sebelum sengketa diatas terjadi PT Sinde Budi Sentosa sudah tidak bekerja sama lagi dengan PT. Duta Lestari sebagai distributor.

Sejak peristiwa diatas, hubungan masing – masing pihak menjadi tidak kondusif dan masing – masing pihak saling menuduh satu sama lain merusak pangsa pasar minuman penyegar dan menyebabkan kerugian.

Well,, apabila uraian diatas terlihat cenderung memihak, maka perlu pembaca ketahui uraian diatas bukan maksud penulis untuk memihak pihak tertentu, penulis bukan merupakan brand ambassador salah satu pihak diatas dan penulis bukan pengguna setia salah satu produk diatas, yaa kalo penulis lagi sakit panas dalam atau bibir pecah – pecah biasanya minum jamu – jamuan saja sambil nonton iklan minuman penyegar dari CJR (yang dulunya Coboy Junior) ,, hehehe…

Lanjutt,, masalah selanjutnya dan sangat hangat baru baru ini adalah logo “Cap Kaki Tiga” yang merupakan logo Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd digugat karena cenderung mirip logo dalam bendera negara persemakmuran Inggris yaitu Isle of Man.

Yang kiri merupakan “Cap Kaki Tiga” dan yang kanan merupakan bendera dari negara Isle Of Man.

Jadi pada suatu hari datanglah tiba – tiba Russel Vince yang merupakan Warga Negara Inggris melayangkan gugatan kepada pengadilan Indonesia terkait logo “Cap Kaki Tiga” yang sama dengan bendera Isle Of Man, padahal logo Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd tersebut sudah ada sejak tahun 1937.

Alasan Russel Vince melayangkan gugatan di Indonesia karena doi beranggapan bahwa produk minuman dengan merek tersebut hanya dijual di Indonesia, padahal menurut Presiden Direktur Kino Indonesia Harry Sanusi selaku produsen dari minuman penyegar “Cap Kaki Tiga”, produk “Cap Kaki Tiga” sudah di produksi, didistribusikan dan dijual di Malaysia dan Singapura, dan pada 1980 di Indonesia.

Saat ini, Cap Kaki Tiga juga telah dijual di Thailand, Brunei, Srilanka, India, dan negara lain. Menurutnya, pernyataan produk Cap Kaki Tiga hanya dijual di Indonesia adalah tidak benar.

Tetapi ternyata gugatan dari Russel Vince menang dan menurut putusan MA dalam perkara Nomor.85 PK/Pdt.Sus-HKI/2015,  23 September 2015 jo Putusan MA No.582 K/Pdt.Sus-HakI/2013 tanggal  9 Januari 2014  jo  Putusan Pengadilan Niaga No. 66/Merek/2012 PN. Niaga Jakarta Pusat pada 5 Juni 2013, produk apapun yang mirip dengan lambang negara Isle Of Man tidak boleh di distribusikan dan diperjual belikan di Indonesia, serta tidak diperbolehkan pihak manapun untuk mengajukan pendaftaran mengenai logo apapun yang mirip dengan bendera Isle Of Man.

Namun,, perlu diingat juga bahwa dalam putusan tersebut, tidak dilarang untuk melakukan produksi, distribusi dan penjualan akan produk.

Jadii,, yaa sebenarnya yang dipermasalahkan karena logo yang sama dengan bendera Isle Of Man, bukan karena produk yang sama dengan PT Kino Indonesia Tbk.

Bener juga sihh,, jadi nanti kemungkinan besar gambar kaki tiga akan dirubah (menurut asumsi penulis) dan gugatan masalah logo tidak akan terulang kembali, kecuali kalo ternyata lambang bendera Isle Of Man ada gambar kaki tiga dan berisikan “Larutan Cap Kaki Tiga” dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Arab,, hehe. Sendainya seperti itu wahh, berarti Isle Of Man nya sedang panas dalam.. hahaha.

Okehh,, cukup yaa cerita sejarah dan hukumnya, mengingat bidang dari penulis bukan sejarawan atau pakar hokum, maka kita bahas saja bagai mana dampak peristiwa – peristiwa di atas, nah untuk seluruh permasalahan dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd, mari kita doakan supaya permasalahan cepat teratasi dan bisnis lancar kembali.

PT Kino Indonesia Tbk merupakan emiten yang tercatat pada Bursa Efek Indonesia pada 11 Desember 2015 dengan kode saham “KINO”. Perseroan merupakan pemegang lisensi dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd untuk merek dagang “Cap Kaki Tiga” pada 28 April 2011, terakhir di addendum pada 15 Januari 2015 dan berlaku sampai 27 April 2026. Perjanjian memiliki jangka waktu 15 tahun dan dapat diperpanjang, untuk pembayaran royalti dihitung berdasarkan formula khusus.

Ini yang menjadi masalah bagi Investor, Investor bertanya – tanya bagaimana nasib KINO apabila penjualan dengan merek “Cap Kaki Tiga” ditarik atau dilarang beredar di Indonesia.

Semenjak tanggal 2 September 2016 saat dihapuskan merek dagang tersebut oleh Direktorat Jendral Hak Kekayaan Intelektual, saham KINO telah mengalami penurunan sebesar -21.81% pada level 4,750 di tanggal 16 September 2016, pada hari itu juga KINO nyaris mengalami auto reject bawah, karena penurunan harian terlalu dalam sebesar -10.00%. Tetapi memang semenjak menyentuh harga tertinggi pasca IPO, yaitu pada level 7,175 di tanggal 19 Juli 2016, penurunan KINO sudah sebesar -33.80%.

Source : Chart Nexus

Mari kita bahas kegalauan Kawula Investasi yang menyelimuti pikiran dan hari saat ini.

KOMPOSISI PENDAPATAN PT KINO INDONESIA TBK

Source : Dapur Investasi

Gambar grafik diatas merupakan seluruh kontribusi masing – masing divisi bisnis KINO, pembaca bisa lihat pada grafik diatas, yaitu pada garis orange yang merupakan kontribusi penjualan divisi minuman KINO terhadap total penjualan KINO.

Pada kuartal II 2016 kontribusi divisi Minuman KINO tercatat sebesar 34.68% dari total penjualan, merupakan kontribusi penjualan terbesar kedua setelah divisi Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh.

Angka 34.68% itu adalah setara dengan Rp 672,389,071,561,- dari total penjualan kuartal II 2016 dan setara dengan Rp 1,344,482,000,000,- dari total penjualan tahun penuh 2015.

Menurut data perseroan, tiga kontribusi terbesar dari divisi minuman adalah “Cap Kaki Tiga”, “Panda” dan “Panther”, tetapi kami belum memiliki data pasti berapa sebenarnya kontribusi dari “Cap Kaki Tiga”.

Apabila penulis boleh berasumsi, maka angka divisi Minuman akan penulis bagi tiga, dan angka yang didapat adalah PT Kino Indonesia Tbk akan kehilangan sekitar Rp  448,160,666,667,- setiap tahunnya berdasarkan setahun penjualan 2015 atau setara dengan 13% dari total kontribusi Penjualan KINO, berdasarkan rata – rata kontribusi sejak tahun 2012 – Kuartal II 2016.

Bagi penulis, kontribusi “Cap Kaki Tiga” yang sebesar 13% dari total penjualan, merupakan angka yang cukup besar dan apabila penjualan “Cap Kaki Tiga” mengalami kendala, maka secara otomatis kinerja keuangan KINO akan cukup mengalami kendala.

Yang kedua adalah dari segi divisi Farmasi, karena memang perlu pembaca ketahui bahwa lisensi dari Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd, selain untuk minuman penyegar, tapi juga untuk divisi Farmasi dengan segala merek menggunakan “Cap Kaki Tiga”.

Apabila kita lihat, kontribusi rata -rata penjualan Farmasi terhadap seluruh penjualan KINO adalah sebesar 0.25% berdasarkan data dari 2012 – Kuartal II 2016, pada tahun 2015 kontribusi penjualan Farmasi adalah sebesar Rp 6,721,000,000,-, sehingga bisa dibayangkan kontribusi dari Farmasi, walaupun kecil tetapi dapat menghidupi bisnis dari KINO.

Tetapi sekali lagi Investor tidak perlu khawatir, karena Investor harus mencermati isi dari putusan pengadilan yang mana tidak tercantum larangan untuk “memproduksi, mendistribusikan, memasarkan dan melakukan penjualan”. Sekali lagi tidak tercantum larangan diatas. Maka perjanjian kerja sama antara PT Kino Indonesia Tbk dan Wen Ken Drug Co. (Pte.) Ltd Ltd tetap akan berjalan hingga 27 April 2026.

Masyarakat tetap dapat menikmati dan mengkonsumsi kualitas produksi dari “Cap Kaki Tiga”, Cuma mungkin menurut penulis logo “Kaki Tiga” sudah tidak tercantum lagi dalam produk KINO, tetapi tulisan “Cap Kaki Tiga” masih tercantum. (Asumsi penulis).

Nahh,, kekhawatiran akan issue diatas bagi penulis sudah jelas dipaparkan, sehingga Investor tidak perlu panik karena Issue, karena semua sudah ada jalan keluarnya.

Yang ingin penulis sampaikan adalah, Investor sebaiknya fokus pada kinerja keuangan dan fundamental KINO sendiri dan menilai apakah harga saham saat ini sudah mencerminkan kondisi fundamental dari KINO itu sendiri.

Berikut kami tampilkan kembali komposisi penjualan KINO dan pertumbuhan penjualan masing – masih divisi.

Source : Dapur Investasi

Source : Dapur Investasi

Terlihat pada gambar, bahwa kontribusi penjualan dari divisi Minuman mengalami trend penurunan sejak tahun 2012, padahal divisi minuman menopang kontribusi kedua terbesar dari total penjuala KINO dan kontribusi penjualan dari divisi Pemeliharaan dan perawatan tubuh tercatat relatif flat sejak tahun 2012. Nahh ini yang perlu menjadi fokus Investor, malah divisi Makanan dan Farmasi, walaupun kontribusinya terbilang kecil, tetapi secara konsisten bertumbuh menambah kontribusi terhadap penjualan setiap tahunnya.

Dari segi pertumbuhan, malah yang memiliki pertumbuhan tertinggi berasal dari divisi Makanan dan Farmasi, pada kuartal II 2016 divisi farmasi mencatatkan pertumbuhan tertinggi diantara divisi lainnya, yaitu 96.90% YoY, dibanding kuartal II 2015. Selanjutnya disusul oleh divisi Makanan yang tercatat tumbuh 36.98% YoY.

Dan untuk divisi yang mempunyai kontribusi besar, malah mencatatkan pertumbuhan yang relatif kecil dan cenderung mengalami penurunan pertumbuhan setiap tahunnya. Divisi Pemeliharaan dan perawatan tubuh hanya tumbuh sebesar 7.21% YoY dan divisi Minuman hanya tumbuh sebesar 6.30% YoY.

Apabila dilihat dari trendnya, sepertinya KINO mengalami kesulitan dalam menjangkau pangsa pasar yang lebih luas lagi untuk divisi Minuman dan Perawatan Tubuh.

Source : Dapur Investasi

PT Kino Indonesia Tbk melakukan IPO pada Desember 2015, dan apabila dilihat pada grafik total penjualan KINO, sebelum IPO selalu mencatatkan pertumbuhan diatas 30% YoY, tetapi pasca IPO, yaitu pada 2015 hanya mencatatkan pertumbuhan penjualan sebesar 7.92%, memang pada tahun 2015 terjadi perlambatan ekonomi baik di Indonesia maupun di Dunia, Karena The Fed menaikkan suku bunga acuan Amerika pada pertama kalinya.

Source : Dapur Investasi

Tetapi KINO secara konsisten memperbaiki margin laba bersih sejak tahun 2010 hingga kuartal II 2016, meskipun marjin laba bersih belum tercatat double digit, tetapi hal tersebut telah mampu menopang pertumbuhan laba bersih dari KINO, perseroan cukup handal dalam melakukan efisiensi.

Source : Dapur Investasi

Pertumbuhan laba bersih KINO secara rata – rata memang cukup tinggi, yaitu sekitar 128% YoY sejak tahun 2010, tetapi pada kuartal II 2016 hanya mampu tumbuh 29.99% YoY dari  kuartal II 2015. Sebenarnya angka 29.99% sudah cukup tinggi, dan terlihat pada tahun 2015, saat ekonomi sedang lesu, KINO mencatatkan pertumbuhan laba bersih sebesar 152.53% YoY.

Selanjutnya, bagaimana dengan ROA, ROE, DER dan DEA??

Source : Dapur Investasi

Secara rata – rata sejak tahun 2010 hingga tahun penuh 2015, ROA dan ROE dari KINO konsisten mengalami peningkatan, walaupun ROE tertinggi pada tahun 2011, belum mampu dilampaui KINO kembali. Tetapi dari indicator ROA dan ROE kita dapat melihat bahwa KINO cukup efektif dan efisien dalam mengalokasikan Asset dan Ekuitas, sehingga menciptakan ROA dan ROE yang cukup baik.

Source : Dapur Investasi

Dari segi rasio risiko Hutang, yaitu Debt to Equity Ratio (DER) dan Debt to Asset Ratio (DEA), KINO mencatatkan risiko yang minim pasca IPO, hal tersebut cukup wajar karena pada saat IPO akan menambah ekuitas dan asset, sehinggaDER dan DEA dapat terlihat kecil.

Tetapi memang sejak tahun 2010, rasio DEA dan DER sudah terlihat mengalami trend penurunan dan mengindikasikan bahwa KINO cukup handal dalam menggunakan Hutang untuk menumbuhkan Ekuitas dan Asset.

Nahh berdasarkan penilaian sederhana rasio – rasio diatas, kita dapat ketahui bahwa KINO jago dalam melakukan efisiensi dan efektifitas, tetapi KINO harus tetap mencari solusi untuk mempertahankan pertumbuhan penjualan di masa yang akan datang, strategi pemasaran atau penjangkauan pangsa pasar harus terus diperkuat. Karena kalo hanya modal efisiensi, suatu saat bisnis KINO akan tergerus oleh perubahan jaman.

Sebenarnya menurut Euromonitor, minuman herbal Panda dan minuman penyegar “Cap Kaki Tiga” dari KINO memiliki pangsa pasar masing – masing 35.7% dan 46.2%. selain itu menurut Top Brand Awards, “Cap Kaki Tiga” berada pada urutan pertama dengan pangsa pasar sebesar 46.3%

Source : Top Brand Awards

KINO juga telah melakukan sejumlah ekspansi dengan memperluas jaringan bisnis di regional Asia Tenggara, dengan membuka cucu usaha dibawah Kino International Pte.Ltd di negara Malaysia, Filipina, Vietnam dan Singapura. Fokus perseroan adalah pada bisnis Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh dan meluncurkan merek pertama pada tahun 2004, yaitu “Ellips Cologne”.

Produk dari KINO saat ini diantaranya :

Produk Pemeliharaan dan Perawatan Tubuh : Ellips dan Sasha (Perawatan Rambut), B&B, Eskulin Kids, Master Kids, Resik-V, Absolute, Ovale.

Produk Makanan : Snackit, Kino Candy, Segar Sari, Chocofun.

Produk Minuman : “Cap Kaki Tiga”, Cap Panda, Panther dan Tampico.

Produk Farmasai : Obat batuk madu “Cap Kaki Tiga” dan Balsem “Cap Kaki Tiga”

Setelah memahami kinerja dari KINO, mari kita lihat wajar atau tidak saham KINO di pasar Bursa Efek Indonesia.

Source : Stock Bit

Dari data Annualized P/E diatas kita bisa lihat bahwa saat ini harga KINO sedikit lebih murah dibandingkan saham sejenis dalam sektornya, tetapi masih lebih menarik AISA dari segi P/E.

Tetapi walaupun P/E KINO tercatat masih wajar, dan KINO mempunyai bisnis yang cukup terdiversifikasi dengan baik dibidang consumer goods, Investor harus tetap memperhatikan lini bisnis Minuman dan Perawatan Tubuh dari KINO yang mencatatkan kinerja tidak terlalu bagus dari segi pertumbuhan, padahal kedua lini tersebut merupakan ujung tombak perusahaan.

Source : Chart Nexus

Saran Penulis

Saran dari penulis berdasarkan kinerja keuangan diatas adalah menunggu penurunan dari saham KINO mereda, dan saat itu terjadi Investor dapat mulai melakukan akumulasi pembelian. Untuk Investor dengan range waktu jangka pendek, dapat mengakumulasi saham KINO pada range 4,500 – 4,600, karena pada support level tersebut diperkirakan akan terjadi rebound rebound lucu, hehe. Tetapi untuk Investor jangka panjang, sebaiknya menunggu akumulasi pada area dibawah 4,500. Karena untuk harga dibawah 4,500 sudah terlihat lebih wajar berdasarkan nilai fundamental, dibandingkan harga saham di Bursa Efek Indonesia saat ini.

Sekian tulisan dan uraian kali ini,, semoga bermanfaat dan bisa dijadikan panduan investasi bagi Kawula Investasi, sehingga tetap berinvestasi dengan cerdas dan tidak menjadikan paradigma bahwa Saham atau Pasar Modal itu adalah Judi,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Wajar Ngga Sihh PT Jasa Marga (Persero) Tbk / JSMR Turun Sebanyak Itu Karena Right Issue ??

Hayy haii,, Kawula muda Investasi.. Kembali lagi nih di Website kami dapurinvestasi.com,,

Nahh kali ini kami tertarik nih bahas tentang Right Issue PT Jasa Marga (Persero) Tbk /JSMR sejak disetujui PMN (Penyertaan Modal Negara) untuk JSMR oleh DPR RI.

Katanya sih Om – Om dan Tante – Tante di DPR RI menyetujui usulan Pemerintah untuk memberikan PMN kepada beberapa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang salah satunya JSMR. JSMR sendiri mendapatkan jatah sebesar Rp 1.25 Triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBNP) 2016.

Karena itulah JSMR melakukan Right Issue yang berdasarkan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) disetujui sebanyak – banyaknya saham yang diterbitkan kembali 491.46 juta lembar dengan nilai nominal Rp 500.

Sayangnya dana hasil Right Issue yang ditargetkan JSMR adalah sebesar Rp 1.8 Triliun dengan rincian Rp 1.25 T berasal dari PMN dan Rp 550 Milyar berasal dari dana Publik, apabila jumlah saham yang diterbitkan dalam Right Issue sebesar 491.46 juta lembar, maka diperkirakan Harga Exercise atau Harga penebusan Right kira – kira sebesar Rp 3,662.56 per lembar saham. Nahhh inilah yang menjadi biang keroknyaa,, mengingat saat ini saham JSMR di Bursa Efek Indonesia diperdagangkan pada harga Rp 4,670 menurut harga penutupan 15 September 2016, tentu melihat data diatas kebanyakan Investor melakukan penjualan dan mencari harga baru mendekati harga exercise dari Right JSMR, maka dari itu harga saham JSMR turun teruss seperti gambar dibawah ini,

Source : Chart Nexus

Sejak 9 Agutus 2016 sampai 15 September 2016, saham JSMR telah mengalami penurunan -17.71% dan ditutup pada harga 4,670.

Sebelum menilai kondisi perusahaan secara keseluruhan, mari kita bahas terlebih dahulu keadaan JSMR sebelum dan sesudah Right Issue nanti,,

Source : Dapur Investasi

Secara sederhana akan kami akan menjelaskan bahwa dengan asumsi laporan keuangan terakhir Kuartal II 2016 dari JSMR dan asumsi akun – akun keuangan lain tidak mengalami perubahan, maka diperkirakan Ekuitas Pemilik Entitas Induk mengalami peningkatan menjadi Rp 12.7 Triliun dan Total Asset berubah menjadi Rp 42 Triliun. Untuk rasio Debt to Equity (DeR) mengalami penurunan menjadi 2.10 dari sebelumnya yang tercatat sebesar 2.44 dan rasio Debt to Assets (DeA) mengalami penurunan menjadi 0.64 dari sebelumnya yang tercatat sebesar 0.67.

Apabila kita memakai acuan DeR 2.44, maka DeR setelah Right Issue yang sebesar 2.10 dapat ditingkatkan kembali menjadi 2.44 dengan cara penambahan penambahan berupa hutang. Potensi penambahan dana melalui hutang adalah sebesar Rp 4.4 Triliun agar DeR dapat kembali menjadi 2.44.

Dengan asumsi sederhana diatas maka dengan terjadinya Right Issue, JSMR berpotensi dapat meraih dana segar sebesar Rp 6.2 Triliun yang terdiri dari Right Issue dan Penambahan Hutang. Dana tersebut dapat digunakan untuk ekspansi perseroan.

Selanjutnya yang akan kami bahas pada artikel ini adalah mengenai struktur modal JSMR sebelum dan sesudah Right Issue,,

Source : Dapur Investasi

Pasca Right Issue, Modal Disetor mengalami peningkatan menjadi Rp 3.6 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 3.4 Triliun dan Agio Saham mengalami peningkatan menjadi Rp 4 Triliun dari sebelumnya yang tercatat sebesar Rp 2.4 Triliun.

Jumlah saham beredar bertambah menjadi 7,291,460,000 lembar, dari sebelumnya yang tercatat sebesar 6,800,000,000. Dengan estimasi Right Issue sebesar 491,460,000 lembar, maka rasio Right Issue adalah 1 : 0.072 yang artinya 1 lembar saham lama berhak mendapatkan 0.072 lembar saham baru atau 100 : 7 yang artinya 100 lembar saham (1 lot) lama berhak mendapatkan 7 lembar saham baru.

Sesungguhnya lembar Right Issue yang dikeluarkan hanya baru estimasi karena ada kata “Sebanyak – banyaknya” jadi harga exercise Right Issue belum mutlak sebesar Rp 3662.56, dan perbandingan Right Issue terbilang memiliki bobot yang sangat kecil, karena memang tujuan Right Issue ini untuk menampung dana PMN, bukan tujuan menyerap dana publik, terlihat dana public yang dibutuhkan hanya Rp 550 Milyar.

Okayy mari kita asumsikan semua data berdasarkan RUPS JSMR terlebih dahulu, maka setelah kami hitung – hitung harga teoritis pasca Right Issue berdasarkan harga penutupan 15 September 2016 adalah sebesar Rp 4,602.10. Angka tersebut juga mendekati support kuat dari JSMR dari segi teknikal analisis. Saat ini support jangka panjang dan support kuat dari JSMR berada pada level Rp 4,500, seperti yang ditunjukkan garis putus – putus warna merah pada gambar berikut ini.

Source : Chart Nexus

Selanjutnyaa,, mari kita bahas sebenarnya apa yang dipertanyakan dan dipermasalahkan oleh Investor mengenai JSMR, kalo menurut kaca mata kami, yang ditakutkan Investor adalah :

  1. Porsi kepemilikan saham akan terdilusi dengan adanya Right Issue
  2. Harga exercise dari pada right itu sendiri sangat jauh lebih rendah dibawah harga pasar JSMR saat ini.
  3. Laba per saham atau Bahasa kerennya EPS dari JSMR akan mengalami penurunan karena banyaknya jumlah saham beredar
  4. Secara otomatis EPS akan mempengaruhi Price Earning Ratio atau PER atau P/E, maka P/E dari JSMR akan menjadi tinggi seiring penurunan EPS, walaupun pada harga yang sudah cukup rendah saat ini Rp 4,670.

Okayy,, ayooo dibahas satu satu dari permasalahan tersebut, untuk masalah dilusi menurut kami bobot dari Right Issue cukup kecil dan tidak terlalu signifikan, karena hanya memiliki rasio 100 : 7, walaupun dilusi memang benar terjadi, tetapi menurut pandangan kami hal tersebut tidak terlalu menjadi masalah.

Yang kedua adalah harga exercise yang terlalu rendah, nahh ini dia yang menjadi masalah dan ini merupakan kebijakan dari pemangku kepentingan di JSMR. Tetapi menurut kami, sebelum skema Right Issue resmi dikeluarkan, maka harga exercise hanya sebatas asumsi, dan walaupun ternyata harga tersebut benar, maka sebenarnya investor tidak perlu khawatir karena saat ini harga pasar JSMR sudah mendekati harga exercise Right Issue.

Yang ketiga adalah penurunan EPS JSMR, para pembaca dapat melihat gambar berikut sebagai bahan pertimbangan :

Source : Dapur Investasi

Pada ilustrasi grafik diatas, kami telah menambahkan jumlah saham beredar pada akhir tahun 2016 menjadi 7,291,460,000 lembar dan proyeksi laba bersih kami untuk tahun 2016 adalah tumbuh 12.40% berdasarkan rata – rata pertumbuhan enam tahun terakhir menjadi Rp 1.6 Triliun. Maka EPS JSMR menurut prediksi kami adalah sebesar Rp 226.04 pada tahun penuh 2016, hal tersebut mengindikasikan bahwa EPS dari JSMR diperkirakan tidak mengalami penurunan seuai yang ditakutkan Investor.

Source : Dapur Investasi

Kami mengasumsikan pertumbuhan EPS sebesar 12.40% merupakan asumsi yang cukup konservatif,, mengingat pada kuartal II 2016 JSMR mencatatkan kinerja keuangan yang gemilang, dimana pertumbuhan pendapatan perusahaan sebesar 63.09% YoY yaitu Rp 6.7 Triliun, dibandingkan kuartal II 2015 yang tercatat sebesar Rp 4.1 Triliun. Pendapatan JSMR ditopang oleh pendapatan konstruksi yang tumbuh sebesar 424.89% YoY menjadi Rp 2.5 Triliun, dibandingkan kuartal II 2015 yang tercatat sebesar Rp 475.8 Milyar, sedangkan pendapata tol hanya menyumbang pertumbuhan 15.80% YoY atau sebesar Rp 4.2 Triliun dibandingkan kuartal II 2015 yang tercatat sebesar Rp 3.6 Triliun. Terlihat bahwa JSMR cukup lihai dalam menangkap peluang konstruksi di tahun 2016, saat ini JSMR sudah menyadari bahwa pendapatan harus ditopang dengan pendapatan konstruksi, karena pertumbuhan pendapatan dari jalan tol relatif lebih rendah.

Laba bersih JSMR pada kuartal II 2016 tercatat tumbuh sebesar 43.96% atau sebesar Rp 925.5 Milyar, dibandingkan kuartal II 2015 yang tercatat sebesar Rp 642.9 Milyar.

Source : Dapur Investasi

Tabel diatas merupakan grafik P/E berbanding dengan harga saham JSMR dari awal tahun 2010 hingga proyeksi akhir tahun 2016. Terlihat bahwa saat ini P/E JSMR berada dibawah harga pasar saham JSMR, dan terlihat ada kenaikan P/E di akhir tahun 2016, tetapi masih berada dibawah harga pasar JSMR. Indicator pertama dari P/E mengindikasikan bahwa saat ini dan pasca Right Issue harga pasar JSMR masih relatif wajar dan murah dengan pertumbuhan penjualan serta pertumbuhan laba bersih yang ciamikk.

Source : Dapur Investasi

Indikator kedua adalah P/E Band, dimana saat ini berdasarkan harga penutupan 15 September 2016, P/E JSMR tercatat pada level 18.16 kali dan berada pada area standar deviasi -1 sampai area average. Area tersebut merupakan area yang relatif murah untuk indicator P/E dan pada akhir tahun 2016 kami memprediksikan P/E JSMR sebesar 20.36, cenderung mengalami kenaikan namun masih dibawah P/E rata – rata selama enam tahun terakhir. Perlu diketahui pasca Right Issue kami menggunakan harga teoritis.

Waahhh,, panjang banget artikel kali ini. Inti yang mau disampaikan adalah bahwa sebelum dan sesudah Right Issue harga JSMR di pasar relatif cukup murah berdasarkan P/E JSMR. Kinerja pada kuartal II 2016 pun terlihat sangat memuaskan ditopang pendapatan konstruksi, Right Issue yang dilakukan tujuannya adalah untuk ekspansi dari JSMR dan JSMR menurut kami memiliki kapabilitas yang mumpuni dalam mengkonversi dana yang diperoleh menjadi proyek potensial untuk menciptakan keuntungan, sehingga berdampak positif terhadap kinerja keuangan JSMR.

Pada dasarnya investor tidak perlu khawatir dengan JSMR, apalagi harga saat ini sudah cukup murah dan berada di area support kuat selama tiga tahun terakhir. Investor boleh melakukan akumulasi dengan strategi Buy On Weakness dengan range harga 4,500 – 4,700. Investor juga dapat melakukan exercise pada saat Right Issue berlangsung nanti.

Terima kasih sudah membaca artikel panjang ini,, hehe, semoga bisa menjadi panduan dalam Investasi para pembaca,,

Cheers..,,,

By : Putu Wahyu Suryawan

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^  ^

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Pahami Indikator Ekonomi Sebelum Khawatir Akan Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan

Selamat siang kawula investasi Indonesia,, semoga selalu cerdas dalam berinvestasi.. nahh pada artikel kali ini,, kami akan membahas kembali pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), karena penurunan tajam IHSG baru saja dimulai.

Menjelang libur hari raya Idul Adha, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi yang cukup dalam sebesar -89.161 poin atau -1.66% pada level 5,281.917. Dengan adanya penurunan tersebut membuat IHSG menembus level support jangka pendek di area 5,296 – 5,300, penurunan yang terjadi juga sekaligus mengiyakan indikasi teknikal yang sudah muncul selama sebulan terakhir, sejak 9 Agustus 2016 dan hal tersebut sempat kami bahas di website kami dapurinvestasi.com pada link berikut ini, http://dapurinvestasi.com/outlook-teknikal-indeks-harga-saham-gabungan-jangka-pendek-dan-menengah.html.

Nahh selanjutnya Investor pasti bertanya – tanya kemana arah IHSG berikutnya, apakah ini hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015??

Mari perhatikan gambar berikut ini.

Source : Chart Nexus

Apabila terlihat pada gambar, berdasarkan Indikator teknikal, pelemahan IHSG selanjutnya akan berada pada level 5,200, tentu hal tersebut pernah kami bahas juga pada artikel sebelumnya. Pencapaian target 5,200 menurut indicator teknikal dan psikologi pasar cukup kuat, karena pada perdagangan Jumat pekan lalu menjelang libur Idul Adha, Investor Asing mencatatkan net sell cukup tinggi sebesar 914 Milyar, angka yang tinggi karena pada hari – hari sebelumnya, walaupun IHSG mengalami koreksi, tetapi  net sell Investor Asing tidak terlalu signifikan, bahkan pernah mengalami net buy ketika IHSG terkoreksi.

Source : Chart Nexus

Dann berdasarkan teknikal jangka panjang, memang seharusnya trend bullish IHSG bergerak agak landai atau tidak terlalu curam, maka koreksi kali ini diperkirakan akan menjustifikasi pergerakan IHSG selama ini yang terlalu curam. Koreksi baru saja dimulai dan akan bergerak pada level 5,200 dan apabila level tersebut telah ditembus kembali, maka target pelemahan selanjutnya adalah pada level 5,100.

Apakah ini benar hanya koreksi sehat atau memang IHSG akan berbalik arah menjadi down trend seperti halnya tahun 2015?? Apa yang sebaiknya Investor lakukan pada sisa tahun 2016 ini?? Buy On Weakness atau Cash is King??

Tentu banyak sekali pertanyaan yang muncul di kepala Investor ketika IHSG mengalami koreksi, karena pada umumnya sifat manusia tidak ingin adanya penurunan pada IHSG, semua orang ingin IHSG terus mengalami peningkatan, tetapi pada faktanya setiap ada kenaikan pasti ada penurunan dan IHSG harus bergerak sesuai kondisi fundamental ekonomi Indonesia.

Ada beberapa Indikator fundamental yang dapat kami bagikan, sebagai pandangan kami bagaimana seharusnya Investor menyikapi penurunan IHSG kali ini. Indikator pertama adalah yang bersifat relative positif bagi kami,, Mohon disimak yaa,,

Pertumbuhan Ekonomi Indonesia dari segi PDB (Produk Domestik Bruto) hingga kuartal II 2016 tercatat lebih baik dibandingkan tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Kuartal II 2016, pertumbuhan PDB Indonesia tercatat tumbuh sebesar 4.02% QoQ dan 5.18% YoY, apabila terlihat pada gambar, terjadi trend penguatan sejak Kuartal I 2015. Hal tersebut mengindikasikan bahwa ekonomi Indonesia mengalami perbaikan.

Inflasi Indonesia tetap terjaga dan masih dibawah target Bank Indonesia yang sebesar 4%, tetapi Inflasi cenderung mengalami penurunan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus 2016, Indonesia mengalami deflasi sebesar -0.02% MoM dan secara tahunan tercatat sebesar 2.79% YoY, maka sejak Januari hingga Agustus, Inflasi Indonesia masih tercatat sebesar 1.74%.

Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia terus mengalami peningkatan sejak mengalami posisi buruk pada tahun 2015.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada Bulan Agustus 2016 Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia tercatat sebesar 113.3, walaupun angka tersebut lebih rendah dari bulan Juli yang tercatat sebesar 114.2, tetapi Indeks Kepercayaan Konsumen Indonesia masih berada pada trend positif.

Data penjualan ritel Indonesia mengalami peningkatan yang cukup kuat sejak Agustus 2015

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus, penjualan ritel Indonesia tercatat sebesar 15.90% YoY, lebih tinggi dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 13.50% YoY, terlihat pada gambar penjualan ritel masih cukup kuat untuk melanjutkan trend positifnya.

Data Indonesia Nikkei Manufacturing PMI masih berada pada zona aman diatas 50

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada bulan Agustus data Manufaktur Indonesia mengalami rebound menjadi 50.4 dari bulan Juli yang tercatat sebesar 48.4. Dengan perbaikan tersebut maka saat ini manufaktur Indonesia kembali berada pada zona ekspansi karena berada diatas level 50.

Data neraca perdagangan Indonesia kian membaik

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Walaupun pada bulan Agustus data neraca perdagangan Indonesia kembali terpuruk, dimana ekspor melemah -17.02% YoY dan Impor melemah -11.56% YoY, alhasil neraca perdagangan tercatat turun menjadi $ 0.59 Milyar, tetapi apabila dibandingkan bulan Oktober 2015, saat ini telah terjadi perbaikan pada ekspor impor Indonesia.

Selajutnya ada cadangan devisa Indonesia yang terus mengalami perbaikan

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Untuk cadangan devisa Indonesia, mari simak ulasannya pada artikel berikut ini.

http://dapurinvestasi.com/perkembangan-cadangan-devisa-indonesia-periode-2008-2016.html

Tetapii, perlu diketahui bahwa ada juga Indikator fundamental yang menjadi katalis negatif pergerakan IHSG, seperti hal nya berikut ini.

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Adanya kebijakan dari Bank Indonesia dalam menurunkan Bi Rate, hingga memberlakukan 7 Days Reverse Repo, ternyata belum mampu meningkatkan pertumbuhan kredit di Indonesia. Hingga bulan Agustus 7 Days Reverse Repo mulai diberlakukan dengan rate sebesar 5.25% sebagai pengganti Bi Rate, tetapi pertumbuhan kredit belum juga tampak pulih, seperti yang dijelaskan pada garis kuning.

Investasi Langsung Asing di Indonesia juga mengalami penurunan pada Kuartal II 2016

Source : Investing.com, Dapur Investasi

Pada kuartal II 2016, Investasi langsung dari Investor Asing hanya tumbuh 7.90% YoY, lebih rendah dari kuartal I 2016 yang tercatat sebesar 17.10%, angka tersebut terus megalami penurunan sejak mencapai level tertinggi sebesar 26% pada kuartal IV 2015.

Data selanjutnya yang paling kritis mempengaruhi IHSG adalah dari penerimaan negara yang sangat jauh dari ekspektasi, dan hal ini masih sangat hangat diperbincangkan khususnya terkait kebijakan Tax Amnesty.

Hingga akhir Agustus 2016 penerimaan pajak hanya sebesar Rp 596 Triliun atau 44% dari target pemerintah dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2016 sebesar Rp 1.355,2 triliun. Angka tersebut jauh berkurang dibandingkan penerimaan negara pada Agustus 2015 yang tercatat sebesar Rp 867.5 Triliun atau 49.2% dari target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2015. Hal ini tentu sangat mengkhawatirkan dari segi keuangan pemerintah.

Indikator Eksternal adalah masalah The Fed yang masih ditunggu – tunggu akan kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada sisa tahun 2016 ini.

Okaayyy,, usai sudah pembahasan diatas mengenai kondisi perekonomian Indonesia, tetapi terlihat tidak komplit apabila kita tidak melihat kinerja emiten di IHSG sepanjang semester I 2016, berikut kami tampilkan pertumbuhan penjualan emiten sejak tahun 2014 dan juga pertumbuhan EPS sejak tahun 2014 berdasarkan 30 emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar di IHSG. Kami mengambil sampel tersebut karena, menurut kami fundamental dari emiten yang memiliki kapitalisasi pasar terbesar maka turut akan mempengaruhi pergerakan IHSG di sisa tahun 2016 ini.

Source : Dapur Investasi

Secara rata – rata pertumbuhan 30 emiten dengan kapitalisasi besar mencatatkan perbaikan pada semester I 2016, dengan rata – rata pertumbuhan penjualan tercatat tumbuh sebesar 5.99% YoY dibandingkan pada tahun 2015 yang tercatat hanya tumbuh sebesar 2.74% YoY. Laba bersih secara rata – rata tumbuh sebesar 8.05% YoY, jauh lebih baik dibandingkan tahun 2015 yang tercatat – 2.05%.

Dari sekian Indikator fundamental ekonomi yang kami tampilkan, baik dari segi makro maupun mikro, kami menilai bahwa perekonomian Indonesia pada tahun 2016 ini masih lebih baik dibandingkan pada tahun 2015 yang mengalami keterpurukan. Investor hanya perlu mewaspadai penerimaan pajak negara, investasi asing, pertumbuhan kredit dan potensi kenaikan suku bunga The Fed. Indikator negatif tersebut diperkirakan akan mampu menyeret IHSG pada trend pelemahan jangka pendek.

Tetapi kami tetap optimis bahwa secara jangka panjang IHSG masih berada pada trend bullish dan kami menyarankan agar investor mengurangi bobot portofolio pada saham yang memiliki kinerja kurang bagus di semester I 2016 (ditandai dengan warna merah pada tabel), kecuali prospek kedepan sectoral saham tersebut mengalami perbaikan kinerja. Mulai lah beralih pada saham defensif dan emiten yang memiliki kinerja positif di tahun 2016.

Asumsi kami adalah, apabila ekonomi Indonesia tahun 2016 mengalami perbaikan, maka seharusnya emiten melakukan langkah positif agar bisa menggaet pangsa pasar atau potensi keuntungan ketika ekonomi membaik, hal tersebut ditunjukkan dengan kinerja yang mantapp juga pada laporan keuangan. Tetapi apabila penjualan dan laba bersih perusahaan mengalami penurunan ditengah penguatan ekonomi Indonesia, maka kami memperkirakan industri dan manajemen emiten sedang dalam performa buruk.

Hindari pula sektor yang sudah mencatatkan kenaikan tertinggi seperti sektor pertambangan dan aneka industry.

Sekian tulisan dari kami pada kali ini, semoga dapat mencerahkan keputusan investasi dari pembaca, sehingga tau apa yang harus dilakukan pada sisa tahun 2016 ini.

Terima kasih

By : Putu Wahyu Suryawan

Disclaimer :Analisa pasar ditulis oleh Tim Dapur Investasi. Seluruh data pada analisa ini berasal dari sumber yang terpercaya. Analisa pasar ini hanya untuk memberikan gambaran dan informasi tentang pergerakan pasar sebagai dasar melakukan investasi, keputusan investasi secara penuh diputuskan oleh investor atau trader. Analisa ini bukan untuk memberikan instruksi beli maupun jual untuk suatu efek tertentu pada pihak manapun.

Perkembangan Cadangan Devisa Indonesia Periode 2008 – 2016

Heyy guys, kali ini kita mau bahas Cadangan devisa Indonesia nihh,, perlu kalian ketahui pada bulan Agustus 2016 kemarin, Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia yang tercatat sebesar $ 113.5 Milyar, lebih tinggi dari bulan Juli yang tercatat sebesar $ 111.4 Milyar.

Kalo kata Bank Indonesia sihh peningkatan itu dikarenakan penerimaan cadangan devisa meningkat yang berasal dari penerimaan pajak dan devisa migas.

Truss,, pada bulan Agustus juga ada penarikan pinjaman luar negeri pemerintah dan lelang Surat Berharga Bank Indonesia (SBBI) valas, sehingga hal tersebut menyebabkan adanya arus dana masuk yang cukup besar dan mempengaruhi peningkatan cadangan devisa Indonesia.

Dannn,, secara bersamaan pemerintah Indonesia juga melakukan pembayaran hutang luar negeri serta melunasi SBBI valas yang sedang jatuh tempo, namun hal tersebut tidak menjadi kendala, karena arus dana keluar untuk membayar hutang lebih kecil dibandingan dana yang masuk ke Indonesia karena perolehan hutang baru, pembayaran pajak dan devisa migas.

Berdasarkan perhitungan Bank Indonesia, cadangan devisa bulan Agustus itu mampu lohh atau cukup membiayai 8,3 – 8,7 bulan kebutuhan Impor dan pembiayaan utang luar negeri pemerintah. Jadi bisa dibilang cadangan Indonesia cukup aman, karena menurut standar Internasional, cadangan devisa yang kredibel itu mampu membiayain impor selama 3 bulan.

Nahh, mari kita bahas perkembangan cadangan devisa Indonesia sejak tahun 2008, dan bagaimana dampaknya bagi Rupiah terhadap kurs Dollar Amerika.

Source : Dapur Investasi

Apabila dilihat dari grafik diatas, terlihat bahwa perubahan kurs Rupiah (garis panah hijau) berbanding terbalik dengan perubahan cadangan devisa Indonesia (garis panah merah), tetapi apabila diterjemahkan, maka pergerakan Rupiah berbanding lurus dengan perubahan Cadangan Devisa Indonesia, karena apabila Rupiah menguat maka cadangan devisa mengalami penigkatan dan apabila Rupiah melemah maka cadangan devisa mengalami penurunan.

Memang secara alamiah, apabila Kurs Rupiah mengalami penguatan, maka harus didukung adanya arus dana masuk untuk Indonesia, baik melalui Kegiatan Ekspor, Perdagangan Jasa, Pariwisata, TKI atau TKW, Penanaman modal asing, Pinjaman luar negeri dan Hibah atau hadiah dari luar negeri.

Dari grafik juga dapat terlihat bahwa apabila Kurs Rupiah mengalami pelemahan maka kemungkinan besar hal tersebut dipengaruhi oleh adanya arus dana keluar dari Indonesia,,

Nahh selanjutnya kita akan bertanyaa,, apa hubungan Rupiah dengan Cadangan devisa Indonesia??

Mengapa kedua hal tersebut saling berkaitan dan perubahannya berjalan searah.

Berikut penjelasannya,

Bank Indonesia memiliki fungsi menjaga stabilitas moneter Indonesia, termasuk menjaga stabilitas mata uang Rupiah, maka ketika Rupiah mengalami pelemahan terhadap Dollar Amerika, Bank Indonesia akan melakukan intervensi pasar agar pelemahan Rupiah tidak terlalu dalam dan pergerakan Rupiah menjadi stabil, hal tersebut tentu akan menguras Cadangan devisa Indonesia, dan ketika Rupiah mengalami penguatan maka Cadangan devisa akan mengalami penambahan kembali.

Nahh, Investor perlu memperhatikan satu hal penting, dimana ketika Rupiah mengalami penguatan seharusnya Cadangan devisa mengalami peningkatan juga, tetapi apabila Rupiah mengalami penguatan dan Cadangan devisa mengalami penurunan, maka bisa dipastikan bahwa penguatan Rupiah yang terjadi akibat dari intervensi Bank Indonesia, bukan karena performa yang baik dari Ekspor, Perdagangan Jasa, Pariwisata, TKI atau TKW, Penanaman modal asing, Pinjaman luar negeri dan Hibah atau hadiah dari luar negeri.

Tentu kita akan merasa tenang apabila penguatan Rupiah terjadi karena kinerja ekonomi Indonesia mengalami perbaikan bukan karena intervensi Bank Indonesia, walaupun terkadang intervensi itu perlu dilakukan.

Apabila dilihat pada grafik dari periode September 2011 sampai September 2013, cadangan devisa terkuras habis hingga mencapai titik terendah $ 93 Milyar (dibawah batas wajar $ 100 Milyar) pada periode tersebut, tetapi hal tersebut tidak mampu menjadikan Rupiah menguat, karena memang pada tahun – tahun tersebut Rupiah mengalami pelemahan hingga tahun 2015 akibat adanya arus keluar dari Indonesia karena pengurangan stimulus dari The Federal Reserve Amerika Serikat dan kenaikan suku bunga acuan Amerika Serikat, ditambah lagi pada periode tersebut pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami perlambatan.

Pada tahun 2016 Cadangan devisa Indonesia telah berangsur angsur mengalami pertumbuhan, dimana pada Januari 2016 Cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar $ 102.1 Milyar dan pada bulan Agustus tercatat sebesar $ 113.5 Milyar, dan Rupiah telah mengalami penguatan yang cukup tinggi, dimana pada bulan September 2015 tercatat sebesar 14,396 dan pada 08 September 2016 tercatat sebesar 13,086. Rupiah telah mengalami penguatan sebesar +9.10%.

Intinya dari segi Cadangan devisa dan Pergerakan Rupiah, ekonomi Indonesia sudah terlihat membaik dibandingkan tahun – tahun sebelumnya, dan hal tersebut harus dipertahankan, sehingga kondisi perekonomian Indonesia cukup kuat menghadapi perlambatan ekonomi dunia. Apalagi ketika pada akhir tahun 2016, The Fed kembali menaikkan suku bunga acuan Amerika. Indonesia harus mampu menghadapi badai ekonomi tersebut.

Sekian artikel singkat dari kami, jangan lupa like, comment and subscribe yaaahhh guyyyysss.. hahaha

Cerdaslah dalam berinvestasi,, ^^

By : Putu Wahyu Suryawan

Ada Apa Dengan The Fed ?? (Part I)

Federal Reserve atau The Fed kembali membawa kekhawatiran bagi pasar keuangan di dunia. Janet Yellen selaku pimpinan The Fed pada pertemuan Jackson Hole Jumat (26/8) pukul 11.00 waktu New York menegaskan akan menaikkan suku bunga acuan pada beberapa bulan terakhir di 2016 seiring data ekonomi Amerika yang membaik.

Pasar memang sedikit bertingkah manja terhadap gejolak ekonomi, sejak Amerika memberikan quantitative easing (pelonggaran moneter dengan cara pengucuran dana oleh Bank Sentral melalui pembelian asset, dalam hal ini Obligasi) pada tahun 2008 karena krisis subprime motgage, pasar menjadi candu akan stimulus moneter, pergerakan pasar keuangan seolah sejalan dengan besar atau kecilnya stimulus moneter yang dikucurkan oleh Bank Sentral di berbagai Negara termasuk Amerika. Pasar terus berharap agar pelonggaran moneter terus diberikan sehingga tetap mampu menjaga pertumbuhan ekonomi yang kondusif.

Pada tahun 2013 pasar kembali bergejolak karena The Fed memastikan untuk mengurangi quantitative easing atau dikenal dengan istilah tapering off, dimana The Fed mulai mengurangi pembelian Obligasi dan pasar berpandangan bahwa pengurangan stimulus moneter tersebut dapat membuat pertumbuhan ekonomi Amerika dan pertumbuhan ekonomi Dunia mengalami kontraksi.

Setelah tahun 2013 berlalu, ekonomi mulai pulih kembali dan seolah olah pasar berpandangan bahwa “gapapa The Fed ngga ngasih quantitative easing lagi, asalkan Amerika Serikat tetap menganut suku bunga rendah yaitu sebesar 0.25%”, sehingga dengan adanya suku bunga rendah maka daya beli masyarakat akan tumbuh, permintaan tenaga kerja akan stabil dan perekonomian akan meningkat kembali.

Tetapi pada tahun 2015 The Fed kembali mengguncang pasar keuangan, dengan memastikan untuk menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kali sebesar 25 bps menjadi 0.50% dari sebelumnya yang sebesar 0.25%. Hal tersebut sontak membuat dollar Amerika Serikat menguat dibandingkan mata uang negara di dunia, mata uang negara emerging market mengalami depresiasi yang cukup dahsyat, terutama bagi negara yang tidak memiliki fundamental yang cukup baik.

Indikator utama yang menjadi acuan dalam menaikkan suku bunga Amerika Serikat adalah target pertumbuhan ekonomi Amerika Serikat yang diperkirakan sebesar 2.1% – 2.2%, target Inflasi yang diperkirakan mencapai 2% dan target angka pengangguran yang diperkirakan berada pada level 5%.

Fakta yang terjadi ketika suku bunga acuan Amerika Serikat dinaikkan pada Desember 2015 adalah sebagai berikut :

Source : Trading Economic

Pertumbuhan GDP pada Kuartal IV 2015 hanya mencapai 1.9% lebih rendah dari target The Fed yang sebesar 2.1% – 2.2%.

Source : Trading Economic

Inflasi Amerika Serikat hanya tercatat sebesar 0.7% pada bulan Desember, jauh dibawah target The Fed yang sebesar 2%.

Source : Trading Economic

Data Unemployment rate Amerika Serikat tercatat sebesar 5% pada bulan Desember 2015, sesuai dengan target The Fed.

Dari data diatas dapat kita ketahui bahwa keputusan The Fed dalam menaikkan suku bunga acuan Amerika Serikat pada akhir tahun 2015 relatif terburu – buru dan cenderung nekat, mengingat dua dari tiga indikator ekonomi belum tercapai. Pada saat kenaikan tersebut terjadi, tentu perekonomian Amerika Serikat belum cukup kuat dalam beradaptasi terhadap keadaan tersebut. Apalagi perekonomian dunia yang kembali mengalami turbulence karena kebijakan kenaikan suku bunga The Fed.

Source : World Bank

Terlihat pada tahun 2015 pertumbuhan ekonomi dunia mengalami penurunan dan tercatat hanya tumbuh sebesar 2.47%.

Bagaimana dengan tahun 2016 ?? Apakah The Fed pantas untuk kembali menaikkan suku bunga acuannya ?? Apakah perekonomian Indonesia siap beradaptasi dengan kenaikan suku bunga The Fed tahap II ??

Pertanyaan diatas akan kami paparkan pada tulisan selanjutnya Part II..

Cerdaslah dalam berinvestasi ^__^

By : Putu Wahyu Suryawan

“Outlook Dapur Investasi Untuk Kelapa Sawit Indonesia Serta Rekomendasi AALI, LSIP dan SSMS” (Part II)

Setelah kami melakukan screening saham pada sektor kelapa sawit dengan menggunakan metode kuantitatif pergerakan harga, maka berikut kami berikan rekomendasi berupa analisa technical untuk para pembaca apabila berminat berinvestasi pada sektor perkebunan khususnya CPO di Bursa Efek Indonesia.

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI)

Source : Chart Nexus

AALI saat ini berada pada area konsolidasi yang cukup lama sejak Agustus 2015, dan secara jangka panjang kami percaya bahwa pergerakan harga saham AALI akan keluar dari area konsolidasinya dan menuju level 20,000 dengan potensi upside return sebesar +15.7%.

Tetapi secara jangka pendek AALI boleh dibeli sisstt dan agan pada range harga 16,450 – 16,500, nahh target dari kami sihh pada level 17,500 – 17,525, lumayan ada target keuntungan sekitar 6%. Tapi apabila harga AALI berbalik arah dan mengalami penurunan jangan lupa batasi resiko ya sisstt dan agan dengan cara cut loss pada range harga 15,700 – 15,725, yahh ada potensi kerugian juga sekitar -4.5%.

PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP)

Source : Chart Nexus

LSIP saat ini berada pada trend Bullish sejak Agustus 2015, merupakan trend Bullish yang cukup panjang dan cukup kuat. Kami memperkirakan bahwa trend akan masih berlanjut hingga mencapai target price 1,840 dalam jangka panjang dengan potensial upside return sebesar +16.6%.

Tetapi dalam janga pendek LSIP juga boleh dibeli sisstt dan agan pada range harga 1,590 – 1,600, nahh target dari kami sihh pada level 1,650 – 1,665, lumayan ada target keuntungan sekitar 4%. Tapi apabila harga LSIP berbalik arah dan mengalami penurunan jangan lupa batasi resiko yaa sissstt dan agan dengan cara cut loss pada range harga 1,530 – 1,540, yahh pastinya ada potensi kerugian juga sekitar -3.9%.

PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS)

Source : Chart Nexus

SSMS pada saat ini masih berada pada area konsolidasi yang cukup panjang sejak Juni 2015, dan terlihat pada gambar bahwa SSMS telah berada pada area support dan siap untuk meraih area resistance konsolidasi. Kami melihat bahwa target tersebut akan tercapai pada level 2,030 dengan potensial upside return sebesar +18.3% dalam jangka panjang.

Tetapi dalam jangka pendek SSMS juga boleh dibeli sisstt dan agan pada range harga 1,705 – 1,725, nahh target dari kami sihh pada level 1,790 – 1,800, lumayan ada target keuntungan sekitar 4.4%. Tapi apabila harga SSMS berbalik arah dan mengalami penurunan jangan lupa batasi resiko yaa sissstt dan agan dengan cara cut loss pada range harga 1,655 – 1,660, yahh pastinya ada potensi kerugian juga sekitar -3.8%.

Ketiga saham diatas merupakan saham – saham syariah, sehingga apabila agaan dan sista merupakan investor syariah dapat melakukan akumulasi saham – saham tersebut untuk memperoleh potensi keuntungan yang kami perkirakan.

Terima kasih

Cerdaslah dalam berinvestasi ^_^

By : Putu Wahyu Suryawan

“Outlook Dapur Investasi Untuk Kelapa Sawit Indonesia Serta Rekomendasi AALI, LSIP dan SSMS” (Part I)

Prospek Minyak Kelapa Sawit Indonesia

Indonesia merupakan salah satu negara terbesar penghasil minyak kelapa sawit di dunia dan menduduki peringkat kedua setelah Malaysia. Indonesia dan Malaysia menyumbang produksi minyak kelapa sawit sekitar 85% sampai 90% dari keseluruhan produksi minyak kelapa sawit di dunia.

Pada tahun 2015, Indonesia dan Malaysia sepakat untuk membentuk Council Of Palm Oil Production Countries atau Dewan Negara Penghasil Palm Oil. Dengan adanya kesepakatan tersebut, maka diharapkan Indonesia dan Malaysia dapat saling berkoordinasi dalam menentukan standard dari kelapa sawit itu sendiri, karena selama ini Indonesia dan Malaysia cukup saling bersaing dalam menentukan standard minyak kelapa sawit. Kesepakatan ini juga akan membuat Indonesia dan Malaysia dapat mengontrol pergerakan harga miyak kelapa sawit, sehingga pergerakan harga minyak kelapa sawit lebih teratur dan terjaga.

Kami menilai bahwa hal tersebut sangat positif bagi prospek harga minyak kelapa sawit kedepannya.

Selain itu prospek minyak kelapa sawit Indonesia juga ditopang oleh kebijakan pemerintah Indonesia, dimana pemerintah telah memoratorium penambahan lahan sawit untuk lima tahun kedepan. Hal ini akan menyebabkan pertumbuhan produksi minyak kelapa sawit akan sedikit melambat dan supply akan terkontrol, maka harga minyak kelapa sawit akan mengalami kenaikan.

Pemerintah juga tengah memberlakukan kenaikan bea keluar atau bea export dari kelapa sawit, hal ini dilakukan karena pemerintah sudah menilai bahwa harga minyak kelapa sawit dunia sudah pulih dan mulai mengalami peningkatan.

Pemerintah juga menerapkan kebijakan B20 atau produsen Bahan Bakar Minyak (BBM) diharuskan untuk mencampurkan 20% komponen solar dengan minyak sawit. Hal tersebut dapat menghemat devisa negara sebesar Rp 2,85 Triliun dan juga dapat menurunkan emisi CO2 sebanyak 1,06 Juta Ton. Tentu kebijakan tersebut juga berdampak positif bagi pertumbuhan emiten CPO di Indonesia karena permintaan akan CPO semakin meningkat dengan adanya kebijakan tersebut.

Badai El Nino merupakan badai yang menyebabkan kekeringan dan dapat menghambat produksi tanaman karena berkurangnya asupan air dari tanah dan Badai La Nina merupakan badai yang menyebabkan meningkatnya curah hujan sehingga bias berdampak positif bagi tanaman yang membutuhkan asupan air cukup banyak, tetapi apabila Badai La Nina terus berlanjut maka asupan sinar matahari akan berkurang sehingga proses fotosintesis pun akan terganggu.

Kedua badai diatas sangat mengganggu proses bertumbuhnya kelapa sawit, karena ketika El Nino terjadi kelapa sawit akan kekurangan air dan saat La Nina Terjadi, maka kelapa sawit akan kesulitan dalam melakukan fotosintesis. Dan badai – badai tersebut menjadi berkah yang positif bagi emiten sawit karena harga kelapa sawit menjadi meningkat seiring kurangnya supply dipasar.

Perkembangan Harga Kelapa Sawit Selama 7 Tahun Terakhir

Source : MPOC

Selama tujuh tahun terakhir, harga CPO dunia mengalami penurunan menurut data yang kami peroleh dari MPOC. Tetapi menurut grafik pergerakan harga CPO telah mampu bertahan pada level harga 1,998 – 2,200 sepeti terlihat pada gambar dengan tanda bulat merah.

Selain itu trend penurunan yang digambarkan dengan garis hitam juga telah berhasil ditembus oleh harga CPO, hal tersebut mengindikasikan bahwa trend penurunan harga CPO telah berakhir dan saat ini siap untuk berganti trend menjadi up trend didukung oleh kebijakan – kebijakan positif dari pemerintah.

Apabila dilihat dari siklus pergerakan harga CPO, harga cenderung mulai mengalami kenaikan pada bulan Sepember dan Oktober (ditunjukkan dengan panah warna Hijau), tetapi cenderung mengalami penurunan pada bulan Januari dan April. Hal tersebut sangat sesuai dengan siklus musim dingin di dunia yang terjadi pada periode Oktober sampai Januari, dimana CPO dibutuhkan juga sebagai bahan bakar untuk penghangat ketika musim dingin tiba, maka saat musim dingin terjadi, permintaan akan CPO semakin meningkat.

Nahhh, agan dan sista mulai bisa perhatikan bahwa sejak April 2016 sampai bulan Juli 2016, bahkan saat tulisan ini dirilis, harga CPO telah mengalami koreksi ditunjukkan dengan panah berwarna merah.

Maka bulan September ini agan dan sistaa dapat mengakumulasi saham – saham berbasis CPO karena sesuai siklus, harga CPO kami perkirakan akan mengalami peningkatan kembali mulai September dan Oktober.

 

Emiten Kelapa Sawit di Bursa Efek Indonesia

Kami hanya melakukan screening saham dengan dua kriteria, yaitu berdasarkan Market Cap tertinggi dan perdagangan harga saham yang likuid.

Maka Kami memperoleh saham saham berikut : AALI, LSIP, SSMS, BWPT dan SIMP

Selanjutnya kami melakukan screening kembali dari lima saham tersebut dan membandingkan kinerja harga saham dengan harga minyak kelapa sawit dari MPOC, berikut hasil perbandingannya :

Source: MPOC, yahoo finance

Garis Merah menggambarkan kinerja return dari CPO sejak tahun 2010, dan hanya 2 emiten yang memiliki kinerja return harga saham diatas return harga CPO, yaitu PT London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dan PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Hal tersebut mengindikasikan bahwa investor mengapresiasi kinerja LSIP dan SSMS melalui pergerakan harga saham yang positif.

Selanjutnya kami memilih juga saham PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), walaupun kinerja return saham AALI berada dibawah return harga CPO, namun masih lebih baik dibandingkan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) dan PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT).

 

Cerdaslah Dalam Berinvestasi ^^

 

By: Putu Wahyu Suryawan

 

Bahas PDB Indonesia??

Heyy guys,, selamat membaca kembali di website kita “dapurinvestasi.com”..

Website kita kembali aktif nihh, setelah sebelumnya mengalami perbaikan, biar lebih keren lagii yaa guys.. hehehe.

Artikel kali ini, kita akan membahas GDP (Gross Domestic Product) atau dalam Bahasa Indonesia PDB (Produk Domestik Bruto). Secara simplenya sihh PDB itu salah satunya metode untuk menghitung pendapatan suatu negara, dimana didalamnya ada pengeluaran dari konsumsi masyarakat, konsumsi pemerintah, investasi dan ekspor juga impor.

So, didapat Rumus PDB atau GDP adalah,,

Rumus GDP

Nahh,, postur GDP Indonesia didominasi oleh konsumsi masyarakatnya, dimana data terakhir pada kuartal I 2016 menunjukkan konsumsi masyarakat mendominasi sebesar 56.25 %, seperti Tabel berikut ini,,

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Tabel 1. GDP Proportion Q1 2016

Porsi kedua di peroleh oleh Investasi yang sebesar 34.61%, selanjutnya ekspor memperoleh porsi 21.18%, sedangkan ekspor 19.83%. Untuk pemerintah hanya memiliki porsi sebesar 6.09%.

Porsi masing-masing sektor pada postur GDP Indonesia menjadi penting, karena pertumbuhan masing-masing sektor yang mempunyai porsi besar akan mempengaruhi pertumbuhan GDP secara signifikan. Dan saat ini GDP Indonesia masih bergantung pada konsumsi masyarakatnya. Jumlah penduduk yang besar menjadi senjata ampuh untuk menopang pertumbuhan GDP Indonesia.

Sekarang mari kita lihat pergerakan proporsi GDP Indonesia dari tahun 2000..

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Tabel 2. Pergerakan GDP Proportion dari Tahun 2000

Dari tabel tersebut dapat kita lihat trendnya dari tahun 2000, ternyata walaupun Konsumer masih mendominasi dalam postur GDP, namun secara trend proporsi mengalami penurunan, hal tersebut dikarenakan sejak krisis tahun 1998, pemerintah telah mulai memangkas subsidi BBM, dimana tingkat konsumsi masyarakat sangat bergantung pada murahnya harga BBM, apabila subsidi dikurangi perlahan, maka pertumbuhan konsumsi masyarakat tidak akan terlalu signifikan. Ekspor Impor Indonesia pun secara signifikan mengalami penurunan secara proporsional pada postur GDP Indonesia. Hal tersebut disebabkan oleh ekspor Indonesia yang bergantung pada komoditas pertambangan, saat ini harga komoditas telah jatuh dalam karena melambatnya perekonomian dunia. Maka dari itu pendapatan Indonesia dari Ekspor berdampak signifikan dan mengalami penurunan.

Nah dari segi impor, mengapa mengalami penurunan yang signifikan juga, hal tersebut disebabkan pemerintah telah memangkas subsidi BBM (Bahan Bakar Minyak), bahkan di era pemerintahan Joko Widodo, subsidi sudah sama sekali dihapuskan. Apabila subsidi dihapuskan, maka harga BBM dalam negeri akan meningkat tajam dan akan menyebabkan permintaan akan BBM mengalami penurunan. BBM juga memiliki porsi yang lumayan besar dalam impor Indonesia, maka kinerja impor juga signifikan menurun karena hal itu. Kurs rupiah juga yang telah melemah terhadap dollar Amerika mempengaruhi kinerja Impor Indonesia, dimana barang barang luar negeri mengalami penurunan permintaan di dalam negeri.

Untuk Porsi pemerintah seperti terlihat pada gambar mengalami peningkatan, namun tidak terlalu signifikan, sedangkan dari segi Investasi mengalami peningkatan yang signifikan dari porsi GDP. Hal ini karena pemerintah sangat konsisten dalam menciptakan iklim investasi yang baik di Indonesia, sehingga Investor Asing dan Investor Domestik telah optimis dalam penanaman modal di Indonesia.

Selanjutnya kita akan menunjukkan data pertumbuhan GDP dari tahun 2000..

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

Tabel 3. Pertumbuhan GDP dari Tahun 2000

GDP Indonesia secara konsisten tumbuh pada frame 2001 – Q1 2016. Menurut perhitungan kami, secara YoY GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.32% YoY, secara Annualized GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 5.33% YoY dan secara QoQ GDP Indonesia tumbuh dengan rata-rata 1.31%.

Berikut adalah tabel komposisi dan pertumbuhan GDP Indonesia dari Q1 2000 sampai Q1 2016,,

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 4. Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 - Q1 2016

Tabel 5. Pertumbuhan Komposisi GDP Q1 2000 – Q1 2016

Dapat kita lihat, walaupun GDP Indonesia secara konsisten tumbuh namun pertumbuhan GDP Indonesia mengalami trend penurunan sejak tahun 2007 yang tercatat sebesar 6.35% Annualized, hingga pada Annualized tahun 2015 tercatat dibawah 5.0% yaitu sebesar 4.79% Annualized. hal tersebut merupakan imbas dari perlambatan ekonomi dunia setelah krisis Amerika dan Eropa terjadi.

Tetapi, pembaca tidak perlu khawatir, karena menurut data terakhir yaitu Kuartal I 2016 GDP Indonesia tumbuh sebesar 4.92% lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang tumbuh hanya 4.73%, hal tersbut jelas mengindikasikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia mulai mengalami perubahan trend menjadi trend kenaikan.

GDP Indonesia pada Kuartal I 2016 tercatat sebesar 2,262 Triliun tumbuh 4,92% YoY. Konsumsi masyarakat tumbuh 4,97% YoY lebih tinggi dari Kuartal I 2015 yang sebesar 4,72% YoY dan tumbuh tinggi dari Kuartal I 2011 yang sebesar 4,13%. Hal ini menunjukkan konsumsi masyarakat secara perlahan telah mengalami perbaikan seiring kebijakan yang dikeluarkan pemerintah sejak awal 2016, seperti penurunan harga BBM, Penurunan Bi Rate, Penguatah kurs Rupiah, Penurunan Lending Rate dan Deposit Rate, peningkatan Upah Minimum Masyarakat dan peningkatan PTKP ( Penghasilan Tidak Kena Pajak). Semua unsur tersebut sangat berdampak pada tingkat konsumsi masyarakat, dan secara otomatis akan berpengaruh pada pertumbuhan GDP, mengingat porsi konsumsi masyarakat sangat tinggi pada GDP Indonesia.

Dari segi Pemerintah, hanya tumbuh tipis yaitu sebesar 2,93% pada Kuartal I 2016, dimana angka tersebut hanya lebih tinggi tipis disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 2,91%. Belanja pemerintah memang sudah mulai digenjot pada Kuartal I 2016, namun Pemerintah masih memiliki kendala dalam realisasi belanja pemerintah, hal tersebut dikarenakan pendapatan Pemerintah dari pajak sangat minim. Pemerintah masih memperbaiki infrastruktur dan regulasi dalam Pajak. Berbagai paket kebijakan untuk menarik pajak sudah dikeluarkan dan diperkirakan efektif pada pertengahan tahun 2016.

Nahhh, untuk Investasi tumbuh lumayan nihh guys, pada Kuartal I 2016 Investasi tumbuh 5,57% YoY lebih tinggi disbanding Kuartal I 2015 yang sebesar 4,63% YoY. Hal ini mengindikasikan bahwa regulasi dan paket kebijakan yang telah dikeluarkan Pemerintah untuk mempermudah Investasi dan kegiatan usaha di Indonesia mulai berhasil diterapkan. Pemerintah telah mempermudah pembuatan izin usaha dan izin-izin lainnya untuk Investasi.

Namun Ekspor dan Impor Indonesia masih mengalami penurunan, masih dipengaruhi perlambatan ekonomi dunia. Pemerintah diharapkan mengalihkan pendapatan ekspor dari yang semula bergantung pada ekspor komoditas, menjadi kuat pada sector pariwisata yang dapat menopang devisa negara. Penarikan dana investasi asing juga dapat digunakan untuk mengimbangi kinerja ekspor yang terus mengalami penurunan.

Okehhh,, paragraph mendekati terakhir nihh, dapurinvestasi.com akan mencoba untuk memberikan satu pandangan. Hal simple yang bisa diperoleh dari data diatas adalah “Pertumbuhan ekonomi suatu negara akan sejalan dengan membaiknya iklim Investasi di negara tersebut”.. Acuan sederhana, apabila GDP tumbuh maka IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan Indonesia) juga akan tumbuh.

Kita telah mengetahui bahwa komponen utama dalam GDP Indonesia, yaitu Konsumsi Masyarakat dan Investasi telah tumbuh pada Kuartal I 2016 lebih tinggi dibandingkan Kuartal I 2015, maka hal itu mengindikasikan kebijakan pemerintah terkait tingkat konsumsi masyarakat dan terkait regulasi Investasi telah berhasil, dan Investor sangat tertarik berinvestasi di Indonesia. Masalah yang harus diperbaiki adalah Ekspor dan Impor Indonesia serta realisasi belanja pemerintah yang harus ditingkatkan lagi agar Indonesia bisa mencapai pertumbuhan ekonomi diatas 5% lagii.

Tidak ada alasan untuk tidak berinvestasi di Indonesia apabila kita melihat indikator GDP Kuartal I 2016. Kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global mungkin tetap menjadi pertimbangan, namun apabila Indonesia bisa atau mampu dan sanggup tumbuh dalam keadaan ekonomi dunia yang sedang melambat. Menurut kami hal tersebut cukup aman untuk menanamkan dana investasi di Indonesia.

Sektor dalam IHSG yang dapat di koleksi sampai akhir tahun 2016 adalah Sektor Konsumsi, Sektor Infrastruktur, Sektor Property, Sektor Perbankan dan Sektor Manufaktur..

Sekian dan terimakasih..

Cerdaslah kita dalam berinvestasi ^^

By : dapurinvestasi.com

 

Analisa Fundamental PT. Lippo Karawaci Tbk (LPKR)

Analisa Fundamental PT. Lippo Karawaci Tbk (LPKR)  18 Februari 2016

LPKR pada tahun 2014 telah mencatatkan laba bersih per saham sebesar 111.86 dan kami memproyeksikan laba bersih akan tercatat sebesar 65.50 pada akhir tahun 2015. Apabila hal tersebut sesuai ekspektasi kami, maka sejak tahun 2008 sampai 2015 laba bersih LPKR telah tumbuh 17.30% pertahun berdasarkan perhitungan CAGR. Disisi lain pertumbuhan harga saham LPKR sejak tahun 2009 sampai Februari 2016 hanya sebesar 6.01% per tahun berdasarkan perhitungan CAGR, bahkan sejak Januari 2013 pergerakan harga cenderung flat dan berkonsolidasi pada level 980 – 1180. Maka dari itu trend P/E dari perusahaan mengalami penurunan sejak tahun 2009, hal tersebut mengindikasikan bahwa LPKR saat ini diperdagangkan pada level harga yang relative murah dan layak untuk dilakukan akumulasi beli.